Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 55. KEDATANGAN BAGAS


__ADS_3

Dimas semakin memanas. Tangannya mengepal sempurna. Kakinya melangkah dengan perlahan.


Andini! Panggil Herlan membuat adiknya itu langsung gelagapan.


"Hai... Kak!" sapa Bagas kepada Herlan yang berjalan ke arahnya.


"Bagas sebaiknya kamu pulang sekarang." usir Herlan dengan wajah datar.


"Tapi Kak, Saya cuman mau jenguk Andini."


"Saya tahu. Tapi sebaiknya kamu pulang dan jangan datang ke sini lagi tanpa seizin saya!"usir Herlan kembali dengan nada penuh penekanan, dan wajah pria itu terlihat berbeda dari biasanya.


"Kak Herlan, Kok gitu sih." protes Andini membuat Herlan langsung menatap tajam ke arahnya.


"Pergi sekarang, atau saya mengusir kamu dengan paksa!"tegas Herlan kembali.


Andini heran dengan sikap kakaknya, saat ini. Tidak biasanya Herlan seperti itu.


"Din, sorry ya. Aku pulang dulu, cepat sembuh ya!"Bagas tersenyum seraya bangkit dari samping Andini.


"Gati-hati gas!"Andini melambaikan tangannya mengiringi langkah Bagas yang berjalan menuju pintu keluar.


"Kak Herlan kenapa sih? kok tiba-tiba sok galak kayak gitu?" gerutu Andini dengan kesal.


"Seharusnya kamu tahu diri dek, kamu udah punya suami. Masa malah berduaan sama pria lain." Herlan menatap sebel ke arah adiknya.


"Tapi kan Kak, Bagas cuman mau jenguk aku doang." Elak Andini yang tak pernah mau mengalah jika sedang berdebat dengan kakaknya.


"Ini minumnya!" sampai lupa kalau tadi tersendat dan butuh minum." celetuk Dimas sambil menaruh segelas air minum di atas meja.


"Pak Dimas,"Panggil Andini


Namun, Dimas tak menggubris Dimas langsung melangkah dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar.


"Loh, Pak Dimas Kenapa?"tanya Andini dengan wajah bingung


"Masih nanya kenapa?" otak kamu ditaruh di mana sih dek? Herlan menoyor kepala adiknya.


"Aku memang benar nggak ngerti Kak! kok pak Dimas tiba-tiba kayak gitu?"


"Mana ada suami yang gak marah melihat istrinya berduaan dengan lelaki lain."


"Kak Herlan jangan sok tahu. Punya istri juga belum."


"Dek, walaupun Kakak belum punya istri, tapi kakak sebagai laki-laki bisa mengerti apa yang Dimas rasakan sekarang." jelas Herlan dengan kesal.


"Terus maksudnya, gimana nih? Andini menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Begini nih, kalau pas lahir pantatnya duluan yang keluar, otaknya jadi kebalik."


"Kak Herlan, ih. Andini mencari kesal.


Suami kamu itu sedang cemburu tahu. "Cemburu? Herlan menatap tajam karena adiknya.


"Kalau cemburu, tandanya cinta dong ya?


"Bukan, cemburu itu tandanya pengen menerkam." ucap Herlan kepada adiknya.


"Kak Herlan...., Aku serius!"


"Ya iyalah dek, begini nih kalau otak terkontaminasi oleh limbah pabrik micin."


"Kalau Pak Dimas cemburu berarti itu tandanya dia.....


"Ya, udah buruan samperin sana, sebelum dia keluar bawa barang-barang.


"Maksud Kak Herlan, minggat gitu?" Andini membulatkan matanya.


"Bukan mau jualan es batu!"

__ADS_1


"Kak Herlan, sekarang antar aku ke kamar


"Gendong kamu?


"Oh no!"


"Ogah, mending sekarang kamu nungging di sini, biar kakak tendang sampai ke kamar."


"Ih Kakak jahat banget, udah cepat bantuin aku. Andini memegang lengan berotot kakaknya dan mencoba berdiri.


Herlan membantu Andini, berjalan menaiki anak tangga dengan hati-hati.


"Alhamdulillah, aku sudah bisa jalan walaupun masih agak sakit." gumam Andini sambil memegang erat bahwa kakaknya.


"Ini Azab istri durhaka."


"sembarangan! aku ini istri saleha


"Udah, jangan banyak ngoceh. Cepat masuk, dan minta maaf sama suamimu." Herlan membukakan kamar untuk adiknya.


"Makasih ya, Kak. Aku doain semoga cepat laku." ucap Andini sambil terkekeh, lalu masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati.


Andini langsung menutup pintu dan berjalan dengan pincang ke arah Dimas yang sedang duduk di tepi ranjang, sambil memainkan laptopnya.


Andini mendekat dengan hati-hati, dan duduk dengan ragu-ragu di samping Dimas.


"Pak, Bapak marah sama saya? tanya Andini dengan hati-hati.


Andini meremas jemarinya sendiri, dengan mata yang menatap ke arah Dimas.


Dimas masih terdiam. Matanya menatap lurus ke arah layar laptop, yang berada di pangkuannya. Jemarinya bergerak dengan lincah, memecat setiap tombol pada papan keyboard benda canggih itu.


"Pak tadi Bagas cuman jenguk saya doang, kita nggak ngapa-ngapain kok." ucap Andini dengan suara pelan.


"Oh." satu kata yang keluar dari bibir yang dari tadi bungkam.


"loh kok cuman oh, doang sih." Andini mulai kesal. Padahal ia sudah berusaha untuk bersikap lembut, karena saat ini Yang sedang marah adalah Dimas, dan ia harus menenangkannya.


"Ya apa gitu, yang panjang dikit."


"Nggak ada, udah kamu tidur sana." usir Dimas tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.


Entah kenapa hati Andini sakit ketika suaminya berbicara seperti itu.


Ternyata diamnya Dimas lebih menyeramkan.


"Pak kalau ngomong lihat sini dong." protes Andini.


"Saya sudah tidak mau ngomong." silakan tidur!


"Bapak marah?" Dimas hanya diam.


"Bapak cemburu?" Dimas masih diam matanya tetap tertuju karena layar laptop


"Pak, bisa nggak lihat saya. Andini menutup laptop itu dengan paksa.


Dimas diam sejenak. Lalu membalikan badan menghadap ke arah Andini.


"Kenapa? Kamu mau saya bilang cemburu, dan marah-marah saat melihat kamu bersama dengan lelaki itu? saya rasa jika saya marah kamu yang akan lebih marah. Karena kamu tidak pernah sadar diri, dan menghargai saya." ceracos Dimas dengan mata yang menatap tajam karena Andini.


"Maksud Bapak apa? Kenapa Bapak bilang saya tidak pernah sadar diri.


Andini membalas tatapan tajam itu.


"Iya, bahkan sekarang kamu melupakan panggilan itu. Saya sudah meminta kamu untuk tidak memanggil saya bapak! kamu melupakan itu, setelah bertemu dengan lelaki itu.


Andini menyentuh bibirnya sendiri Ia memang beneran lupa dengan panggilan itu.


"Maaf saya lupa."

__ADS_1


"Itu bukti kalau kamu tidak pernah sadar diri, kamu juga akan melupakan saya, di saat sedang bersama dengan laki-laki lain. Saya tidak menuntut kamu menjadi istri yang sempurna, yang melayani suami dengan sukarela. Saya hanya minta kamu menghargai saya!"


"Maaf seharusnya Bapak juga ngerti dong, pernikahan ini terjadi saat saya belum siap mental. Dan ego saya belum siap menerima sebuah pernikahan.


Bahkan saya tak pernah berpikir kalau pernikahan itu adalah list terakhir dalam hidup saya. Mata Gadis itu mulai berkaca-kaca bibirnya bergetar


"Terus kamu mau apa? pacaran? saya bisa menjadi pacar kamu. kalau kamu mau!"


Andini membulatkan matanya ketika mendengar ucapan itu.


"Ya udah, tebak saya sekarang, Kalau gitu. Andini mengelap sudut matanya. Ia tak jadi menangis ketika mendengar ucapan suaminya.


"Mata Dimas menatap istrinya, dengan dahi mengerut


"Tembak saya! katanya Bapak mau jadi pacar saya."


"Saya nggak punya pistol, tapi punya pedang


"Pedang apaan?" Andini menatap heran tetapi bibir terlihat mengerucut.


"Kamu mau lihat? Dimas memegang ikat pinggangnya. Andini mengikuti Ke mana arah tangan suaminya. Mata Gadis itu membulat, ketika mengingat sesuatu di dalam sana.


"Nggak nggak usah. Andini naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya memunggungi Dimas.


"Iya sudah yakin suaminya akan ikut naik memeluknya dari belakang.


Namun, beberapa saat tidak ada pergerakan sedikitpun. Andini kembali membalikan badan, dan matanya tertuju karena Dimas yang kembali membuka laptopnya.


"Ngeselin banget sih, gerutunya sambil memukul bantal tempat tidur Dimas.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas dengan mata datarnya


"Nggak Apa apa Bantal ini menyebalkan seperti orang yang tidur di sini."


"Maksud kamu saya? Dimas menyimpan laptopnya ke atas nakas, dan segera naik ke atas kasur.


"Nggak, saya nggak bilang bapak menyebalkan.


"Bapak lagi, bapak lagi, lama-lama saya potong juga lidah kamu


"What? sorry maksud saya Mas.


"Kenapa bilang saya menyebalkan?" Dimas mendekat karena istrinya.


"Habisnya, Mas nggak mau nembak saya." bibir tipis itu terlihat mengerucut


"Saya kan, sudah bilang saya punya pedang. bukan pistol."


"Ya sudah, kalau gitu tusuk saja."


"Beneran? Dimas semakin mendekatkan tubuhnya.


"Bukan bukan gitu maksud saya, Mas bilang gini " Andini Kamu mau nggak jadi pacar saya?" coba bilang gitu.


"Andini Kamu mau nggak jadi istri saya?


"Ih pacar Mas, kita kan mau pacaran dulu." protes Andini dengan kesal


"Nggak mau, saya maunya kamu jadi istri saya.


"Kita kan pacaran dulu, nanti setelah saya lulus kuliah baru kita menikah."


"Bibir kamu nakal juga, ya kalau bicara. Kita ini sudah menikah, dan tidak bisa diubah lagi." tegas Dimas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2