
"Cuma nanya-nanya seputar kehamilan doang kan? bukan yang lain?" selidik Andini.
"Yang lain apa? nggak usah berpikir negatif. Kamu pikir aku tidak normal, aku masih menyukai lawan jenis. Bukan sesama jenis."
"Oooo...."
"Ooo, bulat,"balas Dimas. keduanya menuruni anak tangga secara bersamaan.
"Ada yang lonjong tapi bukan lontong."janda Andini sambil terkekeh.
"Apa?"Dimas menoleh ke arah istrinya.
"Yang semalam,"bisik Andini, setelah itu melangkah ke arah dapur meninggalkan Dimas yang menatapnya dengan tawa kecil.
"Selamat pagi semuanya!"sapa Andini dengan nada ceria. Nyonya Laras dan Ryan yang sedang menata rasakan ke atas piring menoleh ke arah Andini.
"Serasa masih gadis ya, jam segini baru keluar kamar. Untung ada menantu Mama yang paling rajin yang selalu bantuin mama di dapur." cara jos Nyonya Laras dengan mata menatap ke arah Rian yang sedang tersenyum manis.
"Maaf, sebenarnya Andini sudah bangun sejak subuh, mau bantuin mama ke dapur eh tiba-tiba saja sakit perut." jawab wanita itu secara langsung.
"Sakit perut kenapa?"seketika Nyonya Laras menatap ke arah putrinya dengan dahi mengerut.
Andini tercepat ketika menyadari apa yang dikatakannya barusan.
"Sakit perut pengen buang air. Hehehe..."Andini tertawa kecil
"Kirain kenapa? bikin khawatir aja." balas Nyonya Laras dengan tangan yang bergerak lincah, menyusun beberapa piring.
"Nggak apa-apa kok. Mama tenang aja! sini biar Andini bawa."Andini mengambil piring yang sudah disusun ibunya dengan membawa tumpukan piring itu ke arah meja makan.
"Hati-hati!" teriak Nyonya Laras mengiringi langkah putrinya.
Beberapa piring kaca yang ditumpuk menjadi satu lumayan berat. Andini berjalan lebih cepat ketika merasakan berat yang ditahan kedua tangannya.
Tiba-tiba saja perutnya terasa kencang dan kram. Tangannya seakan lemas , dia seolah tidak sanggup menahan berat piring itu.
Sementara jarak meja makan masih sekitar beberapa langkah lagi. Semakin ia mengangkat piring itu lebih tinggi, perutnya semakin sakit.
Andini berjalan sedikit membungkuk, tetapi tetap saja perutnya semakin bertambah kencang.
Tangannya bergetar, tak dapat menahan berat piring piring itu.
"Astaga...."Andini berteriak, tetapi Tak lama kemudian ia membuang nafas lega ketika melihat tumpukan piring itu sudah berpindah tempat.
__ADS_1
Dimas yang melihat istrinya kesulitan, segera merampas tumpukan piring itu sebelum terjatuh.
"Alhamdulillah. Terima kasih Mas. kamu memang pahlawan aku."ucapkan dini dengan helan nafas lega. Dia tak tahu apa yang akan terjadi jika Dimas tidak segera mengambil piring itu dari tangannya.
"Sudah, Kamu duduk aja! jangan banyak gerak." Dimas menarik kursi dan menyuruh istrinya duduk.
"Andini kenapa?"tanya Nyonya Laras yang baru tiba di ruang makan. seketika Andini dan Dimas saling melempar pandangan.
"Andini nggak apa-apa Ma."Andini cuman merasa lapar dan pengen segera sarapan."jelas Andini
"Syukurlah kalau begitu. semuanya ayo sini, kita sarapan dulu!"teriak Nyonya Laras yang membuat semua anggota keluarga yang tinggal di rumah itu segera berkumpul.
Mereka menempati kursi masing-masing dan siap menyantap hidangan yang telah disediakan.
"Kayaknya semalam hujan ya!"Celetuk Tuan Miko yang membuat semua mata tertuju padanya.
"Hujan? perasaan enggak deh, Pa." sangkal Nyonya Laras Seraya meletakkan sepiring nasi beserta lauk di hadapan Tuan Miko
"Ini buktinya, rambut semua anak dan menantu kita basah, Ma." janda pria paruh baya itu yang segitiga disambut galak tawa
"Iya, benar hujan. Tuh, rambut mama sama papa juga ikut basah!"balas Andini Soraya menunjukkan arah kedua orang tuanya.
"Nah, kan Papa kena batunya!" timpal Nyonya Laras.
"Ini, kan dalam rumah, kalau keluar baru Mama pakai hijab."balas Nyonya Laras yang tak mau kalah.
***
Sementara itu, Robert dan Mariska baru pulang dari rumah kedua orang tuanya.
Robert membuang nafas lega, akhirnya mereka bisa pulang juga Karena ia merasa sangat tidak nyaman berada di rumah mertuanya.
Robert merasa tertekan saat berada di rumah kedua orang tua Mariska. Karena di mata Mama Mariska Robert tidak pernah ada benarnya.
Padahal Robert sudah berusaha memberikan yang terbaik kepada mamanya Mariska, Tapi tetap saja wanita itu memandang Robert tidak becus dalam melakukan hal apapun.
Sepasang suami istri itu berniat akan langsung berangkat ke kafe setelah pulang dari rumah sakit.
Robert menjalankan mobilnya dengan santai.
"Robert, kita berhenti dulu yuk di depan!" Mariska menunjuk ke sebuah pusat perbelanjaan yang tinggal beberapa meter lagi di depan mereka.
"Mau ngapain sayang? kamu mau beli baju?" Seraya melirik ke arah istrinya.
__ADS_1
"Iya," jawab Mariska singkat. tatapan wanita itu masih tertuju karena di depannya.
"Baju apa? tanya Robert kembali.
"Baju bayi. "
"Hah, baju bayi? untuk apa?"Robert menatap ke arah istrinya
"Buat anak kita lah."
"Lahir juga belum, Masa udah mau beli baju sih?"
"Justru karena belum lahir kita harus beli baju. supaya nanti setelah anak kita lahir dia sudah punya baju. Lagian, aku bukan cuman mau beli baju aja mau beli kasur bayi, gendongan bayi, pokoknya banyak deh."carocos Mariska.
"Beneran nih, kita nggak papa beli baju bayi sekarang? bukannya katanya mama pamali?"Robert melirik ke arah istrinya, lalu kembali fokus mengemudi.
"Niatnya Jangan karena pamali. Bismillah aja, ini demi kebaikan setelah melahirkan. Lagian, sepertinya bulan depan aku akan lahiran. masa nanti setelah lahiran baru beli perlengkapan bayi? kan repot.
"Iya, udah. tapi kita beli yang benar-benar dibutuhkan aja dulu ya!"
"Iya, dasar pelit!" cibir Mariska dengan bibir mengerucut.
"Bukan pelit sayang. Tapi lebih baik mengedepankan kegunaan barang itu. biasanya, peralatan bayi tangga dipake lama, jadi beli sebutuhnya aja."
"Sok tahu kamu. Memang peralatan bayi apa aja?"Mariska menatap ke arah suaminya yang senyum senyum.
"Ya, mulai dari baju. Peralatan mandi, alat makan, makanannya juga."jawab Robert dengan percaya diri
"Hah, makanan?"Mariska menautkan kedua alisnya.
"Iyalah, sayang. Masa anak kita lahir nggak dikasih makan."
"Enggak! bayi dari 0 sampai 6 bulan itu cukup ASI aja. Kalau nggak ASI, ya susu formula. jangan ngasih makanan sembarangan karena itu dapat berbahaya." tegas Mariska
"Perasaan, aku pas setelah lahir langsung dikasih makan deh."ucap Robert yang membuat Mariska langsung menatapnya dengan heran.
"Dikasih makan apaan? memang kamu ingat waktu kamu dilahirkan?"
"Dikasih makan pisang." jawab Robert sambil terkekeh.
"Hahaha..... mungkin, orang tua kamu waktu itu menganggap kamu baik monyet."Mariska tertawa kencang.
"Bayinya monyet, gedenya pangeran berkuda."Robert menyugar rambutnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Bersambung.....