
Jarak dari rumah Tuan Anggara ke rumah sakit lumayan jauh, terlebih lagi jalanan menuju Rumah Sakit mengalami kemacetan.
Tuan Anggara duduk di kursi depan bersama sopir, sementara Erin dan Bima duduk di kursi belakang.
"Pak, cepetan dong bawa mobilnya!"teriak Erin yang sudah merasakan kontraksi dan dia merasa sakit sangat luar biasa. Pinggangnya seolah patah.
Wanita itu menggenggam erat tangan suaminya, berusaha menahan rasa sakit pada perutnya yang semakin lama semakin bertambah.
"Maaf, non. jalannya macet."jawab sopir dengan perasaan tak karuan, pria itu ikut ketakutan saat mendengar rintihan sakit dari sang majikan.
"Aduh! perut aku sakit banget!"teriak Erin kembali dengan air mata yang mulai menetes.
"Kamu sabar ya, sebentar lagi kita nyampe."Bima berusaha menenangkan sang istri, Iya juga merasa sakit karena setiap berteriak Erin mencubit keras tangannya.
"Mana? dari tadi nggak nyampe-nyampe ini. perut aku sakit banget. Huuh...huhh tolong!!!! sakit banget!!!" nafas Erin terdengar ngos-ngosan, dia merasa lelah menahan sakit sambil berteriak.
"Sayang, tenang dulu. coba kamu tarik nafas, buang perlahan!"titah Bima, sebenarnya Ia juga merasa tegang dan juga panik.
Bahkan, perutnya ikut terasa sakit saat mendengar Erin berteriak.
"Astaga.... sakit!! ini anak kamu kayaknya udah mau keluar,"Erin mencengkram tangan Bima dengan kuat sampai membuat pria itu meringis menahan sakit.
"Hah? keluar? Bentar dulu, kita belum nyampe,"Bima semakin bertambah panik.
Pria itu memegang perut buncit istrinya yang bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Ini anak kita beneran mau keluar sekarang?"Bima merasakan gerakan yang semakin kencang pada perut istrinya.
"Iya, Aaaarggg..... sakit!"teriak Erin mulai mengejan, wanita itu semakin tak dapat menahan rasa sakit pada perutnya.
"Aduh, gimana ini?Pa, Erin udah mau lahiran di mobil!"ucap Bima dengan panik.
Tuan Anggara menoleh ke arah belakang di mana anak dan menantunya sedang duduk.
"Ya sudah, kamu pegang aja!"kita Tuan Anggara yang juga ikut panik.
"Apanya yang dipegang?"Bima menatap mertuanya dengan heran.
"Itunya! pegang aja, takutnya nanti bayinya pas keluar malah jatuh!"titah Tuan Anggara kembali.
Bima yang merasa bingung memasukkan tangan ke dalam daster yang dipakai Erin, Iya bersiap-siap akan menangkap anaknya yang keluar.
"Kamu ngapain sih? nggak bakal bisa dipegang, orang aku pakai ****** *****!"Eren menepis tangan suaminya.
Bima semakin bingung, bahkan pria itu cengar-cengir tidak jelas.
Jalanan semakin longgar, sopir segera mempercepat laju mobilnya, bahkan kecepatan mobil itu hampir sama dengan mobil balap.
Hingga Tak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. tanpa menunggu lama lagi, Bima langsung mengangkat tubuh Erin dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
"Eeeekkkh....Eeekh..."Erin boleh mengejan di dalam gendongan Bima, bahkan wanita itu mencengkram erat kaos yang dikenakan suaminya.
Dua orang perawat membawa branker ke arah mobil Tuan Anggara. tetapi Bima sudah membawa tubuh istrinya terlebih dahulu masuk ke dalam rumah sakit.
"Mana pasiennya?"tanya seorang perawat kepada tuan Anggara yang baru akan masuk ke dalam rumah sakit.
"Itu putri saya!"pria berusia senja itu menunjuk ke arah Bima yang setengah berlari membawa tubuh Erin.
Tampa basa-basi lagi, dua orang perawat itu membelikan badan lalu mengejar Bima sambil mendorong banker pasien.
"Pak, tunggu!"teriak seorang perawat yang tak digubris sedikitpun oleh Bima. pria itu terus berlari membawa tubuh Eren yang sedang mengejan.
"Pak tunggu! ruang bersalin Bukan di sana! itu kamar mayat!"teriak perawat itu kembali yang membuat Bima seketika menghentikan langkahnya.
Pria itu segera membalikan badan, lalu melangkah ke arah dua perawat itu.
"Ini ruang bersalin!"perawat itu membuka pintu sebuah ruangan di depannya.
