Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 60. CIUMAN DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Iya, sedikit percaya."Dimas merangkul tangannya pada bahu Andini dan sedikit mencondongkan tubuh Andini.


"Kok cuman sedikit sih Mas? Andini mengerutkan keningnya.


"Karena yang banyak itu kasih sayang Aku ke kamu,"ucap Dimas dengan Tatapan yang lurus ke arah jalan sambil menyetir roda empatnya.


Tetapi walaupun begitu, jantung Andini berdegup kencang, Baru kali ini mendengar suaminya menggombal seperti tadi.


"Ini saya nggak salah dengarkan? Mas gombalin saya?


"Aku tidak sedang menggombal istriku sayang, tapi sedang mengungkapkan rasa." Dimas melirik sekilas ke arah istrinya.


Andini mendekap lengan kekar suaminya. dan mengunyal-unyel hidung pada lengan berotot itu.


"Oh, iya. Bagaimana keadaan papa?"tanya Andini masih menyandarkan kepala pada lengan Dimas.


"Papa masih dirawat. Kita ke rumah sakit aja ya, menemani papa."


"Iya, Aku juga ingin melihat kondisi papa. tadi yang kena pukulan yang mana?"Andini menegakkan kembali kepalanya.


"Yang ini!"Dimas menunjukkan ke arah bibirnya.


"Ih apaan sih? mana mungkin kena tonjok di situ, kalau kena tonjok di situ pasti bibir Mas sudah pecah. Andini mencubit paha suaminya."


"Aw! kamu sudah membangunkan peliharaanku."


Andini langsung melihat ke arah selatan hak suaminya yang terlihat menggembung.


"Mas, mesum ih!"


"Mesum sama istri sendiri kan nggak masalah? yang masalah itu Kalau aku mesum dengan wanita lain, atau istri orang lain. Bisa-bisa aku digebukin.


Dimas dan Andini langsung menuju rumah sakit di mana Tuan Anggara dirawat.


"Mau jalan sendiri atau saya gendong?"tawar Dimas saat mereka turun dari mobil dan akan menuju ruang rawat inap Tuan Anggara.


"Aku bisa jalan sendiri Mas."Andini turun dari mobil dengan hati-hati.


Kakinya yang belum sembuh total membuat ia tidak bisa bergerak dengan lincah.


"Sayang,pegang tangan ku! Dimas mengulurkan tangannya ke arah Andini.


Wanita itu segera menerimanya dan tersenyum hangat, sebuah senyuman yang terlihat tulus dari gadis barbar seperti Andini.


Setelah itu, Dimas merangkul tangannya pada bahu Andini dan membuat Gadis itu langsung menengadahkan wajahnya, menatap ke arah suaminya.


"Kenapa? Saya tidak boleh merangkul bahu kamu di sini? takut ada yang melihat kita? takut reputasi kamu menurun karena jalan bersama dosen seperti saya? takut kedua pria yang memperebutkan kamu itu tahu?"Ciracas Dimas membuat Andini gemas dengan bibir suaminya.


"Mas baru makan apa sih?

__ADS_1


"Kok kamu nanya seperti itu? Memangnya kenapa?"Dimas mengerutkan keningnya.


"Fitnahnya lancar sekali soalnya!"


"Aku bukan memfitnah, tapi itu kenyataan kan? kamu ingin tetap merahasiakan pernikahan kita, sampai kulit saya mengerut rambut saya memutih,"carocos Dimas kesal kepada istrinya.


Andini tertawa ngakak mendengar ucapan suaminya.


"Aku serius! Dimas memasang wajah kesal, sorot mata pria itu terlihat tajam.


"Iya, maaf. aku nggak malu kok punya suami seperti Mas. Kita masuk yuk!"Andini mengarahkan tangannya pada pinggang Dimas dan menyandarkan kepala pada lengan kekar itu.


Dimas tersenyum, lalu keduanya masuk secara bersamaan dengan tangan yang saling bergandengan.


Dimas langsung membawa Andini masuk ke dalam ruang rawat inap Tuan Anggara.


Terlihat seorang pria paruh baya sedang berbaring lemah di atas branker yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Namun, mata Andini langsung tertuju karena seorang gadis cantik yang duduk di samping berangkat mertuanya.


Wanita yang mengenakan sebatas lutut itu segera bangkit ketika menyadari ada yang masuk.


"Erin, Kamu sudah sampai?"tanya Dimas jangan mata berbinar.


"Iya, Kak. Kakak apa kabar?"tanyanya kembali dengan senyum mengembang.


"Kabar kakak baik. Oh, iya. Erin perkenalkan ini Andini, istri Kakak. kamu belum pernah melihatnya kan?"Dimas menuju ke arah Andini yang berdiri di sampingnya dengan wajah bingung.


" Oh, jadi ini istri Kakak. Aku kira Kakak akan menikah dengan Kak Alena. pantas saja pernikahan kalian tidak dirayakan, Ternyata wanita seperti ini yang kakak nikahi,"cerocos wanita yang bernama Erin itu.


Padahal Ia tidak mengetahui, pernikahan Dimas dan Andini tidak dirayakan itu karena permintaan Andini sendiri. Karena Andini tidak ingin pernikahannya diketahui oleh teman-teman kampusnya. Karena sulit bagi Andini menerima pernikahan dadakan ini.


Tapi wanita yang ada di hadapannya, sudah mengintimidasinya. tanpa mengetahui hal yang sebenarnya. Sejujurnya Andini mengeram kesal. Tapi ia berusaha untuk menutupinya.


Padahal Andini sudah memasang wajah manis dengan bibir full senyum.


"Erin, kamu tidak boleh seperti itu! siapa kakak ipar kamu dengan baik,"nasehat Dimas.


"Sudahlah. Hari ini aku capek, sudah melakukan penerbangan dari California ke Indonesia. Sekarang, Aku mau pulang dulu, Kakak juga Papa baik-baik."wanita itu menarik kopernya dan akan keluar dari ruang rawat inap Tuan Anggara.


"Erin, tunggu! dua kata yang keluar dari mulut, membuat wanita itu menghentikan langkahnya.


Erin membalikkan badan tanpa bicara.


"Jangan berpakaian seperti itu, atau Kakak akan membakar semua bajumu!"Dimas memperhatikan penampilan adiknya yang mengenakan Raya sebatas lutut dengan dada yang terbuka.


"Kenapa? aku sudah terbiasa berpakaian seperti ini di California. Bahkan di California lebih dari ini, tapi tidak dipermasalahkan."elak wanita itu sambil mengibaskan rambutnya yang berwarna pirang itu.


"Erin, Papa memuliakan kamu ke California untuk belajar dengan baik di sana, bukan malah meniru budaya yang ada di sana."

__ADS_1


"Kakak dan Papa sama saja, selalu mengekang aku. coba saja kalau mama masih ada."wajah wanita itu berubah menjadi sendu.


Dimas menghela nafas panjang, iya jadi tidak tega jika mendengar adiknya berbicara soal ibu yang telah lama tiada.


"Erin, Kakak dan papa hanya ingin menjaga kamu, bukan mengekang. Kamu adalah adik kakak satu-satunya dan kamu adalah seorang wanita. Wanita itu harus dijaga seperti mutiara."Dimas menatap serius karena adiknya.


"Tapi maaf, sayang sekali di sini tidak ada mimbar. Jadi kakak tidak bisa berceramah dengan panjang lebar."


"Erin!"bentak Dimas yang mulai kesal dan emosi.


Andini memegang lengan suaminya, berusaha untuk menenangkan.


"Sudahlah, aku mau pulang dulu. lihat tuh istrimu! sudah kayak lalat terkena lem,"ucap Gadis itu dengan tatapan sinis yang tertuju ke arah Andini.


Kemudian Eren keluar dari ruang rawat inap Tuan Anggara.


"Sayang, Maafkan ucapan Erin barusan ya. dia hanya belum mengenalmu."Dimas menatap istrinya dengan tak enak hati, membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


"Tidak apa-apa. Lagian kita baru pertama kali bertemu."Andi ini berusaha memasang wajah semanis mungkin Padahal di dalam hatinya dongkol sekali, tanduk dan taringnya hampir muncul ketika mendengar perkataan adik iparnya. Tapi ia berusaha menahannya.


"Terima kasih sayang. Eren Itu adik saya satu-satunya dan dia kuliah di California, makanya waktu kita menikah dia tidak datang,"jelas Dimas yang dibalas anggu kan dari Andini.


"Kalau kamu bersikap seperti ini, aku jadi semakin gemas melihatmu. Apa aku boleh menciummu? tanya Dimas dengan wajah yang semakin mendekat.


Andini terdiam sejenak, tetapi Tak lama kemudian kepalanya mengangguk.


Dimas tersenyum Dan menempelkan hidung mancung keduanya.


Andini memejamkan mata ketika hembusan nafas sangat terasa menyapu wajahnya.


Dimas memiringkan kepala dan menempelkan bibir keduanya.


Bibir manis itu terlihat sangat menggoda, Dimas menyesapnya dengan perlahan.


Jantung Andini berdegup kencang tak karuan. tubuhnya terasa memanas ketika Dimas mulai memperdalam kecupan itu.


"Tiba-tiba suara batuk terdengar jelas di telinga keduanya. membuat Dimas segera melepaskan pagutannya dan kembali menjauhkan wajahnya.


Sementara Andini membuka matanya dengan lebar dan mengusap bibirnya yang terasa basah.


Wajahnya merona ketika melihat mertuanya telah membuka mata.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2