
Satu bulan sudah berlalu, setelah acara wisuda Mariska dengan Robert. Robert membulatkan tekad untuk datang ke showroom untuk membeli mobil walaupun dengan cara kredit.
Sehingga, hari ini pria itu sudah bisa menumpangi mobil barunya bersama dengan sang istri.
"Sayang, kunci mobil mana? tanya Robert sambil menengadahkan tangannya ke arah sang istri.
"Biasanya juga nanyain kunci motor,"balas Mariska yang sibuk dengan moles wajahnya di depan cermin.
"Kan, sekarang udah punya mobil sayang. walaupun kredit, iya harus tetap mensyukuri."
"Iya,iya. nggak usah ceramah!"kesal Mariska yang perutnya sudah membuncit mungkin tinggal menunggu hari Mariska akan segera melahirkan.
"Ya, sudah. mana Sini kunci mobilnya?"
"Kan, kamu yang nyimpan."Mariska bangkit dan menghadap ke arah suaminya.
"Masa? enggak kok. Kan pas pertama mobilnya datang, aku langsung ngasih kunci itu ke kamu."balas Robert
"Kapan? kemarin aku tidak minta apa-apa darimu, Bahkan aku sibuk dengan Ciwi, untuk mempersiapkan perlengkapan bayi kita."sahut Mariska.
"Masa sih? terus, kunci mobilnya Di mana dong?"wajah pria itu terlihat bingung.
"Ya nggak tahu. kemarin kan Kamu sempat nyoba mobilnya keliling kompleks, anak kuncinya kamu simpan di mana? masih muda Masa udah pikun!"Mariska menatap ke arah suaminya dengan penuh selidik.
Sementara Robert menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Pria itu berpikir keras, berusaha mengingat di mana ia menaruh kunci mobilnya. Bahkan ia sudah menggeledah saku celana dan bajunya, tetapi benda itu masih belum ditemukan dan membuatnya terlihat panik.
"Hayo, di mana?"tanya Mariska kembali dengan bersedekap dada sambil memperhatikan suaminya yang sibuk menggeledah seisi kamar untuk mencari kunci mobil.
Robert berjalan ke arah lemari pakaian dan mengeluarkan semua baju yang sudah tersusun rapi dengan cepat, sampai semua baju yang sudah dilipat rapi oleh istrinya itu menjadi berantakan.
"Astaga, Robert!"teriak Mariska sambil berkaca pinggang dan bersiap mencengkram wajah suaminya.
"Sorry sayang, aku lagi buru-buru nyari kunci mobil."elak Robert sambil terus mengecat lemari pakaian dan melempar baju satu persatu ke atas kasur.
"Robert, stop! nggak mungkin kunci mobilnya ada di dalam lipatan baju ini. coba kamu ingat benar-benar!"ditambah Riska sambil memegang kedua tangan suaminya agar berhenti mengeluarkan baju dari lemari.
Robert terdiam dengan otak yang berpikir keras
"Astaga!"pekiknya Seraya melepaskan kedua tangan Mariska. pria itu berlari sangat cepat keluar dari kamar.
"Kamu mau ke mana?"teriak Mariska sambil mengikuti langkah suaminya.
"Robert, Mariska, Kenapa kalian lari-lari?"tanya mamanya Robert yang juga baru keluar dari kamar sambil memutar kursi roda yang didudukinya.
__ADS_1
"Ada bom,"jawab Robert ngasal. Namun, tanpa ia sadari hal itu malah membuat ibunya menjadi panik.
"Bom di mana? tanya mamanya Robert kembali dengan terkejut.
"Astagfirullah, ada Bom!!"teriak Ciwi.
Wanita itu segera berlari sambil mendorong kursi roda ibunya, keluar dari rumah.
Sementara itu, Robert langsung mengambil kunci di dalam mobil, karena kemarin Ia lupa melepaskan kunci mobil dan tertinggal di dalam.
"Alhamdulillah, masih aman."gumamnya Seraya menutup kembali pintu mobil barunya. pria itu memberikan badan, matanya terbuka lebar ketika melihat adiknya mendorong kursi roda sang ibu dengan cepat. Bahkan kini mereka telah berada di halaman rumah.
"Ma, Ciwi kalian kenapa lari-lari? tanya robek berjalan ke arah Mariska yang mematung di hadapannya.
"Ada bom,"jawab Ciwi dengan wajah panik.
"Kata siapa?"tanya Mariska dengan dahi mengerut.
"Kata Mama."cewek menunjuk ke arah sang ibu yang duduk di atas kursi roda di hadapan mereka.
"Mama kata Kak Robert!"mamanya Robert menunjuk ke arah putranya.
"Lah, tadi itu aku cuman ngasal loh Ma."balas pria itu sambil terkekeh.
"Robert!!!!"teriak Mariska dan Mamanya Robert secara bersamaan.
"Kamu ya, kalau ngomong jangan ngasal. Mama kaget hampir saja Mama lari."kesal mamanya Robert.
"Maaf Ma, untung Mama nggak jadi lari ya."pria itu kembali terkekeh.
"Jangankan lari bangun aja Mama nggak bisa."Ketut namanya Robert kembali.
"Maaf Ma. Robert janji nggak akan nakal lagi."pria itu mendekat dan mencium punggung tangan ibunya.
"Makanya lain kali kalau ngomong jangan asal keluar aja."Mariska menjawab telinga suaminya dengan kesal.
"Aduh ampun sayang. aku mau berangkat dulu ya, ke cafe. kamu jangan ikut istirahat aja di rumah."tutur pria itu sambil berusaha melepaskan tangan Mariska dari telinganya.
"Kenapa? kamu mau gaya-gayaan bawa mobil sendiri? atau kamu mau ngajak si Maya jalan bareng berdua gitu?"Mariska semakin menarik telinga Robert sampai membuat daun telinga suaminya memerah.
"Enggak kok Sayang, aku cuman pengen kamu istirahat aja di rumah, biar kamu nggak kecapean."cicit Robert kembali meringis.
"Nggak ada! pokoknya aku akan ikut ke cafe, tapi sebelum itu kamu bereskan dulu semua baju yang kamu berantakin!"Mariska menarik tangan suaminya masuk ke dalam rumah.
Sementara di tempat lain, hari ini Andini berencana pergi ke sebuah Mall. mengingat dirinya belum mempersiapkan segala sesuatu untuk proses persalinannya nanti.
__ADS_1
Kalau masalah kamar tidur anaknya kelak sudah dipersiapkan oleh Dimas. Kini Andini ingin membeli beberapa perlengkapan bayi. selama ini Andini tidak melakukan USG semasa kehamilannya. Tetapi ia tetap rutin periksa ke dokter.
Setiap kali Dimas meminta agar di USG, Andini selalu menolak dengan alasan nanti tidak akan kejutan jika sudah lahiran. Dia ingin mengetahui jenis kelamin anak yang ada di dalam kandungannya saat dia sudah melahirkan.
Kali ini, Andini pergi tidak sendirian. Andini pergi bersama Nyonya Laras yang dihantar langsung oleh supir pribadi Andini yang sudah dipersiapkan Dimas sebelumnya.
Saat mereka tiba di mall, Andini berjalan ke arah toko perlengkapan bayi. Tampak Nyonya Laras dan Andini antusias untuk memilih-milih perlengkapan bayi.
Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan kedua wanita berbeda generasi itu. Terlihat seorang pria memperhatikan sosok Andini dengan Nyonya Laras yang sedang sibuk memilih-milih perlengkapan bayi.
"Andai saja aku tidak berulah dulu, mungkin kita masih bersama Andini."gumam seorang pria sambil memperhatikan Andini dari kejauhan.
Setelah mereka merasa sudah cukup perlengkapan bayi, Andini berlalu ke kasir. Andini memberikan black card miliknya yang sudah diberikan oleh Dimas kepadanya kepada petugas kasir.
Tampak petugas kasir itu menatap Andini dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dari penampilan Andini yang sederhana, petugas kasir itu tidak menyangka, kalau Andini memiliki black card yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Setelah membayar barang belanjaan mereka dengan menggunakan black card sang suami. Andini berlalu meninggalkan toko itu. kini kedua wanita berbeda generasi itu berlalu menuju perlengkapan Andini untuk proses bersalin nanti.
Beruntung Andini ditemani oleh Nyonya Laras, karena setidaknya Nyonya Laras pasti berpengalaman di bidangnya dan dia tahu apa saja yang akan diperlukan Andini dalam proses persalinan nantinya.
Setelah merasa cukup, perut Andini terasa lapar.
"Ma, kita makan dulu yuk!"ajak Andini saat masih berada di dalam mall.
"Ya sudah, kita makan di sana saja."ujar Nyonya Laras sambil menunjuk ke arah restoran yang ada di Mall itu juga. Andini berjalan beriringan dengan Nyonya Laras. Nyonya Laras sudah meminta kepada sopir pribadi Andini membawa barang belanjaan mereka terlebih dahulu ke dalam mobil. agar keduanya berjalan dengan leluasa.
"Kamu mau pesan apa? tanya Nyonya Laras kepada putrinya.
"Makan seafood aja Ma, Entah kenapa tiba-tiba saja Andini pengen makan seafood." sahut Andini.
"Ya sudah Mama pesan, ya." sahut Nyonya Laras sambil mengembangkan senyumnya. saat kedua wanita itu menunggu pesanan mereka, mata Andini melihat sosok sang suami. Sedang berada di restoran yang sama dengan mereka.
Tetapi Dimas saat ini membelakangi Andini, tampaknya Dia berbicara serius dengan dua orang yang ada di hadapannya. Andini tidak mengetahui siapa itu, Andini berniat ingin menghampiri suaminya tapi ia urungkan. Takut kalau suaminya terganggu, mungkin saja orang yang ada di hadapan Dimas itu adalah kliennya. Atau bisa saja temannya juga.
"Kamu kenapa? tanya Nyonya Laras ketika melihat pandangan putrinya mengarah ke arah lain.
Andini tidak menjawab, dia larut dalam pemikirannya sendiri. Hingga Nyonya Laras mengikuti Arah pandangan Andini. Nyonya Laras melihat Dimas sedang berbicara serius dengan dua orang wanita cantik yang ada di hadapan Dimas.
Nyonya Laras berusaha berpikir positif. Tetapi tak bisa dipungkiri Nyonya Laras juga terus memperhatikan pergerakan Dimas dan kedua wanita yang ada di hadapannya. Dia penasaran siapa sosok wanita itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN