
Mariska dan Robert memberikan kado pernikahan untuk Rian dan juga Herlan.
"Rian, ini kado pernikahan kamu dari kami."ucap Mariska Seraya memberikan paper bag yang berisi sebuah kado kepada sahabatnya.
"Thanks banget istrinya mister Robert." ucap Rian dengan wajah berbinar.
"Sama-sama. Jangan lupa dipakai ya, nanti malam." bisik Mariska sambil terkekeh.
"Memangnya isinya apaan?
"Rahasia, Nanti aja bukanya di kamar." Mariska kembali terkekeh lalu menarik tangan Robert untuk meninggalkan sepasang pengantin baru itu.
Sementara itu Ricky mendekat ke arah wanita cantik dengan perlahan.
Wanita yang mengenakan dress berwarna silver itu sedang sibuk bermain ponsel. Yang ternyata wanita itu merupakan saudara dekat Herlan dan juga Andini.
Matanya menatap lurus ke arah layar ponsel yang ada pada genggamannya.
"Ehemmmm... cantik, apa kabar? tanya Ricky yang sudah pernah bertemu beberapa kali di rumah keluarga Andini dengan wanita itu.
"Eh, Om Ricky." ucap Dira setelah menoleh ke arah Ricky.
Seketika tawa Bima akan memecah ketika mendengar itu.
"Dira, Kenapa manggil Om? apa aku terlihat lebih tua dari calon mertuaku? Tanya Ricky Seraya membenarkan kerah kemeja yang ia kenakan. Dan menunjuk kearah pria paruh baya yang tak jau dari tempat Dira berdiri.
"Calon mertua? siapa? tanya Dira dengan alis yang saling bertautan.
Dira terdiam sejenak dengan wajah bingung sepertinya wanita itu masih polos, jika dihadapkan dengan Ricky yang sudah banyak terkontaminasi energi negatif dari teman-temannya.
"Itu kan, Papa aku."
"Iya itu papa kamu, sekaligus calon mertua aku." potong Ricky dengan senyuman mengembang pada bibirnya.
"Ih,Om Ricky genit." Dira melangkah meninggalkan pemuda itu.
"Hahaha.... tawa Bima memecah ketika melihat ekspresi Ricky saat ini.
"Bima, Apakah itu artinya aku ditolak? Bima, jantung aku remuk." ucap Ricky dengan wajah memelas.
***
Hari sudah malam. Matahari sudah berganti menjadi bulan. Andini dan Dimas tidak menginap lagi di rumah Nyonya Laras. Melainkan keduanya langsung meluncur pulang ke rumah orang tua Dimas. Karena penyakit Papanya kembali kambuh. Tetapi pria yang berusia hampir senja itu tak mau dirawat di rumah sakit. Ia lebih memilih istirahat di rumah dan memanggil dokter ke rumah.
Berbeda dengan pengantin baru pasangan Herlan dan juga Rian.
Rian membuka kado pemberian Mariska. Ia penasaran dengan apa yang diberikan sahabatnya itu.
__ADS_1
Mariska membukanya sendiri, karena Herlan belum masuk ke kamar.
"Entah apa yang dilakukan pria itu di luar, yang jelas setelah makan malam selesai Herlan sama sekali belum masuk ke kamar.
Mungkinkah pria itu akan tidur di luar, karena takut terkena cengkraman istrinya yang begitu agresif?
Rian membuka kotak kado itu. Matanya langsung membulat ketika melihat isi kado tersebut.
Tangannya mengangkat sebuah lingray berwarna merah menyala yang menjadi isi kado dari sahabatnya.
Bunyi ponsel menandakan ada pesan masuk membuat wanita itu buru-buru membukanya.
"Mariska : Rian kadonya sudah dibuka? jangan lupa dipakai ya."
"Kado apaan,ini mah baju dosa."balas Rian.
"Bukan baju dosa, Jika kamu memakainya di hadapan suami kamu, asalkan jangan di hadapan suami orang lain."kembali Mariska membalas.
"Kalau aku memakai ini yang ada aku masuk angin, tak ada gunanya memakai baju."balas Rian
Mariska hanya tertawa membaca balasan chat dari sahabatnya itu. Membuat Robert langsung menghampirinya. "Ada apa Sayang? mengapa kamu tertawa begitu?" tanya Robert kepada sang istri. Lalu Mariska memberikan ponselnya agar Robert dapat membaca isi pesan Whatsapp Mariska dan juga Rian.
Robert pun ikutan tertawa, dia sudah dapat membayangkan Bagaimana ekspresi Rian saat sudah berhasil membuka kado yang mereka berikan
Sementara itu, Ran hanya terdiam sejenak dengan mata yang memperhatikan kain tipis tersebut.
Setelah melakukan pertimbangan dan menghitung jari sebagai pertimbangannya, akhirnya Ia memutuskan untuk memakai lingray pemberian Mariska dan juga Robert.
Tak lupa pula ia memoles wajahnya dengan make up dan menyemprotkan parfum pada beberapa bagian tubuhnya.
Setelah merasa penampilannya sempurna, Mariska duduk dengan anggun di atas ranjang. Bahkan wanita itu mengangkat kakinya sebelah agar paha mulusnya terekspos sempurna.
Namun, hingga beberapa saat menunggu bahkan kakinya yang terangkat sebelah sudah terasa pegal. Suaminya masih belum kembali ke kamar sampai Rian merasa kesal sendiri
"Bang Herlan... normal nggak dia?" Rian merubah posisinya menjadi terlentang dengan kedua kaki yang terbuka lebar ia merasa pasrah dan putus asa.
Mungkin suaminya lebih memilih tidur di luar. Rian menutup matanya rapat-rapat agar air mata tidak menerobos pelupuk netra indahnya.
"Ternyata sudah tidur." suara berat seorang pria langsung membuat kedua mata wanita itu terbuka lebar.
Herlan berdiri tepat di depan ranjang itu dan menatap kerah dengan mata menyipit tetapi tak berkedip.
Pasalnya kini Mariska sedang tiduran di atas kasur dengan posisi terlentang dan kedua kaki yang terbuka lebar membuat lingray yang dikenakannya tersingkap ke atas.
Herlan hampir terkejut ketika melihat penampilan istrinya.
"Bang Herlan!" Rian langsung bangkit dan turun dari ranjang. Wanita itu mendekat ke arah suaminya yang malah menundukkan wajah.
__ADS_1
"Bang aku kira kamu mau tidur di luar." ucap Rian seraya memegang bahu Herlan yang membuat pria itu terdiam mematung.
"Tidur di luar? maksud kamu aku tidur di teras gitu?" tanya Herlan masih dengan wajah menunduk
"Tidur di asbes." balas Rian dengan senyum menggoda.
Rian berdiri tepat di hadapan Herlan dengan tangan yang masih memegang bahu suaminya.
Tubuh pendek wanita itu membuat tatapan Herlan yang sedang menunduk tepat mengenai belahan dadanya yang terbuka karena lingray yang ia kenakan memiliki belahan dada rendah.
"Kenapa kamu memakai baju seperti ini?" tanya Herlan dengan nada sedikit ragu.
"Memangnya kenapa? Abang tergoda? yuk, kita tidur bang." ajak Rian Serayu menarik tangan Herlan dan dirinya sudah di atas kasur, sambil mengangkat kakinya sebelah. sampai memperlihatkan paha mulusnya.
"Rianti, jangan seperti ini. Herlan melepaskan tangan Rian yang menggenggamnya.
"Aku cantik ya bang pakai baju kayak gini." Rian mengibaskan rambutnya dengan penuh percaya diri.
"Iya, cantik. Nggak ganteng." balas Herlan serai naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya tanpa menoleh ke arah Rian.
Dia masih ragu melihat tubuh istrinya yang terbuka.
"Ih, bang Herlan Kok gitu sih?" Apa aku kurang seksi bang?" tanya Rian Seraya ikut naik dan merebahkan tubuhnya di samping Herlan yang membuat tubuh pria itu langsung menegang.
"Bang kamu kok diam aja?" Rian merapatkan tubuhnya pada Herlan
"Rianti, kita tidur sekarang, ya. Badanku pegal, aku pengen istirahat." Herlan berusaha memejamkan matanya.
"Abang pegal? aku pijitnya." Rian mengarahkan tangannya pada paha Herlan.
"Rianti, Jangan begini!" Herlan berusaha menyingkirkan tangan Rian dari pahanya.
"Bagaimana kalau seperti ini bang? Rian tangannya dan tempat mengenai burung peliharaan suaminya dan membuat tubuh pria itu semakin menegang.
"Ampun Rian! pekik Herlan dengan mata melebar.
"Bang jangan teriak! nanti dikira aku mau memperkosa kamu." protes Rian sambil menjauhkan tangan dari tongkat sakti suaminya.
"Memang iya, kamu mau memperkosa aku." balas Herlan dengan hembusan napas lega karena tangan wanita itu sudah menjauh dari peliharaannya yang sudah hampir bangkit.
"Bang Herlan fitnah, mana ada istri mau memperkosa suaminya sendiri." Rian mencebik kesal. Dia justru curiga suaminya tidak normal.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"