
Saat pasangan Robert dan Mariska Begitu juga dengan pasangan Bima dan Erin tertawa ngakak ketika Bima menimpali bahasa Ricky kalo Ricky akan memanggil pasangannya kelak dengan panggilan yang berbeda dari teman-temannya terhadap pasangannya.
"Tunggu! tunggu! aku ketinggalan apa?"Rian datang membelah kerumunan sahabatnya.
"Bubur yuk, ada si Rian!"ajak Ricky sambil berdiri.
"Dih, sensi banget sih. lagi datang bulan?"balas Rian.
"Bukan bulan lagi yang datang, tapi planet juga beserta rekan-rekannya datang semua,"jawab Ricky dengan nada sewot.
"Sudah, ributnya pending dulu! kita lanjut nanti di cafe aku,"ucap Robert menengahi perdebatan sahabatnya.
"Sudah mau buka, Robert? tanya Ricky dan Bima serentak.
"Cie..... Barengan, jangan-jangan kalian.... bodoh!"celetuk Mariska
"Ibu hamil diam dulu, nanti perutnya makin besar!"temple Ricky.
"Ya jelas makin besar lah, orang tiap malam dipompa."
"Robert!"Mariska langsung menjewer telinga suaminya.
"Ampun sayang. Oke guys setelah pulang dari kampus kita buka cafe kampung kecil."ucap Robert sambil melepaskan tangan Mariska dari telinganya.
"Makan gratis ya, Robert?"tanya Rian dengan mata berbinar.
"Apaan sih kamu! kamu suka sekali makanan yang gratis."balas Robert
"Ya elah pelit banget. makan gratis kek, buat merayakan sidang skripsi kita,"balas Rian kembali.
"Semuanya makan gratis, biar saya yang bayar,"ucap seseorang yang langsung mengalihkan pandangan para mahasiswa itu.
"Benaran pak?"tanya Rian kepada Dimas yang sedang berjalan mendekat bersama Andini.
"Iya, untuk merayakan selesainya sedang skripsi mahasiswa saya, saya akan mentraktir kalian semua,"jawab Dimas yang membuat semuanya tersenyum merekah, kecuali Bima yang memasang wajah biasa-biasa saja.
"Wah, kita merasa jadi mahasiswa kesayangan nih, Pak."Ciledug Ricky.
"Tidak juga, karena kesayangan Saya cuman satu, ya itu Andini!"Dimas merangkul bahu istrinya.
"Huuuuu ... Pak Dimas mencair,"sorak Robert, Ricky, Mariska dan Rian.
***
Sesuai yang telah dijanjikan Dimas, setelah selesai sidang skripsi, mereka Langsung meluncur menuju Cafe kampung kecil yang baru buka.
Meskipun waktu sudah menunjukkan hampir malam, tapi mereka tetap memilih untuk merayakan itu sebentar.
Robert tiba terlebih dahulu dan langsung membuka Cafe miliknya. Begitupun dengan Ricky dan Bima yang ikut serta membantu Bos mereka menyiapkan hidangan untuk mereka nikmati bersama.
__ADS_1
"Sayang, Kamu duduk saja di sana! jangan ikut ke dapur,"kita robek kepada Mariska yang akan mengikuti langkahnya menuju dapur.
"Tapi Robert, biasanya aku juga ikut bantu."
"Sekarang nggak boleh. Kamu duduk manis aja di sana, ini semua biar aku sama dua karyawan kita yang mengerjakan."Robert menuju ke arah Ricky dan Bima.
"Dih gaya kamu sok iya banget!"celetuk Ricky.
"Diam dulu! presdir sedang menenangkan sang permaisuri,"balas Robert.
"Presdir kepala kau peyang!"Ricky terbahak.
"Sudah sayang, Kamu tunggu di sana aja nurut sama suami!"tegas Robert.
"Baiklah suamiku."Mariska terkekeh sambil menarik hidung suaminya.
Setelah itu, Ricky dan juga Bima langsung menyiapkan hidangan untuk mereka nikmati bersama.
Walaupun hidangan yang mereka sajikan tidak terlalu banyak jenisnya, karena Robert belum sempat belanja karena dia akan mengadakan sidang skripsi setelah Mariska pulang dari rumah sakit.