Tampa basa-basi lagi, Bima langsung membawa tubuh Erin masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Eeeekkkh..... Eeeekkkh... sebentar lagi keluar!"teriak Erin.
Bima segera menjatuhkan tubuh Erin ke atas branker, tanpa apa-apa lagi ya langsung membuka ****** ***** yang dikenakan istrinya.
"Eeeekkkh....."Erin mengejan kencang sambil menjambak rambut suaminya.
Bima dan Erin sangat terkejut saat mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang. dua orang suster segera mendekat dan mengambil bayi yang masih menyambung pada ari-ari itu.
Sementara Bima membeku, tubuhnya gemetar hebat, telapak tangannya terasa dingin.
"Aaaaa .... Darah!!
BUGH
pria itu terjatuh pingsan saat melihat darah cukup banyak yang keluar dari dalam aset milik istrinya.
"loh, kok pingsan? Padahal saya kira bapaknya mau membantu motong ari-ari juga,"celetuk seorang suster yang menangani bayi Erin.
"Sus, itu suami saya pingsan tolongin dong!"tita Erin dengan wajah tegang saat melihat Bima tergeletak tak sadarkan diri di atas lantai.
Seorang dokter datang dan langsung membantu Erin.
Sementara seorang suster berusaha membantu menyadarkan Bima yang masih memejamkan kedua matanya.
Tak lama kemudian, Bima kembali membuka matanya, pria itu telah sadarkan diri.
"Alhamdulillah, sudah sada...."suster itu tidak menyelesaikan ucapan karena Bima tiba-tiba bangun dengan cepat kilat dan membuatnya cukup terkejut.
"Sayang! Erin, istriku!"pria itu mendekat dan langsung memeluk tubuh istrinya
__ADS_1
"Sayang...hu...hu..."Bi mama meluk erat tubuh Erin yang masih terbaring di atas branker pasien.
Kedua bahu tegak pria itu terlihat bergetar, bahkan terdengar isak tangis yang keluar dari bibirnya. Eren mengerutkan kening saat melihat perlakuan aneh suaminya.
Tidak biasanya Bima bersikap seperti itu.
"Kamu kenapa?"tanya Erin dengan heran.
Bima melepaskan pelukannya, pria itu memegang kedua pipi Erin dan mengusapnya dengan lembut.
"Itu kamu mengeluarkan darah banyak. kamu tidak apa-apa kan? kamu pasti sakit."wajah Bima terlihat panik dan tegang.
Bayang-bayang saat kepala bayi keluar dari bawah istrinya, berputar Kembali di ingatannya. dia melihat jelas Bagaimana proses bayi itu keluar, dia melihat jelas Bagaimana area sensitif istrinya melebar saat mengeluarkan tubuh bayi.
"Aduh, aku sakit banget! rintih Erin.
"Sayang, tahan ya! dokter...."
"Hahaha... panik banget, aku udah nggak sakit kok. Bayinya sudah keluar, perut aku sudah tidak sakit lagi."Erin tertawa pelan
"Beneran nggak sakit? Tapi, itu kamu..."Bima melihat ke arah bawah istrinya.
"Hebat, tidak ada robekan sedikitpun. jadi tidak perlu dijahit,"ucap seorang dokter setelah memeriksa keadaan Erin.
"Alhamdulillah,"wanita yang baru saja mengeluarkan seorang bayi itu membuang nafas lega.
"Anak saya mana dokter?"tanya Bima yang baru menyadari kalau anaknya entah ada di mana.
"Bayinya sedang dibersihkan, sebentar lagi selesai,"jelas dokter itu.
"Sayang, kamu beneran udah Nggak apa-apa kan?"tanya Bima kembali yang masih mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Iya, perut aku sudah nggak sakit lagi."Erin mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu, aku takut banget pas kamu mengeluarkan darah cukup banyak."Bi mamang genggam tangan istrinya dengan erat.
"Selamat ibu, bapak, anaknya perempuan,"ucap seorang suster Seraya membawa seorang bayi yang sudah dibersihkan ke arah Bima dan Erin.
"Perempuan? Alhamdulillah, ada Putri kecil kita sayang."mata Bima berbinar saat melihat ke arah bayi yang masih merah itu.
"Silakan di Adzan dulu putrinya!"suster itu menyerahkan bayi tadi ke arah Bima.
"Bagaimana ini pegangnya? tangan Bima bergetar saat ia akan menggendong bayi itu.
"Begini Pak. Bayinya tidak akan loncat kok,"suster itu mempraktekkan Seraya menyerahkan bayi yang baru lahir ke pangkuan ayahnya.
Bima menatap wajah bayi mungil itu dengan haru.
Bersambung...
__ADS_1