Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 173. BAKAT NGEBOR


__ADS_3

"Sudah, Jangan banyak cerita mana Sini bayar!"tagih Robert.


"Dih, Katanya Hari ini aku makan gratis,"balas Rian dengan bibir menyungging sebelah.


"Kata siapa?"tanya Robert kembali


"Tuh!"Rian menunjuk ke arah Mariska.


"Gratis satu porsi. Ini mah lebih dari makanan rakyat sekampung, bisa bangkrut aku. balas Mariska sambil melihat tumpukan piring di hadapannya.


"Iya aku bayar. Tapi tunggu babang Herlan dulu."Rian mengambil ponselnya dan langsung memainkan ponselnya dengan jari lentiknya.


"Lagian kamu makan banyak banget, Memangnya muat di perut kamu? tanya Robert kembali dengan heran.


"Kan kamu sudah tahu kalau aku berdua sama dedek bayi." Rian mengusap perutnya.


"Bilang saja kamu rakus!" timpal Mariska.


"Diam! ini mulut suami istri klop banget sih."Rian menatap sinid ke arah kedua sahabatnya.


"Namanya juga suami istri, iya nggak sayang." Robert merangkul bahu istrinya yang duduk di hadapan Rian.


"Dulu aja kalian ledek-ledekan, sekarang sayang-sayangan." cibir Ran.


Semuanya bisa berubah seiring berjalannya waktu." tutur Robert dengan gaya sok cool.


"Iya sih, yang sudah jadi bos. Bahasanya juga sudah lain.


"Bagaimana bahasa aku, keren kan?" Robert tersenyum bangga.


"Hahaha......mending kamu belajar bahasa Sansekerta aja." Robert Rian tertawa keras.


"Sudahlah sayang, kamu layani aja orang ini. Aku mau melayani yang lain" Robert memijat pelan kedua bahu istrinya.


"Wih, gaya kamu melayani, udah kayak gigolo aja." Rian kembali tertawa keras.


"Heh! mulut kamu ya. Aku ekslusif hanya untuk my baby honey sweety Mariska seorang." Robert mencolek Dagu Mariska.


"Aku geli melihat kalian berdua.


"Kenapa gitu?


"Lucu aja."


"Lucu apaan? Mariska menatap heran ke arah sahabatnya yang masih tertawa.


"Ya, lucu aja. Aku nggak nyangka gitu, kalian bisa beneran nikah sampai mau punya anak begini." Rian mengelap sudut matanya yang sedikit basah karena tertawa.


"Biasa aja, nggak usah nangis gini." Mariska melempar tisu ke arah Rian.


"Siapa yang nangis, dodol! eh tapi kamu beneran cinta kan sama si Robert?" tanya Rian setelah Robert pergi.


"Lah, menurut kamu aku nyerahin mahkota aku sama dia bukan karena cinta, gitu?


"Hahaha.... ini kayaknya kamu kemakan omongan sendiri deh. Dulu kan kamu suka bilangin amit-amit kalau dijodohin sama si Robert, sekarang kamu anggap dia imut-imut gitu." Rian kembali tertawa.


"Suara kamu berisik banget! kalau tiap hari ada kamu di sini, bisa-bisa pada kabar pelanggan aku."


"Idih, kayak suara kamu nggak berisik aja." balas Rian


"Nggak lah, suara aku kan lembut."


"Eh, suami aku sudah datang." Rian segera bangkit ketika melihat Herlan baru masuk ke dalam kafe.


Wanita itu langsung menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan Herlan.

__ADS_1


"Masya Allah istri salehah." Celetuk Mariska yang melihat itu.


"Iya lah, daripada istri salahin kayak kamu." Balas Rian yang membuat kedua bola mata sahabatnya berputar malas.


"Kita langsung pulang aja yuk." ajak Herlan.


"Emmmm.... Bang aku boleh minta uang nggak?" Rian menyodorkan tangannya ke arah Herlan..


"Berapa dan buat apa? Memangnya uang bulanan kamu sudah habis?


"Uang bulanan mah beda, buat bayar makan di sini, aku lupa bawa dompet tapi gak ada isinya." ucap Rian sambil terkekeh


"Dih, alasannya estetik sekali. Bang Herlan, dia tuh tadi makan banyak banget." timpal Mariska.


"Hussst .. nggak apa-apa makan banyak, asal bahagia kata Bang Herlan juga."Rian menggandeng tangan suaminya dengan mesra.


"Ya, udah kita bayar dulu .Herlan berjalan ke arah Robert yang menunggu di meja kasir.


"Robert, total semuanya berapa?" Tanya Herlan yang membuat Robert langsung mengambil catatan makanan yang dipesan Rian.


"Totalnya semua tiga ratus ribu, menu yang pertama itu diskon dari kita khusus untuk istri Bang Herlan jadi nggak usah bayar. Ini semua total delapan porsi yang dia makan." jelas Robert.


"Banyak banget?" Herlan menatap wajah istrinya dengan bingung.


"Habis seharian ini nungguin kamu, aku bawanya lapar terus bang. Kayaknya anak kamu suka jajan." Rian mengusap perutnya.


"Bukan anak bos, Tapi Mamanya yang pengen ." balas Herlan Seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Bang Herlan nggak rugi punya istri kayak dia? udah centil, berisik, makanya banyak lagi." celetuk Robert


"Nggak usah toxik, gini-gini juga aku punya bakat yang tidak orang lain ketahui." sangkal Rian.


"Bakat apaan?" tanya Mariska yang berdiri di samping Robert.


"Idih sialan! yang sabar ya bang Herlan."


"Berisik! yuk Bang kita pulang aja, pemilik Cafe ini stress semua." Rian menggandeng tangan Herlan dan keluar dari Cafe itu.


*****


Setelah Cafe tutup jam sembilan tigapuluh malam, Bima langsung mengajak Ricky pulang. Namun, pemuda itu tidak mengajak sahabatnya pulang ke kost yang biasa mereka tempati. Melainkan sebuah kamar Oyo yang disewa Bima untuk Erin tidur.


Mereka masuk ke dalam kamar yang terlihat mewah itu dengan fasilitas yang cukup lengkap itu.


"Keren juga ya, sudah kayak fasilitas hotel bintang lima. Budget berapa nih?" tanya Ricky saat Bima membuka pintu kamar Oyo itu.


"Tiga juta untuk seminggu." jawab Bima Seraya membuka pintu Kamar tersebut.


"Buset, itu mah dua bulan kosan kita yang sekarang." jawab Ricky tercengang mendengar harga kamar yang di sewa Erin dan Bima beberapa hari yang lalu.


"Ya bedalah, kamu lihat di sini lengkap AC, TV, spring bed nya empuk Terus yang lebih unggulnya lagi di sini free.....


"Free apaan, free wi-fi gitu?


"Free couple." jawab Bima membuat Ricky kembali tercengang.


"Widi...., jadi bisa one night stand juga?"


"Diam! gak usah travelling." Bima langsung mengusap wajah sahabatnya.


"Kita ke sini ngapain?" tanya Ricky setelah keduanya berada di dalam kamar itu.


"Mau ngambil barang-barang Erin. Tadi dia minta buat dianterin barang-barangnya.


"CK..... pacar kamu nyusahin banget sih." Ricky berkaca pinggang.

__ADS_1


"Sudah, kamu diam aja. Aku beresin dulu semuanya. Bima membereskan barang-barang milik Erin dan memasukkan kembali ke dalam koper gadis itu.


"Namun sesuatu tertangkap oleh mata jeli Ricky.


"Itu apaan? Ricky akan mengambil bungkusan yang belum ia ketahui jelas itu apa. Namun, Bima langsung mengambil dan memasukkan ke dalam saku celananya.


"Nggak usah kepo."


"Aku curiga sama kamu, jangan-jangan kamu sama Erin udah......" Ricky tak melanjutkan ucapannya tapi dia hanya menyatukan kedua jari telunjuknya.


"Sudah, sekarang kita cabut dari sini. Nih, bawa! Bima menyerahkan koper kepada Ricky.


"Buset, gimana aku bawanya? mana gede banget lagi."


"Kamu tenteng aja. Bima keluar dari ruangan itu yang langsung diikuti oleh Ricky.


"Pacar kamu benar-benar nyusahin banget." gerutu Ricky sambil mengikuti langkah Bima menuju motornya.


****


"Istriku cantik banget sih?" ucap Dimas seraya mendekat ke arah Andini yang sudah duduk manis di atas kasur.


"Gombal banget kamu Mas. Andini tersenyum merekah yang membuat Dimas ikut menyunggingkan senyuman.


"Ingat, Mas tidak pernah gombal. Melainkan mengungkapkan. Dimas menatap Andini dengan intens, yang membuat pipi wanita itu langsung merona."


"Perut kamu sudah lumayan berisi ya, sayang. Dimas mengusap perut istrinya dengan lembut.


"Beneran? kok aku merasa biasa aja ya.


"Iya, sudah mulai kelihatan. Mulai sekarang jangan pakai baju atau celana yang ketat ya.


"Terus pakai apa dong Mas, Masa aku pakai daster terus kayak gini." Andini menujuk ke arah daster bermotif bunga-bunga yang dikenakannya.


"Nggak apa-apa Kalau di rumah pakai daster. Terus kalau mau keluar bisa pakai gamis." tutur Dimas yang membuat mata istrinya hampir membulat.


"Kenapa ekspresinya gitu banget?" Dimas mengusap pipi sang istri dengan lembut.


"Nggak apa-apa, nanti aku coba pakai." balas Andini sedikit ragu.


"Ya, udah karena hari ini nggak jadi ke hotel, Besok kita ke hotel. Tapi yang pakai gamis sama kerudung ya." ucap Dimas dengan mata yang menatap lembut wajah sang istri.


"Kenapa harus gitu Mas? nggak bisa gitu aku pakai celana sama baju seperti biasa?


"Sayang, aku ingin kamu tertutup di hadapan orang lain. Tubuh kamu hanya milik aku. keindahan ini hanya aku yang boleh melihatnya."


"Ck.....Kalau gitu kamu juga pakai gamis, biar adil."


"Hahaha.....nggak bisa lah Mas kan, dosen sayang."


"Ih, nggak adil kalau gitu." Andini mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah, aku nggak maksa, kapan kamu siapnya aja. Tapi jujur Mas sangat ingin melihat kamu tertutup di depan orang lain.


"Iya suamiku sayang, my baby honey sweety, nanti aku coba."


"Senyum dong." Dimas menyentuh bibir seksi istrinya yang membuat Andini langsung mengembangkan senyuman.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS

__ADS_1


__ADS_2