Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 123. HAMPIR KECEPLOSAN


__ADS_3

Semalam Andini dan Dimas tidak menginap di rumah utama keluarga Anggara.


Pagi ini Andini sudah bertempur dengan alat-alat kebersihan. Wanita itu sedang membiasakan diri untuk bangun pagi. Tidak seperti sebelumnya saat tinggal bersama kedua orang tuanya, yang kerap sekali Nyonya Laras harus berteriak mengguncang bumi terlebih dahulu, barulah Andini terbangun.


Tetapi setelah menikah, Andini mendapatkan perubahan. Sebelum berangkat ke kantor ia akan mengusahakan agar bisa beres-beres rumah dulu, masak, untuk sarapan bersama dengan suaminya.


"Pagi-pagi sudah sibuk aja,"ucap Dimas yang baru keluar dari kamar. Pria itu langsung disuguhkan dengan penampilan istrinya yang mengenakan celana pendek sebatas paha kaos tipis serta rambut yang di cepol ke atas.


Andini sedang menyapu lantai. Sebenarnya Dimas tidak tega melihat istrinya melakukan itu semua, yang sepatutnya dilakukan oleh asisten rumah tangga. Tapi sesuai dengan permintaan Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama kalau dirinya harus mengajari Andini agar lebih mandiri.


Semua yang dilakukan Dimas saat ini terhadap sang istri,itu atas permintaan dari kedua orang tua Andini. Agar kebiasaan buruk Andini Yang bangun kesiangan, dan tidak pernah melakukan apa-apa pekerjaan di rumah, walaupun dirinya memiliki kemampuan melakukannya.


Andini selama ini kerap sekali nongkrong bareng bersama teman-temannya, ngumpul dengan club motor, Balapan liar, Bahkan ia kerap sekali memenangkan adu balap antar klub. Hal itu yang membuat Tuan Eko Pratama dan nyonya Laras meminta kepada Dimas untuk tidak menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya sebagai seorang pemilik kampus dan juga CEO perusahaan milik Tuan Anggara.


"Mas, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan."ucap Andini tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang menyapu.


"Rajin banget istriku. Kamu jangan terlalu capek sayang, biar aku bantu."Dimas merebut sapu itu dari tangan Andini dan melanjutkan pekerjaan istrinya.


"Biar aku aja Mas." Andini akan mengambil kembali sapu itu, tetapi Dimas langsung mencegahnya.


"Kamu sudah masak, pasti capek. Biar aku aja yang nyapu. Kamu duduk dulu dan istirahat." Dimas menunjuk ke arah sofa.


Nggak lah Mas, aku nggak capek sama sekali. malah aku merasa lebih fresh karena berkeringat.


"Nanti aku nyari orang untuk bersih-bersih di rumah kita biar kamu tidak capek." Dimas menyapu lantai dengan gerakan kaku.


"Nggak usah Mas, aku masih bisa beres-beres rumah sendiri. Lagian rumah Ini kan tidak terlalu besar, jadi aku masih bisa membersihkannya sendiri tanpa bantuan orang lain.


"Nanti kita beli rumah yang lebih luas supaya anak-anak kita bisa bebas bermain di rumah." ucap Dimas dengan Senyum merekah.


"Jangan bilang anaknya mau sepuluh." Andini mencari kesal.


Ya nggak apa-apa lah banyak anak banyak rezeki. sahut Dimas asal


itu mah alasan klasik kalau melahirkannya gantian baru aku mau punya anak 10.


gantian gimana Memangnya sudah kodratnya wanita melahirkan laki-laki hanya membantu produksinya saja. ucap Dimas sambil terkekeh

__ADS_1


Mas ngeselin banget sih aku mau mandi dulu kalau gitu Andini menghentakkan kaki dan akan masuk ke dalam kamar mandi.


Dimas yang melihat itu langsung menaruh sapu yang dipegangnya dan mengejar langkah Andini lalu mengangkat tubuh sang istri tanpa aba-aba lagi.


"Mas ngagetin aja!" pekik Andini dengan wajah terkejut.


"kamu kok sekarang berat banget ya." ucap Dimas membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.


