
Sementara itu, seorang wanita sedang mondar-mandir tidak jelas sambil menggendong bayi yang masih belum tidur.
Mariska berdiri di depan jendela, menunggu kedatangan suaminya yang tak kunjung datang. Padahal sudah pukul 10.30 malam, tapi Robert masih belum pulang dari Cafe.
Terlebih lagi, Roberto belum tidur, karena tadi sore bayi itu sudah tidur sebentar. Suara mobil yang berhenti di depan rumah, membuat Mariska segera membuka gorden jendela. dia melihat ke arah mobil yang berhenti di depan rumah itu yang tak lain adalah mobil Robert.
Namun, dahinya mengerut saat melihat seorang wanita keluar dari mobil suaminya. Mariska mau menajamkan penglihatannya demi memperjelas wajah wanita yang ia lihat.
Wanita dengan rambut tergerai itu adalah Maya. Iya Mariska yakin ia tak salah orang. Mariska segera membuka pintu rumah depan cepat. Namun, sayangnya Wanita itu sudah pergi.
Rumah Maya cukup dekat dengan rumah Robert, hanya terhalang beberapa rumah saja. Mariska masih menatap menyala ke arah Maya yang kini telah masuk ke dalam rumahnya.
"Kok kamu bawa-bawa Roberto keluar?"ini kan sudah malam."ucap Robert.
Pria itu berjalan ke arah istrinya yang sedang memasang wajah tidak bersahabat.
"Kamu ngapain pulang sama si Maya? pulang malam lagi, biasanya jam 10.00 juga sudah nyampe rumah."protes Mariska yang merasa tak nyaman saat melihat Robert pulang bersama Maya, salah satu karyawan di cafenya.
"Cuma sekalian pulang aja. rumah dia kan dekat. Terus, aku pulang telat karena tadi di cafe lumayan rame, jadi tutupnya agak lambat."Robert berjalan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.
"Biasanya kan si Maya naik motor. kenapa sekarang malah nebeng sama kamu?"tanya Mariska kembali Seraya mengikuti langkah Robert masuk ke dalam rumah.
"Motor dia masuk bengkel. Lagian Kenapa sih? orang cuman sejalan doang."Robert membuka pintu kamar dan masuk terlebih dahulu.
Rumah itu terlihat sepi, Mungkin adik dan ibunya sudah tidur.
"Ya, aku cuman merasa nggak enak aja. kalian pulang malam cuman berdua di dalam mobil. apalagi tadi aku lihat si Maya duduk di kursi depan."ucap Mariska dengan bibir mengerucut.
"Sudah deh, Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku capek, mau istirahat. kamu juga, bukannya menidurkan Roberto, malah keluyuran di luar rumah."Robert membuka sepatu yang dikenakannya.
"Aku nggak keluyuran di luar, aku cuma nunggu kamu doang."sangkal Mariska.
"Kan bisa nunggu di kamar sambil menidurkan Roberto. Kasihan dia jam segini belum tidur."Robert menatap kera Sang putra yang berada di dalam pangkuan istrinya.
"Tadi sore Roberto udah tidur, sekarang malah bangun lagi. kayaknya alamat begadang ini mah."tutur Mariska dengan nada kesal.
"Ya udah kamu aja yang nemenin Roberto. aku capek, mau istirahat."Robert berjalan ke arah kamar mandi, pria itu akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum tidur.
__ADS_1
"Kamu juga nemenin Kamu kan udah seharian nggak ketemu Roberto, Masa nggak mau nemanin anak kamu,"protes Mariska sebelum suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku capek, seharian mondar-mandir di cafe. si Bima juga lagi nggak ada, banyak kerjaan yang harus aku pegang. Sepertinya si Bima tidak akan bekerja lagi di cafe kita, Karena dia sudah dipercayakan Pak Dimas untuk menangani hotel dan restoran milik mereka. makanya banyak kerjaan yang harus aku pegang."bales Robert dengan nada yang terdengar kesal.
"Kamu pikir, aku juga nggak capek! aku ngurus Roberto, masa, beresin rumah, bantuin Mama kamu ke kamar mandi. Kamu kan tahu sendiri Ciwi sudah aktif di kampus."ucap Mariska kembali yang membuat Robert seketika membelikan tubuh, menghadap ke arahnya pria itu tak jadi masuk ke dalam kamar mandi.
"Kok kamu malah kayak nggak ikhlas gitu mengerjakan pekerjaan rumah dan bantuin mama aku."Robert menatap ke arah Mariska dengan sorot mata yang terlihat menajam.
"Kamu juga kayaknya nggak ikhlas bekerja di cafe,"balas Mariska yang tak mau kalah
"Tapi kan mengerjakan pekerjaan rumah itu kewajiban kamu sebagai seorang istri."
"Mencari nafkah juga kewajiban kamu sebagai seorang suami,"balas Mariska lagi.
"Tau, ah! percuma berdebat sama kamu. mulut kamu tuh kayak api disiram bensin, makin dibalas makin berkobar."
"Mulut kamu juga kayak bon cabe level!"
"Berisik! mending sekarang kamu tidur kan Roberto, biar nggak ganggu aku tidur."
"Kalau kamu merasa terganggu ya udah, biar aku dan Roberto tidur di kamar Ciwi. malam ini Ciwi di kamar mama, jadi aku bisa pakai kamarnya."setelah mengatakan itu, Mariska langsung membawa Roberto keluar dari kamar dengan kesal.
Setelah membersihkan diri, Robert siap untuk tidur.
Dia melihat ke arah ranjang yang terlihat kosong. biasanya di tempat itu ada anak dan istrinya yang sudah menunggunya untuk tidur bersama.
"CK .. Mariska bener ngambek apa?"gumamnya Seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pria yang mengenakan celana pendek itu mulai naik ke atas kasur, tubuhnya cukup lelah karena di kafe banyak pekerjaan yang dipegangnya. Robert mulai merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
Namun, Iya tetap tidak bisa terlelap, entah kenapa serasa ada yang kurang. Tangannya meraba lahan di sebelah, tempat biasa Mariska tidur.
Tempat itu kosong, tangannya hanya menyentuh sprei tanpa penghuni. Robert kembali membuka mata dan menoleh ke arah kanan.
"Kamu kok nggak balik lagi ke kamar sih? masa ngambek beneran? Robert bangkit dan mengendarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang terlihat sepi dan senyap.
Biasanya, kamar itu dihiasi oleh tawa dan tangis Roberto, namun kini dirinya malah terlihat bagaikan cicak yang kehilangan ekornya.
__ADS_1
"Akh ... aku nggak bisa kayak gini. masa aku tidur sendiri, sudah kayak duda aja."gumamnya kembali Soraya turun dari ranjang.
Pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar. Keadaan rumah yang sudah direnovasi beberapa ruangannya itu terlihat sepi.
Robert berjalan ke arah kamar sebelah, ya itu kamar Ciwi yang kini dihuni oleh istrinya.
Robert mengetuk pintu beberapa kali. Dia yakin, Mariska pasti akan membukakan pintu untuknya.
"Sayang, kamu di sini? buka pintunya! aku nggak bisa tidur sendirian,"ucap Robert sedikit berteriak agar suaranya menembus ke dalam kamar dan terdengar oleh sang istri.
Namun setelah beberapa saat ia menunggu, pintu itu tak kunjung terbuka, bahkan tidak terdengar sahutan dari dalam.
"Sayang, buka pintunya! Aku mau tidur sama kamu dan Roberto."ucap Robert lagi dengan tangan yang kembali mengetuk pintu di hadapannya.
Namun, lagi-lagi tak ada jawaban. Seandainya pintu tidak dikunci, pasti robek sudah menerobos masuk ke dalam kamar.
"Kamu marah, sayang? kalau marah nggak usah gini juga kali. Masa kamu tega biar suami kamu tidur sendiri? Sayang, bangun! buka dulu pintunya, Aku mau masuk,"carocos Robert dengan suara yang semakin mengeras agar benar-benar terdengar oleh Mariska.
Pintu kamar itu terbuka dengan perlahan, seketika mata Robert berbinar saat melihat wajah sang istri muncul dari balik pintu.
"Sayang, aku mau tidur di sini juga ya!"Robert akan menerobos masuk tetapi Mariska segera menahan tubuh suaminya.
"Mau ngapain? katanya kamu nggak mau diganggu tidur sama tangisnya Roberto? Ya sudah kamu tidur sendiri saja di sana biar sepi kayak di dalam kuburan,"cerocos Mariska dengan wajah yang terlihat kesal.
"Aku mau tidur di sini sama kamu dan Roberto, sayang,"pinta obat dengan wajah memelas.
"Nggak bisa! kamu tidur sendiri aja sana. Satu lagi, jangan berisik, jangan ketuk-ketuk pintu dan teriak-teriak di sini!"Roberto sudah tidur,"balas Mariska lagi dengan geram.
"Tapi sayang..."
"Sudah, tak ada tapi tapi, tak ada sayang-sayang. Baru sadar kamu? tadi aja kamu ngomongnya Ketus banget seolah-olah tidak ingin melihat Roberto di sana. kamu pikir, Aku bakal terbuai sama omonganmu. Tidak ya! cukup sudah, sekarang kamu tidur sendiri sana, jangan ganggu, aku mau tidur!"Mariska menutup kembali pintu kamar itu dengan rapat.
"Sayang, aku ikut masuk!"teriak Robert
"Jangan berisik! Awas aja kalau Roberto bangun gara-gara dengar suara kamu, aku pecahkan telur kamu!"balas Mariska dari balik pintu yang seketika membuat kedua mata Robert membulat sempurna.
"Galak banget istriku."gumam Robert sambil membalikkan badan. Dia berjalan ke arah sofa yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang, Robert lebih memilih tidur di sana daripada tidur sendiri di kamar.
Bersambung.....