
"Stop!"teriak Andini saat gerbang kampus sudah terlihat dari jarak dua puluh meter.
Dimas yang merasa kaget dengan teriakan istrinya, langsung menginjak rem dan menghentikan mobilnya secara mendadak sampai membuat kepala kedua terhuyung ke depan.
"Kebiasaan teriak-teriak, dasar terompet!" kesel Dimas yang sorot mata tajam ke arah Andini.
"Bapak sih pikun bin budeg!"cibir Andini sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Kamu mau ke mana?
"Iya mau turun lah. Saya kan sudah bilang kalau saya nggak mau masuk area kampus bareng Bapak."
"Oh gitu, buruan turun! awas kamu kalau telat masuk kelas!" Ancam Dimas Tetapi malah diikuti oleh Andini.
Gadis itu menggerakkan beberapa orang mengikuti gaya bicara Dimas.
setelah istri bawel dan cerewetnya itu keluar dari mobil, Dimas segera menjalankan kembali roda empatnya meninggalkan Andini yang berjalan kaki menuju kampus.
Namun, lagi-lagi hari sial saat ini melihat sebuah motor lewat begitu saja di sampingnya. Ia sudah hafal Siapa pemilik motor itu.
Siapa lagi kalau bukan Bagas teman dekatnya sebelum menjalin hubungan kekasih dengan Almira.
Lagi lagi hatinya terseram bensin dan terbakar berkibar bak api unggun. Padahal sebelumnya mereka belum ada hubungan apa-apa, hanya sebatas persahabatan saja, tapi entah mengapa hati Andini begitu kesal melihat Bagas menjalin hubungan kekasih dengan wanita yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya.
Matanya memanas ketika melihat Bagas berboncengan bersama dengan Almira.
Apalagi tangan Gadis itu yang melingkar sempurna pada perut Bagas membuatnya ingin menjambak rambut Almira.
Teman sekelasnya itu telah merebut sahabatnya darinya. Berteman dengan Bagas saat ini sudah tidak asik lagi, semenjak dirinya menjalin hubungan kekasih dengan Almira.
Setelah itu, Andini membuang nafas kasar dan melanjutkan langkahnya.
Gadis itu berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam kelas yang langsung disambut oleh kedua sahabat abstrak.
"Pagiku cerah, ku gendong tas hitamku di pundak....."
"Diam!"Andini segera membekap mulut Mariska sedang bernyanyi ketika dirinya tiba.
"Mariska satu-satunya teman wanita Andini walaupun mereka tidak terlalu dekat.
"Ye, pagi-pagi sudah jutek aja. Kamu tuh berubah seratus dua puluh derajat." ucap Mariska seraya rentangkan kedua tangannya.
"Seratus delapan puluh derajat dodol!"timpal Andini menyingkirkan tangan Mariska dari hadapannya.
"Terserah aku dong,
"Hidup, hidup aku. Mulut, mulut aku ." udah hafal slogan kamu! Mariska mendahului ucapan sahabatnya.
__ADS_1
"Ck ... berisik amat kamu pada! Ryan dan Robert Kok belum balik juga ya ? kelamaan libur bisa DO mereka,ucap Andini seraya duduk di atas meja belajar Mariska.
"Katanya sih mereka mau masuk hari ini."balas Bimbim.
"Serius kamu? aku kangen banget sama dua curut itu."mata bulat gadis itu berbinar.
"Eh, baru juga diomongin tuh anak udah nongol!"Mariska menunjuk ke arah pintu di mana dua orang pemuda sedang berjalan beriringan.
"Wih, Aku mau sambut mereka."Andini turun dari atas meja Mariska dan berjalan ke depan.
"Mari kita sambut mahasiswa baru di club kita!"ucap Andini dengan suara keras Seraya menunjukkan ke arah pintu.
Namun, tiba-tiba saja matanya membulat dan perlahan menurunkan jari telunjuknya ketika melihat seseorang yang tidak dikenalinya sedang berjalan ke arahnya.
"Hai....thanks atas sambutannya ya."sapa pemuda berkulit putih serta berhidung mancung Itu.
Andini terdiam sejenak, dengan mata yang hampir tak berkedip, terlebih lagi senyum pada wajah pemuda di hadapannya akan menembus sanubari.
Seketika jantung Andini degdegan ingin lompat dari tempatnya taburan bunga sakura di musim gugur, seolah menjadikan suasana kian indah seketika. Seorang pria tampan lewat di hadapannya dengan senyum yang membawa kedamaian.
"Cie akhirnya bertemu pangeran." Celetuk Mariska, membuat Andini langsung tersadar dari haluannya.
"Biarin aja, jiwa jomblonya pasti sedang meronta."timpal Bimbim seraya terkekeh yang langsung disambut gelak tawa Rian dan juga Robert.
"Ikh .. apaan sih lo pada? aku kan mau nyambut dua curut ini! Andini menunjuk ke arah Rian dan Robert.
"Kenalin aku Bima!"ucap pemuda yang berpenampilan cool itu sering menyodorkan tangannya ke arah Andini. Gadis itu terdiam sejenak dengan mata yang tak terlepas dari wajah tampan di hadapannya.
"Sudah buruan terima! jangan sok jaim."Mariska menyenggol siku sahabatnya.
"Aku Andini,"balas Andini seraya menerima uluran tangan Bima.
Keduanya berjabat tangan di depan kelas dan menjadi pusat perhatian semua mahasiswa yang ada di sana.
"Cie.... cie.... cie sorak para mahasiswa serentak.
"Ehem.... Selamat pagi semua ini saatnya belajar, bukan ajang mencari pacar,"ucap seseorang yang baru tiba di dalam kelas.
Seketika semua mahasiswa terdiam dan kembali ke kursi masing-masing.
Andini langsung memicingkan matanya ketika melihat ke arah dosen yang juga sedang menatapnya dengan tajam.
Gadis itu kembali ke bangkunya dan diikuti oleh Bima yang akan duduk di bangku kosong sebelah Andini.
"Untuk mahasiswa baru, silakan duduk didepan! yang duduk di belakang itu biasanya tukang tidur."titah Dimas seraya menunjukkan arah bangku kosong yang ada di barisan kedua.
Andini mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan dosen killer sekaligus suaminya itu.
__ADS_1
Padahal Ia senang jika ada Bima duduk di dekatnya. Sepertinya Ia memiliki semangat belajar lagi ketika melihat kehadiran Bima dan juga kedua sahabatnya Rian dan Robert.
Pelajaran dimulai. Semua mahasiswa terlihat serius memperhatikan seorang dosen yang sedang menyampaikan materi. Kecuali Andini Sudah beberapa kali menguap bahkan Gadis itu menahan kelopak matanya dengan jari telunjuk agar mata indahnya tidak terpejam.
Tapi entah mengapa walaupun kebiasaan Andini yang sering sekali ngantuk di dalam kelas, tapi tidak mengurangi kecerdasannya. kecerdasan Andini di atas rata-rata, membuat setiap mahasiswa menggelengkan kepala melihatnya ia seolah bertindak urakan tapi jika sang dosen bertanya tentang kuis terhadapnya, ia selalu mampu menjawabnya membuat sang dosen tidak dapat bergeming.
Dimas termasuk dosen yang sangat serius ketika mengajar. Hal itulah yang membuat Andini bertambah ngantuk belum juga dia malam tadi kurang tidur karena matanya tak kunjung terpejam belum terbiasa tidur bersama dengan suaminya.
Andini tidak benar-benar mengikuti materi bahkan sampai jam pelajaran kedua berakhir.
Entah mengapa matanya akan terasa berat jika dosen mulai menyampaikan materi.
Mungkin terlalu banyak setan yang hinggap di kelopak matanya.
Setelah jam pelajaran berakhir selesai, semua mahasiswa mulai meninggalkan kampus termasuk semua sahabat Andini yang sudah berpamitan.
Mariska pulang bersama Bimbim dengan menaiki motor matic milik Mariska.
Sementara Ryan dan Robert pulang bersama dengan menaiki motor Ryan.
Mereka yang rumahnya berdekatan biasa pulang pergi kampus berboncengan demi menghemat uang bensin.
"Kini Andini berdiri sendiri di parkiran.
Mobil Dimas masih terparkir di parkiran kampus, entah ke mana pemilik mobil berwarna hitam itu.
"Sayang kita ke cafe dulu yuk sebelum pulang!"ajak Almira Seraya naik ke motor Bagas.
Gadis berambut pirang itu sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar ke telinga Andini yang berdiri tak jauh dari sana.
"Pergi sana, Aku tahu kamu ngomong gitu biar kedengaran sama aku kan biar aku kebakaran jenggot kan? aku nggak peduli kali jawabnya kesal.
Almira yang sudah naik ke atas motor Bagas hampir turun kembali. Jika tangan Bagas tidak segera menahannya.
Bagas segera menjalankan motornya. sebelum kedua wanita itu kembali ada mulut. Almira mengacungkan jari tengahnya dengan senyum sinis ke arah Andini.
"Sialan kamu! dasar wanita murahan! teriak Andini dengan urat leher menegang.
Namun, tidak cukup sampai di sana kekesalannya yang sudah memuncak. membuat Gadis itu melepaskan sepatu dan melemparkannya ke arah Almira, yang sudah menjauh bersama dengan motor Bagas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1