
"Sayang, baju aku mana?"tanya Dimas setelah keluar dari kamar mandi. pria yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil itu menoleh ke arah sang istri yang sedang duduk di atas kasur.
"Kamu kenapa?"tanya Dimas dengan langkah yang mendekat ke arah Andini. pria itu mengerutkan dahinya saat melihat Andini hanya terdiam dengan tangan yang memegangi perutnya.
Namun, saat kakinya semakin mendekat, Dimas mendengar rintihan tertahan dari istrinya.
"Kamu kenapa?"tanya Dimas kembali dengan wajah yang mulai terlihat panik.
"Perut aku sakit banget Mas,"keluar Andini dengan tangan yang masih memegang perutnya.
"Sakit kenapa? kamu nggak salah makan kan?"Dimas menatap istrinya dengan penuh selidik. pria itu sedikit berjongkok demi Melihat lebih jelas wajah sang istri yang terlihat memerah.
"Enggak,Mas. aku nggak makan Yang aneh-aneh kok. Tapi, Ini perut aku sangat sakit. Aw!"sudut mata Andini terlihat basah dengan buliran keringat yang menetes dari pelipisnya, tangan wanita itu terlihat bergetar menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"tegas Dimas tanpa menunggu lama lagi, pria itu langsung berjalan ke arah lemari pakaian dan memakai baju serta celana yang digapainya dengan cepat.
Tak peduli saat ini ia memakai celana bahan berwarna abu-abu yang dipadukan dengan kaos tipis berwarna putih.
Setelah itu, iya kembali mendekat ke arah Andini dan langsung mengangkat tubuh istrinya dengan ringan.
"Aw, Mas perut aku sakit banget."Andini mulai meneteskan air matanya, wanita itu semakin memerah menahan sakit.
Dimas membawa tubuh istrinya ke dalam mobil dan menjalankan roda empat itu dengan cepat. Andini menyadarkan punggungnya pada jok mobil berusaha menahan sakit yang semakin menjadi.
"Mas, tolong!!! perut aku sakit banget,"Andini meletakkan tangannya di atas paha Dimas dan meremas celana pria itu dengan kencang.
"Sabar sayang. kita ke rumah sakit sekarang."Dimas melirik ke arah istrinya dengan wajah panik.
"Huhuhuuuu... Mas sakit banget.Tolong!"rinti Andini ketika rasa mules dan perih dirasakannya secara bersamaan.
"Kamu kenapa bisa seperti ini? atuh kamu sudah mau lahiran? bukankah prediksi dokter kamu melahirkan sekitar 10 hari lagi? tanya Dimas dengan pikiran yang menerka-nerka.
"Aku nggak tahu Mas. Tapi ini sakit banget. namanya juga prediksi dokter, bisa maju bisa mundur."Andini kembali meremas celana suaminya.
"Kamu tenang ya sayang. Mau minum dulu?"tawar Andini sambil terus menjalankan mobil membelah jalanan.
__ADS_1
"Ngak, Mas. perut aku sakit, Tolong!!!" Andini menangis sambil terus meringis kesakitan. perasaan Dimas semakin tak karuan, pria itu menjalankan mobilnya dengan cepat.
Roda empat yang dikendarainya tiba di rumah sakit, Dimas langsung meminta pertolongan dan Andini segera dibawa ke ruang persalinan.
Dimas mengikuti branker yang membawa tubuh istrinya sampai masuk ke dalam ruangan.
Dokter Dirga segera datang untuk memeriksa keadaan istri dan sahabatnya itu.
"Dimas, sebaiknya kamu menunggu di luar. kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut!"ucap dokter Dirga yang membuat kaki Dimas melangkah dengan gusar keluar dari ruangan tersebut.
Pria itu duduk di kursi tunggu dengan wajah menunduk, perasaannya harap-harap cemas, kabar buruk mengenai sang istri sudah terngiang-ngiang di telinganya. Otaknya tidak bisa berpikir positif karena ia mengetahui melahirkan bayi kembar tiga sekaligus tidak mudah bagi Andini.
Tak lama, pintu ruangan itu terbuka, Dimas segera bangkit dan berdiri tepat di hadapan dokter Dirga.
"Ga, Bagaimana keadaan istriku?"tanyanya dengan raut wajah penuh harap.
"Tenaga istrimu sudah terkuras habis, menahan rasa sakit yang ia rasakan. kita harus segera mengambil tindakan operasi. karena sudah tidak memungkinkan lagi kalau istri kamu melahirkan secara normal. "jelas dokter Ririn yang membuat tubuh Dimas terasa lemas, lututnya bergetar hebat.
"Apa itu berbahaya dokter? tanya Dimas kepada dokter.
Setelah melakukan kesepakatan bersama, akhirnya Andini akan dipindahkan ke ruang operasi untuk melangsungkan operasi caesar.
"Mas, Aku beneran tidak bisa melahirkan normal?"tanya Andi ini saat dirinya akan dipindahkan ke ruang operasi dengan suara yang melemah.
Wanita itu sudah tidak terlihat kesakitan lagi. karena dokter sudah memberikan obat pereda nyeri.
"Kalau kamu melahirkan secara normal, itu sangat beresiko sayang. lebih baik kita ikuti petunjuk dokter saja ya!"Dimas menatap wajah istrinya dengan sayu.
Wajah cantik itu terlihat Sendu, bahkan sesekali buliran bening menetes dari pelupuk matanya. Karena besar harapan Andini dia melahirkan secara normal seperti Mariska. dia ingin merasakan bagaimana melahirkan seorang bayi dari Jalan lahir yang sebenarnya.
"Kalau begitu aku tidak bisa merasakan jadi seorang ibu yang sempurna,"ucapkan di ini dengan nada bergetar, tangannya sibuk menikah air mata yang mengalir semakin deras.
"Normal atau Caesar seorang wanita yang telah mengandung sampai mengeluarkan anaknya tetap menjadi ibu yang sempurna. kamu jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Yang penting kamu sehat anak kita juga selamat."Dimas mengusap kepala istrinya
"Dimas istrimu akan dibawa ke ruang operasi sekarang."ucap dokter Dirga yang telah selesai memeriksa keadaan Andini dan menyiapkan segalanya.
__ADS_1
"Baiklah, tolong Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anakku,"PIN tadi Mas dengan wajah memohon.
"Insya Allah, Dimas. kami akan berusaha semaksimal mungkin, kamu doakan saja ya.
Setelah itu branker yang ditiduri oleh Andini didorong dengan perlahan keluar dari ruangan itu.
"Andini, Ya ampun sayang!"Nyonya Laras langsung bangkit dari kursi tunggu dan menghampiri putrinya yang terbaring di atas branker pasien.
Terlihat Tuan Miko Pratama, Ryan dan juga Herlan sudah menunggu di depan ruangan itu.
Sementara Tuan Anggara, Erin dan Bima baru tiba di tempat itu.
"Sayang, kamu yang kuat ya! mama percaya kamu bisa melewati semuanya."Nyonya Laras memeluk tubuh putrinya dengan air mata yang mengalir semakin deras.
"Terima kasih Ma. tolong doakan Andini dan cucu mama ya!"Andini mengusap perutnya dengan lelehan air mata.
"Pasti, kita semua selalu menduakan kamu dan cucu mama, Kamu kuat Kamu pasti bisa."dana Laras memberi semangat dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir.
Rian meneteskan air mata melihat sahabat sekaligus adik iparnya, yang saat ini berjuang untuk melahirkan tiga orang bayi sekaligus.
Sementara Tuan Miko Pratama dan Herlan terdiam dengan wajah Sendu.
Branker yang dituduri Andini kembali didorong dengan perlahan meninggalkan tempat itu.
Dimas senantiasa mengikuti istrinya, pria itu menggenggam erat jemari tangan istrinya, berusaha memberikan kekuatan untuk sang istri. Dia sudah tidak sabar menanti buah hati mereka.
Pintu ruang operasi dibuka lebar, Andini akan segera dibawa masuk ke dalam ruangan itu.
"Dimas, Kamu tunggu di luar saja. kami akan mengambil tindakan cukup serius dan menembus total istri,"ucap dokter Dirga dan rekannya yang segitiga menghentikan langkah Dimas. Karena dokter Dirga mulai melihat kondisi Andini semakin melemah. dia tidak mau mengambil resiko, sehingga dengan cepat ia harus segera melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan ketiga bayi Andini.
"Kenapa aku tidak bisa ikut menemani istriku?"tanya Dimas dengan wajah kacau, sudut matanya terlihat basah ujung hidungnya bahkan terlihat memerah karena tangis.
"Maaf Dimas itu sudah menjadi ketentuan rumah sakit. jadi tolong ikuti aturan rumah sakit."ucap dokter Dirga kembali membuat Budi mas terasa lemas.
Bersambung....
__ADS_1