
"Jorok, ih! Mariska menepis tangan suaminya dan kembali menarik tangan pria itu ke arah ruang tamu yang sudah terdapat seorang pria yang mengenakan baju Koko sedang duduk sambil menghadap segelas kopi hitam.
"Mbah, ini suami saya tolong bantu benerin tangannya." ucap Mariska Seraya mendorong tubuh Robert agar duduk di samping pria paruh baya dengan rambut sebahu itu.
"Coba Mbah lihat dulu, pria itu menarik tangan kiri Robert yang masih bengkak dengan sedikit kasar, sampai membuat Robert mengaduh kesakitan.
"Mbah, katanya Mbah ini tukang sunat, ya? bukan tukang urut." tanya Robert dengan wajah pias
"Mbah ini multi talent. Bisa jadi apa aja, jadi tukang urut, tukang sunat, juru masak, penari balet, tergantung pemesanan." jawab pria itu sambil memperhatikan tangan Robert.
Mariska terkekeh ketika mendengar ucapan pria baru baya itu. Ia tidak bisa membayangkan Kalau pria yang mempunyai perut buncit dan kumis tebal itu menjadi penari balet.
"Ini kapan rusaknya?" tanya Mbah itu dengan mata memperhatikan lebih jeli tangan Robert.
"Rusak apaan! ini tangan Mbah, bukan barang." sangkal Robert dengan wajah kesal.
"Nah, itu maksudnya. Tangan kok bentuknya gini banget? Mbah itu, membolak-balik tangan Robert yang membuat pria itu meringis kesakitan.
"Lah memang tangan bentuknya gini Mbah, perasaan semua tangan begini lurus nggak Ada yang bercabang-cabang.
"Maksud Mbah tangan tuh kayak gini?.masa tangan laki-laki kecil begini. Mbah itu menunjukkan tangannya yang berukuran besar.
"Terserah Mbah aja deh, ini jadi nggak tangan saya diurut?" kesal Robert.
"Jadi, ini mah gampang. Tarik nafas dulu!
Robert menurut dan menarik nafas dalam-dalam.
"Tahan nafasnya jangan dulu dibuang sampai proses ini selesai!
"Kalau buang nafasnya dari belakang Boleh dong bah."
"Itu namanya kentut!"
"Pria itu mulai memegang tangan Robert dengan mulut komat-kamit.
"Mbah baca mantra apaan Mbah? saya nggak bakal dijadikan tumbal kan?" tanya Robert dengan wajah ketakutan.
"Orang macam kamu tidak layak dijadikan tumbal, setan pun tak akan mau." balas si Mbah dengan wajah menyeramkan.
"Mbah nggak jadi deh, jangan urut tangan saya."
" Sayang, tolong aku sayang, Robert melambaikan tangan kanannya ke arah Mariska seolah minta tolong.
"Diam! Mbah itu mulai memutar, lalu menarik tangan Robert
Krek!"
__ADS_1
"Aaa....astaga!" teriak Robert dengan suara sekencang mungkin saat si Mbah itu menarik tangannya sampai mengeluarkan bunyi.
***
"Bang Herlan, Panggil Rian dengan manja sambil mendekat ke arah suaminya yang sedang mengancing kemeja.
"Kenapa?" tanya Herlan singkat.
Pria itu sudah terlihat rapi dengan balutan celana hitam serta kemeja berwarna biru.
"Bang Aku punya sesuatu buat kamu." ucap Rian dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.
"Sesuatu apa?"bertanya sambil menyisir rambutnya.
"Ini dia." Rian menunjukkan sebuah tespek kehidupan Herlan.
"Apaan itu? tanya Herlan.
"Ini tespek bang, lihat tuh aku positif hamil." ucap Rian kembali dengan penuh antusias.
"Oh, Alhamdulillah." balas Herlan yang belum melanjutkan gerakan tangannya yang sedang menyisir rambut.
"Loh,.kok cuman gitu doang bang." .
Ternyata reaksi suaminya tidak seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya.
"Terus bagaimana kalau kamu hamil, ya alhamdulillah."Herlan menaruh sisir tadi dan mengambil minyak wangi lalu menyemprotkan ke beberapa bagian tubuhnya.
"Terus aku harus bagaimana?Kan aku sudah bilang alhamdulillah, itu tandanya aku bersyukur. Herlan menatap wajah Rian yang matanya mulai berkaca-kaca.
Padahal aku pikir reaksi Bang Herlan. Nggak kayak gini, aku pikir Bang Herlan bakalan kayak Robert yang kegirangan. Bahkan sampai menggendong istrinya." Rian mengusap sudut matanya dengan kasar.
Ia ingat jelas Bagaimana Mariska menceritakan suaminya saat mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Namun, itu semua berbeda jauh dengan Herlan yang malah terlihat biasa saja.
"Maksud kamu Aku harus kayak si Robert, gitu? sambil gendong kamu." tanya Herlan dengan mata yang mana toko aja sang istri.
"Iya, setidaknya wajah kamu nggak datar gitulah.
"Datar gimana? Kamu nggak lihat nih, di wajah aku ada hidung mancung, bibir seksi, dan mata indah, alis tebal mengarahkan." ucap Herlan sambil meraih tangan Rian pada wajahnya.
"Ih, maksudnya aku bukan itu bang, udahlah! kamu nggak ngerti perasaan aku." Rian menarik tangannya dan genggaman Herlan dan melangkah ke arah kasur.
"Rian setiap orang itu beda reaksi dan ekspresi. Tidak mungkin aku bisa sama dengan Robert, Kalau kamu mau yang kayak gitu, Kenapa kamu nggak nikah sama Robert saja sekalian.
"Bang Herlan!"
__ADS_1
BUGH
Rian melempar bantal dan tempat mengenai wajahnya.
"Bercanda Rianti, Aku senang kok kalau kamu hamil." Herlan mendekat dan duduk di hadapan istrinya.
"Masa? senang kok mukanya biasa saja." Ketus Rian sambil meremas ujung baju yang dikenakannya.
"Beneran Aku senang banget sangking senangnya aku sampai nggak bisa berkata-kata." Herlan menggenggam tangan Rian yang masih kesal.
"Lebai, sudah sana, kesal aku sama kamu." Rian menarik tangan dengan kasar.
"Kamu kalau ngambek kayak gini makin cantik ya." Herlan menatap wajah sang istri dengan intens yang membuat pipi Rian langsung merona dengan hidung kembang kompis.
"Jangan bohong Bang.'
"Beneran, makanya aku suka buat kamu ngambek. Karena kamu makin cantik. Mata makin bulat, pipinya tembem, dan bibirnya makin dower." Herlan menyentuh bibir bawah istrinya.
Bang Herlan aku lagi kesel.
"Hahaha... udah jangan ngambek terus, nanti bibirnya makin dower."
"Ya Allah, mimpi apa aku dapat suami kayak gini, untung ganteng."
"Hahaha..... kamu juga cantik. Mana sini, Aku mau ngomong sama anak aku. Herlan merebahkan kepadanya di atas paha Rian, dan menghadapkan wajah tetap pada perut istri.
"Bang, geli." Rian berusaha menjauhkan kepala suaminya.
"Aku mau ngomong sama Herlan Junior." Herlan mendekatkan wajahnya.
"Enggak, ini Rian Junior
***
Hari ini Andini mulai pekerjaannya dengan Senyum mereka.
"Sudah kali, tangannya mengusap perutnya yang rata.
"Iya, tak menyangka pernikahan yang terjadi karena keterpaksaan, akhirnya menimbulkan Cinta Sampai keduanya merasa takut kehilangan.
Selain itu pula, ia merasa senang karena di kehamilan trimester awalnya ini, ia tidak merasakan mual atau gejala yang umumnya dirasakan oleh wanita hamil muda.
Karena suaminya sendiri yang merasakan itu semua. Andini benar-benar merasakan kasih sayang dari sang suami yang begitu perhatian terhadapnya. Entahlah, Bagaimana nasib Andini. Mungkin Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Sehingga Ia mendapatkan suami yang begitu baik dan perhatian terhadapnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"