Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 169. ERIN KABUR


__ADS_3

Dimas dan Andini memutuskan untuk


menginap di rumah orang tuanya.


Jujur Saja, Dimas masih khawatir dengan keadaan sang ayah.


Terlebih lagi, Tuan Anggara tidak ingin dirawat di rumah sakit. Karena ia merasa tubuhnya tidak terlalu lemah, bahkan pria berusia senja itu masih bisa berjalan.


Hanya saja, dia tidak boleh telat minum obat, jika tak ingin penyakitnya kambuh kembali.


"Mas mau pakai baju yang mana?"tanya Andini Seraya membawa dua kemeja berwarna biru dan juga putih ke arah suaminya.


"Kamu suka yang mana?"Dimas balik bertanya.


"Kok malah nanya Andini sih Mas? kan kamu yang mau pakai, Mas."


"Memangnya kenapa? apapun yang bagus menurut kamu, itu pasti bagus juga menurut aku,"balas Dimas yang membuat bibir istrinya langsung mengembangkan senyuman.


"Masa? kok bisa gitu?


"Ya, bisa lah. Kita Kan sehati."Dimas menatap istrinya dengan senyum tipis.


"So sweet banget sih, pagi-pagi sudah es kutub utara sudah mencair,"ucap Andini sambil terkekeh.


"Kan ada pawangnya."sahut Dimas mengajak rambut istrinya pelan.


"Bisa aja, Mas. ya sudah. Nih pakai warna biru saja!"Andini menyerahkan kemeja berwarna biru kepada suaminya, lalu ia menyimpan kembali ke meja berwarna putih tadi.


"Hari ini aku tidak ke kampus,"ucap Dimas sambil memakai kemejanya.


"Lah, kenapa? tanya Andini yang kini telah berdiri kembali di hadapan Dimas.


"Tidak ada jadwal mata kuliah. Aku ingin mengecek apa yang Papa katakan tadi malam."sahut Dimas.


"Kamu tidak keberatan kan, kalau kita nginep lagi di sini? Mas masih khawatir sama keadaan papa. Apalagi, sikap yang seperti itu,"tutur Dimas yang membuat Andini menengadahkan kepala. Menatap ke arah wajah suaminya.


"Nggak apa-apa Mas, kasihan juga papa kalau sendirian terus di rumah."


"Terima kasih ya!"tapi, Mas perlu ngomong lagi sama Erin. Dari semalam, dia mengurung diri terus di dalam kamar. Padahal Mas mau ngomong serius sama dia."ucap Dimas dengan wajah yang kembali terlihat kesal.


"Mungkin, Erin butuh waktu sendiri, Mas. sekarang, kita coba samperin lagi ya! kali aja Erin sudah mau keluar kamar."ajak Andini.


Setelah itu, keduanya keluar dari kamar secara bersamaan. Terlihat, Tuan Anggara sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


Pria yang tak lagi muda itu terlihat fresh, keadaannya sudah semakin membaik apalagi pagi ini dia sudah mandi lebih awal.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pak!"siapa Dimas membuat sang ayah langsung menoleh ke arahnya.


"Pagi, Ayo kita sarapan!"ajak Tuan Anggara Seraya bangkit dari duduknya.


"Sebentar, Pa. Dimas mau bertemu Erin dulu."pria itu berjalan ke arah pintu kamar adiknya yang masih tertutup rapat.


"Adikmu mungkin belum bangun, tadi Papa sudah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari Erin."ucap Tuan Anggara yang berjalan ke arah Dimas.


"Biar Dimas coba lagi, Pa. Aku juga mau bicara sama dia, dari semalam Erin menghindar terus."


Dimas mengetuk pintu kamar sang adik dengan cukup keras.


"Erin! bangun Erin!"panggil Dimas yang masih tak terbalas dengan nada meninggi.


"Erin! buka pintunya!"panggil Dimas kembali sambil mengetuk pintu kamar Erin.


"Erin! cepat keluar! Kakak mau ngomong sama kamu."


Dimas terus menutup pintu bahkan menggedor pintu kamar sang adik dengan keras. Namun, tidak ada suara atau balasan apapun dari dalam sana.


"Apa Erin masih tidur? masa iya jam segini masih tidur, tidak biasanya dia tidur sampai jam segini."ucap Dimas dengan wajah yang mulai terlihat heran.


"Biar Papa coba lagi."Tuan Angkara mendekat ke arah pintu kamar putrinya.


Namun, masih belum ada balasan apapun dari dalam. Sedang apa wanita itu di dalam kamar, sampai tidak bersuara dan tidak membuka pintu kamarnya dari semalam.


"Tuan, gawat!"salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga anggaran itu datang dengan tergesa-gesa.


"Gawat Kenapa Bi? tanya Dimas dengan segera.


"Gawat! jendela kamar non Erin terbuka,"jelas asisten rumah tangga itu yang membuat Dimas dan Tuan Anggara saling melempar pandangan.


"Yang bener Bi?"tanya Dimas kembali memastikan.


"Bener Tuan muda, tadi saya membersihkan samping rumah dan melihat jendela kamar non Erin terbuka,"jelas asisten rumah tangga itu dengan wajah tegang.


"Ini pasti ada yang tidak beres."Dimas segera melangkah dengan lebar, keluar rumah yang langsung diikuti oleh Andini dan Tuan Anggara.


Pria itu berjalan dengan langkah lebar ke samping rumahnya, di mana jendela kamar sang adik terletak.


Benar saja, jendela kaca itu terbuka.


Tanpa basa-basi lagi, Dimas langsung masuk ke dalam kamar Erin lewat jendela tersebut.


"Erin! di mana kamu!"panggil Dimas sambil mengendarkan pandangannya sekeliling kamar sang adik.

__ADS_1


Bahkan, pria itu membuka pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamar Erin.


Namun, ia tidak menemukan sosok sang adik.


pandangan Dimas tertuju lemari pakaian Erin yang sedikit terbuka.


Dengan gerakan cepat, Dimas membuka lemari pakaian itu yang terlihat kosong, hanya tersisa beberapa hal lain pakaian saja.


"Sialan! Erin, pergi ke mana kamu!"teriak Dimas dengan geram.


"Dimas, ada apa? di mana adik kamu Nak?"tanya Tuan Anggara yang masih berdiri di depan jendela dan melihat ke arah kamar putrinya.


"Erin kabur Pa,"jawab Dimas yang kembali ke arah jendela dan keluar dari kamar Erin lewat jendela itu lagi, setelah ia membuka kunci kamar adiknya.


"Apa? kabur ke mana? tanya Tuan Anggara dengan wajah tegang bercampur khawatir."


"Mas, Erin beneran kabur?"tanya Andini terlihat panik.


"Iya, bajunya hanya tinggal sedikit. Aku akan mencoba menghubunginya."Dimas mengambil ponsel dari saku celana dan langsung menghubungi nomor sang adik.


Namun, beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor ponsel itu tetap tidak bisa terhubung karena nomornya tidak aktif.


"Bagaimana? apa adikmu bisa dihubungi?"tanya Tuan Anggara dengan Tak sabar.


"Nomor Erin tidak aktif, Pa. sepertinya, dia sengaja mematikan ponselnya. Agar kita tidak dapat menghubunginya."jelas Dimas dengan geram.


"Apa? Kenapa Erin bisa sedekat ini?"tanya Tuan Anggara dengan tubuh yang terlihat lemas.


"Pa, kita masuk lagi ke rumah!"Dimas langsung menahan tubuh sang ayah yang akan terjatuh.


Dimas dan Andini membantu Tuan Anggara berjalan dan masuk kembali ke rumah.


Dimas membantu ayahnya untuk berbaring di atas kasur.


"Pa, Papa tenang dulu dan istirahat di sini. Dimas mau mencari Erin!"ucap Dimas setelah merebahkan tubuh ayahnya di atas kasur.


"Dimas, Tolong bawa adikmu kembali! Papa sangat mengkhawatirkannya."ucap Tuan Anggara dengan nada Sendu.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS

__ADS_1


__ADS_2