"Namun, itu semua jadi momen langka bagi mereka, karena kali ini yang membayar semua makan itu adalah dosen killer mereka sendiri. Dosen yang paling ditakuti sejagat universitas Gunadarma. Dosen yang dulu sangat dibenci oleh Andini dan saat ini Andini sangat mencintainya.
Setelah semua hidangan selesai disajikan. Robert dan Bima begitu juga Ricky ikut berkumpul di sebuah meja yang mereka susun menjadi panjang. Agar mereka bisa menikmati hidangan itu secara bersama.
Namun, saat di tengah asyik makan-makan, ponsel Ricky berdering.
Ricky segera menjauh dan menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo Ricky. kamu masih ingat aku kan?"terdengar suara seorang wanita yang sedang menangis di seberang sana. seketika diam dan keningnya mengerut.
"Siapa? sore ini nomornya baru jadi aku nggak tahu.
"Ricky, Jadi selama ini kamu nggak save nomor aku ya? keterlaluan banget, ini aku Faranisa!"cara charge wanita itu yang membuat mata Ricky langsung membulat.
"Mbak Faranisa, sorry aku lupa."
"Ya sudah nggak apa-apa. Tapi aku mau minta tolong sama kamu, boleh? suara wanita itu terdengar para udah sesekali keluar esa akan seperti orang yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Boleh, asal kamu Jangan menyuruhku mencuri, membunuh dan yang melanggar aturan Allah!"ucap Ricky.
"Kamu sekarang di mana?"tanya Nisa dengan suara yang terdengar.
"Aku? aku di mana? Ricky malah bingung sendiri ketika mendengar suara Nisa yang bergetar dan sesekali terdengar isakan, iya malah tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Iya, kamu di mana Ricky? tanya Nisa kembali dengan suara yang lebih jelas.
"Aku masih di bumi kok."
"astaga Ricky share lokasi mu sekarang!"Aku mau nyusul kamu.
__ADS_1
"Nyusul? Ricky sedikit terkejut ketika mendengar ucapan.
"Iya, aku mau nyusul kamu sekarang. Kamu pasti ada di cafe kampung kecil, kan?
"Iya, aku sekarang di cafe."
"Oke, aku ke sana sekarang!"Nisa mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Sementara Ricky masih mematung dengan wajah bingung
"Ricky, Ayo lanjut makan! panggil Bima ketika melihat ke arah Ricky yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Ricky, kamu nggak kesambet kan? teriak Robert ketika melihat sahabatnya hanya dia mematung.
"Ya nggaklah, aku hanya bingung."Ricky mendekat dan duduk kembali di kursi yang ia tempati semula.
"Bingung kenapa? tanya Bima sambil melirik Kak Ricky yang kembali terdiam.
"CK ... nggak beres ini. ada yang bawa menyan nggak sih? tanya Robert.
"Buat apa Robert? tanya Mariska dengan wajah bingung.
"Ini si Ricky kayak kesambet deh. Kalau nggak ada menyan, kunyit juga nggak papa. Biar disembur ubun-ubun nya." cerocos Robert kembali.
"Woi kamu pikir aku ini orang sawan, apa? sangkal Robert setelah berusaha menghilangkan wajah bingungnya.
"Habis dari tadi kamu aneh gitu."
"Sudah mending kamu pada lanjut makan aja!"
"lah kamu sendiri nggak makan, Ricky? tanya Bima.
"Ya, makanlah tapi aku Kurang nafsu."
"Nggak nafsu? terus kamu nggak makan gitu?"tanya Rian yang sedari tadi sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kayaknya gitu sih perasaan aku lagi berada di antara bumi dan langit."Ricky mengusap dadanya.
"Ini anak, Kok aneh banget Robert menatap heran karena sahabatnya.
"Jangan khawatir! Ricky, kalau kamu nggak mau makan biar aku yang abisin makanan kamu, daripada mubazir."ucap Ryan dengan mata yang tertuju ke arah piring berisi makanan di hadapan Ricky.
"Ya ampun nih ibu hamil rakus banget."timpal Robert.
"Ambil nih! biarin mungkin anak Dia kelaparan dibawa sidang skripsi."Ricky menyodorkan piring makanan miliknya ke arah Rian.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN