Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 19. MINTA IZIN


__ADS_3

"Plukk!


Sepatu berwarna putih itu terjatuh tepat di tangan seorang pria yang sedang memainkan ponselnya.


"Waduh sepatu aku menyangkut di tangan serigala berbulu domba!"gumam Andini sambil menepuk jidatnya.


Dimas segera memegang sepatu itu dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran.


Matanya langsung menyipit ketika melihat seorang gadis yang berjalan ke belakang mobilnya.


"Ucapan selamat tinggal pada sepatu butut mu, ini!"ucap Dimas yang langsung menghentikan langkah kaki Andini yang akan bersembunyi di belakang mobil.


"Jangan!"teriaknya seraya berlari ke arah Dimas yang sudah mengangkat sepatunya dan bersiap melempar suatu itu ke arah tong sampah.


"Makanya jangan suka lempar benda sembarangan!"ucap Dimas sambil melempar sepatu itu ke pangkuan istrinya.


"Cepat masuk mobil!"ditanya dengan tegas raya masuk ke dalam mobilnya.


Andini mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untung kampus sudah sepi, jadi tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam mobil Dimas


"Kita ke supermarket dulu!"ajak Dimas ketika mobil yang ia kendarai telah keluar dari gerbang kampus.


"Bapak aja, ya! aku capek."Gadis itu menyandarkan kepala pada jok mobil.


"Di sini yang perannya istri siapa?


"Saya!"


"Berarti yang harus belanja siapa?"


"Bapak!"


"Suami itu hanya membayar, yang memilih dan memilah itu tugas istri."jelas Dimas.


"Ck... repot banget sih tinggal beli doang juga."Andini mengerucutkan bibirnya.


"Jangan banyak alasan."


"Banyakin itu tindakan!"


Dimas mengarahkan mobilnya ke sebuah supermarket.


Pria itu segera memarkirkan mobilnya dan turun terlebih dahulu.


Andini mengikuti langkah suaminya dengan lesu.


Dimas mengambil troli dan menarik tangan Andini menuju deretan aneka bahan masakan.

__ADS_1


"Pak ngapain sih, tarik-tarik? protes Andini sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.


Namun, lagi-lagi Gadis itu kalah kuat dengan suaminya


Dimas tidak mengundurkan atau bahkan melepaskan genggam tangannya.


"Pak lepasin, ih. kalau ada yang lihat bagaimana?


"Itu artinya mereka punya mata."balas Dimas sambil terus menggenggam tangan istrinya.


"Hisss.... nyebelin banget sih!"


"Kamu itu harus tahu berbagai jenis bahan masakan dan bumbu, biar nggak bingung saat masak."


"Tapi nggak usah tarik-tarik kayak gini juga kali. Nanti, kalau ada teman kampus yang lihat bagaimana? hancur sudah reputasiku.


Suaminya menatap Andini dengan menggelengkan kepalanya.


lalu kembali menarik tangan Andini, mereka terus berjalan menuju rak yang terdapat berbagai jenis sayuran dan buah-buahan.


Tanpa mereka sadari ada dua orang gadis yang mengambil potret keduanya secara diam-diam.


Kedua Gadis itu mengenali Andini, tetapi mereka tidak bisa melihat siapa pria yang sedang berjalan dan memegang tangan teman satu kampusnya itu.


Karena posisi Dimas berjalan terlebih dahulu dan tidak menoleh sedikitpun ke belakang. sementara Andini sedang celingukan dan melihat ke sekelilingnya.


Setelah itu kedua gadis tadi segera pergi dan melanjutkan niat mereka untuk membeli sesuatu di supermarket itu.


"lebay banget, baru dipegang juga udah merah."


"Ck ... Bapak apaan sih? pikirannya nggak jelas banget!"kesel Andini Seraya bersedekap dada.


"Kamu tuh yang nggak jelas, pasti pikirannya sudah travelling."Dimas memegang dengan mengacak rambut istrinya.


"Pak Dimas, rambut saya berantakan!"Andini menepis tangan pria itu dari rambutnya.


"Galak banget kamu, dasar anak kucing!"


"Dasar serigala."


****


"Kamu mau ke mana?"tanya Dimas yang baru tiba di dalam kamar.


Matanya memperhatikan penampilan sang istri dari atas sampai bawah dengan dahi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, tapi istrinya berpenampilan berbeda.

__ADS_1


Andini menggunakan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja pendek di atas pinggang, sehingga Jika ia mengangkat tangannya kemeja itu, akan ikut terangkat dan memperlihatkan bagian perutnya.


"Pak, Saya mau keluar dulu ya!"pamit Andini Seraya memakai tas selempang, rambutnya sengaja di gerai Dengan indah.


Bahkan, Gadis itu memoles wajahnya dengan bedak yang tipis membuat aura kecantikannya semakin terlihat walaupun masih berpenampilan seperti biasanya.


"Pergi ke mana?"


"Mau nongkrong sama teman,"jawab Andini santai


"Teman siapa? tanya Dimas kembali dengan raut yang terlihat berbeda.


"Iya teman saya lah ,Pak. masak teman bapak."


"Maksud saya teman kamu yang mana?"


"Ck ... Bapak ini ribet banget sih!"Andini memutar bola matanya malas.


"Saya nggak ribet kok, ya tinggal jawab aja teman kamu yang mana?"


"Mariska, Bimbim, Ryan dan Robert."udah cuma sama mereka."jelas Andini Seraya menggerakkan jemari tangannya.


"Ganti baju!"titah Dimas dengan nada datar


"loh kok ganti baju? orang sudah cakap begini!"Gadis itu merentangkan kedua tangan, matanya menata barang-barang Dimas yang berdiri tanpa ekspresi.


"Coba sekarang angkat tanganmu!"kata pria itu kembali yang membuat Andini berdesis kesal.


"Mau ngapain sih?"tanyanya dengan kesal


"Angkat tangan!"


Gadis itu mengeratkan gigi menahan geram.


daripada bertele-tele akhirnya ia melaksanakan perintah suaminya dengan kesal.


Andini mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sampai membuat kemeja yang dikenakannya ikut terangkat ke atas dan memperlihatkan perutnya yang ramping.


"Lihat! kamu mau keluar pakai baju seperti ini?"


Dimas menunjuk perut Andini tanpa menyentuhnya, Gadis itu langsung menurunkan kedua tangannya.


"Cepat ganti atau Saya tidak izinkan kamu keluar!"


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2