Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 164. PERTEMUAN DIMAS DENGAN MERTUA


__ADS_3

Hari ini Dimas meminta kepada Tuan Miko dan nyonya Laras untuk bertemu dengannya di restoran milik keluarga Anggara. setelah mendapat persetujuan dari tuan Miko Pratama, dan juga Nyonya Laras sang mertua. Dimas langsung menuju restoran.


Saat Dimas sudah tiba disana, Dimas sudah melihat ayah dan ibu mertuanya duduk di sudut paling pojok dekat jendela.


"Assalamualaikum Pa, Ma." sapa Dimas sambil memberi salam kepada Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras.


Dimas duduk tepat di hadapan Tuan Miko, salah satu pelayan yang ada di restoran itu datang menghampiri ketiganya. Setelah memesan menu makanan untuk mereka santap, pelayan itu kembali meninggalkan meja mereka.


"Ada apa Nak Dimas? kok kamu tiba-tiba saja meminta Papa dan Mama menemui kamu di sini?" tanya suamiku Pratama kepada Dimas.


Dimas menghela nafas. "Pa, Ma, Apa tidak sebaiknya di masih membongkar jati diri Dimas sendiri kepada Andini? tentunya Papa sama Mama sudah mengetahui kalau saat ini Andini sedang hamil.


Dimas khawatir, kalau Andini akan lebih kecewa nantinya, jika Andini sendiri yang mengetahui bukan Dimas yang memberitahunya. Jujur Ma, Pa. Dimas tidak tega melihat Andini yang bepergian hanya mengharapkan Dimas menghantarkannya atau dia naik taksi online. Padahal bukan tidak bisa Dimas berikan fasilitas kepadanya.


Suami macam apa aku ini Ma,Pa kalau Dimas tidak bisa membahagiakan istri Dimas sendiri saat Andini sedang hamil seperti ini." ucap Dimas memohon kepada kedua ayah dan ibu mertuanya, agar mengijinkan Dimas dan Andini kembali tinggal di rumah yang sudah disiapkan Dimas sebelumnya, untuk Dimas tempati bersama Andini ketika mereka sudah menikah.


Tuan Miko menatap Nyonya Laras.


"Belum saatnya Dimas! Biarkan Andini mengetahui siapa jati diri kamu nanti, Saat dia wisuda nanti. Saat wisuda nanti, otomatis kamu, selaku pemilik kampus pengganti dari Tuan Anggara, akan memberikan pidato saat acara wisuda itu dilaksanakan. Nah, di sana Andini akan mengetahui siapa jati diri suaminya sendiri." ucap Nyonya Laras memberitahu rencananya.


"Tapi apa itu tidak terlalu lama Ma, tentulah Mama ketahui Kalau acara wisuda Andini masih membutuhkan waktu dua bulan lagi. Lagian Apakah Andini tidak begitu kecewa nanti ketika mendengar nama Dimas dipanggil sebagai pemilik kampus?"


"Itu, merupakan kejutan untuk Andini nanti. Kamu jangan khawatir, Mama yakin dia akan bangga ketika kamu sudah diperkenalkan oleh dekan nanti sebagai pemilik kampus." ucap Nyonya Laras memberikan idenya kepada Dimas.


Dimas pun akhirnya menyetujui ide dari ibu mertuanya. Dia mengikuti permintaan Ayah dan Ibu mertuanya. Padahal sebenarnya dia merasa tidak tega melihat Andini selalu harus menunggunya jika bepergian kemana-mana. Padahal dia bisa saja memberinya mobil mewah dilengkapi dengan sopir yang akan menghantarkannya ke mana saja.


Ketika Dimas sudah menyetujui permintaan dari ayah dan ibu mertuanya, seorang pelayan datang menghantarkan menu makanan untuk mereka santap. Dan saat menu makanan itu sudah dihidangkan di meja, Dimas mempersilahkan ayah dan ibu mertuanya untuk mencicipi menu makanan yang dihidangkan di restoran milik keluarga Anggara.


Setelah selesai makan, Tuan Miko Pratama dan nyonya Laras berpamitan kepada Dimas untuk segera kembali ke rumah. Begitu juga dengan Dimas langsung meninggalkan restoran itu,.karena ia khawatir Andini terlalu lama menunggunya.


