Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 214. TEMAN TAPI MESRA


__ADS_3

Sementara itu, Erin berusaha membantu mertuanya dan beberapa ibu-ibu membereskan bekas acara selamatan.


Meskipun ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan, tetapi Erin tetap berusaha agar tidak disebut pemalas oleh mertuanya.


Wanita itu mengangkat beberapa piring bekas jamuan para tamu.


Aduh Nak, Erin. jangan ikut-ikutan bantuin. duduk aja di sana, Ini biar ibu-ibu yang ngerjain." ucap Sulastri Seraya mengambil beberapa piring kotor dari tangan menantunya.


"Tapi Ma!!


"Sudah,tidak usah takut dan sungkan begitu. Mending sekarang Nak Erin, masuk ke kamar istirahat atau duduk di sofa aja." titah Sulastri sambil menunjuk ke arah sofa.


"Iya, Erin duduk di sofa aja. Wanita itu berjalan ke arah sofa dengan perasaan tak enak.


"Bima!! Tolong antarkan ini ke pak ustad. Tadi beliau tidak bisa hadir. Karena tidak enak badan, tapi tidak apa-apa. Karena Mama sudah terlanjur menyediakan berkat dan amplop untuk ustad. Tetap kita kasih." tutur Sulastri sambil menyerahkan sebuah plastik ke arah Bima.


"Ustad Risman, rumahnya yang dimana, ya Ma? tanya Bima dengan wajah bingung


"Yang dekat masjid, rumahnya cat biru. Cepat!!! bawa motor Papa saja." titah Sulastri kembali.


Erin yang mendengar itu menatap kerah Bima. Rasanya ia tak mau ditinggal sebentar saja oleh suaminya.


"Erin, Aku mau antar ini dulu, ya sebentar. kamu kalau mau tidur, ke kamar aja dulu." pamit Bima.


Erin hanya mengangguk dengan wajah sendu sebenarnya ia ingin ikut saja bersama suaminya.


"Iya, Nak Erin tidak boleh ikut, ya. Jangan keluar malam-malam, agak takut." timpal Sulastri yang lagi-lagi di angguk dengan paksa oleh wanita itu.


Bima keluar melaksanakan perintah sang ibu dengan mengendarai motor milik ayahnya.


Erin masih duduk di atas sofa. Wanita itu menunggu suaminya dengan perasaan tak enak. Saat ini, ia berada di rumah itu seperti seorang diri. Padahal di rumah yang cukup luas itu sangat banyak orang.


Erin termasuk orang yang susah beradaptasi dengan sekitarnya. Sehingga ia akan tetap merasa asing di tempat yang baru didatanginya dan bersama orang-orang yang belum lama dikenalnya.


Hingga hampir setengah jam, ia menunggu suaminya masih belum kembali juga. akhirnya Erin bangkit dari tempat duduknya karena merasa cukup pegal.


Wanita itu berjalan ke pintu depan, berniat untuk menunggu kedatangan suaminya dari luar rumah.


"Erin, tidak usah cemas. Pasti Bima sebentar lagi datang ." ujar Wulan yang masih sibuk ke sana kemari.


"Iya, kak. balas Erin singkat


Erin menunggu di ambang pintu. Hingga Tak lama kemudian, terdengar suara deru motor dari kejauhan. Wanita itu menajamkan penglihatannya.Ia yakin motor yang baru terlihat lampunya itu adalah motor yang dibawa suaminya.

__ADS_1


Erin berjalan ke arah teras dan bersiap menyambut kedatangan Bima. Namun, motor itu malah tetap lurus dan hanya melintas di rumah yang ditempatinya saat ini.


Erin menyempitkan mata, ia yakin tak salah lihat bahwa tadi lewat di depan rumah itu adalah Bima. Tetapi pria itu tidak sendiri.


Bima membonceng seorang wanita yang mengenakan celana jeans dan baju kaos.


Seketika hati Erin memanas, air mata tak terasa luruh begitu saja. Pikiran buruk mulai menerpa dirinya. Siapakah wanita itu?


Kenapa Bima memboncengnya malam-malam begini? apa pria itu membohonginya? izin ke rumah pak ustad, tapi malah ketemuan dengan wanita lain.


Erin mematung di teras rumah, sambil meremas Jemarinya sendiri. Ia bingung harus berbuat apa. Air matanya tidak berhenti menetes, Jika ia masuk ia merasa malu takut jika ada orang yang melihat air matanya.


Ingin rasanya ia pulang saja, dirinya merasa menyesal kenapa tadi dia tidak pulang bersama ayah dan kakaknya.


Namun, sebuah motor yang berhenti di depan rumah itu membuat Erin buru-buru menghapus air matanya. Bima turun dari motor dan segera berjalan ke arah teras di mana istrinya sedang berdiri bak sebuah manekin.


"Erin, Kenapa kamu ada di luar?" tanya pria itu setelah berdiri di hadapan istrinya.


"Siapa perempuan tadi? kenapa kamu bonceng dia? kamu bohong ya? bilang kau ke rumah pak ustad, tapi malah ketemuan sama cewek lain!" cerocos Erin yang tak lagi menahan gejolak di hatinya.


"Erin, tadi itu namanya Pipit. Dia tetangga aku, kebetulan tadi kita bertemu di depan. Dia baru pulang kuliah, dan naik angkutan umum yang cuman sampai depan gang. Makanya aku ajak dia naik motor sekalian. Kasihan kalau harus jalan kaki." jelas Bima sedetail mungkin.


Namun, ucapan pria itu malah membuat air mata Erin mengalir semakin deras


"Bukan gitu maksud aku, lagian Kenapa kamu menunggu di luar? kan sudah aku bilang kamu tidur aja dulu."


"Oh, jadi kalau aku tidur, kamu bisa lama-lama sama cewek itu, giut?" tuduh Erin membuat Bima memijat keningnya.


'Jangan negatif thinking! Aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan! aku sama Pipit cuman berteman." elak Bima


"Teman Tapi mesra gitu!!"


"Astaga Erin!"


"Eh ada apa ini?kenapa ribut-ribut di sini?" tanya Sulastri yang tak sengaja mendengar perdebatan anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu segera menghampiri Erin dan Bima yang masih berdiri di teras rumah.


"Ma, Masa cuman gara-gara aku bonceng Pipit aja dia marah begini, Sampai nuduh aku macam-macam lagi." jelas Bima sambil menunjuk ke arah Erin.


"Hah?!!si Pipit penyanyi dangdut itu, anaknya Khalifah?!!! sergah Sulastri dengan mata membulat.


"Iya." jawab Bima singkat.


"Ngapain kamu bonceng si pipit segala?!!tanya Sulastri dengan rahang mengeras.

__ADS_1


"Bima cuman kasihan, Ma. Tadi nggak sengaja ketemu si Pipit di depan, ya udah Bima ajak bareng aja. Kan rumahnya si Pipit dekat, disana. Bima menuju ke arah kanan Di mana rumah tetangganya terletak.


"Bodo amat!!! Mama tidak peduli,tahu sendiri tadi ibunya si Pipit julid nya naudzubillah sama Mama. Pokoknya kamu harus minta maaf sama istri kamu, tuh lihat nak Erin sampai nangis gitu." ucap Sulastri melihat ke arah menantunya yang sibuk menyeka air matanya.


"Ya udah, aku minta maaf." ucap Bima dengan nada sedikit terpaksa.


"Minta maaf, kayak orang gak ikhlas gitu. sudah, mending sekarang bawa istri kamu masuk ke dalam kamar. Ini sudah malam, tidak baik di luar terus.


"Iya Ma, ayo kita masuk!! Bima menarik tangan Erin untuk masuk ke dalam rumah. Namun, wanita itu kembali menarik tangannya dengan kasar dan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.


"Erin tunggu!! Bima mengejar langkah istrinya dan ikut masuk ke dalam kamar.


Erin segera naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Wanita itu memeluk guling dan kembali menumpahkan tangisnya.


"Erin, Sudah dong. Jangan nangis terus.Masa cuman gara-gara gitu doang, kamu ngambek. Aku kan udah minta maaf." Bima ikut naik atas ranjang dan duduk di samping Erin yang membelakanginya.


Wanita itu tidak memberi respon. Erin masih terdiam hanya isakan pelan yang keluar dari mulutnya.


"Jangan nangis terus dong, kan aku jadi merasa bersalah." Bima mendekatkan tubuhnya ke arah Erin.


"Kamu memang salah." balas wanita itu dengan kesal.


"Iya, aku salah. Walaupun cuma sedikit. Aku minta maaf, udah jangan nangis lagi."


"Kayak nggak ikhlas minta maafnya."


"Ck....Kenapa sih cewek ribet banget perihal minta maaf doang juga."gerutu Bima sambil mengacak rambutnya.


"Tuh, kan. menggerutu sendiri kayak gitu. memang kamu tuh nggak pernah ikhlas kalau minta maaf." Erin merubah posisinya menjadi terlentang agar ia bisa melihat wajah suaminya.


"Ya udah ,Sayang. Aku minta maaf, jangan nangis lagi. Sayang air matanya." Bima mengusap pipi wanita itu menghapus air mata sang istri.


Erin tidak membalas. Wanita itu hanya mengembangkan senyuman.


"Nah, udah senyum. Berarti udah maafin aku." Bima ikut merebahkan tubuhnya dan membawa tubuh ramping sang istri ke dekapannya. lagi lagi Erin hanya tersenyum dan menelusupkan wajah pada dada bidang pria itu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2