"Maksudnya sekarang aku gendut gitu?" tanya Andini dengan wajah kesal.


"Bukan gendut, tapi bohay.


"Idih, aku nggak ramping lagi dong."


"Tidak apa-apa, aku lebih suka yang berisi. apalagi kalau perut kamu yang berisi dedek bayi." ucap Dimas


"Pasti arah omongannya ke sana terus."


"Biarlah aku kan pengen cepat melihat keturunanku." Dimas membawa tubuh istrinya masuk dalam kamar mandi.


"Mas Kenapa sih suka gendong aku?" tanya Andini seolah mengalihkan pembicaraan.


"Iya bahagia banget, walaupun terkadang menyebalkan.


"Ya udah, kamu mandi dulu. atau mau aku yang mandikan?"


"Nggak usah modus, udah keluar sana. Andini sedikit mendorong tubuh suaminya.


"Hati-hati mandinya." ucap Dimas sebelum keluar dari kamar mandi.


"Hahaha..... lebay banget sih kamu Mas, masa mau mandi aja bilang kayak gitu.


"Aku kan tidak mau kamu terluka sedikitpun."


"So sweet banget sih."


Dimas keluar dari kamar mandi dan membiarkan istrinya membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah berpakaian rapi dan sarapan, keduanya langsung meluncur ke tempat kerja Andini. sebelum berangkat ke kampus Dimas mengantarkan istrinya terlebih dahulu ke kantor.


Dia tak mengizinkan Andini ikut bersama Herlan, karena ia tahu kakak iparnya itu sudah menikah dan tidak mau mengganggu.


"Kamu bisa bawa mobil nggak?" tanya Dimas saat mereka berada di perjalanan.


"Bisa, tapi nggak lancar. Kak Herlan nggak tuntas ngajarin aku waktu itu. tapi kalau motor aku jagonya.


"Kalau itu mah siapa pun tahu, kamu kan peraih trophy Adu balap antar club di kota ini." ucap Dimas sambil terkekeh.


"Nanti aku ajari lagi sampai lancar kalau Hotel sudah selesai Renovasi dan opening, nanti aku belikan mobil buat kamu." Dimas menoleh ke arah Andini dengan senyum lembut.


"Beneran Mas? Memangnya Mas punya uang? tanya Andini tak percaya kalau sang suami mampu membeli mobil untuknya setelah Dia menghabiskan uang membeli Hotel milik temannya.


"Iya, walaupun nanti setelah magang kamu tidak kerja lagi, tapi kamu perlu punya mobil sendiri. Supaya kalau aku lagi kerja kamu mau keluar tidak perlu naik taksi." ucap Dimas


Hampir saja Dimas keceplosan. Untung saja dia tiba-tiba ingat agar misinya berhasil terlebih dahulu. Walaupun di diri Andini sudah drastis berubah dari sebelum mereka menikah, tapi Tuan Miko dan nyonya Laras menginginkan Andini menjadi seorang istri yang sempurna untuk menantunya.


"Terimakasih Mas, I love you." Andini menyandarkan kepalanya pada lengan Dimas dengan.


"Tapi ingat, aku tidak mengizinkan kamu pergi sembarangan. Sebelum pergi kamu juga wajib izin dulu, jangan pergi ke tempat yang tidak penting." jelas Dimas dengan nada yang terdengar seperti ancaman.


"Iya, tapi gimana Kalau setelah magang aku tetap bekerja?kan lumayan Mas.


"Gajinya berapa?" aku tidak akan mengijinkan kamu bekerja di luar. Kalau kamu mau tetap punya gaji, aku bisa memberimu gaji di luar jatah bulanan dan keperluan lainnya. Ini gaji sebagai bayaran tetap diam di rumah.


"Mas aku kan mau jadi wanita karir, biar semua orang tahu aku punya pekerjaan. Aku bukan sarjana yang menjadi pengangguran.


"Kalau begitu kamu bekerja di rumah saja, bukan online shop atau apa gitu."


"Iya iya," Andini lebih memilih mengakhiri perdebatan itu karena ia tahu suaminya tidak akan mau mengalah.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2