Sementara di tempat lain.


Hari ini Herlan tidak berangkat ke kantor mengingat hari ini tanggal merah.

__ADS_1


Herlan mengerutkan keningnya ketika ia keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sedang menangis sesungguhkan di tepi ranjang.


Pria yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar pada pinggangnya itu, mendekat ke arah Rian yang sedang menyeka air.


"Kamu kenapa rianti?" tanya Herlan setelah berdiri di hadapan sang istri.


"Bang...."Ran tak melanjutkan ucapannya karena isakan yang keluar dari mulutnya, rasa sesak di dada membuat ia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ranti istri abang yang cantik, Kenapa kamu menangis? tanya Herlan kembali.


Rian bangkit. Ia Malah memeluk tubuh suaminya dengan erat, yang hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Tak peduli buliran air masih tersisa dari tubuh Herlan membasahi bajunya.


Rian memeluk tubuh kekar itu dengan erat sampai terjadi sesuatu yang mampu membuat Rian benar-benar terhenyak.


Handuk yang dikenakan Herlan melorot dan terjatuh ke lantai.


"Astaga!!! Rian berteriak ketika ia berhadapan langsung dengan adik kecil milik sang suami yang mulai perlahan menegang.


"Lihatlah ulahmu, kan handuknya jadi melorot." ucap Herlan sambil bersedekap dada.


"Bang, nih pakai! Rian lagi sedih juga malah tegang gitu." Rian menyerahkan handuk tadi ke tangan suaminya.


"Kamu sih, pakai nempel-nempel segala. sudah tahu Abang baru siap mandi dan hanya menggunakan handuk, eh malah kamu nempel-nempel."


"Sudah, ngak perlu banyak cakap pakai lagi handuknya. Mana gitu banget bentuknya." Rian mencebik kesal.


"Siapa yang membuat jatuh, itu yang memakaikan." timpal Herlan yang membuat bibir istrinya semakin mengerucut nggak tahu Rian menangis, karena mendengar kabar Kalau kondisi kesehatan Papanya sedang menurun.


"Bang Herlan, Ih!" udah pakai aja sendiri.


"Ogah, biar aja kayak gini." Herlan malah bersedekap dada. Ia senang sekali mengerjai istrinya.


"Tidak waktunya mesum seperti ini. Rian menyentil adik kecil milik sang suami dengan menggunakan jari tengah dan telunjuknya dan langsung melilitkan handuk itu pada pinggang Herlan dengan kasar.

__ADS_1


"Tangan Kamu nakal banget, dia kan malah tambah bangkit."


"Sudah, diam! Aku lagi sedih nih." Rian kembali meneteskan air matanya.


"Sedih kenapa?istri Abang kenapa?" Herlan duduk di samping Rian dengan merangkul bahu istrinya.


"Papa sedang sakit bang. Mama baru aja memberitahu Rian." Rian memberitahu.


"Apa ?


"Papa kamu sakit?


"Di rumah sakit mana?


"Nggak dibawa ke rumah sakit, katanya Papa nggak mau. Jadi Mama memanggil dokter saja ke rumah." Rian menyeka air matanya dengan kasar.


"Kenapa nggak ngomong dari tadi Kalau papa kamu sakit? Ya udah, kita ke rumah orang tua kamu sekarang." Herlan bangkit sambil membenarkan kembali handuknya yang hampir kembali melorot.


"Bener bang?" tanya Rian dengan mata berbinar.


"Iy, ayo siap-siap."


"Sebentar aku ambilkan baju Kamu dulu Bang." Rian segera bangkit dan mengambil pakaian suaminya.


Setelah itu, keduanya menggunakan jurus secepat kilat dan langsung meluncur ke rumah orang tua Rian yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah keluarga Pratama.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"

__ADS_1


BAGI SIAPA YANG AKAN MAMPIR KE KARYA BARU EMAK, AKAN ADA GIVEAWAY TGL 6 JULI BAGI BAGI PULSA BAGI PENDUKUNG EMAK YANG PALING AKTIF


__ADS_2