
"Opa....Herlan yang antar Opa ke rumah sakit, malah bocah tengil ini duluan dipanggil dan namanya juga disebut-sebut." ucap Herlan.
Pria berusia tidak jauh dari Andini itu bersedekap dada di hadapan sang kakek.
"Ih sirik banget sih kamu, aku kan cucu kesayangan Opa. cucu pungut minggir!"Andini maju dan menghalangi tubuh kekar Herlan.
"Enak aja cucu pungut!"kamu tuh cucu prematur, lihat penampilan Kamu sudah menikah Tapi masih saja, bertingkah seperti anak kecil.
"Eh udah! kalian ini nggak di mana, kalau ketemu pasti berantem melulu. Ibu Laras menyela ucapan kakak beradik sepupu itu.
"Tau tuh bocil, sudah punya suami juga nggak berubah."
"Kamu juga, Sudah berapa tahun kuliah tapi tak kunjung wisuda, malah aku rasa akan menjadi mahasiswa abadi. Sudah jenggotan atas bawah masih saja kayak bocah. banyak-banyak tuh belajar, supaya skripsinya cepat kelar. Bude sudah ingin mendengar kabar baik darimu."balas Andini tak mau kalah.
"Hsssst.... sudah sudah kalian ini malah ganggu istirahat Opa."Tuan Miko kembali menyelam perdebatan Putra dan putrinya.
"Nak Dimas, mohon maaf ya Andini sama kakak sepupunya memang selalu begitu, entah salah apa Mama saat hamil sampai melahirkan anak seperti Andini." ucap Ibu Laras yang membuat Andini langsung menatap ke arah sang ibu.
"Iya Ma, mungkin Andini kangen sama kakaknya timpal Dimas yang sedari tadi hanya berdiri dalam diam menatap perdebatan kakak beradik sepupu itu.
"Ya sabar ya bro, menghadapi cacing kremi kayak gitu."Herlan menepuk pundak adik iparnya, pria berwajah manis itu segera berjalan kearah sofa dan duduk santai.
"Andini mana suamimu? tanya Tuan Pratama dengan lirih. Seketika Andini langsung melihat ke arah Dimas yang sudah peka dan langsung mendekat.
"Nak Dimas tolong jaga Andini baik-baik ya. Opa tahu dia bukan anak yang baik, dia juga bertingkah urakan. Suka nongkrong bersama teman-teman lelaki dan terkadang ikut-ikutan balap liar. Tapi dia juga cucu kesayangan Opa kok. Opa harap kamu tidak menyesal menikah dengannya.
"Uhuk... uhuk.... lelaki lanjut usia itu berkata dengan suara lemah dan diiringi batuk
"Opa nggak usah jujur-jujur banget kali,"timpal Andini sedikit kesal kepada sang Opa.
"Opa udah nggak bisa lagi berbohong Din,"
"Nak....
"Iya Opa."Dimas segera mendekat ke arah kakek dari istrinya itu.
"Nak Dimas, Opa mau nak Dimas janji sama Opa untuk selalu menjaga dan membimbing Andini, ya."ucap Tuan Pratama dengan suara lemah. Seketika Andini dan Dimas saling melempar pandangan.
__ADS_1
"Insya Allah Opa." balas Dimas tanpa ragu
"Alhamdulillah. Opa jadi tenang kalau begini, tidak ada yang memberatkan Opa. Karena cucu Opa yang satu ini sudah ada yang jaga."
"Opa kok ngomong gitu, sih? Andini menatap Sang kakek dengan Sendu. Buliran bening kembali mengenang di pelupuk matanya.
"Memangnya kenapa? jika sudah menitipkan kamu kepada orang yang tepat rasanya Opa lega dan tidak ada yang memberatkan lagi."
"Memangnya apa mau, kemana? tanya Andini dengan air mata yang seakan menetes.
"Opa mau tidur, kalian pulang saja. Opa mau istirahat."
"Opa beneran mau tidur doang, kan?"tanya Andini dengan wajah khawatir.
"Iya, kamu tenang saja. Belum waktunya kok Opa meninggalkan dunia ini. Sekarang Opa hanya mau istirahat dan tidur.
"Sebaiknya kalian pulang saja ya, biarkan Opa istirahat."titah Nyonya Laras
"Andini mau nginep aja di sini menemani Opa."
"Andini nggak boleh gitu, kasihan suamimu kalau kamu nginep di sini. Lagian ada Mama Papa, Herlan yang menemani Opa di sini." bujuk Ibu Laras.
"Ayo pulang!"ajak Andini sambil menghentakkan kaki dan berjalan terlebih dahulu.
"Ma, Pa, Opa semuanya kita pulang dulu ya. Opa cepat sembuh."pamit Dimas yang dibalas senyuman hangat dari kedua mertuanya dan juga kakek dari istrinya, yang masih terbaring di atas branker pasien.
"Setelah itu pria bertubuh tegap itu langsung mengejar langkah istri yang sudah keluar terlebih dahulu. Andini masih merasa kesal kepada suaminya. Hingga Ia pun tak menggubris panggilan Dimas.
Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Di antara keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, sampai roda empat itu meninggalkan area rumah sakit.
Dimas melirik sekilas ke arah Andini yang sedang sibuk bermain ponsel, entah apa yang dilakukan istrinya dengan benda canggih itu, sampai tak menghiraukan dirinya yang duduk di samping.
"Apa tugas kamu sudah selesai?" tanya Dimas memulai pembicaraan.
"Sudah." jawab Andini dengan Tatapan yang masih terarah kepada layar ponsel yang ada di dalam genggamannya.
__ADS_1
"Baiklah, saya hanya ingin mengingatkan kalau besok pagi tugas itu harus langsung dikumpulkan. Syukurlah kalau kamu sudah menyelesaikannya semua tugas itu." ucap Dimas. Setelah itu ia langsung menutup bibirnya rapat-rapat.
Andini sekilas melirik suaminya yang berwajah dingin, matanya menatap lurus ke arah jalan.
Andini berbalas pesan dengan teman-teman geng motor yang ingin melaksanakan balapan dua hari yang akan datang. Mereka meminta agar Andini ikut serta dalam lomba itu. Mendengar hadiah yang begitu menggiurkan Andini ingin segera mengikutinya. Tapi lagi-lagi Andini ingat kalau motornya saat ini berada di rumah kedua orang tuanya dan dia tidak diizinkan untuk membawa.
"Aku tidak bisa ikut, gush. Karena motorku saat ini sedang dalam perbaikan dan Mungkin dua minggu akan datang baru clear.
"Tak apa, kamu bisa menggunakan motorku." Ucap Morris menawarkan motornya kepada Andini dalam pesan whatsapp-nya.
"Kamu serius?
"Iya, serius lah Apa kamu tidak tergiur dengan hadiah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah?
"Tentu aku tergiur, Apalagi aku sudah lama tidak balapan, Aku ingin menguji nyaliku kembali."pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Andini kepada teman teman geng motornya.
"Senang kalau kamu menjawab seperti itu, Aku tunggu kedatanganmu jam tiga sore di tempat biasa."sahut Moris di balasan chat WhatsAppnya.
Andini memilih untuk pura-pura tertidur aja, setelah selesai kirim pesan Whatsapp kepada teman temannya. Dan Andini saat ini mulai memejamkan mata seolah sedang tertidur pulas.
Perjalanan dari rumah sakit tidak terlalu jauh, tetapi jalan yang cukup macet membuat mereka lebih lama di jalan.
Sepanjang perjalanan Andini masih memejamkan matanya dengan rapat, bahkan dengkuran halus mulai terdengar.
Dimas menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah mereka.
"Bangun! kita sudah sampai." ucapnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Andini. ia tahu istrinya itu hanya pura-pura tidur.
"Bangun Saya tahu kamu hanya pura-pura tidur." pria itu melanjutkan ucapannya ketika menoleh ke arah istrinya mendengar dengkuran pelan.
Dahinya mengerut menatap.l wajah lelap sang istri.
"Kamu beneran tidur?"tanyanya dengan mata yang menelisik lebih dalam wajah sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN