Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 162. UJUNG UJUNGNYA NANGIS


__ADS_3

"Mbak Rian, Mbak pulang bareng siapa?"tanya Andini ketika ia menunggu suaminya diperkirakan.


"Idih Mbak Rian. manis banget kamu."balas Rian sambil menyunggingkan Bibir bawahnya.


"Terus maunya apa? Rianti gitu biar kayak kak Herlan."Andini terkekeh.


Terserah kamu deh. Sesuka mu aja.


"Enek aku, mana pusing lagi. memangnya kamu nggak mual ya? tiap pagi aku muntah-muntah." Rian memijat keningnya.


"Morning sickness ya? aku mah enggak.


Malah Dimas yang muntah-muntah." balas Andini sambil terkekeh ketika membayangkan Dimas hampir muntah setiap pagi.


"Lah kok bisa?"tanya Rian dengan wajah heran.


"Ya bisalah, kita kan kolaborasi." Andini mengibaskan rambutnya dengan bangga.


"Bagi mantranya dong." mohon Rian dengan wajah serius.


"Mantra apaan? Kamu pikir aku dukun apa?"


"Iya, dukun beranak."


"Dasar kakak ipar durhaka."


"Kebalik kali, kamu adik ipar durhaka."


"Andini!!!


"Rianti!!! Panggil dua orang pria hampir bersamaan.


Seketika kedua wanita itu langsung mengalihkan pandangannya.


Andini langsung menghampiri Dimas sementara Rian mendekat ke arah Herlan.


" Bang Herlan, tumben udah pulang jam segini?" tanya Rianti sambil menggandeng tangan suaminya.


"Iya, hari ini pekerjaan lagi longgar. Tadi cuman perkenalan pimpinan baru perusahaan kok." jelas Herlan


Andini yang merasa tertarik dengan pembicaraan kakaknya, menghentikan langkah ketika ia akan masuk ke dalam mobil suaminya.


"Terus sekarang yang memimpin perusahaan Itu siapa Kak? tanya Andini yang membuat Herlan langsung menoleh ke arahnya


"Dih, penasaran dia." Rianti menunjuk ke arah Andini sambil terkekeh.


"Kamu kepo banget sih, udah sana pulang sama suami kamu." ucap Herlan sambil meninggalkan Andini begitu saja.


Dimas melajukan roda empat itu keluar dari kampus.


Dimas melepaskan tangannya dari tubuh Andini dan mulai fokus menyetir ketika mobil yang ia kendarai telah memasuki Jalan Raya.


Namun Andini masih belum melepaskan dekapannya. Wanita itu mengendus aroma tubuh suaminya yang seolah membuatnya kecanduan.


"Sudah duduk lagi yang benar." titah Dimas yang membuat Andini malah menelusup kan wajahnya pada bagian ketiak suaminya.


"Geli, kamu ngapain sih ?" Dimas menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ketiak kamu wangi Banga Mas." Andini memejamkan mata dengan hidung yang terus mengendus aroma yang menurutnya lebih wangi dari parfum


"Mas sudah keringatan loh sayang, kamu jorok banget?"


"Tapi ini beneran wangi Mas, aku sampai mau tidur.


"Ya udah tidur sini." Dimas menepuk pahanya yang membuat Andini langsung merebahkan kepala di atas paha pria itu.


"Awas hati-hati, jangan sampai menyenggol ular piton yang sedang tidur.


"Ini ya Mas? Andini malah menyentuh area sensitif Dimas dengan telunjuknya sendiri.


"Diam dan jangan nakal." Dimas menyingkirkan tangan Andini agar tidak mendekat kembali pada peliharaannya yang sedang bersemayam.


"Hahaha..... ya udah, aku duduk lagi deh.


takut Mas nggak fokus" Andini kembali merubah posisinya menjadi duduk.


"Sayang, aku mau minta maaf." ucap Dimas sambil melirik sebentar ke arah Andini


"Minta maaf, Kenapa Mas? kamu kan nggak salah apa-apa."wanita itu menatap wajah suaminya yang terlihat serius.


"Aku minta maaf karena aku belum bisa menepati janjiku.


"Janji yang mana? perasaan kamu nggak pernah buat janji." Andini mengerutkan keningnya.


Waktu itu aku pernah bilang mau memberikan kamu mobil kalau sudah opening Hotel. Tapi aku belum bisa menepati janjinya karena.......


Dimas tidak melanjutkan ucapannya. Karena ia teringat apa yang dikatakan oleh Tuan Pratama. Tuan Pratama dan nyonya Laras tidak memperbolehkan Dimas memberikan Andini 1 unit mobil. Sesuai dengan perjanjian yang mereka lakukan sebelumnya. Dimas tidak akan menunjukkan siapa jati dirinya kepada Andini sebelum Tuan Miko dan nyonya Laras yang sudah mengungkapnya terlebih dahulu.


"Tidak apa-apa Mas. Lagian aku tidak terlalu membutuhkan mobil. Aku kan masih bisa pergi sama kamu." sahut Andini


Sementara itu Rian Sudah dari tadi hanya terdiam di dalam mobil.


Begitupun dengan Herlan yang fokus mengemudi. Ia pikir istrinya baik-baik saja. ternyata Rian sedang menahan seribu kekesalan.


"Bang, Panggil Herlan setelah beberapa saat hening


"Ia yakin suaminya akan terus membisu jika ia yang tidak memulai duluan.


"Hmmm... Herlan hanya bergumam dengan tatapan lurus tak menoleh sedikitpun. Karena istrinya yang sudah mengerucutkan bibir membentuk sebuah piramida.


"Bang, Kok cuman hemm doang sih?" Rian meremas jemarinya sendiri berusaha menahan kekesalan.


"Terus aku harus gimana?"


"Ih, dasar nyebelin orang mah. Tanya ke Istrinya kenapa diam aja.


"Kenapa? kan memang lebih baik diam." Herlan melirik sekilas ke arah sang istri.


"Oh, jadi bang Herlan lebih suka aku diam dibandingkan mendengar Aku berbicara? benar ini apa yang dikatakan Andini. Kamu sudah kepincut sama bos barumu itu." ucap sambil bersedekap dada.


Herlan yang mendengar ocehan istrinya langsung menoleh dengan dahi mengerut.


"Andini didengar. Kamu kayak nggak tahu aja di anaknya kayak gimana."


"Tapi beneran, kalau kamu sudah tertarik sama Bos kamu baru itu, kan? buktinya aja sikap kamu beda. Lebih cuek dari tadi diamin aku terus. Bahkan kamu ngomong kalau aku ini lebih baik diam." cerocos Rian kembali dengan suara bergetar.

__ADS_1


Herlan memikirkan mobilnya dan menghentikan roda empat itu di tepi jalan yang lumayan sepi. Ia yakin sebentar lagi air mata istrinya akan menetes.


"Rianti Sudah berapa kali aku bilang jangan dengarkan omongan orang lain. Cukup percaya sama aku. Herlan menatap wajah istrinya yang sudah memerah.


"Tapi sikap kamu membuat aku ragu."


"Ragu kenapa? kalau kamu kayak gini terus lebih mendengarkan omongan orang lain dibandingkan suami sendiri, rumah tangga kita akan kena masalah terus. Karena pengerat sebuah hubungan itu adalah kepercayaan." ucap Herlan yang membuat air mata istrinya malah semakin lurus.


"Tuh kan, ujung-ujungnya kamu nangis. Aku nggak suka kalau begini .Aku nggak suka lihat kamu menangis." Herlan mengusap air mata Rianti dengan tangannya sendiri.


"Aku minta maaf Bang. Aku selalu termakan omongan orang lain." ucap Rian dengan bibir bergetar.


"Jangan kayak gitu, nanti kamu matinya juga kemakan omongan orang lain.


"Bang Herlan ih!"


"Sudah jangan nangis, bentar lagi punya anak tapi kok masih cengeng. Nanti yang sering nangis malah kamu bukan anak kamu.


"Hah! anak aku? Rian menatap suaminya dengan horor.


"Anak kita maksudnya. Maaf salah, udah jangan nangis lagi. Tuh hidung kamu merah gitu.


Herlan mengusap rambut istrinya.


"Ya sudah, kalau gitu aku mau makan rujak aja." pinta Rian sambil menghapus air matanya dengan kasar


"Rujak? di jam segini makan rujak?"


"Gimana dong? Aku maunya gitu. Namanya juga lagi ngidam." Rian mengusap perutnya.


"Kenapa sih? orang ngidam selalu aneh. nggak bisa gitu Yang manusiawi aja? gerutu Herlan sambil menjalankan mobilnya kembali.


"Terus maksud kamu aku ini hewani gitu?


"Nggak kok. Ya udah buat rujak aja di rumah.


Kamu yang buat ya bang." ucap Rian dengan wajah berbinar


Rujak apa?


terserah Abang aja deh


****


Ricky menghentikan motornya ketika melihat seorang wanita sedang mondar-mandir di depan mobilnya.


Ricky yang melihat itu langsung mendekat.


Mungkin wanita yang mengenakan rok span sebatas lutut itu membutuhkan pertolongan.


"Mobilnya kenapa? tanya Ricky yang membuat wanita itu langsung menolehkan badan menghadap ke arah Ricky yang cukup terkesima ketika melihat wanita di hadapannya.


Wanita cantik itu membuat mata Ricky tidak berkedip beberapa detik. Bahkan alurnya hampir menetes, Jika ia tidak segera mengatupkan bibirnya kembali.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2