Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 147. PENJAHAT WANITA


__ADS_3

Mama senang banget, punya menantu yang ganteng, pintar sukses lagi."cerocos Nyonya Laras dengan senyum mangga.


"Pasti Mama mau pamer sama teman-teman arisan Mama kan?"simpul Andini yang sudah membaca gelagat sang ibu.


"Tentu saja, pamer Itu adalah sebuah keharusan dalam dunia arisan."balas wanita paruh baya itu kembali dengan wajah angkuh.


"Pa, dengar apa yang dikatakan istri Papa barusan? Andini menatap ke arah sang ayah.


"Duhhh, mau gimana lagi, Papa katakan. Hati Mama kamu sudah terkontaminasi oleh energi negatif ibu-ibu arisan. Seharusnya Papa stop saja uang arisan Mama biar Mama diam di rumah."


"Idih, Papa nggak asik banget! Nyonya Laras menyenggol lengan suaminya.


"Emmm... Ma, Pa Dimas sama Andini mau ke sana dulu ya! sepertinya teman Dimas sudah datang."pamit Dimas yang langsung dipersilakan oleh kedua mertuanya.


"Sayang, kita bertemu teman bisnis Mas dulu yuk! Dimas menggandeng tangan Andini ke arah dalam resto yang ada di hotel itu.


"Duh, kok aku jadi grogi gini ya Mas."Andini meremas jemarinya yang terasa dingin.


"Santai saja, mereka juga manusia kok. Bukan setan,"seloroh Dimas dengan senyum tipis.


"Iih, bukan gitu mas. Aku malu aja ketemu teman bisnis kamu."


"Kenapa harus malu? aku kan mau memperkenalkan istriku. Dimas terus menggandeng tangan istrinya menuju dua orang pria yang mengenakan jas hitam sedang berdiri membelakangi mereka.


"Eh Mas, ada teman-teman somplak aku juga!"Andini menunjuk ke arah Robert, Mariska, Rian, Herlan, Ricky dan juga Bima.


"Iya, Mas mengundang mereka. Kita ke sana dulu yuk, nanti setelah itu baru nyapa teman-teman kamu."ucap Dimas kembali tanpa menghentikan langkahnya. Hingga mereka berdua tiba di samping kedua pria yang sedang berbincang itu.


"Selamat malam."sapa Dimas membuat kedua pria itu langsung menghadap ke arahnya.


Mata Andini membulat ketika melihat Siapa yang kini telah berdiri di hadapannya. Begitupun dengan pria itu yang menatap Andini dari atas sampai bawah.


"Selamat malam, Pak Dimas."balas seorang pria yang berdiri di hadapan Dimas.


Sedangkan seorang pria lagi yang berdiri di hadapan Andini masih terdiam mematung.


"Pak Alvin, perkenalkan ini Andini. Dia adalah istri saya." ucap Dimas sambil menunjuk ke arah Andini yang sedang menggandeng tangannya.


"Alvin terdiam mematung, ketika mendengar penuturan dari partner bisnisnya. Lebih tepatnya Kakak sepupunya. Terlihat formal, agar Andini tidak mengetahui segalanya Untuk saat ini.

__ADS_1


Pria itu masih belum mengalihkan pandangannya dari Andini, yang terlihat bak seorang bidadari


"Mas, Pak Alvin ini Bos aku di kantor."tutur Andini dengan wajah masih terlihat kaget.


Seketika Dimas menautkan kedua alisnya. Dimas dan Alvin saling mengedipkan mata. seolah-olah memberikan isyarat kepada keduanya, agar tetap menjaga rahasia yang tertutup rapat selama ini.


"Sayang, kamu yakin tidak salah orang?"tanya Dimas dengan tangan yang merangkul bahwa Andini. Hal itu berhasil membuat tatapan Alvin semakin menajam.


"Beneran mas, tidak mungkin aku salah orang iya kan, Pak Alvin? Bapak adalah Bos saya di kantor?"tanya Andini untuk memastikan suaminya. Yang membuat Alvin langsung mengembalikan kesadaran dan mengalihkan pandangannya ke arah Dimas.


"Betul Pak. Andini ini adalah asisten saya di kantor. Saya tidak menyangka ternyata dia adalah istri Pak Dimas." jelas Alvin dengan suara yang terdengar lebih ramah, ia pura-pura tidak mengenali Dimas saat bersama dengan Andini.


"Oh jadi bener? saya juga tidak menyangka kalau Pak Alvin seorang rekan bisnis handal, menjadi bos istri saya." balas Dimas dengan wajah yang terlihat ramah.


"Pak Dimas bisa saja. Padahal bapak sendiri yang menjadi pebisnis handal." timpal Alvin kembali dengan mata yang sesekali melirik ke arah Andini yang berdiri di samping Dimas.


"Saya berterima kasih loh, karena Pak Alvin sudah menerima istri saya sebagai mahasiswi magang dengan baik." Seloroh Dimas kembali dengan tangan yang mengusap lembut bahu istrinya, dan itu semua tak lepas dari mata abu-abu Alvin yang seolah mengawasi.


"Tidak perlu berterima kasih Pak. Kinerja istri Bapak sangat bagus. Kebetulan sekali Saya membutuhkan karyawan seperti itu. Bahkan jika bisa, saya ingin menjadikan Andini sebagai karyawan tetap." tutur Alvin sambil tersenyum tipis, dengan Tatapan yang kembali tertuju ke arah Andini yang malah berwajah tegang.


Andini merasa tidak nyaman dengan tatapan Alvin, dia benar-benar belum mengetahui kalau Dimas dan Alvin bekerja sama. sebenarnya Alvin sudah tidak sanggup lagi untuk membohongi kakak iparnya itu. Tapi sesuai dengan perintah sang bos sekaligus kakak sepupu, membuat dirinya mau tidak mau menjalankan misi mereka.


"Hahaha.... Pak Dimas ini terlihat begitu menyayangi istrinya." Alvin tertawa renyah.


"Tentu saja Pak. Karena istri adalah milik sendiri, dan harus dijaga dengan penuh hati." ucap Dimas yang membuat Andini langsung menatap ke arah wajah suaminya.


Andi tidak menyangka Dimas yang terlihat dingin dan cuek bisa berbicara semanis itu di depan orang lain.


"Baiklah, kalau membahas hubungan saya lebih memilih mundur. " Alvin terkekeh sambil mengangkat kedua tangannya dan hal itu pun mampu membuat Dimas dan Andini tertawa renyah.


"Semoga Bapak lekas menemukan pendamping hidup." Dimas menepuk bahwa Alvin yang selama ini ia percayai untuk menjalankan perusahaan milik keluarganya.


"Amin, tapi kalau boleh meminta Saya mau wanita seperti istri bapak. Alvin kembali menatap ke arah Andini yang membuat wanita itu menundukkan wajahnya dengan perasaan tak enak.


Namun, ucap Alvin barusan diiringi tawa yang membuat Dimas merasa itu hanya sebuah gurauan saja.


"Maaf Pak, yang seperti ini limited edition." timpal Dimas dengan senyum mengembang.


"Oh, tentu saja dan saya merasa Pak Dimas adalah pria yang sangat beruntung." ucap Alvin

__ADS_1


"Kita akan merasa sangat beruntung Jika mensyukuri setiap apa yang kita miliki Pak." timbal Dimas dengan bijak.


"Good, Sepertinya saya harus banyak belajar lagi dari anda pak. Alvin menyeringai tipis.


"Hahaha.... Pak Alvin bisa saja."


Kedua pria itu kembali tertawa dengan suara bariton. Sementara Andini hanya terdiam dengan bibir yang mengembangkan senyuman.


Jujur saja, ucapan dan tatapan Alvin membuatnya merasa tidak nyaman.


Namun, ia memilih untuk diam dan menggandeng tangan suaminya sebagai rasa perlindungan.


"Pak Dimas, lanjutkan saja acaranya saja. Saya ada keperluan." Pamit Alvin dengan bola matanya yang sesekali melirik ke arah Andini.


"Kenapa buru-buru sekali Pak, bukankah acaranya baru dimulai? tanya Dimas


"Sepertinya Pak Dimas lupa siapa saya ." Alvin menyeringai tipis.


"Astaga! saya lupa kalau Pak Alvin ini, orang sibuk. Dimas mengedipkan matanya sebelah. Jadi untuk opening Hotel seperti ini sudah biasa dan cukup menyita waktu Bapak yang sangat berharga. timpal Dimas.


"Hahaha..... bercanda Pak. Saya memang ada kepentingan, setelah ini selamat bekerja sama, dan selamat malam." pamit Alvin kembali sambil melangkah dan menyeringai tipis saat tatapannya bertemu dengan Andini yang juga sedang melirik ke arahnya.


"Sayang kamu harus hati-hati sama dia." ucap Dimas setelah Alvin benar-benar pergi dari hadapannya.


"Memangnya kenapa mas? apa Pak Alvin itu orang jahat?tanya Andini dengan terlihat serius.


"Tidak, dia bukan orang jahat semacam psikopat atau *******." sahut Dimas


"Terus, kenapa Mas bilang Andini harus hati-hati?"


"Tapi penjahat wanita." ucap Dimas sambil terkekeh.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2