Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 233. KEMBAR TIGA


__ADS_3

"Mas, kapan aku pulang? tanya Andini dengan nada lesu.


Wanita yang kini masih terbaring di atas Branker pasien itu, sangat tidak menyukai rumah sakit.


"Nanti, ya. Dirga boleh mengizinkan kamu untuk pulang." jawab Dimas dengan suara lembut.


"CK ... emangnya aku sakit apa, sih? aku ini udah nggak apa-apa. Perut aku juga udah nggak sakit."Andini akan bangun dengan kesal.


"Hati-hati!"Dimas segera mendekat dan membantu istrinya duduk dengan perlahan.


"Iya, sabar dulu. Mungkin besok kamu baru boleh pulang. Lagian ini sudah malam, kalau pulang juga nanggung. Dokter Dirga hanya menginginkan kamu istirahat total, sambil memantau perkembangan janin yang ada di rahim kamu.


"Memangnya kenapa bayi kita Mas?


"Tidak apa-apa, tensi kamu saat ini naik turun, membuat dokter Dirga merasa khawatir. Lagian ini sudah malam


"Sudah malam apanya? orang baru jam 07.00 Andini mengerucutkan bibirnya, karena dirinya ini segera kembali ke rumah.


"Kan sudah aku katakan dokter Dirga masih ingin memantau perkembangan bayi kita yang ada di rahim kamu."


"Memangnya kenapa anak kita Mas?


"Tidak apa-apa, hanya saja dokter Dirga mengkhawatirkan kondisimu, dan dia juga takut kalau kamu mengalami kontraksi seperti tadi lagi. Jadi Jangan membantah, lebih baik kamu dirawat di rumah sakit dulu."


"Nggak mau! Aku nggak suka Rumah Sakit, mana mungkin aku bisa tidur di tempat seperti ini."Andini mengamati ruangan yang menurutnya sangat tidak nyaman itu.


"Ya udah, kalau nggak mau tidur dulu juga nggak apa-apa. mau makan? atau mau nonton TV? tanya Dimas dengan hati-hati


nggak mau, aku udah makan tadi. kecuali kalau kamu mengizinkan aku makan seblak biar aku mau."ujar Andini dengan wajah memelas.


"CK .. nggak boleh. ingat! Kamu harus jaga pola makan. makan yang sehat aja semacam sayur buah dan yang lainnya."tutur Dimas yang membuat bibir istrinya semakin mengerucut.


"Aku nggak suka sayur Mas!"kesal Andini


"Kamu bisa nggak sih, nurut! Demi kesehatan kamu dan anak kita. Jangan terlalu egois, coba nurut! Aku tau keadaan kamu seperti apa"carocos Dimas dengan kesal karena sejak tadi sore istrinya ngeyel terus.


Namun, wajah Andini seketika berubah menjadi sembuh bercampur bingung ketika mendengar penuturan suaminya. "Keadaan aku? Aku sebenarnya Kenapa, Mas? tanya Andini dengan nada pelan.


"Kamu tidak apa-apa, hanya saja bayi kita membutuhkan asupan gizi yang tinggi. Agar bayi kita yang ada di dalam sini." ucap Dimas memberitahu sambil mengelus perut istrinya yang membuncit.


Dimas menarik kursi dan duduk di samping branker istrinya. Pria itu meraih jemari lentik sang istri, dan menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Dia masih merahasiakan mengenai bayinya yang kembar tiga, karena Dimas juga mengkhawatirkan istrinya tidak akan mampu melahirkan secara normal, jika bayinya kembar tiga sama seperti yang dikatakan oleh dokter Dirga.


Padahal sebelumnya Andini menginginkan kalau dirinya harus melahirkan normal. Agar dirinya dapat merasakan wanita sejati.


"Andini kamu baik-baik saja? tanya Tuan Anggara yang tiba-tiba masuk ke ruang rawat inap Andini, saat Andini merengek meminta pulang kepada suaminya.


"Andini baik-baik saja, Pak."sahut Dimas sambil mengembangkan senyumnya.


"Syukurlah. Papa lihat tadi Andini sedang cemberut makannya apa-apa khawatir terjadi sesuatu."tutur Tuan Anggara.


"Oh iya, Papa datang sendiri ke sini?" tanya Dimas dengan mata tertuju ke arah sang ayah.


"Tidak, papa datang ke sini bersama Erin dan juga Bima. Mereka masih di depan." jawab Tuan Anggara sambil melirik ke arah pintu.


"Papa seharusnya istirahat aja di rumah. nggak usah repot-repot jenguk Andini ke sini." ucap Andini setelah menarik nafas panjang dan berusaha mengembangkan senyumnya.


"Bagaimana Papa mau istirahat kalau mendengar menantu papa masuk rumah sakit. Memangnya Andini Kenapa bisa masuk rumah sakit? Andini sakit apa? pasti Dimas nggak bisa jaga istri dengan baik."carocos Tuan Anggara dengan wajah kesal bercampur khawatir.


"Loh, kenapa papa malah nyalahin aku?"sangkal pria itu dengan dahi mengerut.


Kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan seorang istri itu tergantung pada suaminya. Kamu lihat Papa, Papa adalah laki-laki yang paling meratukan istrinya."tutur Tuan Anggara dengan angkuh.


"Nah, itu yang Papa sesali sampai sekarang. Papa sampai ke colongan, Papa tidak tahu kalau mama kamu mengidap penyakit berbahaya. Papa anggap Mama kamu siap-siap saja, ternyata mama diam-diam menahan sakit, hingga pada akhirnya Mama menghembuskan nafas terakhirnya.


Hal itu yang membuat Papa tidak berhenti membodohkan diri papa sendiri. Makanya Papa minta sama semua anak dan menantu papa, kalau penyakit jangan dipendam sendiri, ceritakan biar kita cari solusinya sama-sama." ucap Tuan Anggara


"Selamat malam semua."ucap Erin sambil masuk ke ruang rawat inap kakak iparnya.


Wanita itu datang bersama dengan Bima sambil membawa sebuah plastik.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Tuan Anggara setelah anak dan menantunya tiba di dekatnya.


"Tadi Bima ketemu temannya di depan."jawab Erin sambil mendekat ke arah Andini.


"Kak, ini aku bawakan buah-buahan. Dimakan ya! Biar cepat sehat." ujar wanita itu seraya meletakkan plastik tadi di atas meja dekat Branker Andini.


"Terima kasih, ya." balas Andini dengan senyum ramah.


Dia merasa bahagia, karena Erin terlihat baik dan ramah padanya sekarang.


"Sayang, sini! ngapain berdiri di situ, kayak security aja." Erin melambaikan tangannya ke arah Bima yang berdiri di dekat pintu.

__ADS_1


Pria itu berjalan ke arah Erin dan mata tertuju pada Andini.


"Din, cepat sembuh, ya." ucap Bima kepada Andini.


Namun, kalimat yang keluar dari mulut pria itu malah membuat Dimas itu menatap tajam ke arahnya.


"Iya, terima kasih." balas andini dengan bibir yang mengembangkan senyuman.


Dimas mengalihkan pandangannya ke Arah Andini dan melempar tatapan tajam pada wajah istrinya.


"Din! Din!Din! gak sopan banget, Kak Andini itu, kakak ipar kamu!" sangkal Erin dengan wajah kesal.


Bukan kesal karena panggilan Bima yang hanya menyebut nama saya kepada Andini, Tetapi wanita itu juga kesal karena suaminya menatap cukup lama ke arah Andini.


"Iya, maaf. Belum terbiasa." balas Bima dengan santai.


Makanya jangan mengingat masa lalu terus, ingat masa sekarang. Kak Andini itu kakak ipar kamu bukan manta...."Bima segera membekap mulut istrinya.


"Sudah, aku kan sudah minta maaf jangan diperpanjang."protes Bima.


"Bima, lain kali kamu bawa lakban buat nutupin mulut Erin yang bawel dan berisik." ucap Tuan Anggara yang membuat Erin menatap ke arahnya dengan bibir mengerucut.


"Semua laki-laki sama saja!"Erin duduk di atas sofa dengan kesal.


Bima mendekat dan duduk di samping istrinya


"Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." hal itu yang membuat bibir istrinya semakin mengerucut.


"Ih, nyebelin banget sih." Erin menjewer telinga suaminya cukup kuat.


"Aduh,ampun sayang." rintih Bima sambil berusaha melepaskan tangan Erin dari telinganya.


"Erin, jangan gitu! nanti kalau telinga suami kamu copot gimana? mau, kamu punya suami nggak punyaku telinga? sergah tuan Anggara ketika melihat tingkah putrinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2