Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 263. DI MALL


__ADS_3

"Sayang, Masa aku ke mall pakai daster begini sih?"protes Nisa saat mereka berada di dalam mobil. Sepasang suami istri itu mengendarai mobil Pajero sport berwarna hitam milik orang tua Ricky.


"Biarin, Memangnya kenapa? kan kemal juga mau beli baju,"balas Ricky yang fokus mengemudi, karena saat ini mereka telah memasuki Jalan Raya.


"Ya nggak gimana gitu," protes Nisa kembali


"Terus maunya gimana? kamu mau pakai baju sama celana aku?"Ricky melirik sekilas ke arah istrinya.


"Terus kamu nanti pakai apa?"


"Aku pakai daster kamu. kita tukaran baju,"jawab Ricky santai


"Hahaha... ngaco kamu! nggak malu bulu betisnya kelihatan?"Nisa tertawa renyah.


"Kamu juga betisnya kelihatan, mana mulus lagi."balas Ricky dengan nada tak suka.


"Ya mau gimana lagi, orang mama kamu yang ngasih daster ini."


"Sudah, bentar lagi kita nyampe. Tuh Mallnya udah kelihatan "Ricky menunjuk ke arah bangunan yang sudah terlihat dari kejauhan


"Eh, mobil kamu bagus juga ya! kayaknya masih baru, sampai masih ada plastiknya gini,"ucap Nisa Seraya memperhatikan mobil yang saat ini ditumpanginya.


"Ini mobil mama sama Papa, bukan mobil aku. Aku cuman punya motor matic satu, itupun Papa yang beliin."balas Ricky.


"Nggak apa-apa, Kamu kan punya mobil di Jakarta."


"Itu juga mobil kamu, kamu yang beli Bukan Aku."


"Hiss... sama aja lah, kan aku belikan buat kamu."Nisa menyandarkan kepala pada bahu suaminya.


"Kita sudah sampai,"ucap pria itu setelah menghentikan mobilnya. Nisa mengangkat kepalanya dari bahu Ricky dan melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya.


Ricky turun terlebih dahulu tanpa menghiraukan sang istri. Nisa membuka kaca mobil dan melihat gerak Ricky yang berdiri di depan pintu mobil


"Sayang, bukain!"Pinta Nisa dengan nada manja.


"Buka sendiri lah."titah Ricky.


"Gitu banget, biasanya juga bukan pintu mobil buat aku,"gerutu Nisa dengan bibir mengerucut.


"Itu dulu, beda sama sekarang. kamu juga dulu nggak gini, Sekarang gini,"balas Ricky dengan wajah cuek.


"Gini gini gimana?"Nisa menautkan kedua alisnya.


"Ya begitu "


"Ikh, apaan sih? tadi katanya begini?"Nisa menatap suaminya dengan heran.

__ADS_1


"Ya gini, nggak gitu,"balas Ricky kembali.


"Tau, ah. gak jelas banget kamu!"Nisa mau buka pintu mobil dan turun dengan kesal.


"Yuk masuk!"ajak Ricky Seraya melangkah terlebih dahulu.


"Sayang, tunggu!"Nisa mengejar langkah suaminya, setelah itu ia menggandeng lengan Ricky dan masuk secara bersamaan.


Nisa benar-benar terlihat berbeda dari biasanya, wanita yang biasanya terlihat rapi dengan balutan dress cantik dan tas mewah, kini hanya tampil dengan balutan daster bermotif bunga dan memakai sendal jepit, serta sebuah ponsel yang hanya digenggamnya. Tanpa dimasukkan ke dalam tas atau dompet, karena Nisa tidak membawa benda itu.


Nisa meninggalkan tas dan dompetnya di rumah sang mertua, karena rasanya sangat tidak pantas memakai daster sambil membawa sebuah tas mewah. oleh karena itu ia hanya memegang ponselnya saja.


"Kamu mau ke mana? makan dulu atau beli baju dulu?"tanya Ricky setelah mereka masuk ke dalam tempat yang telah ramai itu.


"Beli baju dulu lah, Aku beneran gak pede pakai daster kayak gini doang,"balas Nisa, raut tak percaya diri terlihat jelas pada wajah cantik itu.


"Jelas nggak pede lah, kamu kan wanita karir, nggak pernah pakai daster."balas Ricky.


"Sudah, jangan mulai! kita ke toko itu aja yuk!"Nisa menunjuk sebuah toko yang menjual berbagai pakaian wanita dan laki-laki.


Wanita itu menggandeng lengan suaminya menuju toko tersebut.


"Ricky!"Panggil seorang wanita cantik saat mereka akan masuk ke dalam toko itu. seketika Riki dan Nisa menghentikan langkahnya saat melihat dua orang wanita yang baru keluar dari toko itu dengan masing-masing membawa dua paper bag.


"Eh Kayla! Kayla Kan?"balas Ricky setelah menyadari Siapa wanita yang tadi memanggilnya. Nisa langsung menatap intens ke arah dua wanita itu.


Nisa tak melepaskan gandengan tangannya, seolah melarang Ricky menerima uluran tangan wanita itu.


Namun, sungguh di luar dugaan. Ricky melepaskan tangan ini dan menerima uluran tangan wanita itu.


"Kabar baik, kamu juga apa kabar?"Ricky balik bertanya.


"Sangat baik, seperti yang kamu lihat."balas wanita itu dengan senyum mengembang.


"Cie..m langsung asyik berdua sampai lupa sama aku. Eh, wajar sih Kalian kan udah dekat sejak SMP,"celetuk seorang wanita yang berdiri di samping Kayla.


"Sorry, ini Prilly kan?"Ricky menyodorkan tangannya ke arah wanita tadi.


"Iya, kamu ingat sama si Kayla doang,"balas wanita itu yang diiringi tawa kecil. Nisa memanyunkan bibirnya dengan mata menatap tak suka ke arah dua wanita itu.


"Ricky, ini siapa?" Kayla menunjuk ke arah Indonesia yang sudah dari tadi hanya terdiam. Ricky langsung menoleh ke arah sang istri yang sedang menatapnya dengan horor.


"Emmm ... ini istri aku, namanya Nisa."jawab Ricky memperkenalkan istrinya.


"Oh, istri kamu. Kirain kamu belum nikah, Aku mau mendaftar."Kayla tertawa renyah yang membuat darah seketika mendidih.


"Hahaha... bisa saja kamu,"balas Riki dengan tawa ringan, iya tak melihat wajah nih sayang kini sudah berwajah masa.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong istri kamu kerja apa? eh cuman jadi IRT doang Ya pasti? kelihatan dari penampilannya, masa ke tempat begini cuman pakai daster doang,"ucap Rina yang diiringi tawa kecil, begitupun dengan Prilly yang ikut tertawa ketika mendengar ucapan sahabatnya.


Ricky terdiam dengan mata menatap tak enak ke arah Nisa.


"Padahal, Aku kira kamu akan menikah dengan wanita karir, Ricky. secara gitu kan kamu kuliahnya aja di Jakarta. eh ternyata cuman nikah sama gadis desa, pasti paling tinggi pendidikan cuman menengah pertama,"carocos Kayla kembali yang membuat darah bisa semakin mendidih, Ingin rasanya ia menjambak rambut wanita itu.


"Namanya juga jodoh, Kayla. Padahal aku pikir waktu SMA kalian akan berjodoh,"timpal Prilly yang membuat taring dan tanduk seakan keluar.


"Ehem... Mbak, Boleh tahu kerja di mana? Siapa tahu saya bisa ngasih lowongan pekerjaan untuk kalian,"ucap Nisa dengan nada santai, padahal hatinya sedang terbakar amarah.


"Apa? Prilly, kamu dengar tadi dia ngomong apa?"Kayla tertawa meledek.


"Sorry, kayaknya telinga aku sedikit bermasalah, atau orang itu yang bermasalah,"balas Prilly yang kembali mengundang tawa sahabatnya.


Sementara Ricky mulai merasa tak nyaman dengan ucapan kedua teman lamanya itu, iya sudah bisa merasakan bagaimana perasaan istrinya saat ini.


Sementara Nisa masih menatap kedua wanita itu dengan wajah tenang dan berdiri dengan elegan.


"Oke, aku kasih tahu ya. Kita bekerja di PT Aman abadi, PT terbesar di Sumut dengan bayaran paling tinggi dan aku sebagai manajer pemasaran,"ucap Kayla dengan angkuh.


"Oh, PT Aman abadi yang dipimpin oleh Herlambang, Di mana para karyawannya yang harus di unboxing dulu sebagai syarat kenaikan jabatan dan perpanjang kontrak. Jadi, kamu sudah naik jabatan menjadi manajer, so kamu tahu lah, kamu tentunya sudah di unboxing oleh pria bertubuh besar dan perut buncitnya."Nisa tersenyum mengejek


Seketika Kayla dan Prilly terdiam, kedua wanita itu seolah mati kutu.


Sementara Ricky menatap ke arah istrinya dengan mata membulat.


"Eh, kamu jangan sok tahu ya!"Memangnya kamu siapa? ngomong sembarangan, ngaca dulu sana! penampilan emak-emak pasar Pagi, sok tahu banget!"ucap Kayla dengan nada nyolot.


"Kamu mau tahu siapa saya? lihat ini! Saya Faranisa Arnold pimpinan perusahaan Arnold group yang pernah bekerjasama dengan PT Aman abadi yang dipimpin oleh Herlambang."Nisa menunjukkan sebuah identitas pada ponselnya.


Seketika Kayla dan Prilly membulat sempurna, bahkan mulut kedua wanita itu terbuka lebar ketika mengetahui Siapa wanita yang telah mereka hina barusan.


"Kayla, Prilly, lain kali kalian harus berhati-hati lagi dalam berbicara ya!"tegur Ricky kepada kedua sahabatnya.


"Sorry, Ricky. Kita nggak tahu."cicit Kayla dengan wajah terlihat merah.


"Makanya jangan nyenggol kalau nggak mau dibacok. Lain kali Jangan menilai orang dari penampilan saja. Karena percuma dikemas pakai paper bag kalau dalamnya hanya sampah!"tegas Nisa Seraya berjalan dengan anggun masuk ke dalam toko, meninggalkan kedua wanita itu yang terlihat mematung.


Ricky mengejar langkah istrinya dengan menggandeng dengan wanita itu.


"Sayang maaf ya atas ucapan Kayla dan Prilly tadi."ucap Ricky dengan nada tak enak.


"Tidak usah minta maaf, kamu tidak salah dalam hal itu. hanya saja salah kamu adalah terlalu mementingkan teman wanita kamu sampai melepaskan gandengan tangan istrimu."sewot Nisa.


"Ya udah maaf kalau gitu,"minta Ricky kembali.


"Sudah, jangan minta maaf terus. sekarang aku mau ganti baju, biar nggak dikira emang enak lagi."Nisa berjalan ke arah barisan pakaian wanita.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2