
Sekitar satu jam kemudian Andini sudah terlihat cantik dan anggun menggunakan gaun yang diberikan oleh Nyonya Laras kepadanya.
"Ck.... dasar orang tua keras kepala!" gerutu Andini sambil melangkah ke dalam kamar mandi dengan kesal memperhatikan pantulan tubuhnya di sana.
Andini menggunakan dress itu dengan terpaksa. Bagaimana tidak, dia agak canggung karena sama sekali tidak pernah menggunakan gaun semenjak ia kecil.
Dress tanpa lengan dan memiliki panjang hanya sebatas lutut membuatnya semakin merasa tidak nyaman.
"Wow....anak Mama cantik banget."Puji Nyonya Laras dengan mata berbinar ketika melihat penampilan berbeda putrinya.
Andini termasuk orang yang sangat pemilih dalam berpakaian. Ia lebih memilih berpakaian layaknya seorang laki-laki, daripada menggunakan gaun seperti yang ia kenakan saat ini.
Gadis yang memiliki tubuh ramping itu tidak pernah mau memakai dress atau rok yang membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak bebas bergerak.
"Senang? Mama senang melihat putri Mama sendiri berpakaian seperti seorang...?"
"Eh, ini mulut dijaga dikit kenapa!"Nyonya Laras mencomot bibir Andini yang mengerucut
"Udah, ah. Aku mau tidur."Andini melangkah ke arah kasurnya.
"Enak aja, kita berangkat sekarang! Nyonya Laras segera menarik tangan putrinya dengan kasar.
Sepanjang perjalanan menuju restoran tempat mereka akan bertemu dengan keluarga Tuan Anggara, Andini tak jelas. Yang jelas-jelas ia tidak ingin dijodohkan sama lelaki yang sama sekali tidak ia kenal. "Apa-apaan ini? sudah seperti zaman Siti Nurbaya saja." Andini menggerutu.
Bahkan Gadis itu merubah posisi duduknya di dalam mobil beberapa kali. Terlihat Andini memang sangat gelisah.
Nyonya Laras yang melihat tingkah putrinya itu merasa geram, Tapi wanita paruh baya itu lebih memilih diam daripada membuat mood Sang Putri tambah berantakan.
"Loh, kok berhenti Pa" tanya Andini setelah Tuan Miko menghentikan mobilnya di depan restoran.
"Kita sudah sampai." jawab Tuan Miko Pratama sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Kenapa sudah sampai?" ucap Andini dengan wajah yang mulai terlihat tegang.
"Andini, Mama tahu Kamu anak yang berprestasi, Tapi tolong jangan tunjukkan kebodohanmu seperti itu. Mama sangat mengetahui kalau kamu sangat cerdas.
Andini langsung memutar bola matanya ketika mendengar ocehan sama Mama.
__ADS_1
Kita turun sekarang, pasti pak Anggara dan putranya sudah menunggu."Nyonya Laras segera menyusul suaminya turun dari mobil itu.
Sementara Andini masih terdiam dengan wajah.
Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama masuk terlebih dahulu ke dalam restoran untuk segera menemui Tuan Anggara dan putranya yang mereka yakini sudah menunggu di dalam.
"Fyuhhh.... Mama sama papa udah masuk. kalau aku kabur nggak apa-apa kali, ya?" nggak bakalan kayak Malin Kundang, dikutuk menjadi batu."gumam Andini sambil memperhatikan sekitarnya.
Gadis tomboy itu segera turun dari mobil, pandangannya ia arahkan ke dalam restoran. Kedua orang tuanya sudah tak terlihat, mereka sudah benar-benar masuk ke dalam.
Andini melangkah mundur dengan perlahan. matanya tetap tertuju ke arah restoran, takut jika kedua orang tuanya kembali.
Gadis itu melangkah mundur sambil mengendap-endap.
"Bruughkk!
Tubuhnya menabrak seseorang yang sedang menerima telepon di belakangnya. Kebetulan pria itu membelakanginya.
Andini mengangkat wajahnya, menatap ke arah pria itu yang kini telah menatapnya dengan tajam.
Seketika pandangan keduanya, Andini membulatkan matanya ketika melihat sosok dosen killer yang membuatnya selalu jengkel di kampus.
"Saya?" Andini menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu? Kenapa kamu selalu mencari masalah dengan Ku?" ucap Dimas dengan geram.
"Mencari masalah? Maaf saya tidak kenal anda." Andini akan membalikkan badannya. Namun, Dimas segera menahan tangan gadis itu.
"Jangan pura-pura tidak kenal, saya sudah memberi tanda di jidatmu!"wanita tomboy sepertimu yang berpakaian celana sobek-sobek dan selalu bergaul dengan para lelaki, Siapa yang nggak tahu dirimu. Kau memang anak yang berprestasi, tapi penampilanmu tidak cocok seperti itu.
Tapi untuk hari ini aku sangat terpukau melihat penampilanmu seperti ini, Ada angin apa kamu menggunakan pakaian wanita seperti ini? bukankah kau setengah pria dan setengah wanita? ucap Dimas membuat Andini semakin geram.
"Kalau ngomong itu mulut dijaga sedikit, ini bukan di area kampus, jadi tidak wewenang anda untuk mendikteku seperti itu. "ucapkan dini yang mampu membuat seorang Dimas dosen killer yang terkenal sejak universitas, mengulas senyum getir.
Seketika Gadis itu kembali membulatkan matanya, Kenapa juga ya, harus bertemu dengan dosen killer itu di tempat seperti ini. Di saat waktunya yang tidak tepat, di saat mood Andini tidak dapat dikendalikan.
Andini! Panggil Nyonya Laras dengan langkah semakin mendekat.
__ADS_1
"Eh,nak Dimas udah pegangan tangan aja,"celetuk Nyonya Laras yang membuat Dimas dan Andini langsung melihat kerah tangan mereka.
Andini segera menarik tangannya dari genggaman Dimas dan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam restoran.
"Nak, Dimas Ayo masuk! ajak Nyonya Laras dengan senyum ramahnya.
Dimas hanya mengganggu dengan wajah.
Perlahan pria itu mulai mengikuti langkah wanita paruh baya yang telah lama dikenalnya. Dalam benaknya dia bertanya-tanya ada hubungan apa wanita yang bisa ia sebut Tante itu dengan seorang gadis yang telah sering kali membuatnya kesal.
"Dimas, Ayo duduk!" Tuan Anggara menunjukkan kursi di sampingnya.
Andini melihat ke arah Dimas yang berjalan semakin dekat dan duduk di samping Tuan Anggara.
"Tuan Anggara, saya merasa mereka sudah saling mengenal dan mungkin diam-diam sudah menjalin hubungan di belakang kita."cerocos Nyonya Laras yang membuat Dimas dan Andini saling melempar pandangan dengan wajah heran.
"Masa sih? kok, Dimas gak pernah cerita." Anggara melirik sekilas ke arah putranya.
"Iya Pak. Tadi saya melihat sendiri kalau Dimas dan Andini saling berpegangan tangan, Itu artinya mereka sudah dekat dan kita tinggal merapatkan saja,"cerocos Laras kembali yang membuat tangan Andini gatal ingin menyumpel kotak tisu ke dalam mulut sang Mama.
"Baiklah, kalau begitu kita mempercepat saja pernikahannya."usul Tuan Anggara dengan mata berbinar.
"Tunggu dulu! pernikahan Siapa yang dimaksud? sela Andini dengan wajah tegang bercampur heran.
"Pernikahan kamu dengan Dimas, masa pernikahan Mama dan Papa atau pernikahan Opa dan Oma kamu."
"No! aku nggak mau nikah sama dosen killer, Lebih baik aku pingsan saja."Andini akan menjatuhkan tubuhnya,tetapi Tuan Miko Pratama segera menegakkan kembali tubuh putrinya dan membuatnya tak jadi berpura-pura pingsan.
"Andini kamu tidak boleh begitu! ini sudah menjadi ketentuan yang tidak bisa diganggu gugat." Tukas Tuan Miko Pratama dengan Geram.
"Tapi kenapa harus sama dia? memangnya tidak ada yang lain apa?
"Andini cukup! sekali lagi Kamu membantah, Papa pindahkan kamu ke kutub utara!" ancam Tuan Miko Pratama yang membuat Dimas menahan tawanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN