
Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran bintang lima milik keluarga Anggara. Terlihat Dimas, Andini, Nyonya Laras, Tuan Miko Pratama, dan juga Tuan Anggara sedang duduk bersama di ruang VIP, untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di sana.
Karena sebelumnya, Dimas sudah memberitahu kepada karyawan karyawati Yang bertugas di sana untuk menyediakan menu makanan kesukaan Andini dan juga keluarga mertuanya.
"Alhamdulillah, akhirnya Andini bisa lulus dengan IP yang sangat bagus."puji Tuan Anggara dengan kemampuan menantunya.
"Iya Pak, saya juga merasa bersyukur ternyata Andini dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu, dan memiliki nilai yang sangat memuaskan."sahut Tuan Miko Pratama dan juga Nyonya Laras.
Sementara Andini masih saja terdiam, Tak ada sepatah patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia mogok bicara, bahkan untuk menyahuti suaminya pun tidak. Hal itu membuat Dimas menjadi merasa bingung.
"Andini, Papa sama Mama minta maaf sama kamu. Sebenarnya bukan Dimas yang ingin menutupi identitasnya. Tapi ini semua karena permintaan Papa, Mama, dan yang terutama almarhum Opa. Opa yang meminta kepada Tuan Anggara, dan Nak Dimas untuk tidak membongkar jati dirinya sama kamu, "
"Karena Opa ingin kamu selalu hidup sederhana, dan juga bisa mandiri."Nyonya Laras berusaha menerangkan kepada Andini lagi lagi Andini tidak merespon apa-apa. Raut wajahnya datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Sayang, semua ini kami lakukan hanya untuk kebaikan kamu. Mama ingin kamu menjadi wanita yang kuat dan mandiri. Walaupun suami kamu memiliki segudang harta, Kami ingin, kamu tetap sederhana seperti sebelumnya,"
"Terbukti, yang dulunya kamu bertindak urakan, pakaian berpakaian layaknya seorang laki-laki. Tapi sekarang tidak, sehingga Mama dan Papa sudah memberikan izin kepada Dimas, untuk memberitahu kamu hal yang sebenarnya tentang Dimas.
"Dimas yang merupakan pemilik kampus di mana kamu menimba ilmu, dan restoran ini juga milik Dimas. Perusahaan dimana kamu mengadakan magang, itu juga milik keluarga Tuan Anggara yang dipimpin oleh Dimas sendiri,"
"Sedangkan Alvin itu adalah adik sepupu Dimas yang dipercayakan Dimas membantunya menjalankan perusahaan. Sebenarnya, Dimas bukanlah hanya dosen saja, dia mengajar di sana ingin memantau kamu. Dia sebenarnya sudah sangat lama mengenal kamu. Dan itu semua atas permintaan Opa dan Tuan Anggara,"
" Jadi ini sama sekali tidak kesalahan Dimas. semua itu dilakukan Dimas atas keinginan Opa, Mama dan Papa." ucap Nyonya Laras memberitahu. lagi lagi Andini masih diam. Ia tak menyahut sama sekali.
"Sudah!!
__ADS_1
"Sudah puas kalian menganggap Andini seperti wanita bodoh? apa dengan cara kalian seperti ini, kalian menang dan tertawakan kebodohan Andini!! kalimat itu yang dikeluarkan oleh Andini kepada kedua orang tuanya dan Dimas. Bahkan di depan ayah mertuanya sendiri.
"Maksud kami bukan agar kamu terlihat bodoh sayang, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
"Yang terbaik untuk kalian, belum tentu yang terbaik untuk Andini!! jadi stop! jangan pernah menganggap Andini seperti anak kecil dan orang bodoh." sahut Andini sambil langsung bangkit dari tempat duduknya. Dimas langsung menahan sang istri. Kemudian ia langsung bersujud di kaki istrinya.
"Sayang ,maafkan Mas. Mas tidak berniat ingin membodohi kamu,dan agar terlihat kamu bodoh di hadapan kami. Sejujurnya Mas sudah sangat lama ingin berterus terang kepada kamu. Tapi mama meminta agar Mas lebih bersabar. Mas juga tidak sanggup membiarkan kamu kesulitan. Bahkan untuk membeli sebuah ponsel pun harus menunggu waktu terlebih dahulu, padahal bisa saja counter nya saja, Mas belikan untuk kamu,"
"Mobil yang Mas janjikan itu, sebenarnya sudah Mas beli untuk kamu Sayang. Tapi Mama dan Papa meminta untuk tidak memberikan kepada kamu terlebih dahulu sebelum kamu wisuda."ucap Dimas bersujud di kaki Andini.
