Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 79. SEMAKIN AGRESIF


__ADS_3

"Jadi.... kamu nggak hilang ingatan kan?"tanya Nyonya Laras dengan mata yang menatap intens wajah sang putri.


"Ya enggak lah, Ma. tadi tuh Andini mau nanya, aku di mana? kenapa malah salah ngomong pula."wanita itu nyengir sendiri.


"Astaga, Andini. Kamu hampir saja membuat Mama jantungan."Nyonya Laras membuang nafas lega.


"Maaf, Ma. Andini salah ngomong."


"Ngomong aja pakai typo segala, Kamu sudah bikin semuanya panik tahu."celetuk Herlan.


"Typo apaan, Kak. Memangnya penulis Morata apa, yang suka typo saat nulis naskah," sahut Andini.


"Alhamdulillah, kamu nggak jadi amnesia."Dimas mengusap pipi istrinya dengan lembut.


"Kalau aku amnesia gimana?"


"Tidak boleh. Nanti kamu lupa sama cita-cita kita untuk mempunyai sepuluh anak."


"Mas, ih. Andini mengerucutkan bibirnya.


"Bercanda, sayang."Dimas mencium punggung tangan istrinya. Dia sudah tidak sungkan-sungkan lagi memanggil sang istri dengan panggilan sayang. Hal itu membuat Andini semakin tersanjung.


****


Sementara itu, Heri datang ke sebuah apartemen bersama anak buahnya yang membawa pimpinan dari penculik tadi.


Tok...


Tok...


Tok...


Tangan kekar pria itu menggedor pintu apartemen di depannya.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka.


seorang wanita cantik mengenakan gaun tidur tipis, tetapi matanya langsung membulat dengan mulut yang sedikit terbuka, ketika melihat Siapa yang berdiri di hadapannya.


"Heri!"Alena langsung membekap mulutnya.


mata wanita itu kemudian tertuju ke arah seorang pria yang tangannya diikat dan dipegang oleh kedua anak buah Heri.


Heri mendekat dan memegang tangan Alena dengan.


"Menikahlah denganku, jika kasus ini tidak mau dibawa ke kantor polisi!"


Alena tercengang ketika mendengar ucapan Heri.

__ADS_1


Pria yang selama ini sangat ia hindari.


Setelah sekian lama mereka tak bertemu dan saat bertemu kembali Heri memberi persyaratan yang sangat mencengangkan.


"Heri, Apa maksud kamu tiba-tiba mengajakku menikah?"


"Menikah denganku, atau kasus ini akan kubawa ke polisi. Ingat, kasus ini kasus penculikan, dan juga penganiayaan. hukumnya sangat berat. Apalagi kamu melakukannya secara berencana, Aku tahu kamu merencanakannya. Dimas sudah menyerahkan semuanya padaku."sudut bibir pria itu melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis.


"Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu!"Alena akan masuk kembali ke dalam apartemennya, tetapi tangan kekar pria itu langsung menahan lengannya dan mencengkram dengan kuat.


"Yakin? jika kasus ini dibawa ke kantor polisi, kamu akan dipenjara, karirmu akan hancur. percuma kamu pergi ke luar negeri selama beberapa tahun untuk mendalami karir, jika pada akhirnya kamu mendekam di penjara."ucap Heri dengan penuh penekanan.


Alena terdiam sejenak, bola mata wanita itu bergerak dengan cepat otaknya berpikir keras.


Di masa lalu, Dimas, Alena dan juga Heri adalah teman satu sekolah.


Heri dan Dimas bisa dibilang sahabat dekat.


Pada suatu ketika, di saat pesta ulang tahun Heri yang ke-17 tahun, pria itu mengungkapkan perasaannya kepada Alena di depan semua orang.


Namun, Alena yang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Heri, menolak pria itu.


Hingga pada akhirnya, Heri berjanji akan menikahi Alena, karena ia ingin menuntaskan rasa malunya saat itu.


Heri ingin memberikan perlakuan yang sudah ia rencanakan kepada wanita yang telah membuatnya malu di depan banyak orang, bahkan hampir di depan semua teman sekolahnya.


Maka dari itu ia menghentikan niatnya untuk menaklukkan Alena, hingga ia tahu Dimas dan Alena berpisah dan Dimas menikah dengan wanita lain.


Niatnya kembali muncul dan ini adalah kesempatan emas baginya untuk menaklukkan Alena.


****


"Heri Aku tidak mencintaimu dan tidak mau menikah denganmu."tolak Alena kembali sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Heri.


"Lalu, kamu akan menikah dengan siapa? dengan Dimas? pria yang telah beristri."


"Aku tahu, Dimas masih mencintaiku. dia menikahi wanita itu karena terpaksa."


"Bodoh! sekali lagi, menikah denganku atau mendekam di penjara!"oncom Heri kembali dengan Gigi mengerat.


"Heri, aku tidak bisa berpikir secepat ini untuk memutuskan pernikahan. Aku perlu waktu untuk berpikir."


"Sepuluh detik. aku beri kamu waktu sepuluh detik untuk berpikir. Jika kamu tidak mau menikah denganku, malam ini juga kita ke kantor polisi dan ucapkan selamat tinggal pada dunia karirmu itu!"


"Heri, aku tidak bisa berpikir dalam waktu singkat."


"Satu...

__ADS_1


Andini membuang nafas berat dengan mata yang berkaca-kaca.


"Heri please...."


"Dua..."


Tig...."


"Baiklah. kita menikah!"


****


Setelah keadaan Andini membaik, mereka Langsung pulang, bahkan tidak sampai menginap di rumah sakit. Karena Wanita itu menolak keras untuk menginap di rumah sakit tempat yang sama sekali tidak ia sukai.


"Yakin, Hari ini kamu mau ke kampus?"tanya dimasak melihat istrinya sedang duduk di meja rias dengan tangan yang bergerak lincah, memoles wajahnya.


"Iya Mas. Aku sudah enggak apa-apa kok. Tuh, aku kelihatan lebih segar dan cantik."Andini menengadahkan wajahnya, menatap cara suaminya yang sedang berdiri di sampingnya.


"Bibir kamu pakai apa sih? kok berminyak gitu?"Dimas memperhatikan bibir istrinya yang terlihat seksi.


"Ini namanya lip gloss, Mas."Andini memanyunkan bibirnya, seolah akan mencium.


"Hapus! bibir kamu jelek seperti itu."Dimas memasang wajah datarnya.


"Ikh, apaan sih? enak aja bilang bibir aku jelek. Cium nih!"Andini bangkit dan berdiri tepat di hadapan suaminya.


Dimas menundukkan kepala, agar wajahnya sejajar dengan sang istri.


"Ya, sudah. biar aku hisap!"Andini memegang kedua belah pipi suaminya dan berjinjit.


Tanpa basa-basi lagi, wanita itu langsung melahap bibir ranum milik sang suami.


Dimas membiarkan istrinya bermain, mengabsen setiap inci mulutnya, sampai wanita itu melepaskan pagutannya ketika pasokan oksigen semakin menipis.


Andini berdiri tegak kembali dengan mata yang masih tertuju ke arah wajah suaminya, tangan wanita itu bergerak, mengelap bibirnya yang terasa basah dengan ibu jari.


"Kamu sekarang tambah agresif!"Dimas tersenyum tipis.


"Aku bisa lebih agresif dari ini malah,"balas Andini dengan angkuh.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.

__ADS_1


__ADS_2