Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 284. TIDAK BISA TIDUR


__ADS_3

Hampir semalaman Erin tidak bisa tidur, tubuhnya masih terasa sakit, terutama di bagian bawah.


Bima yang menemaninya juga ikutan tak bisa tidur, walaupun matanya terasa ngantuk, tetapi tetap ia paksakan melotot demi menemani sang istri.


Mereka benar-benar hanya bertiga dengan bayi yang baru lahir.


Tuan Anggara telah pulang, karena pria itu tidak dapat terlalu lama di rumah sakit yang mana pria itu kondisi kesehatannya tidak terlalu baik. Jadi tuan Anggara butuh istirahat yang cukup.


Bahkan, saat matahari kembali terbit, Bima dan Erin jika dihitung hanya tidur 1 jam dalam semalam.


Keduanya kembali membuka mata. Bima mempersiapkan segala kebutuhan istrinya. Pria itu seolah menjadi suami siaga.


Bahkan, dia juga sampai menyuapi Erin yang masih terbaring di atas branker pasien. padahal, Erin baik-baik saja dan bisa makan sendiri, tetapi Bima yang melihat langsung proses persalinan istrinya, menganggap kalau Erin masih terluka.


"Kapan kita pulang?"tanya Erin setelah menghabiskan satu mangkok bubur dengan disuapi oleh Bima.


"Kata dokter, besok pagi juga sudah bisa pulang."jawab Bima Seraya mengambil tisu dan mengelap bibir istrinya yang sedikit basah bekas minum.


"Aku sudah nggak betah di sini. Aku pengen cepat pulang,"rengek Erin dengan manja.


"Iya, kamu sabar dulu. tinggal satu malam lagi kok. Kata dokter, kita harus benar-benar memastikan kalau anak kita benar-benar sehat,"tutur Bima dengan suara pelan, dia berusaha sabar saat menghadapi istrinya.


"Kata siapa anak kita sakit? anak kita sehat kok. tuh kamu lihat! sudah ah, Kita pulang yuk! rengek Erin kembali dengan tangan yang menunjuk ke arah bayi mereka yang masih tertidur.


"Tapi kan dia baru dilahirkan semalam. dokter masih akan memeriksanya. Kamu tenang saja, di sini juga nggak diapa-apain."


"Tapi aku nggak betah di sini. Apa kamu tidak merasakan di sini semuanya bau obat, mana ranjangnya sempit. Aku nggak bebas bergerak. Kita pulang saja yuk!"Erin mengguncang lengan Bima, merengek bagaikan anak kecil yang minta jajan.


"Oaaaa ... Oaaaaa..."suara tangis bayi membuat kedua orang itu seketika mengalihkan pandangannya pada kasur tempat bayi.


Bima langsung memasang wajah panik saat mendengar putranya menangis, berbeda dengan Eren yang terlihat biasa-biasa saja.


"Anak kita bangun! Bima segera bangkit dan mengambil bayi itu dari tempatnya.


"Kayaknya dia pengen nyusu deh, coba kamu susui lagi! semalam kan ASI nya udah mulai ada walaupun sedikit, coba kamu susui lagi siapa tahu sekarang ASI nya udah banyak.

__ADS_1


Bima menyodorkan bayi mungil itu ke arah Erin.


"Nggak ada! kamu saja yang nyusuin! dipikir menyusui nggak sakit apa. Semalam juga sudah sakit banget. ASI nya nggak ada. kamu gendong aja sana!"tolak Eren dengan bibir mengerucut. Wajah wanita itu terlihat masam.


"Kamu kenapa sih? ini anak kita kasihan loh dia mau nyusu!"Bima menatap heran ke arah istrinya.


"Aku bilang nggak ada, ya nggak ada! maksa banget sih!"ketusuk wanita itu.


"Assalamualaikum,"ucapan salam diiringi drat pintu terbuka.


Bima dan Erin langsung mengarahkan pandangannya pada pintu ruangan itu.


Dua orang paruh baya masuk secara bersamaan.


"Waalaikumsalam. Mama, Papa! cepat banget?"mata Bima berbinar saat melihat kedua orang tuanya datang dari kampung.


"Sebenarnya Papa dan Mama semalam sudah berada di Jakarta. Ke tempat sepupu kamu, karena tadi malam mereka mengadakan hajatan pernikahan sepupu kamu dari mama."Mpok Nining memberitahu.


"Lagian, mama sama papa sudah tidak sabar pengen melihat anak kalian. Makanya, cepat-cepat kami berpamitan kepada uak kamu,"Mpok Nining dan Muhammad Ali mendekat ke arah Bima dan Erin sambil membawa parcel berisi buah-buahan.


"Masih agak sakit Ma,"jawab Erin dengan nada.


"Lebih baik kamu istirahat dulu. mana ini cucu Oma, mau lihat si cantik dulu."Nining mendekat ke arah Bima dan melihat wajah cucunya.


"Oaaaaa....oaaaa...."bayi itu menangis semakin kencang.


"Uluh, cocok Makan apa ngamuk? Bima, sini, biar mama yang gendong."Nining segera mengambil cucunya dari dalam gendongan Bima.


"Oaaaaa.....Oaaaaa...."tangisan bayi terdengar memenuhi seisi ruangan.


"Waduh ini kayaknya pengen nyusu, lebih baik kamu susuin dulu si dedeknya Erin."Nining menyodorkan bayi itu ke arah Erin.


"Air susunya nggak ada."balas Eren singkat.


"Semalam sudah ada sedikit,"Timpal Bima.

__ADS_1


"Itu semalam, cuman sedikit lagi. sekarang sudah nggak ada."Ketus Erin.


Bima menatap heran ke arah Bima, Entah kenapa istrinya itu terlihat aneh.


"Loh, Nak Erin. namanya baru melahirkan. Nanti kalau sudah sering menyusui, ASI nya akan semakin banyak. Ayo susui! kasihan nih si dedeknya nangis terus."Nining kembali menyodorkan bayi yang berada di pangkuannya ke arah sang menantu.


"Kasih susu formula saja kenapa sih? sudah dibilangin gak ada air susunya,"tolak Erin kembali yang membuat Nining merasa geram.


"Erin Kamu kenapa nggak mau menyusui anak kamu sendiri? nggak kasihan apa dari tadi dia nangis terus?"sergah Nining dengan geram.


"Heh, Ada apa ini? Kenapa kamu bentak-bentak anak saya?"Ciledug Tuan Anggara yang baru membuka pintu ruangan.


Pria itu segera mendekat ke arah Erin.


"Maaf Pak. saya bukan membentak Erin, tapi Eren tidak mau menyusui anaknya. kasihan anaknya dari tadi nangis terus, nggak disusui," jelas Nining mengayun-ayun bayi yang masih berada di dalam gendongannya, berusaha menghentikan nangis cucunya.


"Tapi cara bicaranya terdengar kurang baik, Ibu tadi membentak Erin, saya mendengar langsung karena saya tidak tuli,"sangkal Tuan Anggara dengan nada yang terdengar nyolot.


"Saya tidak membentak Erin, tapi saya hanya menyuruhnya untuk menyusui anaknya."


"Kan sudah aku bilang, kalau ASI nya Nggak ada. Kalau dipaksa aku malah sakit."Erin menyahuti dengan kesal.


"Namanya juga pertama, Nanti kalau sudah terbiasa nggak akan sakit. Coba lagi dong, kasihan si dedeknya nangis terus."Nining menatap bayi yang masih merah itu.


"CK .. maksa banget, orang gak mau ya nggak mau!"bentak Erin.


"Astagfirullah, kok kamu bentak mama!"Nining menatap menantunya dengan heran.


"Sudah, cukup! lebih baik diberi susu formula aja dulu, daripada berdebat seperti ini."ucapkan Anggara karena sudah gerah mendengar perdebatan itu.


Nining dan Muhammad Alim tercengang saat mendengar Tuan Anggara sepertinya setuju memberikan susu formula saja kepada anak Erin dan Bima.


Begitu juga dengan Bima, pria itu menatap tak percaya kerah irin yang tidak Sudi memberikan asinya kepada putri mereka.


Kenapa Erin tiba-tiba berubah, membuat dirinya hanya menggelengkan kepala memperhatikan tingkah Erin yang sedikit berbeda. Entah Karena rasa sakit yang ia rasakan saat melahirkan, atau karena Eren merasa sakit semalam menyusui putrinya, karena baru pertama kali menyusui seorang bayi.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2