Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 63. MENAHAN EMOSI


__ADS_3

"Aku mau mandi dulu. Kamu istirahat saja, atau mau ikut mandi barengan sama aku?"Dimas mengangkat alisnya sebelah.


"Mas duluan aja deh."


"Ya sudah, kamu jangan ngintip."


"Apaan sih? yang ada malah mas yang mengintip aku kalau mandi.


Dimas langsung masuk ke dalam kamar mandi.


sementara Andini mengendarkan pandangan ke sekeliling kamar.


Kamar yang berukuran besar dan luas itu di dekorasi selayaknya kamar seorang pria.


Kamar itu terlihat bersih dan tertata rapi.


Namun, netra Andini tertuju ke arah beberapa piagam penghargaan yang ditata dengan rapi di dalam kamar itu.


Sepertinya Dimas sudah pintar dan rajin belajar dari dulu.


Andini mendekat dan memperhatikan satu persatu piagam dan piala itu.


"Lagi ngapain? Tiba-tiba suara bariton suaminya mengagetkan Andini. Membuat Andini terlonjak dan sambil memeluk suaminya.


Namun, sialnya handuk yang dikenakan pria itu malah terlepas sehingga tubuhnya menjadi polos tanpa sehelai benang pun.


"Astaga!!!! ikan lele!"Andini segera mendorong tubuh suaminya dan berlari ke arah kamar mandi.


"Baru begitu saja sudah menjerit."di Master Keke dan mengambil kembali handuknya yang tergeletak di atas lantai.


Mobil Alena masih terparkir di halaman rumah, padahal hari sudah berubah menjadi malam.


Entah apa yang dilakukan wanita itu di rumah mantan kekasihnya, sehingga hingga malam hari tak kunjung beranjak pulang.


"Wanita, macam apa sih dia?


"Mas, kamu lihat apa?"tanya Andini ketika suaminya berdiri di depan jendela kamar dan melihat ke arah luar.


"Tidak apa-apa. Bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan?"ajak Dimas, ia yakin Andini tidak nyaman jika di rumah itu ada Alena.


Kalaupun ia mengusir Alena, pasti Erin akan marah.


Karena ia tahu seberapa dekatnya Erin dengan Alena, Bahkan mereka sudah seperti adik dan kakak kandung.


"Jalan-jalan ke mana, Mas?ini kan sudah malam."


"Kita cari makan di luar saja, Aku lagi pengen makan di luar."


"Terus, Papa dan Erin gimana?"

__ADS_1


"Papa sudah istirahat dan Erin tidak akan mau diajak. Kita jalan berdua saja."Dimas membuka lemari pakaiannya dan mengambil dua jaket.


"Pakai ini!"Dimas menyerahkan sebuah jaket jeans berwarna biru ke arah istrinya. sementara iya memakai jaket kulit berwarna hitam.


"Kok pakai jaket sih, Mas?"


"Kita pergi naik motor saja. kamu belum pernah naik motor sama aku, kan? biasanya Kamu naik motor Ninja warrior milikmu sendiri. Kalau enggak motor CBR hasil kamu memenangkan adu balap kemarin."ucap Dimas yang mampu membuat Andini nyengir kuda.


"Iya."Andini masih bingung dengan perlakuan suaminya, tidak biasanya Dimas tiba-tiba mengajak pergi makan di luar. Apalagi menggunakan motor, sama sekali tidak ciri khas suaminya.


"Ya udah. sini saya bantu pakaikan."Dimas mengambil jaket itu dari tangan Andini dan memakaikannya dengan hati-hati.


Setelah itu, Dimas menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.


Seorang wanita kembali menghampirinya saat ia melewati ruang TV, lebih tepatnya wanita yang tidak tahu malu, sudah jelas-jelas lelaki yang ia temui saat ini sudah menikah dengan wanita lain, tapi dia tetap masih ingin mendekati Dimas.


Ternyata Alena dan Erin sedang nonton bersama, pantas saja saya dari tadi terdengar gelak tawa yang begitu keras.


"Dimas, kamu mau ke mana?"


"Keluar. sebaiknya kamu pulang, ini sudah malam."usir Dimas dengan wajah yang datar.


"Sekarang kamu mengusirku, padahal dulu kamu memintaku untuk menginap di sini."Alena tersenyum sinis ke arah Andini yang sudah mulai memanas.


"Alena, pulang sekarang!"usir Dimas kembali dengan nada yang terdengar penuh penekanan.


Mata wanita itu menatap tak suka keadaan dini yang berdiri sambil menggandeng tangan Dimas.


