Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 21. SENYUM SENYUM SENDIRI


__ADS_3

Andini terlihat asik bernyanyi bersama Bima, sepertinya Rian dan Robert memiliki misi untuk mendekatkan Andini dengan Bima. Karena mereka tidak ingin kalau Andini tidak larut dalam kesedihannya setelah kedekatan Bagas dengan Andini selama ini, yang mereka kira memiliki hubungan khusus. Membuat Rian, Robert dan Mariska memiliki ide cemerlang untuk mempersatukan Bima dengan Andini.


Ya Andini sedikit tertarik dengan Bima, karena Bima memiliki paras wajah yang tampan di samping karena tubuhnya yang atletis dia juga terlihat cerdas. Andini begitu menyukai sosok lelaki yang memiliki kecerdasan dan itu merupakan nilai plus baginya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Terlihat Andini sedikit gelisah membuat ketiga temannya sedikit bingung melihat tingkah Andini Yang sepertinya gelisah. "Ada apa Andini? kamu sudah dari tadi melirik jam tangan yang ada di pergelangan tanganmu." tanya Rian penuh selidik.


"Iya nih, aku harus segera pulang, tadi aku pamit sama kedua orang tuaku kalau aku pulang jam sembilan malam, dan tidak boleh lewat. Kalau tidak, maka aku tidak akan diperbolehkan lagi ngumpul-ngumpul bareng bersama Kalian. Tentu aku tidak mau dong itu terjadi." ucap Andini."


"Jangan dong Andini. Kami kan, masih tetap masih mau nongkrong sama kamu. Ya udah deh kalau kamu memang mau pulang pulang saja noh sono diantar sama Bima." ucap Mariska, Rian dan juga Robert kompak. Membuat Andini membulatkan matanya seolah-olah ketiga sahabatnya sekongkol agar Bima yang menghantarkan Andini.


Iya, Bima belum mengetahui sosok Andini yang sebenarnya. Dia belum mengetahui kalau Andini saat ini sudah menikah. Jangankan Bima yang hanya mahasiswa baru di kampus, Ketiga sahabatnya saja Rian, Robert dan Mariska saja tidak mengetahui kalau Andini sudah menikah dengan dosen mereka sendiri.


Ketika Bima menawarkan diri untuk menghantarkannya, awalnya Andini ingin menolak. Takut kalau Dimas akan melihatnya nanti.


Tapi karena Bima dan ketiga temannya sedikit memaksa, dan ia juga tidak mau ketiga sahabatnya curiga terhadapnya kalau dirinya menyembunyikan sesuatu, akhirnya Andini pun bersedia diantar oleh Bima.


"Noh sana, naik di jok belakang motor Bima, bila penting kamu saja yang bawa. Kamu kan, paling doyan tuh bawa kereta besar seperti itu." ucap Mariska Sambil tertawa ngakak. Karena ia tahu betul siapa sosok Andini. Dia paling suka dengan mengendarai motor ninja warrior miliknya.


"Nggak mungkin dong seorang Bima memperbolehkan wanita yang membonceng dirinya kamu ada-ada saja."Celetuk Rian yang mampu membuat mereka pun tertawa ngakak. Akhirnya Andini pun naik ke jok belakang motor warrior milik Bima.


"Ayo pegang pinggang Abang sayang....Hui Hui..Hui!" teriak Mariska membuat Andini langsung tertawa cengengesan.


Bima melajukan motornya ke arah jalan raya setelah melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya yang masih tinggal di sana.


Sepanjang perjalanan tidak ada ocehan yang keluar dari mulut Andini. Ia hanya memikirkan Bagaimana alasannya, segala kemungkinan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dimas, Jika dia melihat sosok Bima yang menghantarkan dirinya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit membelah jalanan ibukota, akhirnya Andini dan Bima pun tiba di sebuah kompleks perumahan. Dan sekitar dua puluh meter sebelum memasuki rumah yang ditempati oleh Andini dengan Dimas, Andini menghentikan Bima. Ia meminta diturunkan di sana, Dengan alasan kalau dirinya tidak ingin dilihat oleh kedua orang tuanya. Berharap Bima paham akan situasinya saat ini.

__ADS_1


"Bim, aku turun di sini aja deh, takut Papa dan Mama aku ngomel. Nanti nggak enak dengarnya. Nggak apa-apa kan, lain kali kamu aku ajak singgah ke rumah?"


"Iya, nggak apa-apa. Jadi Rumah kamu di sini?


"Iya tidak jauh dari sini paling sekitar dua puluh atau tiga puluh meter saja." sahut Andini.


"Ya udah deh kalau begitu aku pulang ya, ucap Bima sambil mengembangkan senyum manis kepada Andini. Andini melambaikan tangannya, lalu ia mengembangkan senyumnya dan berjalan berniat masuk ke rumah. Baru Andini hendak masuk, tanpa Andini sadari Dimas memperhatikan interaksi keduanya.


"Siapa itu laki laki yang ngantar kamu? pertanyaan itu yang tiba-tiba dilontarkan Dimas kepada Andini, ketika Andini hendak membuka pintu gerbang.


"Bukan siapa-siapa, teman.


"Oh Teman,"


"Ingat, kamu sudah jadi istriku. Jadi jangan tebar pesona kepada setiap lelaki." ucap Dimas dengan nada datar tapi mampu membuat Andini merasa ketakutan.


Dimas tak menjawab. Ia memilih langsung masuk ke dalam kamar lalu naik ke atas tempat tidur duduk sambil bersandar di hardbord


"Sudah siap tugas dari kampus?


Andini menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.


"Kalau begitu istirahatlah, nanti kamu telat bangun. Soalnya ada kelas pagi, kan? lagi-lagi Andini tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala.


Dimas membuka kacamatanya, lalu meletakkannya di atas nakas bersamaan dengan buku yang ia baca. Lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran King size itu. Tak berapa lama sepertinya Dimas sudah tertidur pulas, mengarungi alam mimpinya. Sementara Andini masih membayangkan Bagaimana dirinya asik mengobrol dan merasa nyaman jika dekat dengan Bima.


Andini senyum-senyum sendiri, membayangkan sosok Bima menjadi orang spesial baginya. Bukan seperti saat ini yang ia rasakan, menikah dengan sosok lelaki yang sama sekali tidak ia cintai.

__ADS_1


"Astaga! Apes banget sih hidup aku, jika aku belum menikah, aku pasti akan menerima segala tawaran Bima. Tapi sekarang aku tidak bisa berkutik lagi, aku sudah menjadi istri orang lain. Tidak mungkin aku menjalin hubungan dengannya, yang jelas-jelas aku sudah memiliki suami. Tapi Ah, entah mengapa sepertinya Bima memang mampu menaklukkan hatiku." gumamnya dalam hati.


Saat ia larut dalam lamunannya, tiba-tiba suara ponselnya terdengar jelas di telinganya. membuat sosok Dimas pun sedikit terganggu dengan suara ponsel Andini yang terdengar nyaring di telinganya.


Andini meraih ponsel yang ia letak di atas meja. Ia pun langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Bima. karena sebelumnya ia melihat nomor ponsel Bima yang menghubungi dirinya.


Andini melirik ke arah Dimas. Tampaknya sudah tertidur pulas padahal Dimas sudah terbangun mendengar suara berisik ponsel milik Andini. Tapi Dimas berpura-pura tertidur pulas, agar Andini tidak menyadarinya Ia ingin mengetahui apa yang dibicarakan istri tengilnya itu, dan ia juga ingin mengetahui siapa lawan bicara istrinya.


"Halo Bimo!


"Halo selamat malam Din, Aku hanya ingin memberitahu kalau aku sudah sampai."


"Oh Alhamdulillah kalau begitu, Terima kasih ya Bim, kamu sudah menghantarkan ku tadi.


"Iya, tidak apa-apa. Sama-sama, namanya juga teman, Oh iya kenapa sih kamu tadi nggak mengijinkan aku menghantarkan mu Sampai ke rumah kamu?"


"Kan sudah aku bilang nanti kedua orang tua aku, akan marah besar kepadaku. Dan juga kepadamu. Jadi aku nanti tidak diperbolehkan lagi untuk nongkrong bareng bersama Kalian. Tentu aku tidak mau dong aku akan stress, jika aku hanya Duduk diam di rumah setelah pulang dari kampus." sahut Andini.


"Kamu tahu nggak, Jujur aku senang loh jalan sama kamu. kamu asik orangnya. Lain kali kita jalan bareng ya, nggak perlu mengajak ketiga orang itu bikin berisik."tawar Bima membuat Andini tertawa ngakak.


"Ya udah, lihat nanti ya kalau ada waktu." sahut Andini."setelah selesai berbicara dengan Bima Andini langsung memutuskan sambungan telepon selulernya. Lalu ia membuka sebuah lemari dan mengambil selimut tebal di sana, dan membentangkan selimut tebal itu tepat di atas lantai samping tempat tidur. lalu ia meraih bantal dan selimut Ia membaringkan tubuhnya di sana, seolah dirinya tidak sudi tidur seranjang dengan suaminya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2