Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 15. PURA PURA PINGSAN


__ADS_3

"Astagfirullah. Kamu itu memang benar-benar harus di ruqyah. Pikirannya negatif saja terhadap orang lain. Dimas itu suami kamu, dia pasti menjaga dan melindungi kamu."tegas Nyonya Laras yang merasa jengkel dengan ucapan putrinya yang tampak tidak berubah. Padahal dia sudah sah menjadi istri seorang dosen.


"Alahhh namanya aja suami, hatinya ma, belum tentu. Memangnya Mama nggak lihat tuh dia berita-berita ada istri yang dicekik, dibanting ,dipukul sama suaminya sendiri!"


"Andini! Tidak semua laki-laki seperti itu. contohnya papa kamu, Papa tidak pernah menyakiti mama."Nyonya Laras menunjuk ke arah Tuan Miko Pratama yang berdiri di sampingnya.


"Papa memang tidak seperti itu, tapi tidak tahu dengan lelaki yang satu ini."Andini menunjuk ke arah Dimas dengan ekor matanya.


"Astagfirullah, Dimas Maafkan ucapan Andini ya, jangan diambil hati. Anggap saja ucapannya itu angin lalu, yang sekedar lewat. walaupun terkadang bau, tapi lama-lama akan menghilang."ucap Nyonya Laras kepada menantunya dengan senyum ramah.


"Waduh, itu namanya kentut dong!"timpal Andini


"Iya mah. kalau begitu kita pamit dulu ya."Dimas mencium punggung tangan kedua mertuanya.


"Setelah itu, Nyonya Laras mengundurkan tangan karena Andini, agar Andini Sang Putri segera mencium punggung tangannya.


"Ma, cegah Andini untuk pergi dong please."Gadis itu seakan memohon.


"Andini, sudah ya! jangan banyak drama,"simpel Laras dengan kesal.


"Cucu Opa mau pindah ternyata,"celetuk Tuan Pratama Seraya menjalankan kursi rodanya ke arah Andini.


"Opa, please jegad Andini untuk pindah. Memangnya Opa tega biarin cucu kesayangan Opa ini pergi dari rumah ini."rengek Andini dengan manja kepada sang kakek.


"Iya tega dong,"jawab pria lanjut usia yang masih terlihat mengerut.


"Astaga, Opa tega benar bilang kayak gitu."Gadis itu mengerutkan bibirnya.


"Karena kamu perginya sama suami kamu sendiri. Opa kenal baik dengan Dimas dan Opa yakin dia pasti akan menjagamu." Tuan Pratama menatap ke arah Dimas yang langsung dibalas senyum Rama oleh pria bertubuh kekar itu.


"Opa, kita pamit dulu ya!"Dimas mencium punggung tangan kakek dari istrinya itu.


Andini semakin mengerucutkan bibir, Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hingga netra kecokelatan melihat sang sepupu yang baru saja menuruni anak tangga.


"Herlan! tolong jegad aku yang imut ini untuk pindah!"teriak Andini seakan berlari ke arah sang sepupu


Herlan yang melihat Sepupunya berlari sambil merentangkan tangan segera melambaikan badan dan kembali menaiki anak tangga.


"Aku ikhlas kamu pergi dari rumah ini. Sama sekali tidak keberatan."teriak Herlan dengan langkah yang terus menaiki anak tangga.


Seketika Andini menghentikan langkahnya, Gadis itu membalikkan badan dengan wajah sendu.


"Di rumah ini sudah nggak ada peduli sama aku,"ucapnya dengan wajah penuh keputusasaan.


"Andini, kami semua bukan tidak peduli . Kamu sudah menikah dan sudah seharusnya kamu ikut bersama suamimu."nasehat Nyonya Laras

__ADS_1


"Ya sudah Andini pamit dulu."doakan semoga Andini baik-baik saja dan masih dalam keadaan perawan."ucapnya sering mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Hissss.... ngomong sembarangan! Oh iya. Mama sudah siapkan jamu Anti nyeri plus anti ngangkang buat kamu dan mama juga sudah menyiapkan jam penambah stamina buat Dimas. Semuanya sudah dibawakan Dimas? tanya wanita paruh baya itu kepada menantunya.


"Aman Ma. semuanya sudah dimas-kemas dengan rapi,"bales pria itu sambil tersenyum tipis ke arah Andini.


"Astaga.... semuanya tidak boleh terjadi! Andini menghentakkan kaki dan berjalan terlebih dahulu.


"Kami pamit dulu ya Ma, Pa, Opa."setelah itu Dimas segera mengejar langkah istrinya yang sudah masuk ke dalam mobil.


Setelah memasukkan semua barang-barang ke dalam bagasi mobil Dimas segera masuk dan duduk samping Andini yang berwajah masam dengan bibir mengerucut.


Tanpa basa-basi lagi pria itu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Andini yang belum siap dan tidak memasang sabuk pengaman cukup terkejut dan kepalanya hampir terbentur.


Bapak ini bisa membawa mobil nggak sih sergahnya sambil menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.


"Jangan banyak bicara! kalau ngantuk tidur saja dulu perjalanan kita cukup jauh,"balas Dimas yang masih fokus menatap jalanan.


"Jauh? memangnya kita mau ke pindah ke mana? Andini menatap suaminya dengan wajah heran.


"Pindah ke rumah kita."


"Kurang lebih lima jam."


" What? jauh sekali, Bapak mau bawa Saya pindah ke luar kota?


"Mau pindah ke luar angkasa juga terserah saya dong," balas Dimas kembali dengan tatapan lurus tak menoleh sedikitpun ke arah istrinya.


"Ikh, dasar nyebelin! Andini akan memukul lengan Dimas, tetapi pria itu segera menyingkirkan tangannya, sehingga tangan Andini malah memukul paha suaminya.


Namun sialnya tangannya itu bukan hanya mengenai paha Dimas saja, melainkan menyentuh area sensitif yang terletak di antara kedua paha suaminya.


Gadis itu terdiam sejenak ketika merasakan sesuatu yang berbeda, walaupun benda itu terbungkus celana, tetapi ia masih bisa merasakan sesuatu yang berbeda.


Matanya membulat ketika pandangannya terarah ke tangannya yang masih menempel pada sela-sela paha suaminya.


"Astaga ular piton."teriaknya Seraya menarik kembali tangannya.


"lancang sekali kamu membangunkan ular tidur."celetuk Dimas sambal tersenyum tipis.


"Maaf saya tidak sengaja."


Andini meremas jemari yang terasa dingin.

__ADS_1


"Kamu harus bertanggung jawab."Dimas masih fokus menatap jalanan


"Tanggung jawab?


"Iya, kalau ularnya bangun kamu harus memberikannya makan"


"Astaga.... Lebih baik saya pingsan saja."Gadis itu menyandarkan kepala pada jok mobil dan memejamkan mata.


Dimas melihat ke arah istrinya dan terkekeh pelan.


"Ia tahu istrinya itu hanya pura-pura pingsan.


Tak lama mobil yang dikendarainya berhenti di depan rumah minimalis, tetapi tetap terlihat mewah.


Rumah bercat putih itu berukuran tidak terlalu luas, tetapi masih terbilang mewah karena didesain dengan gaya masa kini.


Dimas melihat c istrinya yang masih memejamkan mata.


"Kita sudah sampai, cepat bangun! Jangan harap saya menggendong kamu turun dari mobil."Celetuk Dimas membuat Andini langsung membuka matanya lebar-lebar.


Setelah menyadari istrinya membuka mata, Dimas segera turun dari mobil dan menurunkan semua barang-barangnya dari dalam bagasi mobil.


Pria itu berjalan lebih dahulu sambil membawa dua koper sekaligus.


Andini mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah yang akan menjadi tempat tinggal barunya.


Pandangannya iya edarkan ke sekeliling, mengamati setiap ruangan rumah yang tertata rapi itu.


Beberapa perabotan sudah tersedia,rupanya Dimas memang sudah menyiapkan semuanya, sehingga rumah tersebut siap huni.


Rumah itu hanya satu lantai dan tidak memiliki banyak kamar dan ruangan.


Andini menyusul suaminya yang masuk ke sebuah kamar.


Kamar itu memiliki ukuran yang cukup besar dengan kasur yang berukuran cukup besar pula.


"What? apa-apaan ini? teriaknya ketika melihat ruangan itu dipenuhi rak buku.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2