
"Ricky, aku cabut dulu. Pintu kos jangan dulu dikunci!"ujar Bima Seraya menarik tangan Erin, keluar dari Cafe.
"Kamu mau ke mana? teriak Ricky sebelum teman sekaligus sepupunya itu benar-benar keluar dari Cafe.
"Mau nganterin gebetan!"jawab Bima yang membuat Erin mengembangkan senyuman pada wajah cantiknya.
Ricky hanya terpaku melihat sikap sepupu sekaligus temannya itu, yang langsung dekat dengan seorang wanita, yang menurutnya baru saja ia kenal.
"Sialan itu anak, bisa-bisanya dia sudah memiliki gebetan. Sementara aku sendiri masih berstatus jomblo."Ricky menggerutu.
***
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah keluarga Robert. Mariska ingin membuat kejutan kepada suaminya.
"Happy birthday to you...
"Happy birthday to you...
"Happy birthday... happy birthday... happy birthday to you...."
Nyanyian lagu happy birthday membuat kedua mata seorang pria yang masih bersemayam di balik selimut tebal, terbuka lebar.
Robert terdiam sejenak, Ia berusaha mengembalikan kesadarannya yang masih berkelana di alam mimpi.
Robert mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika melihat 3 orang wanita berbeda generasi di hadapannya, dengan sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin berbentuk angka dua puluh empat.
"Selamat ulang tahun suamiku."ucap Mariska sambil mendekat ke arah Robert yang perlahan duduk di tepi ranjang.
Namun, wajah pria itu masih terlihat bingung. mungkin kesadarannya belum kembali full.
"Selamat menua Kak Robert!"ucap ciwi serentak Bersama sang Mama yang duduk di kursi roda.
"Siapa yang ulang tahun? tanya Robert sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamulah Robert. Masa Ricky."timpal Mariska sambil menyodorkan kue ulang tahun ke hadapan suaminya
"Perasaan tanggal kelahiran Aku bukan hari ini deh." timpal Robert yang membuat Mariska beserta Ciwi menatapnya dengan heran.
"Duh gimana sih? Kamu nggak salah kan dek?" Mariska menatap ke arah adik iparnya.
"Enggak, kak. Kita lihat di kartu keluarga kalau tanggal lahir Kak Robert itu hari ini. Iya kan Ma?" tanya Ciwi untuk memastikan.
"Benar, ini si ****** Robert yang lupa sama tanggal lahirnya sendiri.
"Masa tanggal lahir sendiri lupa sih? Mariska menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Tunggu, aku cek di KTP dulu. Dompet aku di mana ya, sayang?"tanya Robert sambil turun dari ranjang.
"Tuh di dalam laci!"Mariska menunjuk ke arah laci nakas yang terletak di samping tempat tidur mereka.
__ADS_1
Robert langsung mengeluarkan dompetnya untuk mengambil KTP.
"Dompetnya tipis banget, Kak? celetuk Ciwi ketika melihat dompet kulit milik kakaknya yang setipis kulit bawang!
"Isinya sama Nyonya semua!"Robert menunjuk ke arah Mariska dengan ekor matanya.
"Hehehe... biar uangnya awet, Robert."Mariska terkekeh.
"Awet, Memangnya nggak akan di belanjakan?"tanya Robert dengan tangan yang mengambil KTP-nya dari dompetnya.
"Maksudnya, biar awet itu belikan baju, celana, daster dan yang lainnya. Kan awet, lima tahun juga Masih kelihatan dan bisa dipakai."Cerocos Mariska yang membuat suaminya mengerucutkan bibir sepanjang sepuluh Senti
"Nggak usah gitu bibirnya Robert!"Mariska menyentuh bibir suaminya.
"Idih, sekarang sudah ada kumisnya. Sudah dewasa kamu Robert."Mariska terkekeh ketika melihat kumis suaminya yang mulai terlihat.
"Kumis yang di bawah lebih banyak sayang."
"Robert, nggak boleh ngomong gitu Ada ciwi."Mariska memukul pelan dengan suaminya yang sedang mengeluarkan KTP dan membuat benda itu terjatuh di atas pahanya
"Tuh, kan tanggal lahir kakak hari ini." sergah ciwi.
"Berarti Kakak benar dong." ucap Robert dengan angkuhnya
"Salah, timpal Mariska dan adik iparnya itu secara bersamaan.
"Lah, kan aku bilang tanggalnya tanggal hari ini." sangkal Robert.
"Sorry, aku lupa perasaan tanggal lahir aku bulan depan. Kok bisa berubah gini ya ?" Robert mengambil KTP-nya dan memperhatikan tanggal lahir yang tertulis di dalam kartu identitasnya.
"Bukan tanggalnya yang berubah, tapi kamunya yang pikun Robert! masa tanggal lahir sendiri aja lupa." Mariska mencebik kesal.
"Maaf Sayang, soalnya aku nggak pernah merayakan ulang tahun. Tiup lilin aja cuman setelah mati lampu doang." tutur Robert dengan wajah sendu, sudut mata pria itu terlihat berembun.
"Masa? beneran gitu dek?" tanya Mariska kepada adik iparnya.
"Dulu sih suka dirayain pas Papa masih ada. sekarang Setelah Papa pergi beberapa tahun lalu, perayaan hari ulang tahun itu seolah dihapus dari keluarga ini. Mama sibuk kerja sampai sakit. Kak Robert juga nggak pernah ingat sama hari ulang tahun siapapun." tutur Ciwi dengan wajah yang itu terlihat Sendu.
"Oke aku paham. Udah jangan pada sedih, nanti siapapun yang ulang tahun akan kita rayakan bersama" ucap Mariska yang membuat adik iparnya itu langsung menyunggingkan senyuman.
"Yeees kalau begitu aku dulu yang ulang tahun." ucap Ciwi dengan wajah ceria.
"Ya udah, sekarang kamu tiup lilinnya Robert."
"Nyanyi dulu dong sayang, biar rame."
"Ya udah kita nyanyi bareng-bareng."
"Tiup lilinnya.... tiup lilinnya.... sekarang juga sekarang juga.
__ADS_1
"Fyuhhh! seketika lilin angka itu padam.
"Yeeeee...."sorak Mariska, Ciwi dan mama nya Robert.
"Selamat ulang tahun suamiku, Semoga panjang umur, sehat selalu, dan berubah menjadi ganteng." ucap Mariska dengan full senyuman.
"Yang paling terakhir kedengarannya agak kurang enak ya sayang."ucap Robert dengan suara sedikit bergetar.
Robert kenapa? Kenapa nangis? tanya Mariska sambil memperhatikan wajah suaminya yang perlahan basah oleh air mata.
"Aku terhura sayang." jawab Robert sambil menyeka air matanya dengan kasar
"Terharu! bukan terhura!"sangkal Ciwi.
"Iya itu, Maaf typo,"ucap Robert kembali dengan suara yang semakin terdengar bergetar.
"Masa ngomong saja bisa typo, Jangan dong kayak outhor Morata, sering typo Kalau menulis. Ya harap maklum aja lah, kalau Morata terkadang Typo di dalam dunia kepenulisannya. Mungkin dia lelah dalam mengetik ataupun ngantuk. Karena menulis sebuah karya itu, tidak mudah mengatur alurnya supaya menarik pembaca. Mungkin begitulah yang dirasakan oleh Morata. Sehingga terkadang dalam menulis terkadang ada typo. Nah Kakak, ngomong aja pakai typo segala."protes Ciwi.
"Robert, kenapa suaranya bergetar gitu sih? tenggorokan kamu kena gempa?"tanya Mariska kembali sambil tersenyum tipis.
"Aku sedih sayang. Aku terharu. Terima kasih udah ingat sama hari turunnya aku ke bumi." Robert kembali menyeka air matanya.
"Heh, turun ke bumi bahasanya ketinggian. kamu tuh dilahirkan, bukan diturunkan!"sangkal Mariska dengan tangan yang sudah gatal ingin *******-***** rambut suaminya.
"Iya itu maksudku. Terima kasih banget ya sayang. Aku nggak menyangka di usia segini aku sudah dipersatukan dengan bidadari dan sebentar lagi akan punya Robert Junior."tutur Robert yang membuat Mariska ikut terharu.
"Uluhhh.... kata-katanya manis banget Robert."Mariska menatap wajah suaminya dengan bibir tersenyum merekah.
"Jangan panggil Robert melulu dong Sayang, kali kali panggil sayang.
"Iya sayang!
"Huhhuuu.... cium.... cium sorak kiwi yang membuat Robert mendekatkan wajahnya ke arah Mariska.
"Robert malu ada Ciwi dan Mama protes Mariska sambil sedikit menjauhkan wajahnya.
"Sudah, nggak usah malu. Cuman cium doang juga." Robert menahan kepala istrinya agar tidak menjawab lagi.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya.
Cup!!!
Robert melabuhkan kecupan lembut pada kening Mariska.
"So sweet.... sorak ciwi. sambil bertepuk tangan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN