Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 117. MAHAR CINCIN IMINTASI


__ADS_3

Tiba-tiba, seorang pria datang berjalan dengan wajah kacau, yang mampu membuat gerakan bibir Andini yang akan berucap berhenti seketika.


"Kak Herlan, bagaimana? tanya Andini ketika melihat kakaknya telah kembali.


"Hancur dan kacau, pacar kakak nggak mau nikah sekarang."Herlan mengusap wajahnya dengan kasar.


"lah terus gimana dong permintaan Opa?


"Nggak tahu, mungkin Kakak nggak bisa penuhi permintaan Opa."wajah pria itu terlihat Sendu. Seakan dirinya frustrasi karena dia tidak bisa memenuhi permintaan Opanya.


Sejujurnya Herlan khawatir, sebelum Herlan memenuhi permintaan sang Opa. Tuan Pratama sudah menghadap Sang khalik. Karena ia mengetahui kondisi Tuan Pratama Saat ini semakin menurun. Apalagi setelah Tuan Pratama meminta kepadaNya untuk segera menikah sebelum dirinya berpulang.


Andini menjitakkan dua jarinya ke atas udara hingga menimbulkan bunyi suara nyaring.


"Andini punya ide!"Andini tersenyum getir dengan mata berbinar.


Herlan dan Ran menatap ke arah Andini yang tersenyum sambil mengedip mengedipkan matanya.


Begitupun dengan Dimas, yang menatap ke arah sang istri dengan dahi mengerut.


Mereka menunggu apa yang akan dikatakan Andini.


"Ide apa sih, dek? tanya Herlan setelah beberapa saat terjadi.


"Idenya, Kak Herlan sama Rian harus menikah,"jawab Andini Seraya menunjuk ke arah Rian dan Herlan secara bergantian.


Seketika mata Rian membulat, sementara Herlan kembali mematung.


"Maksud kamu apa, dek? kok kakak harus nikah sama Ran? Memangnya Apa hubungannya?"tanya Herlan beruntun dengan wajah bingung bercampur heran ketika mendengar ucapan sang adik. Yang tiba-tiba saja meminta kepada Herlan untuk segera menikah dengan sahabatnya.


"Jadi begini, Kak Herlan kan butuh calon istri, nah kebetulan Rian ini butuh calon suami. Ya udah, kalian nikah saja biar saling menguntungkan. Simbiosis mutualisme gitu, jelas Andini membuat Rian langsung memasang wajah berbinar.


Berbeda dengan Herlan yang malah mengusap wajah dengan kasar. Setelah mendengar ide dari sang adik yang menurutnya itu hal yang tidak mungkin.


"Gak bisa! Kakak sudah menganggap Rianti seperti adik sendiri. Karena dia sahabat kamu, masa Kakak nikahin? tolak Herlan yang membuat buliran bening pada sudut mata Ran seakan menetes.


Bagaimana tidak, dia merasa tidak berharga di depan mata siapapun. Bahkan dia merasa paling jelek sejagat bumi. Karena dua sekaligus pria yang menolak menikah dengannya.


"Astaga! ya Allah, seburuk itukah aku? padahal Ia merasa dirinya tidak terlalu jelek dan masih layak untuk bersanding dengan seorang pria.


Wajah dan body juga tidak terlalu malu-maluin kalau dibawa ke undangan juga lumayan lah.


"Ya udah, kakak anggap aja Rian ini istri kakak sendiri ." Timpal Andini asal.


"Gak bisa gitu, dek. Kan belum nikah, masa sudah anggap istri." sangkal Herlan kembali.


"Makanya nikah dulu. Jujur ya Kak, aku lebih setuju Kakak nikah sama Rian. Daripada sama wanita lain yang belum aku kenal sifat dan sikapnya kayak gimana. Karena aku sudah sangat lama mengenal Rian. Walaupun rupa tidak terlalu oke, tapi hatinya okelah."ucap Andini sambil terkekeh.


"Dek, kamu pikir nikah itu gampang, apalagi Kakak sama Rianti sebelumnya tidak ada hubungan apa-apa."sahut Herlan frustasi.

__ADS_1


"Kakak nggak lihat, Andini dengan Mas Dimas? Coba ingat betapa dulu aku menolak keras perjodohan ini. Bahkan Andini berniat melarikan diri. Tapi pada akhirnya jika sudah dipersatukan, dan itulah skenario Tuhan mempersatukan kami. Hati tidak akan menolak. Mas Dimas malah bucin akut sama aku. Andini mengibaskan rambutnya dengan penuh percaya diri.


Sementara Dimas yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dengan bibir yang menyunggingkan senyum tipis.


"Jangan lupa, kamu juga bucin sama Pak Dimas."timpal Rian.


"Ya iyalah, sekarang kan dia sudah suami aku. jadi kita sama-sama bucin. Iya kan, Mas? Andini mengedipkan sebelah matanya ke arah Dimas.


"Bang, nikahin Aku ya! aku nggak papa kok kalau pun cuman dikasih mahar seperangkat alat sholat saja." pinta Rian Seraya bangkit dan berdiri di samping Herlan.


Herlan membulatkan matanya, melihat wanita yang begitu agresif terhadapnya. entah apa yang akan terjadi jika mereka menikah nanti.


"Sudah kalian nikah aja. Sudah cocok, Kok. Andini mengacungkan dua jempolnya ke arah Rian dan juga Herlan.


"Nikah-nikah, kamu pikir bisa segampang mengucapkan!" sangkal Herlan kembali dengan wajah kacau.


"Kak, ini permintaan Opa. Nanti kalau Opa tiada dan Kakak belum memenuhi permintaannya Kakak akan menyesal,"ucap Andini membuat Herlan langsung terdiam.


Wajah Herlan terlihat kacau. Bahkan matanya merah, entah menahan tangis atau amarah. Ditolak oleh Larissa, membuat dirinya kecewa.


Padahal selama ini dia sudah berkorban untuk wanita itu. Wanita yang sangat ia cintai, yang ternyata dia menjalin hubungan dengan Herlan hanya untuk materi. Terbukti Larissa bersedia menikah dengannya dengan catatan Herlan harus memberikan mobil, rumah, berlian, butik dan itu mahar yang begitu tak masuk akal menurut Herlan. Kok ngak sekalian dia meminta dibelikan pulau.


Herlan melihat ke arah Rian yang berdiri di sampingnya. Seorang wanita yang ia anggap kecil, karena usia Rian setara dengan Andini.


Sementara dirinya sudah kepala tiga.


Rianti perlahan mengangkat kepalanya melihat ke arah wajah Herlan yang tingginya lumayan berbeda dengan dirinya.


"Nggak masalah bang, bahkan sebagian masalahku pasti akan hilang kalau kita menikah." balas Rian dengan hidung kembang kempis menahan senyuman.


"Masa? gimana kalau Malah semakin menambah masalah? Kamu tuh masih kecil, ini tingginya aja cuman segini." Herlan mengukur tinggi Rian yang hanya sebatas bahunya saja.


"Nggak apa-apa, yang lebih tinggi itu nyaman dipeluk."Ran tersenyum seraya mengangkat tangannya mengarahkan ke arah Herlan seolah akan memeluk.


Tetapi pria itu mundur menghindar pelukan Rian.


"An, jaim dikit napa? sergah Andini seraya yang menarik ujung jaket yang dikenakan wanita itu.


"Sorry Din, aku udah nggak sabar." balas Rian Seraya terkekeh lalu menggigit kukunya sendiri.


"Sudah Kak, nikahin aja si Rian. Dia sudah nggak sabar banget tuh, Andini menunjuk ke arah Rian yang terlihat bak orang kasmaran.


"Rianti, Kamu beneran mau nikah?" tanya Herlan kembali


"Iya bang." Rian tersenyum getir.


"Sama aku? Herlan menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah bang, masa sama Pak Dimas."yang ada nanti aku ditabok nih sama orang di sebelah aku."

__ADS_1


"Heh, jangan sembarangan kalau ngomong." bentak Andini lalu bangkit dan menghampiri suaminya.


"Ampun princess, cuman bercanda! Rian mengancungkan dua jarinya yang membentuk huruf V ke arah Andini.


"Apa alasan kamu mau menikah sama aku?" tanya Herlan dengan wajah serius.


"Karena aku cinta sama bang Herlan." Rian menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


"Sejak kapan?" tanya Herlan kembali dengan dahi mengerut.


"Sejak lahir." balas Rian dengan bibir mengerucut.


Pintu ruangan yang terbuka mengalihkan atensi mereka semua.


"Herlan, Bagaimana? tanya Nyonya Laras setelah keluar dari ruangan itu.


Herlan terdiam dengan tangan Yang menggaruk kepalanya.


"Ma, pacar Kak Herlan nggak mau diajak nikah. Dan sekarang Kak Herlan mau nikah sama Rian." jelas Andini membuat Nyonya Laras langsung menatap ke arah Rian yang menundukkan wajahnya.


"Apa?


"Menikah sama Rian?


"Gimana konsepnya? tanya Nyonya Laras kembali dengan wajah heran.


"Konsepnya, gini Ma pacarnya Kak Herlan nggak mau diajak nikah. Dan Rian ini udah cinta berat sama Kak Herlan, dari dulu dia sudah memberitahu kepadaku. Dia mau diajak nikah, walaupun cuman dikasih mahar hanya cincin imitasi." jelas Andini yang membuat mata sahabatnya itu membulat.


"Gimana Herlan? Opa sudah nanyain kamu terus." tanya Nyonya Laras yang membuat Herlan semakin bingung.


"Ma, nggak bisa gitu nikahnya diundur jadi tahun depan?" tawar Herlan dengan wajah tak karuan.


"Ngaco kamu! kondisi Opa semakin memburuk, Mama takut hal yang tidak diinginkan terjadi." Wajah wanita paruh baya itu berubah Sendu.


"Menurut Mama gimana nih," lagi-lagi Herlan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Mama sih terserah kamu, tapi mama setuju aja kok, kalau kamu mau menikah sama Rian. asal Rian nya tidak terpaksa menikah sama kamu." ucap Nyonya Laras yang membuat senyuman pada bibir Rian kembali mengembang.


"Cuman Rian doang Ma? Nggak nanya gitu Apakah Herlan terpaksa atau tidak?" Herlan menunjuk dirinya sendiri.


"Nggak boleh gitu, Rian Ini kan cantik, baik, Mama yakin dia cocok sama kamu. Ucap nyonya Laras menatap wanita itu dari atas sampai bawah, yang membuat perasaan Rian semakin tak karuan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2