Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 210. PANGKALAN BRANDAN


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan Kurang lebih dua jam dari bandara Kualanamu menuju pangkalan Brandan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


Dimas yang mengikuti mobil yang membawa orang tua Bima, menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah yang cukup luas. Setelah mobil yang dikendarai oleh sopir yang menghantarkan orang tua Bima berhenti.


Mereka segera turun dan langsung diajak masuk oleh kedua orang tua Bima.


Andini mengendarkan pandangannya ke sekeliling. Udara di tempat itu sangatlah sejuk, terlebih lagi di depan rumah banyak pohon yang cukup rindang, sehingga membuat tempat itu nampak teduh.


"Sayang, Ayo kita masuk!"ajak Dimas sambil menggandeng tangan istrinya.


Mereka masuk ke dalam rumah yang berukuran lumayan luas, rumah bercat krem itu memiliki dua lantai dan terlihat mewah dari luar.


Ternyata Bima bukanlah dari keluarga biasa, terlihat dari bentuk rumah dan juga sebuah mobil terparkir di garasi itu.


"Ayo silakan duduk semuanya!"ucap Sulastri, mempersilahkan semua tamunya duduk di ruang tamu.


Seorang wanita datang membawa minuman serta makanan ke hadapan para tamu. Yang diduga, wanita paruh baya itu adalah orang yang bantu-bantu di rumah keluarga Bima.


"Wak borju." Panggil Sulastri dan seketika langsung muncul seorang pria paruh baya dengan wajah menunduk.


"Iya, Bu." ucap pria itu Setelah tiba di hadapan sang majikan.


"Wak Borju, sekarang suruh si Udin buat nangkap ayam di kandang, setelah itu langsung disembelih ya!" titah Sulastri dengan raut wajah yang terlihat sibuk.


"Berapa Bu?


"Tiga puluh ekor saja." titah Sulastri.


"Tiga puluh ekor ayam, banyak sekali atuh Bu, buat apa? tanya pria yang bernama Borju masih dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Buat menyambut menantu istri dari Putra saya Bima."sahut Sulastri.


Tolong segera disembelih tiga puluh ekor ayam, Saya mau ngundang anak yatim dan Pak ustaz untuk berdoa bersama. Sudah, kamu jangan nanya lagi. Laksanakan tugas sekarang, sebelum matahari terbenam!" titah Sulastri dengan tegas yang langsung membuat pekerjaannya mengangguk.


"Pak Anggara, Mas Dimas dan semuanya, silakan menikmati kue sederhana ini. Saya mau memanggil juru masak, sekalian memilih ayam di kandang."


"Ibu punya kandang ayam? tanya Anggara.


"Alhamdulillah punya, dari dulu saya beternak ayam, dari mulai menikah sama bapaknya si Bima sampai punya cucu. Alhamdulillah sudah naik haji juga dari memelihara ayam. Bahkan, saya dipanggil hajah ayam sama warga. "tutur Sulastri panjang lebar dengan nada suara Melayu yang masih kental dari wanita paruh baya itu.


Setelah beristirahat sejenak, Andini mengajak Dimas keluar, ia ingin melihat-lihat suasana di luar.


"Pa, Papa istirahat aja dulu di sini. Kita mau keluar sebentar, Bumil Katanya mau melihat kandang ayam." pamit Dimas kepada sang ayah yang masih duduk santai di ruang tamu bersama Pak Karyo.


"Iya, silakan! Papa mau istirahat aja di sini." balas Tuan Anggara menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Sayang, aku agak pusing, Aku boleh istirahat di kamar kamu nggak?" pinta Erin sambil memijat keningnya. Wanita itu sedikit merasa pusing dan mual akibat perjalanan jauh.


"Kamar aku di sebelah sini!" Bima menari tangan Erin, masuk ke bagian dalam rumah yang cukup luas itu.


"Rumah kamu luas juga ya! sejuk lagi, Walaupun nggak pakai AC. nggak kayak di Jakarta yang selalu panas,"tutur iring dengan langkah kaki yang terus mengikuti suaminya.


"Iya, di sini jarang pakai AC."


"Bima, mau kemana kamu? tanya Sulastri dari kejauhan. Wanita paruh baya itu mengangkat gamisnya tinggi-tinggi dan segera mengampuni Sang putra yang akan masuk ke dalam kamar.


"Erin mau istirahat di kamar, Ma,"jawab Bima sambil membalikkan badan menghadap ke arah ibunya.


"Jangan istirahat di kamar kamu! Kotor, belum sempat Mama bersihkan. Mending sekarang kamu ajak Erin istirahat di kamar Mama aja!" titah Sulastri dengan nada bicara yang terdengar cepat.

__ADS_1


"Lah, terus nanti mama sama papa tidur dimana?


"Ya udah nggak apa-apa, jangan kamu pikirkan Mama dan Papa tidur dimana, di kandang ayam juga tidak masalah." cerocos wanita paruh baya itu kembali.


"Mama jangan gadi-gadi deh."


"Sudah, jangan banyak ngomong! sekarang, bawa istirahat istri kamu ke kamar Mama. pasti dia capek. Ayo nak Erin, istirahat di kamar Mama aja. Udah di rumah ini teh kamar bukan cuman satu, Mama sama Papa bisa tidur di tempat lain.


"Iya, Ma, iya. Ngomongnya panjang lebar banget. Mama juga istirahat, jangan terlalu lincah." Bima menyentuh dan memijat bahwa ibunya.


"Mau istirahat gimana, sekarang di dapur lagi banyak yang masak buat acara nanti sore."


"Ya sudah, ini Mama kalau ngangkat baju jangan ketinggian, Nanti Pak bohay nya yang kayak ..... kelihatan"Bima menurunkan gamis sang ibu.


"Dasar, ngelunjak kamunya apa ...!! kesal Sulastri.


"Hehe he..... Maaf Ma. jangan untuk bisa jadi ayam." Bima merangkul bahu sang ibu.


"Mending, mamaku tuh jadi emas biar bisa dijual." seloroh Sulastri Sulastri kembali.


Erin yang mendengar itu hanya terdiam dan tersenyum, Ia ingin ikut bicara, tetapi takut salah.


Sementara itu, Andini dan Dimas berjalan-jalan di sekitar rumah Bima. Andini sangat menikmati suasana sejuk di tempat itu.


"Mas, kita ke sana yuk! kayaknya di sana kandang ayamnya, Aku mau lihat." Andini menuju ke arah belakang rumah Bima yang terdapat kandang ayam yang sangat luas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2