
"Mas," Panggil Andini sambil menatap ke arah suaminya yang sedang duduk dengan sebuah laptop di atas pahanya.
"Ya..."Dimas hanya menjawabnya dengan ya, Tetapi dia tidak menoleh ke arah istrinya, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.
"Mas lagi ngapain?" Andini membalikkan badan, menghadap ke arah suaminya yang sedang fokus Menatap layar laptop.
"Lagi buat laporan, sebentar lagi selesai."
"Tapi, ini sudah larut malam loh Mas, tidur dulu yuk!" ajak Andini dengan manja.
"Kamu tidur duluan aja, nanggung ini sebentar lagi selesai." sahut Dimas tanpa menoleh sedikitpun karena Andini yang sudah memasang wajah kesal.
"Kan bisa dilanjut besok, Mas."
"Nggak bisa, besok Mas Mau ngatur sebaran undangan."sahut bebas sambil tangannya terus berkutat di keyboard laptopnya.
"Memangnya undangannya sudah siap Mas? kok cepat banget?" wajah Andini berbinar.
"Iya, besok pagi undangannya Sudah kelar, dan orang percetakannya berjanji langsung diantar. Jadi Mas mengatur ke mana saja undangan itu disebar." sahut Dimas.
"Mas ngapain sih di undangannya dibuat fotonya? malu aku kalau sampai teman kampus lihat foto prewedding kita." Andini mengerucutkan bibirnya sambil memainkan ujung selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Memangnya kenapa sayang? Kenapa harus malu kan foto prewedding nya cantik."ucap Dimas sambil menunjukkan foto mereka pada layar laptop yang ia jadikan wallpaper.
"Aku tuh memang sudah cantik dari masih berbentuk zigot,"ucapkan dini dengan bangga.
"Heh, mana ada zigot cantik. tapi kamu lebih cantik gini sih, lebih adem dan kalam kelihatannya." Dimas memperhatikan foto Andini yang mengenakan gaun membuat Andini terlihat feminin.
Padahal di kesehariannya, Andini lebih sering menggunakan celana jeans dan kaos oblong. terkadang kemeja dipadukan dengan celana jeans yang bagian lututnya sobek-sobek.
"Terus, Mas mau nyuruh aku buat kayak gitu terus setiap hari?"
"Iya, Aku lebih suka istriku berpakaian agak tertutup, dan feminin.
"Hmm... so sweet, nanti ya." ucapkan dini memainkan jarinya di atas paha Dimas.
__ADS_1
"Akh, kangen kamu nakal banget." Dimas menggenggam jemari istrinya.
"Nakal apa sih, Mas?cuman gini-gini doang." Andini kembali memainkan jemarinya dan membuat tubuh suaminya menegang.
Dimas menutup laptop dan menaruh benda canggih itu di atas nakas.
Setelah itu, iya ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
"Sayang, udah belum?"tanya Dimas dengan tatapan lembut yang mampu menggetarkan hati Andini.
"Apa, Mas? kamu panggil apa tadi?" wanita itu pura-pura tidak mendengar suaminya.
"Mas tahu kamu nggak tuli, kamu mendengarnya dengan jelas."
"Ih, Andini serius, Mas. Mas ngomong apa tadi?"
"Sayang,"Dimas mendekatkan wajahnya kepada istrinya.
"Astaga, so sweet banget sih Mas, membuat hati Andini semakin klepek-klepek." Andini memegang dadanya dengan wajah merona.
"Sudah apa Mas?"
"Sudah itu!" Dimas mengarahkan pandangannya ke area bawah sang istri.
Seketika mata Andini membulat.
"Emmmm..., belum Mas sedikit-sedikit lagi, belum bersih total." sahut Andini.
"Astagfirullah." Dimas mengusap dadanya Seraya merubah posisinya menjadi terlentang, wajah pria itu terlihat pasrah.
"Sabar." Andini terkekeh melihat ekspresi suaminya..
"Oh,iya mas. tadi mama menghubungiku, katanya Andini harus pulang dulu ke rumah. kita harus berpisah selama satu hari sampai acara resepsi," ujar Andini dengan mata yang masih tertuju ke arah wajah sang suami.
"Loh, kok gitu sih?" Memangnya kenapa harus pisah rumah segala?" Dimas menatap istrinya dengan dahi mengerut.
__ADS_1
"Biasanya satu hari menjelang hari H resepsi. nanti kita ketemu lagi di gedung resepsi. biasanya lelaki menyambut pengantin wanitanya." Jelas Andini.
"Katakan Saja, ini rencanamu kan?
"Ya, ngak lah Mas."
"Mama yang minta, Mas. katanya biar acara perfect gitu. kan kurang bagus Kalau kita datang ke gedung berbarengan. Lagian, kalau kita bisa dulu satu hari, nanti malamnya setelah resepsi bisa kangen-kangenan." Andini terkekeh dengan wajah merona.
"Oh, gitu. ya sudah, sekarang kita kangen-kangenan dulu." Dimas langsung mendekap tubuh istrinya dengan erat.
Malam semakin larut, mengantarkan keduanya lelap dalam mimpi di bawah hangatnya selimut tebal dengan tubuh yang saling mendekap.
Malam berganti pagi, membangunkan kedua insan yang bernyawa untuk kembali melanjutkan nafas.
Matahari Sudah terbit di ufuk timur. Andini membuka matanya beriringan dengan terbukanya pintu kamar mandi.
Wanita itu langsung melebarkan matanya, ketika melihat Dimas keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan sehelai handuk melingkar pada pinggangnya.
Rambut suaminya masih basah, bahkan beberapa bulir air masih menetes dari rambutnya membasahi wajah dan lehernya.
Hal itu malah membuat sosok Dimas bertubuh kekar tersebut bertambah tampan dan mempesona.
"Kok di hatinya begitu, amat? awas jadi naksir loh? ucap Dimas saya berjalan ke arah lemari pakaiannya.
"Memang sudah naksir banget kok." sahut Andini tanpa malu-malu sambil menyikap selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan berjalan ke arah Dimas yang akan berpakaian.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1