Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 260. ULTIMATUM


__ADS_3

"Aku merasa, kita tidak cocok. Kamu anak orang kaya, tinggal di kota, punya perusahaan besar, punya uang yang banyak, Bahkan kamu mampu membeli hidup seseorang. Aku rasa, kamu lebih pantas hidup bersama seorang lelaki yang sepadan dengan mu, mungkin seperti Rehan,"tutur Ricky yang membuat hati Nisa semakin tersentuh, rasa bersalahnya semakin besar ketika mendengar penuturan pria itu.


"Ricky, aku sudah minta maaf. Saat itu aku khilaf, sampai mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak pantas. Tapi asal kamu tahu, Aku sangat mencintaimu Kamu apa adanya, aku hanya menginginkan cinta dan kasih sayang dari kamu. Maafkan Aku...


Tik.


Buliran bening menetes dengan perlahan, satu persatu buliran bening itu menetes hingga perlahan mengalir semakin deras.


Nisa meraih kedua tangan Ricky dan menggenggam erat jemari suaminya.


"Aku minta maaf sayang."Nisa menghambur begitu saja ke dalam pelukan Ricky dan menumpahkan tangisnya di dalam dekapan pria itu, membiarkan kaos tipis yang dikenakan suaminya basah oleh air mata.


"Tidak usah minta maaf lagi. Aku sudah bilang kalau aku bisa memaafkan Siapa saja yang sudah mengakui kesalahannya. Hanya saja....


"Hanya saja Apa? Jangan katakan kalau kamu mau meninggalkan aku lagi. Aku nggak mau, Aku cuman mau hidup sama kamu. Kalau kamu mau ninggalin aku lagi lebih baik aku mati saja."Nisa semakin histeris dengan dekapan yang semakin mengerat


"Apa yang kamu harapkan dari aku? aku ini hanya lelaki biasa. Aku bukan berasal dari kaum borjuis seperti kamu. Aku hanya lelaki kampung yang numpang bernafas di bumi ini, bahkan presiden pun tidak tahu kalau aku hidup di dunia ini."


Seketika Nisa mengangkat kepala menatap wajah suaminya.


Ia ingin tertawa ketika mendengar penuturan pria itu, Tetapi hatinya terlanjur melo.


"Kamu mau dikenalkan sama Pak presiden? Biar dia tahu kalau kamu hidup di dunia ini Dan Kamu adalah suamiku. Menantu dari Arnold dirgantara yang menjadi teman main kelereng Pak presiden waktu kecil?"tutur Nisa dengan alis yang terangkat sebelah.


"Tidak usah! Lebih baik aku sendiri yang nyalon jadi presiden, biar lebih banyak yang tahu kalau di dunia ini ada spesies langkah seperti aku."balas Ricky dengan wajah serius. Tetapi malah membuat bibir Nisa mengembangkan senyuman, meskipun air matanya terus menetes.


"Ternyata kamu masih bisa bercanda ya! yang membuat aku tidak bisa jauh darimu. Maafkan aku ya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Jangan tinggalkan Aku Lagi, kita kembali ke kota bersama-sama ya! minta Nisa dengan wajah penuh harap.


"Nggak mau! aku masih trauma."


"Trauma apaan? sudah kayak korban perkosaan aja!"Nisa mencoba pelan perut suaminya


"Mental aku yang trauma. Kamu telah menjatuhkan Aku. Bahkan menginjak-injak harga diriku, bagaikan ****** bekas."


"Ricky ih! ngabrut banget! Nisa kembali memberikan cubitan pelan pada suaminya.

__ADS_1


"Aku beneran, kalau kamu mau pulang pulang saja sana!"


"Tapi aku maunya pulang sama kamu."


"Aku mau tetap di sini, di sini lebih tenang."


"Jangan gitu dong, nanti perusahaan Siapa yang ngurus? Nisa menatap suaminya dengan bibir mengerucut


"iya kamu lah, itu kan perusahaan kamu."balas Ricky cuek


"Makanya kita pulang lagi ya." bujuk Nisa


"Nggak mau! untuk sementara waktu aku mau di sini dulu. Kalau kamu masih menganggap aku sebagai suami kamu, kamu pasti mengikuti aku, kemanapun aku pergi di manapun aku tinggal "ucap Ricky yang membuat Nisa semakin bertambah bingung.


"Tapi nasib perusahaan gimana?


"Kalau begitu, berarti kamu lebih memilih perusahaan dibanding suami kamu sendiri."


"CK, iya deh nanti aku minta sama asisten untuk mengurus semuanya. Terus kita di sini mau ngapain? masa diam aja nggak enak dong sama orang tua kamu.


"Maksudnya? Nisa mengerutkan kedua alisnya.


"Karena orang di sini, jarang ada yang memakai jasa asisten rumah tangga, jadi semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri. mulai dari nyuci baju, nyuci piring, nyapu, ngepel, masak, dan jangan lupa orang tua aku punya ternak kambing dan sapi. Walaupun ada karyawan khusus, tapi Mama dan Papa sering membantu para karyawan untuk ngasih makan kambing dan sapi, dan membersihkan kandangnya.


Nisa membulatkan mata. Mendengarnya saja ia sudah mau pingsan. Apalagi jika harus melakukannya semua.


"Gimana? mau tinggal di sini beberapa hari, atau pulang sendiri ke kota?"tanya Ricky dengan mata yang menatap intens wajah istrinya.


"Ya sudah deh, tapi cuman beberapa hari doang kan.


"Tergantung. Aku cuman mau melihat seberapa besar kamu mau menerima aku apa adanya.


"Ya udah, ya aku nurut aja. Asal kamu nggak jadi ninggalin aku." Nisa kembali mengeratkan pelukannya.


"Kenapa kamu sampai begini banget sama aku Nisa? padahal kamu itu cantik, kaya, pasti banyak laki-laki yang lebih baik dari aku yang mau hidup bersama kamu." Ricky menatap ke arah Nisa yang sedang menelusupkan wajah pada dadanya.

__ADS_1


"Bagi aku tidak ada yang lebih baik dari kamu." Nisa menengadahkan wajah menatap ke arah suaminya.


"Beneran? bukan karena pusaka milikku yang membuatmu ketagihan?" celoteh Ricky dengan wajah datar yang membuat kedua pipi Nisa seketika merona.


"Itu juga salah satunya." Nisa mendorong tubuh suaminya telanjang


BUGH


Bruk


Astaga!!!


Suara itu terdengar bersamaan dan beriringan dengan teriakan Nisa.


"Astaghfirullah Ricky, Ada apa ?Jangan pukul istrimu!"teriak Ibu Sulastri yang datang bersama suaminya menerobos pintu kamar putranya yang tidak dikunci.


Seketika mata sepasang suami istri paruh baya itu membulat saat melihat Ricky dan Nisa terjatuh di atas ranjang yang telah roboh, dengan posisi Nisa yang berada di atas tubuh Ricky


Tak lupa pula daster yang dikenakan Nisa tersingkap ke atas, sampai memperlihatkan paha mulusnya.


Papanya Ricky langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat melihat anggota tubuh Sang menantu yang tak pantas dilihatnya.


"Kan, apa Mama bilang. Kalau sudah bertengkar, biasanya semakin sweet, lihat aja ranjang sampai roboh begini kena gempa." cerocos Sulastri Sambil tertawa kecil.


Nisa segera bangkit dari atas tubuh Ricky dengan wajah merona.


"Apaan, ini mah ranjang aja yang udah lapuk."


"Sudah, lanjutkan saja di bawah. Besok mama sama papa beli ranjang yang baru. Ayo Papa, kita jangan mengganggu." Sulastri menarik tangan suaminya keluar dari kamar Ricky.


"Kita juga harus tempur, Ma. Jangan kalah sama yang muda.Papa masih kuat sepuluh ronde.


"Eleh ngomongnya aja ninggi, baru mulai aja udah pingsan. keluh nyeri cangkang lah, nyuruh itulah."


Sepasang suami istri paruh baya itu, berlalu meninggalkan Ricky dan Nisa di sana.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2