Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 68. GOSIP DI KAMPUS


__ADS_3

"Mas, tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."Andini akan kembali memeluk tubuh itu, tetapi Dimas menahannya.


"Saya sudah bilang dari awal, saya tidak bisa menerima pengkhianatan!"Dimas menarik kopernya dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Andini yang setengah berlari mengejar langkahnya.


"Mas, tunggu!"teriaknya dengan langkah gontai.


Namun, lagi lagi teriakan itu tidak ada gunanya. Dimas memasukkan kopernya ke dalam bagasi dan segera menjalankan kembali roda empat itu.


"Mas Dimas!!"teriak Andini sambil menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, kakinya terasa lemas tak mampu membobong bobot tubuhnya.


Andini tak henti-hentinya menangis menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.


Apa saat ini perasaannya begitu dalam kepada Dimas? sehingga dia sangat takut kehilangannya?


Andini bangkit dengan perlahan, ya lebih memilih pergi ke rumah orang tuanya, tinggal diam di rumah itu tidak akan menyelesaikan semuanya, masalahnya akan membuat keadaannya semakin hancur.


Rintik hujan mulai turun dengan perlahan membasahi permukaan bumi.


sebagaimana air mata Andini membasahi wajah cantiknya yang sembab berjalan menyusuri jalanan yang mulai sepi dengan langkah gontai.


Hujan turun semakin deras, jarang ada pengendara yang lewat, kecuali mobil yang sesekali menerobos kabut air itu.


Andini terus berjalan, menelusuri jalanan tak peduli hujan deras yang mengguyur tubuhnya. air matanya terus mengalir kian deras.


Sebuah mobil berhenti di sampingnya, klakson dari kendaraan tersebut menghentikan langkah wanita yang lagi kacau itu.


Seorang pria berbuat Laras tampan keluar dari mobil menerobos derasnya hujan.


"Dek, kamu ngapain hujan-hujan kayak gini? sudah seperti anak kecil saja kamu, main hujan."tanya Herlan sedikit berteriak, karena suara gemercik hujan mengurangi ketajaman indra pendengaran.


Andini menatap ke arah sang kakak dengan nanar.


Ia tahu kakaknya baru pulang kerja, karena letak kantor tempat Herlan bekerja, melewati jalanan menuju rumahnya yang ia tinggalin bersama Dimas.


Andini tak menjawab, wanita itu malah menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang kakak.


Andini menumpahkan tangisnya di sana, Setelah sekian lama Ia baru merasakan kembali menangis di dalam pelukan sang kakak.


"Sekarang kita pulang ya! ceritakan semuanya di rumah." Herlan merangkul bahwa Andini dan membukakan pintu mobil untuk adiknya.


Setelah mereka tiba di rumah, Andini dipaksa menceritakan semuanya dengan jujur.


Kedua orang tuanya dan juga Herlan sangat kecewa dengan sikap Andini, tetapi melihat penyesalan wanita itu yang sangat mendalam, membuat mereka menjadi tidak tega.


Setelah memberikan wejangan, Tuan Miko dan nyonya Laras pergi ke kamar untuk beristirahat, mereka juga memikirkan Bagaimana caranya agar Dimas bisa menerima kembali Putri mereka.


Sementara Andini masih hidup termenung di ruang keluarga dengan wajah sembab, karena dia tak henti-hentinya menangis.

__ADS_1


Herlan mendekat dan duduk disamping Andini, sedari tadi dia hanya diam saat kedua orang tuanya menasehati adiknya itu.


"Dek, kamu menyesal?" tanyanya dengan mata yang menatap intens wajah sembab sang adik.


Andini hanya mengangguk dengan air mata yang kembali tumpah.


Herlan mengusap bahu adiknya yang bergetar.


"Kan, dari awal sudah Kakak bilang, walaupun Dimas bersikap cuek sama kamu, Tetapi dia peduli dan sayang sama kamu. seharusnya kamu memahami itu. Astaga.... Kakak lupa, ternyata adikku ini kalau di rumah atau di luar kampus sangat bodoh. Tapi kalau di kampus otaknya encer."


"Kak Herlan! seharian ini aku membodohi diriku sendiri. Aku merasa tidak ada makhluk paling bodoh selain diriku, Bahkan aku merasa seekor binatang saja yang tidak mempunyai akal, lebih pintar dariku." Andini menutup wajah dengan sepuluh jemarinya,


"Sudah, lebih baik sekarang kamu berdoa semoga Dimas mau memaafkan kamu Dan setelah itu istirahatlah. Kakak lihat kamu sangat lelah."Herlan menepuk bahu adiknya dan berlalu ke kamar.


Kini Andini tinggal sendirian di ruangan itu, malam semakin larut suasana semakin sunyi.


Wanita itu lebih memilih melanjutkan tangisnya di dalam kamar, mengubur diri dalam selimut tebal, hingga air mata menghantarkannya bertemu kembali dengan Sang fajar.


Hari ini Andini harus tetap berangkat ke kampus, berharap di sana dia dapat bertemu kembali dengan suaminya.


Kali ini Andini berangkat ke kampus dengan mengendarai motor CBR miliknya, ini untuk yang kedua kalinya Ia menggunakan motor CBR miliknya hasil Andini memenangkan adu balap motor satu Minggu yang lalu.


Wanita itu memulai harinya dengan tarikan nafas panjang, menyiapkan diri untuk hari ini ia yakini tak sebaik hari kemarin.


Andini membawa motornya menuju kampus dan memarkirkan roda dua itu bersebelahan dengan dua motor yang baru tiba.


"Hai, Mariska, Rian!" sapanya Seraya mendekat ke arah dua sahabatnya itu.


Namun, Mariska dan Rian Tak menghiraukannya, dua sahabatnya itu bergandengan tangan dan berjalan ke arah kelas.


Lagi lagi hatinya terasa teriris, kedua sahabat yang selalu memberikan sapaan terbaik, kini seolah tak menganggap kehadirannya.


"Jangan nangis di sini. Princess tidak boleh menangis, yuk bareng kita! Ricky dan Robert menepuk bahunya.


Andini menatap kedua sahabatnya secara bergantian, lalu tersenyum.


Ia merasa lega karena masih ada dua orang yang mau menemaninya.


"Terima kasih ya. kalian masih mau berteman denganku. Kalian nggak membenci aku?


"Ya, elah, Din. buat apa kita membenci kamu, dapat uang nggak. Lagian kamu nggak ada masalah sama kita berdua." ucap Robert.


"Sekali lagi terima kasih ya. di saat semua orang seolah menyudutkan aku, kalian tetap ada di samping aku." Andini tersenyum kepada dua lelaki yang ada di hadapannya.


"Ngak usah berlebihan Din, hidup itu kadang di atas dan kadang di bawah. Tapi aku sendiri lebih suka dibawa biarkan dia yang bermain di atas."carocos Ricky sambil terkekeh.


"Dasar kamu! ini nih efek sering menonton film biru." Robert mengusap wajah sahabatnya dengan kasar.

__ADS_1


"Utu gara-gara kamu juga, kirim link-nya ke aku." sangkal Ricky.


Setelah tiba di dalam kelas, mereka duduk di kursi masing-masing.


"Oh iya, guys. si Bima ke mana? Kok dari tadi aku nggak lihat dia, biasanya kan dia datang bareng kalian." Andini mengendarkan pandangan ke sekeliling tetapi ia tidak menemukan motor milik lelaki itu.


"Si Bima pulang dulu ke kampung."jawab Robert


"What? Tapi dia nggak bakal out kan dari kampus ini?"


Andini sedikit terkejut.


"Sudah, Jangan dipikirkan. Tuh anaknya juga udah gede, dia bisa nentuin pilihannya sendiri. Mending sekarang kamu pikirkan gimana caranya memperbaiki hubungan kamu sama Pak Dimas." ucap Ricky sok bijak.


"Kamu berdua mau bantuin aku?"


"Kalau kita bisa, kenapa tidak?


Di dalam kelas desas-desus para mahasiswa mulai terdengar.


"Katanya si Andini sama Pak Dimas udah menikah, ya?"


"Tapi kok pernikahannya dirgahasiakan?"


"Jangan-jangan Andini sudah hamil duluan."


Andini mengepal tangannya ketika mendengar itu, iya akan memberikan badan dan menghampiri kerumunan mahasiswa yang sedang membicarakannya.


Tapi Ricky dan Robert langsung menahannya.


"Sudah, Din. Jangan hiraukan mereka, percuma kamu lawan, kamu hanya akan menjadi bahan tontonan dan olok-olokan,"tegur Ricky sambil menepuk bahu sahabatnya, berusaha menenangkan.


"Benar apa kata si Ricky. lebih baik kita jadi air di tengah kobaran api, daripada jadi bensin yang akan menambah api itu semakin besar. air walaupun tetap diam, tapi tapi tidak akan berani mendekat." temple Robert.


"Tumben banget kamu bijak pagi-pagi begini. sarapan apa tadi? Ricky terkekeh.


"Ya sarapan yang bervitamin dan bergizi lah."ucap Robert


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_1


__ADS_2