
"Mas, kita kesana yuk. Kayaknya di sana kandang ayam, Aku mau lihat." Ucap Andini menunjuk ke arah belakang rumah yang terdapat kandang ayam yang sangat luas.
"Kamu nggak Jijik pergi kesana? tanya Dimas sambil menatap ke arah.
"Enggak lah, Mas. Lagian kapan lagi kita datang ke tempat seperti ini ? Andini menarik tangan Dimas dan berjalan ke arah belakang rumah.
Sepasang suami istri itu mengamati sekitar kandang ayam yang berukuran sangat luas itu, berada tepat di samping beberapa petak sawah. Serta ada beberapa petak kolam yang berisi berbagai jenis ikan.
"Wow, ayamnya banyak sekali Mas." ucap Andini setelah mereka tiba di depan kandang ayam.
"Kamu mau aku ngitungin ayamnya satu persatu?"
"Hahaha....boleh Mas, biar rasa penasaranku hilang."
"Nah, ini pengurus ayamnya.
"Pak, ayam di sini ada berapa ekor, ya?" tanya Dimas kepada seseorang yang berjaga di sana.
"Ini kisaran sepuluh ribu ekor Mas."
"Sepuluh ribu ekor? pantesan dipanggil Hajah ayam, kalau gini." tutur Andini dengan mata melebar.
"Kalau itu, kolam ikan apa ya, Pak?" tanya Dimas sambil Kembali menuju ke arah beberapa kolam.
"Ada beberapa petak berisikan ikan mujair, ikan lele, ikan Mas, ikan gurame dan juga ikan patin." jelas pria itu.
"Wah, hebat orang tua Bima. Walaupun bukan tinggal di kota besar, tapi mereka bisa berbisnis dengan cara yang luar biasa." ucap Dimas dengan penuh kagum.
Keturunan keluarga ini, tidak ada yang miskin Mas. Semuanya tajir, haji Muhammad Alim sama Hajah Nining, beda lagi mereka ma ternaknya sapi.
"Haji Muhammad Alim itu orang tuanya Ricky, ya?" tanya Andini penasaran.
"Betul Mbak, itu Ricky yang mau nikah sama orang Jakarta, seserahannya aja juga pakai lembu sekarang lembu tinggal sekitar dua ratus sembilan puluh sembilan ekor saja."jelas pria yang memakai kaos kecoklatan itu.
"Buset, sampai ratusan ekor lembu?" Andini hampir terjatuh pingsan saat mendengar penuturan pria paruh baya di hadapannya.
***
__ADS_1
Erin dan Bima masuk ke dalam kamar ibunya. sebuah kamar berukuran besar yang didominasi dengan warna krem
"Aduh, aku jadi nggak enak nih tidur di kamar Mama Kamu." ucap Erin yang masih berdiri. Bahkan wanita itu tak berani duduk sedikit pun di atas ranjang yang sudah di Baluti seprai yang rapi dan sewarna krem pula.
"Kenapa? tidur aja, Mama juga sudah mengizinkan. Bima berjalan ke arah jendela dan membuka jendela kaca itu, agar suasana di dalam kamar terasa semakin sejuk.
"Suasananya enak banget ya, kayaknya aku bakalan betah tinggal di sini." ucap Erin yang mendekat ke arah Bima dan berdiri di samping pria itu.
"Kamu mau tinggal disini? paling nanti aku kerjanya ternak ayam dan ikan di Empang." balas Bima.
"Apa? Jadi kamu mau ternak ayam? Jangan dong, nanti kamu hitam. Masa ganteng-ganteng kayak gini mau main lumpur di Empang." Erin memegang kedua pipi suaminya.
"Iya, mau gimana lagi? katanya mau kamu tinggal di sini.
"Ya udah, deh. Nggak jadi." Erin memeluk tubuh suaminya dari samping.
Keduanya menatap ke arah luar, yang terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang sibuk mengurus tiga puluh ekor ayam yang baru selesai disembelih.
"Permisi!!! ini ada acara apa, Ya?" tanya seorang ibu-ibu dengan balutan gamis yang dipenuhi dengan manik-manik. Tak lupa pula gelang emas yang hampir sampai pada sukunya.
"Hajah Sulastri mengadakan selamatan." jawab seorang ibu-ibu yang sedang sibuk memotong daging ayam.
"Selamatan pernikahan dan wisuda Bima." jawab ibu-ibu yang sedang memotong daging ayam tadi.
"Hah!!si Bima tuh udah nikah? kapan? Kok haji Karyo tidak mengadakan hajatan? Jangan-jangan si Bima menikah, karena digerebek. Dan perempuannya pasti sudah hamil." cerocos ibu-ibu itu kembali dengan suara yang melengking.
"Astagfirullah! nggak boleh suudzon. Bima menikah di Jakarta setelah selesai wisuda makanya, di sini cuman selamatan aja."
"Halah!! lagu lama. Kasak kusut, pasti perempuan tuh sudah hamil diluar nikah. Ngaku kuliah di Jakarta, eh tahunya malah buat bunting anak orang. Orang tuanya aja yang haji, dan anaknya mah kayak jurig.
"Mas Bima itu, beneran kuliah. Buktinya dia tepat waktu kuliah. Dia sudah wisuda, makanya Hajah Sulastri ingin mengadakan Selamat atas pernikahan dan wisudanya Mas Bima." terang seorang ibu-ibu memberitahu kepada ibu-ibu yang yang paling kepo dan julit itu
"Siapa yang jurig?!! enak aja ngatain anak orang jurig, sembarangan aja kalau ngomong." Sulastri yang muncul secara tiba-tiba dan langsung berdiri di hadapan ibu-ibu tadi sambil berkacak pinggang.
"Memang benar, kan begitu. Aduh hasil kuliah di Jakarta begini. Pulang-pulang bawa perempuan bunting." ibu-ibu itu kembali yang membuat Hajah Sulastri semakin emosi.
"Idih, punya mulut tuh dijaga. Jangan terlalu kepo urusan orang lain.
__ADS_1
"Ini kenyataan!! percuma kuliah jauh-jauh ke jakarta Kalau ujung-ujungnya melempar kotoran ke muka orang tua."
"Heh!! Ibu kalau ngomong tuh jangan sembarangan. Saya tahu ibu itu memang julit kayak gini ke saya, karena anak saya nggak mau sama Putri kamu. Hati-hati ya, Bu. punya anak gadis jangan ngomong sembarangan. nanti kalau menimpa anaknya sendiri baru tahu rasa."
"Ya tidak mungkin, lah. Putri aku Putri baik-baik nggak kayak anak kamu."
"Anak baik-baik apa? putrimu yang penyanyi dangdut itu yang manggung manggung dengan pakaian seksi, kamu bilang Putri baik-baik?!" dia selalu manggung di acara keyboartan menari dengan pakaian seksinya menerima saweran dua ribuan dan lima ribuan dari suami orang."
"Eh jangan sembarangan ya, Bu kalau ngomong jangan keterlaluan."
"Lah, bukannya kamu yang awalnya menghina anak saya? pas dihina balik, nggak terima. dasar ulat bulu
"Heh!! Anda aja ngomong sembarangan, kamu tuh paha ayam."
"Idih, tidak ngaca sama sekali. Pergi sana, kayak hidung kebo aja, pun bangga."
"Sudahlah Bu, sudah. Beberapa ibu-ibu mendekat dan berusaha melerai pertengkaran kedua wanita itu.
"Aduh Sayang, itu Mama kok bertengkar." Erin menujuk ke arah mertuanya. Wanita itu masih berdiri di depan jendela.
"Berantem kenapa?" Bima yang semula sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, segera bangkit dan melihat ke arah luar.
"Astaga! Mama!! aku harus keluar sekarang." Bima segera membuka pintu kamar dan berlari ke arah samping rumah di mana ibunya berada.
"Bu Khalifah, Mama, stop!!! Bima segera menarik tubuh Sang ibu yang sedang adu cakar dengan ibu-ibu tadi.
"Ibu khalifah, sebaiknya Ibu Khalifah pergi Saja. Datang-datang cuman buat ribut doang." usjr ibu-ibu yang tadi menyaksikan perkalian antara ibu Sulastri dengan ibu Khalifah.
"Tanpa disuruh pun, saya akan pergi. Lihat aja, saya akan buat portal jalan, supaya keluarga ayam ini tidak bisa lewat dari depan rumah saya." ucap Ibu khalifah dengan angkuh.
"Portal aja!! saya akan membuat jalan tol dari depan rumah saya. Awas kalau numpang lewat ." balas Sulastri tak kalah nyolot.
"Ma, sudah. Mending sekarang kita obati luka tangan Mama. Kayaknya kena cakar." ucap Bima sambil melihat ke arah tangan sang ibu yang terluka.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN