
Setelah menjadi suami istri, Bima tidak kembali ke tempat tinggalnya selama berada di kota. Tentunya Erin tidak ingin berpisah dengan suaminya itu. Padahal Dimas sangat setuju jika Bima tidak tinggal di rumahnya.
Namun, jika Bima keluar dari rumah itu, Erin juga akan ikut keluar.
Tuan Anggara tidak mengizinkan putrinya tinggal di kamar kost, kecuali jika Bima sudah punya rumah di Jakarta, baru yang akan mengijinkan Eren mengikuti suaminya
Hingga saat makan malam tiba, Andini sibuk menyiapkan semua hidangan yang ia masak, walaupun memasak.
Tuan Anggara datang dan duduk di kursi yang biasa ia tempati dan menghadap ke arah hidangan telah disajikan menantunya itu.
"Sepertinya ini enak sekali."ucap pria berusia senja itu sambil memandang semua hidangan yang tersaji.
"Papa mau makan yang mana?biar Andini ambilkan." tawar Andini dengan drama.
"Emmm ... Papa sedang mengurangi makan daging dan ayam, jadi Papa mau makan sayuran aja. Papa mau makan capcay, tumis kangkung?"Tuan Anggara menunjukkan ke sebuah piring berisi Capcay.
"Iya,Pa. Andini baru nyoba buat."
"Wah,Papa jadi teringat masakan Mama."ucap pria itu dengan mata berbinar.
Andini mengambil makanan tersebut dengan hati tersentuh ketika mendengar penuturan mertuanya barusan.
"Selamat malam,Pa, Kak Andini!"siapa Eren yang berjalan ke arah meja makan sambil menggandeng mesra lengan Bima.
"Malam, Ayo duduk!"tidak Tuan Anggara kepada putrinya dan menantunya itu.
Sementara Andini hanya membalas dengan senyuman.
Erin melepaskan gandengan tangannya, dia duduk di sebuah kursi di depan Andini. Tetapi ,Bima malah duduk di kursi yang terletak di samping Andini.
"Kenapa kamu duduk di situ?"surga Dimas yang baru tiba di ruangan itu. seketika semua mata tertuju ke arah pria yang kini berjalan mendekat dengan tetapan tajam.
"Sayang, Kamu duduk di sini, di sebelah aku. kursi yang itu tempat Kakanda Raja,"ucapkan sambil menunjuk ke arah kursi di sampingnya.
"Oh, sorry aku nggak tahu "Bima bangkit dan pindah ke kursi di dekat Erin.
Setelah itu, Dimas duduk di samping Andini, di atas kursi yang semula diduduki Bima.
"Erin, Kamu mau makan apa? Bima juga? biar sekalian aku ambil kan."tawar Andini sambil mengangkat piring.
__ADS_1
Seketika mata Dimas langsung tertuju ke arah istrinya.
"Tidak usah! biarkan Erin yang mengambil untuk suaminya!"cegah Dimas dengan suara penuh penekanan.
"Iya,kak. biar aku aja ambil. daripada kakanda raja marah,"tutur Erin sambil melirik kerah Dimas dengan ekor matanya.
"Ya, udah. Kamu mau makan apa Mas?"tanya Andini dengan suara lembut, ia tahu emosi suaminya sedang tidak stabil. Entah kenapa, jika melihat Bima, rasanya Dimas bagaikan seekor harimau yang bertemu dengan musuh.
"Apa saja, semuanya pasti enak,"balas Dimas yang membuat Andini cekatan mengambilkan makanan untuk suaminya.
Sementara Erin mengambil makanan untuknya dan juga Bima.
Setelah itu, acara makan malam dimulai dengan suasana hening, hanya suara pantulan piring dan sendok yang terdengar nyaring.
Bima makan sambil menatap lurus ke arah Andini, pria itu sangat anteng memandang kakak iparnya. Namun, Tak lama kemudian Mata Sang harimau mengetahui aksinya.
"Dilarang memandang istri saya lebih dari 3 detik!"Ciledug Dimas yang membuat semua orang hampir menghentikan kunyahannya.
"Mas, kamu kenapa? tanya Andini yang merasa bingung dengan ucapan suaminya barusan.
"Tadi ada nyamuk yang menetap kamu lama."
"Nyamuk?"Andini kembali bertanya dengan wajah yang semakin terlihat bingung. Bingung dengan ucapan suaminya yang tiba-tiba aneh.
"Mas, Kok tumben?"
"Aku mau menyuapi kamu sayang, biar anak kita juga merasakan kalau papanya ada di sini dan menyuapi maminya,"tutur Dimas yang membuat Andini langsung mengembangkan senyuman.
"Ayo aaaa..."Andini membuka mulut dan menerima suapan dari suaminya.
"Enak kan? Dimas mengusap buliran nasi yang tersisa pada bibir istrinya.
"Enak,Mas."jawab Andini sambil mengunyah.
"Nah kan, kalau disuapin sama aku pasti rasanya enak,"tutur Dimas dengan bangga.
"Masa? ini memang makanannya aja yang enak,"sangkal Erin.
"Udah, kamu diam saja! mending sekarang suapi suami kamu tuh!"kita Dimas sambil menunjuk ke arah Bima yang menggenggam sendok dengan erat, mata pria itu menatap nyalang ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu mau aku suapi juga?"tanya Eren yang membuat Bima langsung mengembalikan kesadarannya.
"Ngak usah, aku bisa makan sendiri kok,"tolak Bima sambil menyiapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya dengan kasar.
"Sayang, nanti kalau mau tidur biar aku elus-elus perutnya ya, biar dedeknya juga ikut tidur."tutur Dimas kembali yang sekolah tak mempedulikan pandangan di sekitarnya.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah sakit di mana Mariska dirawat. mamanya Mariska baru tiba di ruang rawat inap Mariska.
"Mariska, hari ini kamu sudah bisa pulang kan? Yuk, kita pulang ke rumah Mama!"ajak mamanya Mariska sambil mendekat ke arah putrinya.
Seketika Robert dan Mariska saling bertukar pandang saat mendengar ajakan wanita paruh baya itu.
Hal itu pula yang menjadi alasan kenapa sepasang suami istri itu terasa betah di rumah sakit dan tak ingin segera pulang.
"Ya, karena alasannya jika mereka pulang, maka mereka akan berpisah."
"Kebetulan, hari ini juga mamanya Robert sudah diizinkan pulang karena keadaannya sudah semakin membaik.
"Robert, nanti kamu urus semua administrasinya Mariska ya!" sekarang Mariska kita pulang!" ajak mamanya Mariska kembali yang membuat mata putrinya langsung memerah.
Mariska meraih tangan Robert dan menggenggam dengan, seakan tak ingin dipisahkan.
"Ma, Mariska mau pulang ke rumah Robert aja, ya!"pinta Mariska dengan wajah memelas.
"Tidak bisa! kamu harus ikut sama Mama dan Papa. Kalau kamu mau tetap sama suami kamu, berarti dia yang harus ikut sama kita!" tegas mamanya Mariska dengan sewot.
"Tapi, Ma. robek juga nggak mungkin ikut sama kita, Robert harus urus Mamanya." tutur Mariska dengan suara bergetar, sebentar lagi tangis wanita itu akan memecah.
"Ya sudah. Kamu ikut saja sama mama. biar Dia urus ibunya sendiri. Kalau kamu ikut, yang ada malah kamu dipekerjakan lagi, disuruh ini dan itu." cerocos Mamanya Mariska yang membuat hati Robert memanas.
"Ma, Robert janji, Robert gak akan menyuruh mereka ngapa-ngapain. Robert akan menjagamu Riska sebaik mungkin."balas Robert dengan tutur kata yang masih terbilang cukup lembut, meskipun mertuanya sudah berbicara pedas seperti cabe rawit.
"Halah, Mama tidak percaya! pokoknya, hari ini Mariska pulang ke rumah mama,titik!"
"Ngak mau! Mariska mau ikut sama Robert aja." Mariska memeluk lengan suaminya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN