
"Apaan sih ditarik-tarik?"tanya Andini Seraya membalikkan badannya.
"Buka helm dan sarung tangan kamu!"titah Dimas dengan wajah datar.
"Kenapa sih? suka-suka dong! Andini akan kembali melangkahkan kakinya, tetapi dengan segera, Dimas menarik kembali tangan istrinya.
Dimas menarik tangan Andini agar semakin mendekat ke arahnya, pria tampan itu menatap dalam-dalam wajah Andini dengan jarak yang semakin mendekat.
Gadis dengan rambut diikat ekor kuda itu terdiam sejenak. Entah kenapa dirinya tak bisa menghindar ketika Dimas semakin mengikis jarak.
Wajah dingin Dimas terlihat lebih tampan dari jarak dekat, aroma maskulin dari parfum yang dikenakan pria itu, seakan memenuhi indra penciuman seorang Andini, yang sedang menatapnya dengan mata yang hampir tak berkedip, Bagaimana tidak, Andini terpesona melihat ketampanan Dimas dari jarak dekat.
Andini memejamkan matanya ketika tangan Dimas bergerak ke arah dagunya, Gadis itu seakan telah bersiap menerima sesuatu yang mungkin pertama kali dirasakan.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya dengan tangan yang memegang dagu Andini.
Gadis itu menggerakkan bibirnya selalu mencari sesuatu di depannya.
"Jangan geer, Saya hanya ingin membuka helm kamu."Celetuk Dimas membuka pengait helm pada dagu Andini.
Seketika wajah Andini memerah dengan mata yang menatap tajam ke arah Dimas, yang saat ini berusaha membuka helm dari kepala Andini
"Kenapa dia bisa segila itu membayangkan hal yang mustahil terjadi.
Padahal Ia sangat tidak menyukai suaminya, tetapi kenapa Dimas itu mendekatinya, ia Malah seakan tak bisa menghindar.
"Sini helmnya, Saya mau berangkat Nanti telat."Andini akan mengambil helm itu dari tangan Dimas, tapi pria itu segera menjauhkan tangannya.
"Mulai sekarang kamu berangkat bareng saya."Dimas kembali menaruh helm itu ke atas lemari.
"Nggak mau! aku mau berangkat sendiri saja! lagian ngapain harus berangkat dengan bapak, saya mahasiswa dan bapak itu dosen saya."ucap Andini akan kembali mengambil helmnya. Tetapi tangan Dimas segera menarik tangannya dan melangkah dengan lebar.
"lepasin! Bapak kenapa sih tarik tarik saya?"Andini mengikuti langkah Dimas sambil terus memberontak menarik tangannya.
"Jangan cerewet, Sudah buruan masuk ini perintah dari suami dan sekaligus dosen!"Dimas membuka pintu mobilnya dan menyuruh Andini untuk segera masuk.
"Pemaksaan ini namanya." Gerutu Andini Seraya masuk ke dalam mobil dengan terpaksa.
Setelah memastikan Andini sudah duduk di dalam mobil, tepat di samping kemudi, Dimas segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan roda empat itu sebelum istrinya keluar lagi.
__ADS_1
"Besok kita pindah rumah."Dimas memulai pembicaraan setelah beberapa menit.
"Pindah ke rumah siapa?"tanya Andini dengan tatapan lurus, tak melirik sedikitpun keras suaminya.
"Iya ke rumah kita lah, masa ke rumah tetangga."balas Dimas yang membuat Andini menatapnya dengan sebel.
"Nggak mau! bapak aja yang pindah."
"Kamu itu istri saya, dan seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi."
"Tapi saya nggak mau, Sudah jelas-jelas Bapak tidak mencintai saya, dan saya juga tidak mencintai Bapak. kena,pa juga pernikahan itu harus terjadi. Bukankah Bapak seharusnya bisa menolak? begitu banyak alasan yang harus Bapak lakukan, tapi malah mengiyakan pernikahan itu.
Aku tahu pak dosen pasti ingin menghancurkan masa depanku, kan? Oke, aku minta maaf Kita selalu berdebat saat berada di kampus. Tapi bukan begini juga caranya untuk menghancurkan masa depanku juga pak.
Bagaimanapun aku berhak memilih siapa yang menjadi pasangan hidupku. Apalagi aku tidak suka yang namanya dikekang, makin dikekang aku merasa tidak nyaman. "ucap Andini dengan nada suara sedikit meninggi tapi tatapannya lurus ke depan.
"Tidak perlu banyak bicara, di dunia ini bicara banyak tapi perbuatan tidak ada itu sama sekali nol. Terserah Jika kamu tidak mau pindah dengan saya paling Mama ngusir kamu dari rumah, kalau kamu nggak mau ikut saya."ucap Dimas dengan santai tanpa peduli perasaan Andini yang sebenarnya
"Kenapa semua orang menjadi menyebalkan sih? Aaaarrrgh...."Andini berteriak sekencang mungkin sampai membuat telinga Dimas berdengung.
"Berisik! ngapain juga kamu teriak-teriak? Dimas mengusap telinganya.
"Apes banget hidup aku."gumam Andini
"Kamu teriak-teriak melulu sih? bisa-bisa saya jadi tuli kalau dekat-dekat terompet kayak kamu."Dimas menghentikan laju mobilnya tepat di depan gerbang.
"BOMAT (bodoh amat), mau tuli kek, mau apa kek ,Saya nggak peduli."Andini membuka pintu mobil itu
"Eh kamu mau ke mana?"
"Mau turun lah. Jangan harap saya mau naik mobil sama bapak sampai ke halaman kampus. Bisa bisa reputasi saya hancur kalau ada yang melihat saya datang bersama Bapak."
"Nggak salah tuh? yang ada reputasi saya hancur kalau ada yang melihat saya datang bersama terompet,"balas Dimas yang membuat Andini menjadi semakin kesal.
"What? bapak bilang saya terompet? terus bapak apa namanya julukan serigala berbulu domba! Andini segera turun dan menutup pintu mobil itu dengan kasar.
Gadis itu berjalan dengan memasuki gerbang kampus.
Tiiiitt
__ADS_1
bunyi klakson motor yang begitu nyaring membuatnya terlonjak kaget.
Andini segera membalikkan badannya dan melihat ke arah sebuah motor yang berada di depannya.
Seketika matanya memanas ketika melihat Bagas sedang berboncengan dengan seorang wanita, Siapa lagi kalau bukan dengan Almira.
"Brummmm!
Motor ninja itu kembali melaju meninggalkan Andini yang menatapnya dengan penuh kehancuran.
"Bagassssss!!!! teriak Andini dengan sekencang mungkin sampai urat tenggorokannya menegang.
Tiiiit!
suara klakson mobil kembali mengagetkannya. Andini tersentak dan segera berjalan ke pinggir memberi jalan kepada mobil di belakangnya.
"Kamu ngapain Masih di situ, mau nungguin seorang pemuda tampan ingin menyambut mu?"ejek Dimas ketika mobilnya lewat ke arah Andini.
"Dasar serigala berbulu domba! Ah, semuanya menyebalkan."Andini menendang udara dengan sekuat tenaga sampai membuat sepatu yang dikenakannya terlepas.
"Huaaaaa... sepatu juga ikut-ikutan menghianati aku! teriaknya kembali sambil melihat ke arah sepatu yang terlempar dan tepat jatuh ke dalam tong sampah.
"BRUKKK
Seorang wanita yang mengenakan kaos oblong membanting tasnya ke atas meja dan duduk dengan kasar di bangku paling pojok depan menjadi tempat andalannya.
"Astagfirullah, Aku kira ada ledakan nuklir tiba-tiba di dalam ruang kelas ini." Celetuk salah satu mahasiswa yang tidak terlalu dekat dengan Andini. Tapi sepertinya wanita ini ingin sekali dekat dengan Andini, tapi sepertinya Andini enggan untuk bersosialisasi dengan wanita dan memilih berteman dengan teman-teman prianya.
"Tumben kamu istighfar?"balas Andini dengan Ketus menatap wanita yang ada di samping tempat duduknya.
Wanita yang duduk-duduk di samping tempat duduknya menoleh ke arah Andini yang berwajah masam
"Kamu kenapa sih Andini? pagi-pagi tuh muka, kamu sudah seperti cuka bilang aja asam benar."ucap wanita itu yang mampu membuat Andini langsung menatap wanita yang ada di samping kursinya dengan tatapan tajam.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN