
"Sayang, sini dulu! panggil Dimas, Seraya menepuk pahanya.
Andini hampir membulatkan mata ketika mendengar panggilan itu. Terlebih lagi Dimas menepuk pahanya, bukan menepuk tempat kosong di sampingnya.
" Ada apa mas? aku nggak dengar. Andini masih sibuk menyisir rambutnya, a ingin mendengar kata itu sekali lagi.
"Masa sih,nggak dengar? "
" Iya beneran. "
" Sini sayang." panggil Dimas sekali lagi.
Senyum pada bibir Andini mengembang sempurna.
Wanita itu bangkit dari kursi yang menghadap ke arah meja rias, dan mendekat ke arah suaminya.
"Tumben manggil sayang, biasanya kan. Andini........ Andini....."
"Sudah, sini Duduk dulu. Dimas menarik tangan sang istri dan memegang pinggang ramping wanita itu lalu mendudukkannya di atas paha.
" Mas, kamu nggak sakit apa?aku duduk kayak gini di paha Mas? Andini menggerakkan pinggulnya di atas paha Dimas.
"Ahk..... diam dulu, jangan banyak bergerak. Dimas melingkarkan tangannya pada perut sang istri, agar wanita itu tidak banyak bergerak
"Kenapa? kamu sakit ya, Mas kalau aku begini? Andini kembali menggerakkan pinggulnya di atas paha Dimas
"Sayang diam dulu! Nanti keburu bangun."
" Apanya yang bangun mas?
" Burung kesukaan kamu."
" Ih, apaan sih? Andini mencabut satu bulu jenggot suaminya yang sedikit memanjang, sampai membuat sang pemilik mengadu kesakitan.
"Nakal kamu ya. Dimas pegang tangan istrinya yang tadi mencabut bulu jenggotnya.
" Mas, mau ngasih tau sesuatu kepada kamu." Dimas mulai membuka ponselnya
"Apa Mas? tanya Andini dengan Tak sabar.
"Hotel milik teman Mas, ingin dijualnya. rencananya Mas mau ngambil alih Hotel itu, daripada sama orang lain. Dia menjualnya karena ingin pindah ke luar negeri." jelas Dimas yang membuat Andini terdiam sejenak
"Kamu setuju? tanya Dimas kembali dengan mata yang menatap ke arah istrinya.
"Aku setuju aja Mas. Ini kan, pekerjaan kamu. Andini menunjukkan Senyum manisnya.
"Doain ya, Semoga semuanya lancar. Karena Hotel itu memiliki peluang yang sangat tinggi untuk dikembangkan. Aku ingin menciptakan lowongan kerja untuk orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Selain itu, juga kita menambah penghasilan lain untuk menghidupi kamu dan anak-anak kita kelak." Dimas mengusap punggung istrinya dengan lembut.
" Iya Mas. Aku selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kita. Tapi kamu hebat loh Mas. bisa beli hotel kayak gitu. Andini menatap suaminya dengan penuh kekaguman.
" Kalau Mas membeli Hotel itu, siapa yang akan mengelolanya? sedangkan Mas sibuk di kampus dan juga kantor membantu papa. Usia Papa juga sudah semakin senja, sudah tidak bisa lagi bekerja dengan maksimal." ucap Andini mengkhawatirkan Ayah mertuanya.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, ada orang yang akan membantu Papa di kantor. Dia sepupu Mas yang sudah lama ikut membantu bapak menjalankan perusahaan." sahut Dimas
"Ya sudah nggak apa-apa Mas, aku selalu mendukung kamu kok. Andini menatap suaminya dengan senyuman hangat.
" Terima kasih sayang. Dimas memeluk tubuh sang istri dan merebahkan tubuh keduanya di atas kasur.
"Mas libur ya." pinta Andini saat tatapan suaminya sudah terlihat berbeda
"Tidak ada libur selain tanggal merah.
"Idih, mentang-mentang dosen."
****
Pagi ini Andini bangun lebih awal dari biasanya. walaupun belum bisa mengalahkan suaminya yang selalu bangun subuh. Tapi ia sudah merasa senang karena ada sedikit perubahan Dari Dirinya, walaupun hanya beda beberapa menit saja.
Setelah sarapan mereka langsung berangkat ke kampus.
Begitupun dengan sepasang suami istri absurd mengendarai motor dengan teriakan kencang.
"Kamu Cepetan dong! Aku kebelet nih." teriak Mariska terdengar Robert yang tertutup helm.
" Kebelet apaan? balas Robert Seraya melirik wajah istrinya dari pantulan kaca spion motornya.
" Iya kebelet pengen ke WC." masak kebelet mau melahirkan."
"Kali aja Kamu udah isi."
"Kamu mau sosis sama telur nggak? biar tambah isi. " ucap Robert sambil terkekeh.
"Nggak ma! Sudah kenyang."
" Tapi ini bisa kenyang selama sembilan bulan loh." pria itu kembali terkekeh, Bahkan ia menahan tawanya ketika melihat ekspresi Mariska yang langsung berubah kecut.
"Kamu jangan ngaco ya." wanita itu memukul bahu suaminya dengan kencang.
" Kebiasaan tangan kamu Ringan banget mukul mulu." protes Robert yang merasa bahunya memanas akibat pukulan Mariska.
" Makanya cepetan sudah di ujung tanduk nih.
"Tanduk apaan? Emang itu kamu ada tanduknya?"
" Robert, aku makan juga kamu nanti!" Mariska menggerakkan kedua bahu robek sampai membuat motor yang dikendarai keduanya hampir oleng.
"Gila kamu Mariska! Hampir aja motornya jatuh. Robert membuang napas lega ketika ia bisa menjaga keseimbangan roda dua itu.
"Cepetan aku mau pipis ini. Mariska mencengkram kemeja Robert p menahan sesuatu yang salah akan menerobos.
"Makanya lain kali pakai pampers, biar nggak ribet?
" Heh....bodoh! kamu pikir aku ini seorang bayi?.
__ADS_1
Motor yang mereka kendarai memasuki area kampus.
Setelah motor itu berhenti di parkiran Mariska langsung turun dan berlari ke arah toilet.
" Mariska....,tunggu! teriak Robert sambil mengejar langkah istrinya.
"Kamu ngapain ikut? tanya Mariska tanpa menghentikan langkahnya.
" Aku mau antar kamu, takut ada yang mengganggu kamu."
Mariska mendekat ke arah toilet dengan Tak sabar
"Astaga...!!!teriaknya. Saat Pintu itu terbuka dan dikejutkan oleh sesuatu
lututnya langsung bergetar, jantungnya berdebar dengan cepat.
Bahkan keringat dingin mulai menggucur dari pelipis dan telapak tangannya.
Wanita itu mematung sejenak matanya terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Kamu kenapa? Robert menghampiri Mariska yang masih mematung di ambang pintu.
"Robert....., ada mayat!" jawab Mariska dengan mata yang tak berkedip dan nada datar.
"Mayat? Mayat apaan? mayat tikus kali." Robert berdiri di belakang Mariska yang masih menghadap ke dalam toilet.
"Aku beneran Robert!" suara Mariska terdengar bergetar dan ketakutan
"Mayat apaan sih? Robert menyingkirkan tubuh Mariska dan melihat ke arah dalam toilet.
" Astagfirullah! itu kan.... Robert tak melanjutkan ucapannya, tubuh pria itu malah terlihat lemas.
"Kamu jangan pingsan! " Mariska menyenggol lengan pria itu
" Iya nggak jadi." Robert kembali menegakkan tubuhnya.
"Itu bukannya si Almira, ya? Robert memperhatikan wajah seorang wanita yang terkapar di atas lantai toilet dengan mulut berbusa.
Wajah wanita itu terlihat pucat. Tubuhnya kaku dengan dada yang terlihat sudah tidak bernafas.
"Kamu jangan bilang kalau si Almira bunuh...."
"Mariska! kita harus lapor ke pihak kampus sekarang." Robert menandatangani untuk meninggalkan tempat itu.
Keduanya setengah berlari dengan lutut yang bergetar.
Mariska dan Robert langsung melapor ke pihak kampus. Dan seketika kampus itu jadi heboh karena penemuan jasad seorang mahasiswi di dalam toilet.
Tak lupa pula pihak kepolisian yang langsung mengevakuasi jasad mahasiswi yang bernama Almira itu, dan menjadikan Robert dan Mariska sebagai saksi mata pertama kali menemukan mayat tersebut.
Almira diduga menghabisi nyawanya sendiri karena ditemukan sebuah botol kecil yang berisi racun serangga pada genggaman wanita itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG......