
Nyonya Laras memberikan jamu itu dan meminta kepada Rian untuk segera meminum jamu yang diracik langsung oleh Nyonya Laras.
"Rian, Ayo minum jamu ya, nak."ujar Nyonya Laras
"I...iya, Ma."Rian mengambil gelas itu dengan ragu dan mendekatkan pada mulutnya.
Mencium aromanya saja ia sudah mual, apalagi kalau harus meminumnya sampai habis.
"Ayo diminum sampai habis!"ditanya Laras kembali yang membuat Rian seolah tak bisa menolak.
Rian terpaksa menempelkan Gelas itu pada bibirnya dan meminum jamu tersebut dengan perlahan.
Netranya membulat ketika lidahnya merasakan pahit, asam, Asin. Terlebih lagi bau dari jamu itu sangat menyengat.
"Oh my God, ini nggak lagi diracun kan?" gumamnya dalam hati.
Namun, tatapan intens sang mertua membuatnya terpaksa menghabiskan segelas minuman yang memiliki rasa aneh itu.
"Alhamdulillah habis. Besok malam Mama buatkan lagi ya." seru Nyonya Laras yang membuat netra Andini langsung membulat sempurna.
Jangankan meminumnya lagi. Bahkan saat ini perutnya terasa dikocok dan mual.
"Iya, Ma. Terimakasih Rian ke kamar dulu bang Herlan mungkin sudah menunggu." pamit Rian dan tak menunggu lama lagi, wanita itu langsung berlari ke arah kamarnya.
Rian menerobos pintu dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tak memperdulikan Herlan yang terkejut dengan kedatangannya, secara tiba-tiba dan langsung berlari ke dalam kamar mandi.
" Hoek.... Hoek... perutnya sudah tak tahan lagi. Rian benar-benar merasa mual sampai dia muntahkan kembali jamu tadi.
Herlan yang mendengar itu berubah menjadi panik.
Pria itu langsung turun dari ranjang dan menghampiri istrinya yang sedang muntah di dalam kamar mandi.
"Rianti, Kamu kenapa?" tanya Herlan Seraya berdiri di samping wanita itu.
Rian yang menyadari kedatangan Herlan semakin berekspresi mual.
Padahal perutnya sudah agak mendingan setelah jamu itu keluar lagi.
"Kamu kok muntah-muntah begini? kamu masuk angin?" tanya Herlan beruntun dengan tangan yang terulur menyentuh tengkuk Rian, dan memijatnya pelan agar rasa mual istrinya sedikit mengurang.
Namun, bukan itu yang dirasakan Rian.
Wanita itu malah kegelian tubuhnya menegang seolah terangsang.
"Bang, lirih nya setelah mencuci mulut dan mengelapnya dengan tisu
"Gimana masih mual? tanya Herlan kembali dengan wajah yang terlihat cemas
__ADS_1
"Bang Herlan panggil Rian dengan suara pelan, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Herlan.
"Kamu pasti masuk angin ini." Herlan menempelkan punggung tangannya pada dahi Rian.
"Bruk
Wanita itu menjatuhkan tubuhnya tepat di pelukan Herlan.
"Rian, kamu pingsan? tanya Herlan dengan wajah yang semakin bertambah panik
"Iya, gendong bang. Rian melingkarkan tangannya pada leher Herlan
"Loh Pingsan kok ngomong?ucap Herlan sambil menatap Rian yang terpejam.
"Lupa!' balasnya dengan seorang pelan Namun, matanya masih tertutup rapat.
"Gimana sih?" Herlan mengangkat tubuh Rian, karena tubuh itu semakin melemas dan akan terjatuh.
"Kecil-kecil berat juga kamu, keberatan dosa kali ya." ucap Herlan sambil membawa tubuh istrinya ke arah kasur, dan membuat Rian hampir membuka matanya, ketika mendengar ucapan Herlan barusan.
Pria itu segera merebahkan tubuh istrinya di atas kasur.
Namun, Rian Tak melepaskan tangannya dari leher Herlan, sampai membuat tubuh pria itu ikut terjatuh di atas tubuhnya.
"Rian, kamu pingsan? Tanya Herlan yang membuat mata Rian terbuka perlahan.
Pingsan bang. Cuma satu detik.
"Ngaco kamu! satu detik mah cuman berkedip doang melahannya.
"Bang, Ngak mau Cium aku gitu?" Rian mendekatkan pipinya ke arah wajah Herlan.
"Kamu mau dicium?
"Iya."
"Di bagian mananya?" tanya Herlan yang membuat mata wanita itu langsung berbinar.
"Dimana saja bang, terserah. Rian tersenyum getir. Tak sabar menunggu cuman pertama dari suaminya.
"Beneran aku memilih di mana saja?" tanya Herlan dengan senyum tipis.
Rian mengangguk dengan bibir yang manyun seolah menunggu ciuman.
"Ya, udah"
"Cup!
__ADS_1
Herlan mengecup tangan Rian dan segera bangkit dengan cepat.
"Bang Herlan kok malah cium tangan sih?" protes Rian dengan kesal. Padahal bibirnya sudah menerima ciuman.
"Katanya terserah." ucap Herlan
"Tapi nggak di tangan juga." sahut Rian
"Terus maunya dimana?"
"Di sini." Rian menunjuk bibirnya.
Herlan tersenyum sinis dan mendekat wajahnya.
"Cup
Pria itu memberikan kecupan singkat pada bibir ranum sang istri.
"Astaga!!! bang Herlan mencium aku!! teriak Rian kegirangan.
Bahkan ia sampai berguling tak karuan di atas kasur. Sementara Herlan hanya tersenyum ketika melihat tingkah istrinya.
Sementara di tempat lain, Andini memoles wajah dengan skin care yang baru saja dibelikan oleh suaminya.
Awalnya ia ingin membeli produk yang biasa dikenakannya dengan harga di bawah ratusan ribu.
Namun, Dimas melarang istrinya membeli produk itu. Karena ia merasa kurang bagus. setelah memilih beberapa produk yang bagus, akhirnya Dimas membelikan istrinya skin care dengan harga 5 juta.
Nilai segitu tidak terlalu banyak baginya.
Namun, terbilang cukup fantastik untuk Andini yang bahkan belum mempunyai pekerjaan tetap.
Wanita itu sudah tak sabar melihat hasil dari produk mahal tersebut.
Tentulah wajahnya akan lebih bersih dan mulus dari sebelumnya.
Namun, di tengah kegiatannya memoles wajahnya, Dimas bangkit dari tempat tidur dan langsung masuk ke kamar mandi. Perutnya terasa mual kepalanya terasa pusing.
Ia memuntahkan segala isi perutnya membuat Andini langsung mengalihkan atensinya. Andini bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Dimas yang sedang berada di kamar mandi.
Khawatir terjadi sesuatu kepada suaminya. Apalagi suaminya memberitahu kepada Andini, kalau Dimas di kampus merasa pusing dan mual dia juga muntah-muntah siang itu.
"Mas, kamu kenapa? tanya Andini panik.
"Nggak tahu, Sayang. Tiba-tiba saja kepala Mas pusing dan juga mual."sahut Dimas wajahnya sudah terlihat pucat.
"Loh wajah Mas sudah sangat pucat loh, Mas. Andini panggil dokter ya." ucapnya sambil memijat punggung suaminya. Berharap suaminya merasa sedikit lega setelah mendapat pijatan darinya.
__ADS_1