Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 14.PINDAHAN


__ADS_3

Sore harinya setelah pulang dari kampus, Dimas meminta kepada istrinya untuk segera berkemas.


"Ayo kemas semua barang-barang kamu!"titah Dimas ketika mereka telah berada di dalam kamar.


Sesuai apa yang dikatakan Dimas ketika di kampus, malam ini mereka akan pindah ke rumah baru.


Andini Sudah beberapa kali menolak untuk pindah. Tetapi Dimas yang sekeras baja dan sedingin es batu, tak mudah ditaklukkan.


Sekali dia bilang A, ya harus A tidak boleh menjadi B apalagi Z


"Pak..Bapak aja ya yang pindah rumah. Saya tetap tinggal di sini." rengek Andini yang terlihat bagaikan seorang anak yang sedang memohon pada bapaknya.


"Silakan, Tapi kamu sudah dicoret dari kartu keluarga penghuni rumah."balas Dimas dengan santai


Maksud Bapak apa? Andini mengerutkan keningnya.


Dimas mengambil sesuatu dari tasnya."Nih!"pria itu menyerahkan sebuah kertas yang sudah dilaminating ke tangan istrinya.


Andini segera merampas berkas itu dari tangan suaminya


Matanya membulat ketika melihat tulisan pada kertas tersebut


Dimas Anggara suami. Andini Pratama istri. Astaga, apa ini? Gadis itu melempar kembali kertas yang dipegangnya ke arah Dimas.


"Kamu nggak baca? ini kartu keluarga, ini tandanya kamu sudah dicoret dari kartu keluarga di rumah ini."jelas Dimas sambil menunjukkan tulisan pada kertas tersebut.


Kok bisa gitu,? terus cuman berdua doang di kartu keluarga itu


"Kok lama bertiga ya, harus buat anak."balas Dimas dengan suara beratnya.


" What! dasar mesum!


BUGH....


BUGH....


Andini memukul tubuh suaminya berkali-kali dengan bantal empuk.


Dimas segera menghentikan gerakan tangan istrinya. Pria dengan bulu-bulu halus yang tumbuh pada dagunya itu merebut bantal dipegang istrinya.


"Kamu tuh, apa-apaan sih. mukul-mukul orang sembarangan." pria yang mengenakan kemeja putih itu melempar bantal ke tengah kasur.


"Bapak tuh pikirannya mesum!

__ADS_1


"Mesum apanya? orang cuman bilang buat anak kok dibilang mesum."Dimas merapikan kembali rambutnya yang berantakan akibat ulah sang istri.


"Ih, pokoknya mesum!


Andini bersedekap dada dengan bibir mengerucut.


"Kamu tuh yang pikirannya mesum. Pasti kamu sudah berpikir yang aneh-aneh kan?"tuduh Dimas membuat Andini langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Jangan sok tahu!"Gadis itu menghentakkan kakinya dan berjalan ke arah lemari pakaian, berniat untuk mengumpulkan seluruh pakaian yang akan ia bawa ke rumah baru.


"Sudah cepat bereskan semua barang-barang kamu!"titah Dimas kembali yang masih duduk santai di atas ranjang.


"Cepat-cepat. Bantuin kenapa? Andini memasukkan bajunya ke dalam koper dengan kasar.


"Saya kira manusia angkuh seperti kamu tidak butuh bantuan,"balas Dimas raya berjalan ke arah gadis yang mengenakan kaos biru muda dan celana jeans biru yang sedang sibuk memasukkan barang-barang miliknya.


"Kalau nggak mau bantuin, sudah diam saja! ucap Andini dengan kesal.


"Baiklah, saya bantuin ngeluarin baju kamu dari lemari."Dimas mendekat ke arah lemari pakaian istrinya dan membuka sebuah petak lemari yang masih tertutup.


"Isinya putih semua,"gumam Dimas setelah melihat isi dari petak lemari di hadapannya.


Andini yang mendengar itu langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan pakaian ke dalam cover


"Bapak bantu yang lain saja ya!"ucapnya Seraya menghalangi tubuh Dimas dari petak lemari yang berisi pakaian dalamnya,


"Memangnya kenapa? Saya sudah melihat isinya kok."


"Hah? Isinya? isi apa Pak? tanya Andini dengan mata membulat.


"Isi lemari. Pikiran kamu ngeras aja! .


Setelah itu, Andini segera membereskan barang-barangnya, tetapi ia tak lagi mengizinkan Dimas untuk membantunya sedikitpun.


Dimas yang dilarang menyentuh barang-barang sang istri, keluar kamar terlebih dahulu seraya bawa koper hitam miliknya.


Sejak awal, Dimas sengaja tidak memindahkan pakaiannya ke lemari, karena ia sudah punya rencana untuk pindah rumah.


Oleh sebab itu, saat ini ia hanya tinggal membawa koper yang berisi pakaiannya.


"Pak bantuin dong!"teriak Andini yang membawa dua buah koper berwarna biru, tas ransel yang terlihat menggembung karena berisi penuh, dua tas selempang yang menggantung pada lehernya.


Dimas menggelengkan kepala ketika melihat keadaan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa barang-barang kamu banyak sekali?"


"Namanya juga perempuan, Pak."jawab Andini Seraya melangkah dengan susah payah.


"Maaf aku lupa, kalau kamu itu perempuan. Karena penampilan kamu sudah seperti laki-laki. Lihat tuh celana jeans yang kamu gunakan, apa tidak ada lagi celana jeans yang lebih bagus lagi? apa Kamu sengaja mempermalukan ku dengan menggunakan celana jeans sobek-sobek seperti itu?


"Astaga! ini nih, kalau pergaulannya tipis, Apa Bapak tidak pernah melihat model celana seperti ini ditunjukkan para model papan atas, makanya Pak jangan ketinggalan zaman. Ini gaya anak masa kini."ucap Andini dengan percaya diri.


"Astaga mimpi apa aku ini, sekalinya memiliki istri wanita separuh dewa."ucap Dimas membuat Andini semakin kesal. Dimas ingin merubah Andini menjadi seorang wanita yang feminin.


"Ini lagi, Kenapa nggak pakai satu aja? kan ribet."Dimas menunjukkan dua tas selempang yang menggantung pada leher istrinya.


"Ini tas kesayangan saya, Jadi tidak boleh ketinggalan.."


"Kenapa nggak dimasukkan ke dalam koper saja?"


"Kalau muat di koper ngapain Aku gantung kan di leher ini, Bapak sudah lihat sendiri kalau koper saya semuanya penuh.


"Oh iya. Penuh sama segitiga putih."balas Dimas yang membuat mata Andini membulat sempurna.


"Ikh, apaan sih? Sudah buruan bawain! Saya nggak bisa turun nih kalau bawa dua koper."Andini mendorong dua koper miliknya ke arah Dimas.


"Ck.... makanya jadi manusia Jangan rempong! Dimas menarik satu koper milik Andini dan satu koper lagi miliknya.


Pria bertubuh tegap itu segera menuruni anak tangga meninggalkan Andini yang menatap punggungnya dengan geram.


"Pak, ini koper yang satunya lagi kenapa nggak dibawa?"teriak Andini Seraya menunjuk ke arah satu koper lagi yang masih tergeletak di hadapannya.


"Kamu bawa saja sendiri."balas Dimas tanpa menoleh sedikitpun karena Andini yang sudah mengepalkan tangan dengan kesal.


Gadis itu menarik kopernya dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.


Ransel besar yang berada di punggungnya cukup memberatkan tubuhnya.


"Ya ampun, yang mau pindah rempong banget."celetuk Nyonya Laras ketika melihat putrinya membawa barang-barang cukup banyak.


"Namanya juga pindahan. Lagian Kenapa sih Andini harus pindah segala? Memangnya Mama tega nanti anak mama disiksa sama orang asing? Memangnya Mama tega anak mama yang cantik dan imut ini tambah kurus karena nggak dikasih makan sama orang itu?"cerocos Andini dengan ekor mata yang tertuju ke arah Dimas.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2