"Suara kalian berisik. Papa sedang istirahat, apalagi dia baru pulang dari rumah sakit."


"Tapi jangan usir Kak Alena juga dong. Kakak kan tahu di sini aku tidak punya teman, Aku butuh teman untuk ngobrol dan bercanda. kalau tidak, Aku tidak akan betah tinggal di sini,"cerocos Erin sambil bersedekap dada.


"Emmmm... Erin, kalau kamu butuh teman, Kakak bisa menemanimu,"ucap Andini dengan nada semanis mungkin, walaupun ia tahu tatapan adik iparnya itu menyurutkan kebencian.


"Nggak usah sok dewasa. Kita ini seumuran, ogah banget aku manggil kamu kakak."Erin mengibaskan rambutnya dengan angkuh.


"Erin, kamu tidak boleh begitu. Andini kakak iparmu, hargai dia. Kalau kamu tidak menghargai Andini, itu artinya kamu sama sekali tidak menghargai kakak.


"Aku tidak mau. sampai kapanpun aku hanya setuju Kakak menikah dengan Kak Alena."


"Erin!"bentak Dimas dengan urat leher yang menegang. Andini memegang tangan suaminya yang sudah mengepal.


"Mas, kita pergi sekarang aja yuk. Nanti keburu malam. Oh, iya. Erin mau pesan apa? Kakak mau pergi keluar,"ucap Andini kembali, walaupun hatinya meradang, iya harus tetap berusaha agar terlihat baik. Dalam hati Andini sudah terasa dongkol. Melihat sikap angkuh adik suaminya itu. Rasanya ia ingin, menjambak-jambak rambutnya. Kalau saja wanita yang menghinanya itu tidak adik iparnya, Mungkin dia sudah habis dihajar oleh Andini seperti Almira.


"Nggak usah sok baik dan cari perhatian! sudah, pergi sana, kalau bisa jangan balik lagi ke rumah ini,"usir wanita itu dengan Ketus.


Sekuat tenaga Andini menahan diri agar tidak melontarkan kata-kata kasarnya. Kalau tidak menghargai Dimas, mungkin Andini sudah mengeluarkan kata-kata mutiara yang dapat merebut remukan hati seorang Erin. Tapi Andini masih berpikir panjang. Apalagi Dimas begitu perhatian dan sayang terhadapnya.


"Mas, kita pergi sekarang yuk."Andini menarik tangan Dimas, sebelum suaminya kembali membentak Erin yang dapat memicu keretakan antara kakak dan adik.

__ADS_1


"Sayang, Maafkan ucapan Erin ya. sepertinya aku harus menasehatinya lagi."


"Tidak apa-apa, Mas. Erin sudah besar dan dia sudah bisa berpikir sendiri. Mungkin Erin hanya butuh waktu untuk menerima aku sebagai kakak iparnya."


Erin tidak mengetahui, pernikahan itu juga awalnya tidak diinginkan oleh Andini. Andini juga terpaksa menikah dengan kakaknya. Andini menikah karena perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka. Tapi entah mengapa semakin lama bersama, ada rasa kenyamanan di antara mereka.


"Tunggu... kamu bahasanya formal banget."Dimas menghentikan langkah keduanya.


"Formal gimana sih, Mas?"


Dimas hanya nyengir kuda menatap istrinya dengan tatapan penuh arti.


"Ya sudah tunggu di sini, Mas akan mengambil motor dulu di garasi."Dimas pergi ke garasi dan tak lama terdengar suara motor yang membuat Andini langsung mengalihkan pandangannya.


Wanita itu terdiam sejenak, menatap kara suaminya yang terlihat gagah ketika membawa motor CBR yang terparkir di garasi rumah mewah itu.


"Ayo naik!"Dimas menepuk jok motor di belakangnya.


"Ini motor siapa, Mas?"


"Ini motor Mas, sayang. udah buruan naik!


Andini mendekat dengan perlahan, iya masih tak percaya kalau Dimas yang selalu terlihat formal membawa motor seperti itu.


"Pakai dulu helmnya."Dimas memasangkan helm kepada istrinya.


Kemudian Andini naik ke atas motor sambil memegang bahu Dimas.


"Sudah siap?"tanya Dimas


"Tarik sis!"


"Apaan sih?"ucap Dimas menyahuti ucapan istrinya.


"Sahut dong, Mas. ala ala pemuda zaman now.


"Semongko ah mantap! gitu dong jawabnya."ucap Andini memberitahu kepada suaminya. Membuat Dimas langsung tertawa ngakak melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


"PESONA OM DUREN ( DUDA KEREN)


__ADS_1


__ADS_2