
"Ehem....Pak Arnold, Nak Faranisa, ini cincin emas sepuluh gram untuk Ricky pasangkan di jari manis Nak Faranisa."Mpok Nining mengambil sebuah kotak yang berisi cincin emas.
"Mohon maaf, kami tidak membawa seserahan pakaian karena tidak tahu ukuran baju, sepatu Nak Faranisa." ucap Mpok Nining
"Tidak apa-apa, kami maklum." balas Tuan Arnold.
"Dan itu, ada tiga ekor sapi untuk seserahan mentah, karena kami tidak sempat mempersiapkannya semua, mohon maaf sekali."Mpok Neneng kembali sambil menunjuk ke arah tiga ekor sapi di hadapan Nisa dan Tuan Arnold.
"Mama, Kenapa bawa sapi segala, sih? Ricky malu." bisik Ricky dengan wajah memerah.
"Kamu ini bagaimana sih, bude kamu sudah repot-repot menyiapkan ini semua atas permintaan dari kakek kamu. karena lamarannya mendadak.
"Terus, Mama bawa dari Brandan sapinya, begitu?
"Iya enggak toh, ini sapi dari peternakan Bude kamu. Itu semua perintah dari kakek kamu. karena lamarannya dadakan sehingga, Bude kamu belum sempat menjual sapinya. Mana mungkin sapi ini Mama bawa dari Brandan. ada-ada saja kamu."
"Terus kakek dimana? buat malu Ricky aja." pria itu menutup wajahnya dengan kelima jari, tak sanggup menahan malu di depan Nisa.
"Kakek kamu sedang sakit, dia sudah tidak tahan lagi naik pesawat. Apa kamu tahu bagaimana perjalanan kami sampai ke Jakarta ini? tanya Mpok Nining.
"Pak Arnold, Nisa, mohon maaf ya. ini kayaknya out of konteks. Aduh, aku jadi malu banget." tutur kita sanggup menahan malu.
"Tidak apa-apa, saya malah senang dapat seserahan seperti ini. Ini sangat unik sekali. sepertinya setelah ini saya mempunyai peliharaan baru.
Sangat jauh dari bayangan Ricky, pria itu membayangkan Tuan Arnold akan menolak dan mengusirnya dari rumah itu.
"Terima kasih, Pak. Bagaimana dengan Nisa? kalau mau nolak juga tidak apa-apa. A...Aku pasrah." tutur Ricky kembali dengan bibir bergetar dan nada bicaranya sedikit terbata.
"Ricky, Mau kamu kasih seserahan apa saja, aku akan tetap menerimanya." jawab Nisa dengan Senyum merekah.
"Ma, I..Ini beneran kan? Aku nggak mimpi? jantungku berdegup kencang Ma, aku mau pingsan saja! Ricky memegangi dadanya dengan tubuhnya gemetar.
"Heh, lamaran diterima kok malah pingsan, dasar cemen! Awas kalau kamu pingsan, Papa lempar kamu ke kutub utara!" ancam Pak Muhammad Alim, membuat putranya kembali berdiri tegak.
"Baiklah, Pak Alim dan keluarga, lamaran ini saya terima dan saya minta agar pernikahan ini dilaksanakan lima hari setelah hari ini,"tegas Tuan Arnold yang membuat Ricky benar-benar jatuh pingsan.
"Ricky, jangan pingsan!" teriak Mpok Nining dengan wajah panik. semua orang heboh ketika melihat pria itu terjatuh dengan mata terpejam.
__ADS_1
Nisa terlihat panik dan segera berjongkok di samping tubuh Ricky yang tak sadarkan diri. tubuh pria itu diangkat dan dipindahkan ke atas sofa.
Bima yang mendengar Ricky pingsan, membelah kerumunan dan mendekat ke arah Ricky bersama Erin yang tak lepaskan gandengan tangannya.
"Bima!" Panggil seseorang yang membuat pria itu langsung menoleh.
"Mama,"balas Bima dengan mata membulat.
"Bima, ini pacar kamu?"wanita paruh baya itu menunjuk ke arah Erin.
"Aku Erin, istri Bima." ucap Erin sambil mengulurkan tangannya ke arah wanita tersebut.
"Apa?
"Apa yang kamu lakukan di Jakarta ini? Kamu mengaku kuliah tapi kamu sudah punya istri!" surga seorang wanita paruh baya dengan suara menggelegar.
Seketika kedua bola matahari ke terbuka lebar ketika mendengar teriakan tantenya.
"Alhamdulillah, Ricky kamu sudah sadar."Nisa segera membantu Ricky duduk dengan tegap.
"Maaf, aku tadi nggak sengaja pingsan." ucap Ricky dengan wajah memerah menahan malu.
"Pak Nggak boleh gitu, ah." Mpok Nining menyikut perut suaminya. Sementara itu, Bima terdiam ketika mendengar teriakan sang ibu.
Ia tahu, ibunya itu memiliki suara yang cempreng dan keras, sampai Riki saja yang pingsan tersadar ketika mendengar teriakan ibunya.
"Ampun, Ma. Nanti Bima jelaskan." cicit pria itu sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Jelaskan sekarang! Kenapa kamu menikah tidak memberitahu Mama sama Papa dulu?!! mau jadi anak Apa kamu ini, hah?! kamu menganggap mama sama papa sudah tidak ada, begitu? teriak wanita paruh baya itu kembali dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Ma, sabar dulu. Bima kita bicarakan ini dengan serius." Pak Karyo menahan dengan istrinya yang siap melayangkan pukulan kepada Sang putra.
Bima mengusap wajahnya dengan kasar, Ini alasan ia kenapa tidak mau membawa Erin ke tempat itu, karena dirinya tahu kedua orang tuanya pasti turut hadir di acara lamaran Ricky yang merupakan keponakan dari ayahnya.
Dan hal yang ia takutkan terjadi, orang tuanya pasti marah besar.
"Kamu kapan menikah Bima? Jangan jangan kamu bawa kabur anak orang!! sekarang kamu ngomong! Sulastri menjewer telinga putranya. Hingga Bima meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ma, ampun! Bima akan ceritakan semuanya, tapi nggak di sini. Malu sama Nisa dan keluarganya."Bima berusaha melepaskan tangan sang Ibu dari telinganya.
Erin yang melihat itu hanya terdiam, dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Terlebih lagi, Erin sama sekali belum mengenal kedua orang tua Bima.
"Ma, sudah! malu sama yang lain." Karyo melepaskan tangan istrinya dari telinga Sang putra.
"Nah, dengerin tuh apa Papa bilang, malu Ma, malu."timpal Bima sambil mengusap telinganya yang terasa memanas.
"Malu kamu bilang? yang ada kamu itu malu-maluin Mama sama papa!"balas Sulastri kembali dengan amarah yang masih menggebu-gebu.
"Mama tenang ya! Bima, mending sekarang kamu bawa mama sama papa ke rumah orang tua istri kamu, kita mau bicara sama mereka."tutur Karyo dengan tangan yang mengusap bahu istrinya, berusaha menenangkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
Bima mengusap wajahnya dengan kasar ketika mendengar ucapan ayahnya barusan.
"Sayang, jadi ini orang tua kamu?"ucap Erin yang baru berani berbicara.
"Iya, ini orang tua aku."jawab Bima dengan wajah bingung.
"Ya, sudah. kalau gitu kita ajak mereka ke rumah aja, biar sekalian bertemu sama papa dan Kak Dimas." ajak Erin dengan penuh antusias, berbeda dengan Bima yang memasang wajah bingung.
"Nah, benar apa kata istri kamu. Nama kamu siapa Nduk?" tadi mama lupa,"tanya Sulastri setelah sedikit lebih tenang.
"Nama aku Erin."
"Ya sudah,Nak Erin kita bisa bertemu sama mama dan papa kamu, kan?"tanya Karyo.
Erin terdiam sejenak. Wajah wanita itu terlihat sendu.
"Maaf, Mama aku sudah tidak ada. cuman Papa sama kakak doang." tutur Erin dengan nada pelan
"Astagfirullah, Maaf ya, Nduk. tidak apa-apa yang penting kita bisa bertemu sama orang tuamu." ucap Karyo dengan tak enak hati.
"Boleh, papa sama Kak Dimas pasti senang ada orang tua Bima yang menemui mereka." Erin tersenyum merekah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN