
"Kamu serius mau buka cafe? tanya Mariska kepada sang suami.
"Iya, rencananya ruko toko kue itu nanti kita sulap jadi cafe yang di desain ala anak muda zaman now gitu. Aku ingin membuat Cafe tongkrongan untuk kaum anak muda." Robert mengusap lembut punggung tangan Mariska yang melingkar pada perutnya.
"Aku setuju aja sih, apapun yang kamu lakukan aku pasti dukung. Selama itu tidak melanggar hukum agama dan negara."
"Cie illeh, dalam banget omongan kamu sayang. Ini kan, kita masih magang. Jadi kita mulai buka cafe itu,selepas pulang dari kantor aja. Kan biasanya sore sampai malam tuh banyak anak-anak muda yang nyari tongkrongan. Kita buat menu yang sederhana aja dulu, dan ramah di kantong. Yang bisa di jangkau mahasiswa juga." Ucap Robert
"Tapi, apa kita bisa mengolah bahannya langsung? walaupun itu cuman makanan biasa dan sejenis kopi, gitu." sahut Mariska
Nanti kita ajak kolaborasi dengan Ricky dan si Bima. Si Ricky itu bisa meracik kopi, soalnya dia pernah kerja dan menjadi barista di restoran bintang lima. Terus si Bima juga dia bisa mengolah makanan simpel. Karena Ibunya seorang chef dan di juga banyak belajar dari Ibunya." jelas Robert
"Hah, jadi Ibunya Bima seorang chef? Baru tahu aku."
"Iya, jelas kamu baru tahu lah orang Ibunya Bima tinggal di Surabaya, kamu di Jakarta."
"Oke, kita mulai dengan bismillah aja." Mariska mengeratkan pelukannya dan menyandarkan pada pundak sang suami. sepertinya Mariska sudah sangat nyaman dengan Robert.
****
Di tempat lain, sepasang suami istri saling menautkan jemari mereka di dalam mobil.
"Mas, kamu beneran mau ngantar aku sampai ke kantor? nggak telat?" tanya Andini ketika suaminya mengarahkan mobil ke jalan menuju Kantor tempatnya bekerja. Yang merupakan perusahaan Dimas sendiri
Hari ini, aku tidak punya jam pelajaran di awal. jadi tidak akan telat."balas Dimas sambil sesekali menoleh ke arah istri yang duduk di sampingnya.
"Tapi kan, kamu capek harus bolak-balik dari kantor, ke kampus jaraknya kan lumayan jauh. Padahal aku masih bisa berangkat bareng Kak Herlan."
"Tidak enak kalau tiap hari nebeng sama Kak Herlan. Siapa tahu dia mau ngantar pacarnya,"ucap Dimas sambil terkekeh.
"Eh iya. Beberapa hari yang lalu, aku lihat Kak Herlan pasang story cewek. Tapi cuman belakangnya doang jadi tidak terlalu jelas aku melihat cewek itu siapa.
"Terus?
"Mas, tahu nggak caption nya apa?
"Ya nggak tahu sayang, Mas kan jarang sekali lihat story orang."
"Iya tahu, Mas ada ponsel cuman buat urusan kerjaan sama hubungi orang-orang penting. Bahkan foto istrinya sendiri aja belum pernah di posting. Mana foto profilnya cuman foto gedung kampus doang."cerocos Andini dengan wajah kesal.
"Mas, tidak ingin milik Mas dipandang orang lain."
"Maksudnya? Andini menatap suaminya dengan dahi mengerut.
"Iya kamu kan milik Mas. Kalau aku pasang wajah kamu di story, atau profil nanti ada yang memandang kamu terus naksir, gimana?
"Masa? itu doang alasannya. Katanya nih ya, kalau pasangan itu jarang, atau bahkan tidak pernah menampakan wajah pasangannya di sosial media, bisa saja dia malu punya pasangan seperti itu dan agar tidak diketahui orang lain, dia sudah memiliki pasangan dan dianggap singgel ."Cerocos Andini kembali.
"Siapa yang berpendapat seperti itu? "Bagaimana jika pasangan foto pasangan di sosial media, Terus ada yang iri atau Nasir. Bisa saja mereka punya niat jahat untuk menghancurkan. Mas sangat menjaga apapun yang menjadi milik Mas "Dimas mengusap kepala istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Hemmmm... alasan itu mah. Nggak papa deh, Aku juga jarang pasang wajah kamu di sosial media, mungkin belum pernah."Andini terkekeh.
"Nah, kan pasti alasannya berpikiran masih single."
"Hiss.... Bukan gitu, aku cuman menjaga milikku,"ucap Andini mengulangi kata-kata suaminya.
"Bisa aja ngelesnya."Dimas menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah gedung pencakar langit.
"Kita sudah sampai."
"Terimakasih ya, Mas. Aku turun dulu."Andini mencium punggung tangan suaminya.
Dimas tak langsung melepaskan tangan sang istri, pria itu mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkat pada dari istrinya.
"Hati-hati ya! jangan genit dan jangan mau diganti
"Iya, Mas juga hati-hati. Jaga mata jaga hati."
"Oh, iya. Setelah pulang dari kampus, Aku mau ngecek Hotel dulu yang masih diproses. tapi aku usahakan supaya bisa jemput kamu.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa."Andini memberikan senyuman terbaiknya.
"Ya sudah, nanti lain kali kalau ada waktu luang aku ajak kamu cek hotel.
"Oke, aku keluar dulu ya, Mas."Andini melambaikan tangannya dan turun dari dalam mobil.
"Hai Din! sapa Revan yang mensejajarkan langkah dengannya.
"Eh, Pak Revan.
keduanya berjalan bersama masuk ke dalam kantor.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan jeli. Dimas mengepalkan tangannya dan menandai wajah pria yang mendapat istrinya dengan ramah.
***
Din, Kamu dipanggil Pak Alvin disuruh ke ruang kerjanya."seru Revan setelah berdiri di depan meja Andini.
"Pak Alvin CEO perusahaan ini?"tanya Andini memastikan.
"Iya, yang waktu kemarin kamu mengantar berkas itu."
"Terus sekarang ngapain aku ke sana? kan nggak ngerjain kayak kemarin lagi."Andini masih sedikit ragu.
"Makanya sekarang kamu ke sana dulu! biar tahu alasannya, apa."
"Ya sudah, doain ya semoga nggak ada masalah."Andini bangkit sambil membuang nafas kasar.
"Sudah cocok nih, kayak minta doa ke suami."Revan mengembangkan senyuman sampai membuat lesung pipinya terlihat.
__ADS_1
"Bisa aja. ya udah, Aku pergi dulu ya."Andini membenarkan lengan kemeja yang dikenakannya agar terlihat rapi.
"Semangat ya, Din!" Revan mengangkat tangan kanannya memberi semangat.
Sementara Andini hanya membalas dengan acungan jempol, Seraya berjalan dengan anggun meninggalkan meja kerjanya menuju ruang CEO.
Wanita itu naik lift untuk menuju lantai teratas, di mana ruang CEO berada.
Andini berjalan dengan hati-hati dan mengetuk pintu ruangan yang kemarin sempat didatanginya.
Setelah mendapat izin dari yang punya ruangan. Wanita itu langsung memutar knop pintu dan masuk dengan perlahan.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu? tanya Andini dengan sopan.
"Oh,iya Andini ya? saya perlukan nama kamu seru Alvin dengan Tatapan yang tertuju, karena Andini yang sedang menundukkan wajahnya.
"Iya Pak, saya Andini."
"Baiklah, saya suka kerja kamu dan saya mau mengangkat kamu jadi profesional asisten ."Alvin memberitahu.
Andini terdiam seketika, mendengar itu sikap Alvin lebih dingin daripada Dimas.
Namun, ini adalah kesempatan emas baginya.
menjadi personal asisten adalah sebuah profesi yang tidak bisa didapatkan semua karyawan.
"Bagaimana, Apa kamu siap?" karena saya melihat kamu sangat berpotensi dalam hal ini." tanya Alvin untuk memastikan
"Saya siap pak." Jawab Andini dengan mantap.
"Andini! Saya tidak suka dengan orang yang lambat ketika bekerja. Jadi selain kamu harus cekatan, kamu juga harus on time,"jelas Alvin yang membuat Andini seolah memikul beban berat.
Bagaimana tidak, Ia yang sebenarnya pemalas harus dihadapkan dengan hal seperti itu.
Namun, sekali lagi kesempatan tidak akan datang dua kali. Dia akan mendapat banyak pengalaman dengan menjadi asisten dari sang pemimpin perusahaan
Syukur-syukur jika dirinya dijadikan karyawan tetap, walaupun setelah masa magang itu selesai.
"Baik Pak! Terimakasih atas kepercayaannya. Saya akan bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan Andini menunduk dengan senyuman.
"Bagus, sekarang kamu ikut saya meeting dan bawa berkas-berkas kemarin yang telah kamu siapkan!" titah Alvin Seraya bangkit dari duduknya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1