"Mas jangan seperti ini, ada Papa dan Mama. Malu dilihat orang!" titah Andini sambil meminta kepada suaminya untuk segera bangkit berdiri.
lagi lagi Dimas tidak menggubris."Tidak, sayang. Mas tidak akan berdiri dari sini, Kalau kamu tidak memaafkan Mas."ucap Dimas sambil terus memegangi kaki istrinya, lalu wajahnya ia dongakan melihat perut istrinya yang sudah mulai membuncit.
"Sayang, maafkan Papa ya, sudah membohongi Mama kamu."ucap Dimas sambil mengelus perut Andini dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang kaki Andini agar tidak pergi dari hadapannya.
Andini menghela nafas panjang. Kemudian Ia pun mendudukkan bokongnya kembali di atas kursi tempat duduknya sebelumnya. Tiba-tiba dua orang pelayan datang menghampiri mereka, dengan membawa berbagai macam menu makanan yang sudah dipesan oleh Dimas.
"Susah payah Andini menelan salivanya ketika melihat menu makanan yang terhidang di atas meja begitu menggiurkan. Tuan Anggara menghampiri Andini. Dia sengaja bangkit dari tempat duduknya untuk menjelaskan sedetail mungkin kepada Andini.
Andini yang melihat raut wajah Ayah mertuanya yang sudah senja itu pun merasa tidak tega.
"Papa duduk saja, Andini Tidak apa-apa kok pa, Andini hanya terkejut saja mendengar kenyataan yang sebenarnya."sahut Andini kepada tuan Anggara. Tuan Anggara pun mengelus rambut Andini yang terlihat berkilau, halus dan panjang. Membuat kecantikan Andini pun semakin terpancar.
"Terima kasih, kamu sudah memahami segalanya. Papa juga minta maaf ya. Semua ini kesepakatan kami dengan Opa kamu."ucap Tuan Anggara sambil mengembangkan senyumnya. Hingga pria yang sudah terlihat senja itu terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Papa minum dulu!"ucap Andini dengan cekatan langsung memberikan air mineral untuk Ayah mertuanya."
Tuan Anggara meraih gelas yang sudah berisikan air mineral yang diberikan oleh Andini kepadanya. Lalu ia teguk sampai kandas.
"Terima kasih nak Andini, ucap Tuan Anggara sambil meraih tisu yang ada di dekatnya, kemudian melap sudut bibir pria berusia senja itu. Perlakuan Andini terhadap Tuan anggaran, tidak luput dari perhatian Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama yang dengan cekatan langsung membantu Ayah mertuanya.
Dimas mengembangkan senyumnya, ketika dirinya melihat sikap manis istrinya terhadap Tuan anggaran. Tapi hingga saat ini Andini masih diam terhadap Dimas. Andini masih menyimpan kekesalan terhadap suaminya.
Mereka pun menyantap menu makanan yang sudah dihidangkan para pelayan di atas meja itu. Tampak Andini makan dengan lahap, tak biasanya Andini makan Sampai nambah seperti ini. Membuat Dimas sedikit heran melihat istrinya yang sedari tadi sudah dua kali nambah.
"Kenapa lihatnya seperti itu? nggak senang makanannya dimakan?
"Bukan gitu sayang, sensi amat sih bawaannya dari tadi."sahut Dimas sambil mengacak rambut istrinya.
"Nggak usah pegang-pegang!! makan tuh nasi biar cepat gede! sahut Andini dengan ketus Sementara Tuan Anggara yang melihat itu hanya senyum-senyum saja. Dia tahu menantunya itu masih kesal terhadap putranya.
Tapi Tuan Anggara memberikan waktu terlebih dahulu kepada Andini. Tuan Anggara tidak dapat menyalahkan Andini dengan sepihak, karena yang paling bersalah di sini adalah orang tua mereka yang sepakat untuk menutupi jati diri Dimas.
Setelah selesai menyantap menu makanan yang sudah dihidangkan di sana, keluarga besar Anggara dan Pratama akhirnya pun mengakhiri obrolan mereka. Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras berniat untuk kembali ke rumah utama keluarga Pratama.
Sedangkan untuk kali ini Tuan Anggara sudah mengizinkan Dimas kembali ke rumah pribadi yang sudah disiapkan Dimas kepada keluarga kecilnya, yang selama Dimas dan Andini menikah ditempati oleh Alvin. sementara rumah yang dinas tempati dengan Andini itu rumah milik Alvin.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN