
Pria itu terlihat panik, Dimas mondar-mandir tak karuan di cafe yang suasananya mulai gelap, karena malam telah tiba dan hanya diterangi lampu saja.
Dua jam lagi Cafe itu akan tutup, iya harus segera mendapat titik terang ke mana istrinya.
Pasti ada seseorang yang mengajaknya bermain, tidak mungkin Andini pergi secara tiba-tiba.
"Hello, Dimas."suara bariton seorang pria menyadarkannya dari lamunan.
"Halo, Heri,"balas Dimas, lalu memberikan sapaan hangat kepada tiga pria yang baru datang menghampirinya.
"Katakan kronologis kejadiannya yang sebenarnya!"kita pria bernama Heri yang berprofesi sebagai detektif itu.
Dimas dan Heri sudah bersahabat semenjak duduk di bangku SMP, namun mereka berpisah Saat kuliah, karena masuk fakultas yang berbeda.
Pria perawakan tinggi dan tegap itu mulai mencerna dan sesekali mencatat Apa yang diucapkan oleh Dimas.
Heri meminta anak buahnya agar segera bergerak, mengungkap kasus.
"Terima kasih Heri, kamu sudah mau membantuku,"ucap Dimas setelah selesai memberitahu kronologi kejadiannya.
"Sama-sama. tidak usah sungkan seperti itu, bukankah Kita ini sahabat sejak dulu? semoga istrimu lekas ditemukan."pria berkulit putih dengan wajah blasteran itu menepuk pundak Dimas, berusaha menguatkan sang sahabat.
"Kira-kira, Berapa lama kasus ini akan terungkap? aku takut, istriku kenapa-napa."wajah Dimas terlihat Sendu, pria itu memijat pelipisnya beberapa kali.
"Ini masih terbilang kasus ringan, sebelum 24 jam penculiknya akan segera ditemukan,"jelas Heri dengan pasti yang membuat hati Dimas sedikit lega.
"Komandan, kami sudah menemukan di mana titik penculik itu membawa saudari Andini,"lapor anak buah Heri, setelah beberapa saat mereka bekerja dan melacak keberadaan Andini melalui ponsel yang dibawa wanita itu, meskipun nomornya sudah tak dapat dihubungi lagi, tetapi mereka masih bisa melacaknya.
"Kita berangkat sekarang!"ajak Dimas dengan Tak sabar.
"Siapkan semuanya, kita harus tetap waspada, bisa saja mereka membawa senjata tajam. Bodoh sekali mereka, menculik tetapi masih membawa barang yang masih bisa dilacak. Memangnya mereka pikir ponsel yang mati sudah tidak bisa dilacak apa? Heri tersenyum sinis.
"Kamu memang hebat Heri, tapi sayangnya kamu masih jomblo,"celetuk Dimas yang membuat pria itu langsung menepuk lengannya.
"Jangan buka aib, nanti kewibawaan ku menurun dihadapan para anak buahku."bisik Heri sambil terkekeh.
"Kita berangkat sekarang!"ajaknya yang langsung diikuti Dimas dan juga ketiga anak buahnya.
Tak lupa pula, mereka menyelidiki Apakah penculik itu menggunakan senjata tajam atau tidak.
Dimas membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti Jeep Heri yang melaju dengan cepat, membelah Jalan gelap menuju sebuah titik yang lumayan jauh.
Dimas terus mengikuti Jeep milik Heri hingga tiba di sebuah gedung kosong yang terletak di ujung kota.
Gedung itu terlihat sangat gelap dari luar, bahkan tidak terlihat ada kehidupan di sana.
Heri dan anak buahnya segera turun dan disusul oleh Dimas.
Kelima pria itu berkumpul terlebih dahulu sebelum melancarkan aksinya.
Heri memberi panduan untuk bergerak dengan halus agar tidak ketahuan sebelum mereka masuk ke dalam gedung.
__ADS_1
Setelah memastikan semua siap, pria itu memberi aba-aba dan mulai memasuki gedung dengan hati-hati.
Tempat itu sangat, Bahkan mereka harus menajamkan penglihatan agar tidak salah arah.
Setelah masuk ke dalam gedung, terlihat serat lampu kecil dari kejauhan.
Kelima pria itu melangkah dengan hati-hati, ruangan yang disinari lampu itu tidak tertutup pintu, sehingga memudahkan mereka untuk masuk.
Suasananya senyap, hanya terdengar suara derap kaki melangkah yang tak terlihat di mana jelasnya kaki itu.
Dimas memajangkan penglihatannya untuk mencari keberadaan sang istri.
Perasaannya sangat khawatir, pasalnya di tempat itu tidak terdengar teriakan atau apapun, Apa yang sebenarnya terjadi dengan Andini?
Apakah penculik tersebut sudah menghabisi wanita itu, sampai tak bersuara sama sekali?
Heri menggerakkan jari telunjuknya, memberi isyarat kepada Dimas dan juga anak buahnya.
langkah kaki mereka semakin mendekat, suara derap kaki di dalam ruangan yang minim penerangan itu semakin terdengar nyata.
"Emmmmp....,"suara itu terdengar sayup-sayup.
Dimas memejamkan pendengarannya untuk mengenali suara tersebut.
"Emmmmp...."
"Diam!"
"BUGH!
Heri menggerakkan jemarinya kembali, memberi isyarat, sampai gerakan jarinya yang ketiga, mereka masuk ke dalam ruangan itu secara serentak.
Mata Dimas langsung tertuju ke arah seorang wanita yang tertunduk di atas lantai dengan tangan dan kaki diikat kuat, serta mulut yang dibekap dengan menggunakan lakban.
Walaupun penerangan di ruangan itu sangat minim, tetapi Dimas masih bisa mengenali kalau wanita itu adalah istrinya.
"Siapa kalian?"lima pria bertubuh kekar berbaris, menghalangi Andini yang tak berdaya.
Tampa basa-basi lagi, Dimas maju dan melayangkan sebuah pukulan pada salah satu pria itu.
BUGH!
Suara pukulan keras terdengar nyaring, di ruangan gelap itu.
"Sialan, Siapa kamu?!"teriak pria bertubuh kekar yang wajahnya terkena pukulan Dimas.
"Dasar kurang ajar! kenapa kalian menculik istriku!"Dimas mengepal tangannya dengan sempurna, pria itu akan mendekat ke arah Andini, tetapi dua pria l angsung menghadangnya.
"Jangan sok jagoan! wanita itu akan kami habisi malam ini juga,"ucap seorang pria sambil mendorong tubuh Dimas
"Kurang ajar! darah Dimas semakin mendidih.
__ADS_1
BUGH
BUGH
Suara pukulan kembali terdengar.
Dimas, Heri, beserta ketiga anak buahnya berhadapan langsung dengan preman yang berada di dalam ruangan itu.
Mereka pun adu jotos di sana dengan amarah yang membuncah
Kekuatan yang kedua tim memiliki hampir setara, sehingga mereka belum ada yang tumbang.
Seorang pria mendapatkan telepon segera mendekat ke arah Andini dengan membawa sebuah botol alkohol pada genggamannya.
Sepertinya Ia baru saja mendapat perintah dari seseorang untuk melakukan hal lebih.
Dimas yang melihat itu segera berlari ke arah istrinya.
Namun, dua orang pria menahan tubuhnya dengan sangat. tetap pecah dan serpihannya
"Lepasin! Andini awas!"
Pranggggg.....
"Aaaarrrgh!!!!! suara itu memecah suasana .
Dimas menubruk tubuh pria itu sehingga botol yang dipegangnya tidak jadi dipukul kan pada kepala Andini, Tetapi malah mengenai tembok di belakang Andini.
Namun, botol itu tetap pecah dan serpihannya mengenai kepala Andini.
Seketika tubuh wanita itu melemah, darah segar keluar dari beberapa lukanya.
"Andini."Dimas berteriak dengan langkah yang mendekat ke arah sang istri.
Namun, seseorang memukul punggungnya dengan kuat sampai membuat Dimas hampir kehilangan kesadarannya.
"Brengsek!"Dimas membalikkan badannya ke arah pria yang tadi memegang botol sekaligus orang yang memukulnya.
BUGH!
BUGH!
Dimas memberikan pukulan tanpa ampun sampai membuat rivalnya tergeletak tak berdaya.
Dimas kembali mendekat ke arah sang istri, Andini sudah tidak sadarkan diri, wajahnya tertutup darah yang mengalir pada luka di bagian dahinya.
Tubuh Dimas bergetar saat melihat keadaan sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.