Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 31. DI RUANGAN DIMAS


__ADS_3

"Rian Coba aku yang ada di pangkuan Pak Dimas."gerutu Mariska yang membuat semua sahabatnya langsung menoleh ke arah gadis yang mengenakan baju berwarna biru muda itu.


"Gimana nih, apa kita ikutin Pak Dimas aja?" tanya Robert dengan wajah Kwatir.


"Ikut ke ruangannya? pasti dia nggak bakalan di ijinkan lah. Manusia beku kayak gitu mana mau didatangi banyak mahasiswa." celetuk Rian.


"Eh mulut kamu ya, Pak Dimas itu seorang pangeran. Bukan manusia beku." sangkal Mariska tak terima.


"Terus gimana dong Kalau Pak Dimas ngapa ngapain Andini, gimana? tanya Bima dengan wajah cemas


"Cie cie cie, takut gebetannya ada yang merawanin." sorak Rian dan Robert secara bersamaan.


Setelah tiba di ruangannya, Dimas segera merebahkan tubuh Andini di atas ranjang kecil yang tersedia di ruang khusus dirinya.


Pria itu menatap wajah Andini dengan lesu. tangannya bergerak membenahi rambut yang menghalangi sebagian wajah Andini.


Namun, pandangannya malah tertuju ke arah dua gunung kembar milik sang istri yang menyembul sempurna, saat posisinya seperti itu.


Malam tadi juga ia sudah bersusah payah untuk mengendalikan diri. Tubuhnya kian memanas.


Dimas mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya pada bagian telapak kaki dan tangan Andini.


Tak lupa ia mencium kan aroma minyak kayu putih ke hidung istrinya. Hingga kelopak mata wanita itu terbuka.


Andini langsung membuka mata dengan lebar ketika melihat wajah Siapa yang berada di atasnya.


"Bapak ngapain Di Sini? Andini akan bangkit tetapi wajah tidak cepat berada di atas wajahnya yang sedang tertidur.


Sedikit saja ia mengangkat kepalanya wajah mereka saling menempel.


"Kamu tadi pingsan." jawabnya dengan nada datar


"Pingsan? Terus ngapain Saya ada di sini?


"Saya yang bawa kamu ke sini."


"Hah! bawa ke sini? digendong maksudnya? tanya Andini kembali dengan wajah yang terlihat tegang.


"Iya Memangnya kenapa?"


"Astaga! Oh my God pasti banyak yang lihat!'Andini mendorong bahu Dimas dan segera bangkit dengan wajah tegang.


"Kalau ada yang lihat, Memangnya kenapa?" tanya Dimas dengan santai bahkan ekspresi wajahnya beda jauh dengan Andini yang" terlihat gelisah.

__ADS_1


"Bahaya! nanti mereka mengira kita ada apa-apa.


"Kita memang ada apa-apa, kan?


"Ih nyebelin banget sih, tadi ada Bima nggak?


"Ada." jawab Dimas singkat


"Terus, dia lihat saat Bapak gendong saya"wajah Andini semakin terlihat tegang


"Iya." jawab Dimas jujur


"Astaga! Oh my God, gawat! Andini memegang kepala dengan kedua tangan bola matanya membulat.


"Biarin aja. dia kan lihat, pakai matanya sendiri bukan pakai mata orang lain."sahut Dimas santai


"Ih, Bapak nyebelin banget!"


BUGH


Andini memukul dengan Dimas yang berotot sekuat tenaga. Tapi tidak berefek sama sekali pada pria bertubuh kekar itu.


"Kamu pingsan, pasti gara-gara tidak sarapan kan? saya sudah bilang kamu memasak pagi-pagi sekali, biar sarapan di rumah. Semua bahan masakan sudah disediakan. Tapi sikap malas kamu mengalahkan segalanya."cerocos Dimas sambil menempelkan telunjuknya pada dahi Andini.


"Iya, nanti saya akan masak Pak." balas Andini dengan kesal.


Dimas hanya tersenyum tipis. Seperti biasa senyuman setipis kulit lumpia.


Namun, kali ini Andini menangkap senyuman itu.


"Aduh, ternyata nih orang kalau lagi senyum rasa adem banget kelihatannya." gumam Andini dalam hati sembari terus menatap suaminya.


Namun, seperti itu kemudian ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum dirinya terpesona.


Andini Turun Dari ranjang berukuran kecil itu dan memakai kembali sepatunya


"Mau ke mana kamu?"


"Saya mau ke kantin. Cacing-cacing di perutku sudah pada dugem meminta jatah."


"Tunggu dulu." Dimas menghentikan langkah istrinya yang akan menuju pintu.


Andini membalikkan badan dan melihat ke arah Dimas. Tanpa bersuara, tetapi sorot matanya menyampaikan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


Dimas mengambil dompet periksa saku celananya.


Pria itu membuka dompet kulit berwarna hitam mengkilap yang terlihat menggembung


Andini sedikit mencondongkan tubuhnya, berusaha melihat Apa yang dilakukan suaminya.


"Ini untukmu." ucap Dimas sambil menyodorkan black card untuk istrinya.


"Aku tidak butuh itu."sahut Andini lalu Andini langsung mengambil isi dompet suaminya uang pecahan seratus satu lembar.


"Ini saja sudah cukup?" uang buat jajan seratus ribu cukup jajan di kantin.


"Terima kasih, Aku tidak membutuhkan black card itu."ucap Andini.


"Beli nasi, jangan makan instan." ucap Dimas sebelum istrinya membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.


Andini hanya menggerakkan jemarinya membentuk sebuah huruf o, dan setelah itu langsung keluar dari ruangan dosen sekaligus suaminya itu.


"Din, kamu sudah sadar?" teriak Mariska dari kejauhan.


Mariska dan Rian segera mendekat ke arah sahabatnya, yang baru keluar dari ruangan dosen mereka.


"Kok Kalian ada di sini ?" Andini menatap ke arah dua sahabatnya secara bergantian.


"Kita nungguin kamu,Eh tapi kamu nggak diapa-apain kan sama Pak Dimas?" tanya Mariska dengan penuh selidik.


"Enggak!"


Tapi kok pak Dimas malah bawa kamu ke ruangannya sih, bukan ke UKK?" tanya Mariska kembali yang mempunyai jiwa kepo tingkat tinggi.


Mending Kalian diam saja deh. Aku sudah lapar. Lebih baik kita langsung pergi ke kantin, Apa kamu tahu aku karena kelaparan makanya jatuh pingsan, sehingga asam lambung kambuh.


"Ya sudah, kalau begitu kita langsung ke kantin yuk." ajak Mariska dan Rian yang diikuti oleh Bima dan juga Robert.


Mereka Langsung berjalan masuk ke dalam kantin Robert dan Bima langsung duduk diikuti oleh Mariska Rian dan juga Andini.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2