Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 183. DIMAS CURIGA


__ADS_3

Dimas dan Tuan Anggara sudah duduk di meja makan. Menu sarapan pagi kali ini, nasi goreng buatan Andini.


Dengan telaten Andini melayani suami dan ayah mertuanya di meja makan."Ini masakan kamu Nak Andini?"tanya Tuan Anggara seolah tak percaya.


"Iya Pa, ini Kak Andini yang masak? Papa pasti tidak percaya kan kalau Kak Andini bisa memasak? nah sama halnya seperti Erin. Erin juga tadinya nggak percaya kalau Kak Andini bisa masak seenak ini.


Mereka pun akhirnya menyantap nasi goreng buatan Andini. "Masya Allah, masakan istri Mas enak sekali. Kalau begini terus, bisa-bisa aku gendut nih." ucap Dimas sembari terus melahap nasi goreng yang ada di dalam piringnya sampai tandas. Bahkan kini Dimas sudah nambah lagi.


Tuan Anggara mengembangkan senyumnya, menatap putranya sudah menambah nasib ke dalam piringnya. Kali ini Tuan Anggara juga menghabiskan sarapan paginya. Tampaknya Tuan Anggara juga menikmati masakan Andini yang begitu mengunggah selera.


Setelah selesai menyantap menu sarapan pagi, tiba-tiba Erin merasa mual. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Padahal Erin baru saja menyantap sarapan pagi nasi goreng buatan Andini yang begitu menggiurkan.


Asisten rumah tangga yang bekerja di sana langsung membereskan piring bekas makan sang majikan. Andini menghampiri Erin takut terjadi sesuatu kepada adik iparnya itu.


"Kamu kenapa Erin? tanya Andini menghampiri adik iparnya


"Erin juga tidak tahu, tiba-tiba perut Erin mual. ucap Erin kepada Andini.


Dimas yang melihat itu pun buru-buru menghampiri adiknya. Seketika tatapan Dimas dan Andini tertuju karena Erin kembali wajahnya terlihat memerah.


"Kok kamu muntah-muntah, kenapa?" tanya Andini kembali dengan dahi mengerut.


"Entahlah, setelah memakan nasi goreng itu tadi perutku terasa mual Kak."


Setelah mengatakan itu, Erin kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya


"Tapi perasaan nasi gorengnya wangi kok, dan lezat kakak saja lahap memakannya." ucap Dimas.


"Mungkin Erin masuk angin Mas." Andini kembali menghampiri Erin yang berada di kamar mandi.


Wanita itu menerobos ke dalam kamar adik iparnya. Karena kebetulan Erin langsung masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Hoek....hoek.... hoek." suara itu semakin jelas.


Setelah merasa semua isi perutnya terkuras, Erin mencuci mulut dan berdiri tegak kembali di hadapan Andini.

__ADS_1


"Wajah Erin saat ini terlihat pucat, tubuhnya melemas."


"Apa kamu masuk angin biar kakak olesi dulu ke tubuhmu minyak angin." tawar Andini sambil membantu Erin keluar dari kamar mandi.


"Nggak, aku lemes banget. Mau tiduran aja. setelah keluar dari kamar mandi Erin langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Sini biar kakak olesi minyak kayu putih." Andini membawa botol minyak kayu putih ke arah Erin dan bersiap mengoleskan pada tengkuk wanita itu.


"Hoek.... nggak mau, itu bau banget." Erin langsung menutup hidung dan mulutnya.


"Masa sih, Kok semuanya kamu bilang bau?" Andini menatap adik iparnya dengan heran.


"Erin, Kenapa? tanya Dimas yang masuk ke kamar itu dan langsung mendekat ke arah Erin yang terbaring di atas kasur.


"Kakak pakai parfum apa sih, kok bau banget?" protes Erin saat mencium aroma parfum yang menyeruak dari tubuh kakaknya. Padahal Andini saja yang mencium aroma tubuh suaminya tidak mual sama sekali, yang jelas-jelas Andini saat ini sedang hamil.


Kakak pakai parfum yang biasa Kakak pakai. kok kamu jadi aneh gini sih? apa kamu bilang semua bau, jangan-jangan kamu.... "tatapan pria itu semakin menajam dan penuh selidik ke arah adiknya.


"Jangan-jangan apa? tanya Erin dengan dahi mengerut. Dimas semakin mendekat dan duduk di samping Erin dengan Tatapan yang tertuju ke arah perut adiknya.


"Hamil apaan! Kakak jangan sok tahu."sangkal Erin.


Wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi perut sampai bagian dadanya.


"Kakak serius! gejala yang kamu alami hampir sama dengan yang kakak alami beberapa hari ketika Andini hamil. Bahkan sampai sekarang kakak masih mual dan muntah." jawab Dimas dengan wajah serius.


"Ngaco kakak. Aku tidak hamil."


"Erin! kakak serius. Kamu hamil kan?"bentak Dimas yang membuat gadis itu terhenyak.


"Erin terdiam dengan wajah memerah.


"Sekali, lagi jawab! kamu tidak hamil kan?" bentak Dimas kembali dengan penuh pendekatan. Bahkan dulu kuduk Andini sudah berdiri, ketika mendengar suara dan melihat ekspresi suaminya saat ini.


"Hamil apaan! Kakak jangan ngada-ngada deh." protes Erin dengan pandangan yang ia alihkan ke arah lain.

__ADS_1


Dirinya tidak berani saling beradu pandang dengan kakaknya saat ini, takut memang benar dugaan kakaknya.


"Tapi Kakak punya kecurigaan besar. Gejala seperti yang kamu rasakan hanya dialami oleh orang yang sedang hamil muda." tutur Dimas yang membuat Erin meremas jemarinya sendiri.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya masuk angin saja. Tadi malam aku begadang." balas Erin dengan sorot mata ketakutan.


"Iya mual, muntah, bahkan semua yang kamu cium kamu bilang bau. Pokoknya kalau kamu hamil lebih baik ngaku sekarang. Sebelum semua orang tahu dan mempermalukan keluarga kita!" bentak Dimas dengan sorot mata bak seekor elang melihat mangsanya yang siap ingin menerkam.


"Nggak! aku nggak hamil." bantah Erin. Dimas menatap jeli ke arah wajah adiknya yang terlihat pias.


"Andini, kamu masih punya tespek, kan? tanya Dimas kepada istrinya. Tetapi tatapan pria itu masih tertuju ke arah Erin.


"Masih Mas, masih ada satu lagi." jawab Andini dengan ragu.


"Kamu bantu dia buat cek kehamilan." titah Dimas sambil menunjuk ke arah Erin yang semakin terlihat ketakutan.


"Beneran Mas?" tanya Andini dengan wajah bingung bercampur tegang. Takut kalau dugaan suaminya benar adanya. Karena ia melihat kedekatan Bima dengan Erin saat ini sudah semakin dekat, bahkan di hadapan mereka Erin berani memeluk Bima.


"Iya. Mas hanya ingin memastikan kalau Erin hamil atau tidak." Dimas bangkit dan berjalan ke arah pintu. Namun, sebelum keluar dari kamar Erin, ia melemparkan tatapan maut ke arah adiknya.


"Kak, aku nggak hamil!" ucap Erin kepada Andini, setelah Dimas benar-benar keluar dari kamar tidur.


"Erin, sebaiknya kita lakukan tes kehamilan saja."


"Tapi aku beneran nggak hamil, Kak." bantah Erin kembali dengan wajahmu memerah dan mata berkaca-kaca.


"Makanya, lebih baik kita tes dulu kalau kamu tidak hamil, kamu tidak usah takut. Buktikan kalau kamu itu beneran tidak hamil."Cerocos Andini yang membuat bibir Erin mengerucut. tetapi bibir tipis wanita itu terlihat bergetar menahan tangis.


"Kalian sama saja. Aku tidak hamil ya, tidak hamil." Erin bangkit dan memukul bantal yang ada di sampingnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2