
"Kamu sih, ngapain kayak tadi.Kan, jadi takut."Herlan masih tetap dalam posisi semula, tiduran dengan posisi terlentang dan berbicara tanpa menoleh ke arah Rian sama sekali.
Tubuh Herlan menegang dengan dada yang terlihat naik turun lebih cepat sedang mengatur nafas.
"Kok takut sih bang? Memangnya aku genderuwo apa? Rian mengerucutkan bibirnya.
"Lebih dari genderuwo! Kenapa juga Kamu pakai baju kayak begituan sudah seperti saringan kelapa. Apa kamu tidak masuk angin memakai baju seperti itu? tanya Herlan melirik kalah Rian dengan ekor matanya.
"Tapi bang ini, kan...."Rian tidak melanjutkan ucapannya.
"Memangnya ini apa? Herlan menoleh ke arah istrinya dan wajah mereka Langsung berhadapan. Karena Rian sedang menghadap ke arah Herlan.
"Biasanya pengantin baru kalau malam ngapain bang?"tanya wanita itu dengan wajah merona.
"Pertanyaan macam apa itu? kalau malam ya tidur, sama seperti orang-orang lainnya." balas Herlan dengan nada datar.
"Maksud aku bukan begitu bang, sebelum tidur ngapain?
"Ya nggak tahu lah, aku kan belum pernah nikah! ngaco kamu."
"Ih, bang Herlan. Malam pertama bang, katanya gitu kalau pengantin baru." jelas Rian dengan bibir yang perlahan mengembangkan senyumnya.
"Apa?
"Malam pertama?
"Aku belum siap untuk itu." balas Herlan yang membuat senyum pada bibir wanita itu perlahan memudar.
"Belum siap? Bagaimana konsepnya sih belum siap?biasanya kan yang ngomong Belum siap itu ceweknya. Nah ini kok cowoknya yang ngomong Belum siap?" gumam Rian Seraya merubah posisinya menjadi duduk.
Seketika Herlan langsung menatap ke arah istrinya yang menarik selimut dan menutup bagian tubuhnya.
Rian bagaikan orang yang baru sadar dari kerasukan setan, ketika mendengar ucapan Herlan.
Wanita itu terdiam dengan selimut tebal yang menutupi bagian dadanya sampai ke bawah. Herlan ikut bangkit dan duduk di samping Rian.
Herlan menatap ke arah wajah sang istri yang sudah berubah ekspresi. Bahkan bibir merah itu tak lagi mengembangkan senyuman.
"Rianti,"Panggil Herlan perlahan.
"Kok nggak manggil Rian? balas Rian sedikit Ketus.
"Bang, ih jangan panggil nama Rian kalau kita lagi berdua." protes Rian dengan tangan yang terangkat akan memukul paha sang suami. Namun, ia mengurungkan kembali niatnya saat mengingat ucapan Herlan yang belum siap.
__ADS_1
Rasanya ia tak ingin menyentuh kembali tubuh suaminya.
"Kenapa nggak jadi? Herlan mengangkat alisnya sebelah. Lalu tangan pria itu bergerak memegang tangan Rian yang hanya mengapung di udara.
Herlan menggenggam jemari lentik sang istri yang membuat jantung Rian berdebar seakan terkena guncangan gempa bumi.
Tubuh wanita itu mematung ketika Herlan memperhatikan secara intens.
Rian menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. entah kenapa Rian merasa malu kepada Herlan.
Rian malu atas perbuatannya barusan yang membuat Herlan sampai ketakutan.
"Rian, kita kan menikah secara kebetulan.."
"Hah, kebetulan? berarti kita bukan jodoh dong bang? terus Siapa jodohku yang asli, ya? aku kan maunya berjodoh sama bang Herlan. Hua....."
"Ssstttt..."Herlan menempelkan telunjuknya pada bibir wanita itu yang berbicara seolah tak ada remnya.
"Maksud aku itu kebetulan itu menikah di saat aku disuruh cepat-cepat menikah sama opa, dan kamu sedang mencari calon suami karena ditolak untuk menjadi pelunas hutang." jelas Herlan.
"Bang ujungnya nggak enak banget, ditolak untuk menjadi pelunas hutang. Memangnya aku jelek banget ya bang sampai ditolak begitu? Kok kamu nggak nolak aku bang?" cerocos Rian dengan wajah sendu .
"Kamu cantik kok." balas Herlan yang membuat Rian seperti mengapung ke langit ketujuh.
"Iya, karena kalau ganteng malah bahaya. itu berarti kamu laki-laki. Nggak mungkin kan, aku menikah dengan seorang laki-laki. Perlu diragukan keperjakaanku." ucap Herlan sambil terkekeh.
"Bang, Jangan ngasal kalau ngomong. Aku ini wanita tulen, cek aja sendiri kalau nggak percaya." Rian akan menyingkap selimut yang menutupi bagian tubuhnya. Tetapi Herlan langsung menahan tangan wanita itu.
"Aku percaya kok, kalau kamu ini wanita sungguhan bukan sosis yang bertransmigrasi menjadi bakpao." Herlan kembali terkekeh.
Sementara Rian terdiam sejenak berusaha mencerna ucapan suaminya.
"Bang kiasannya bagus banget." Rian menahan tawanya ketika ia sudah memahami apa yang dikatakan suaminya barusan.
"Tapi kamu beneran cantik kok." Herlan menatap wajah wanita itu dengan senyum tipis.
"Bang, lebih baik berterus terang daripada membohongi Rian. Nanti bisa-bisa hidung Rian kembang kempis." Rian menutup wajahnya yang merona dengan sepuluh jemari.
"Hahaha.....,aku cuman nggak nyangka aja akan berjodoh sama kamu, teman Andini yang kalau main ke sini suka manjat pohon di belakang rumah." Herlan tersenyum lalu mengusap kepala Rian dengan lembut.
"Bang, tolong Jangan ingatkan hal itu lagi. malu aku. Dulu kan Rian masih anak-anak suka makan rambutan yang ada di taman belakang, karena nggak ada yang ngambil, ya Rian yang memanjat. Habis bang Herlan tidak mau mengambilkannya untuk Ran." Rian tidak mau kalah.
"Rian, aku tidak mau terburu-buru untuk menjamah kamu. Aku mau kita perkenalan dulu saling mengenal lebih dekat.
__ADS_1
"Lebih dekat Seperti apa, bang?
"Lebih dekat seperti ini." Herlan merapatkan tubuh keduanya.
Jantung Rian berdebar kian cepat perasaannya sudah tak karuan.
"Bang Herlan, beneran mau jadi suami aku kan?
"Kalau sudah takdir yang menyuruh, aku bisa apa?"
"Aduh kesannya kayak terpaksa gitu, ya." Rian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hahaha...., kita jalani saja dulu. Mana tahu bisa menemukan dermaga untuk berlabuh.
"Aduh meleleh hati aku, bang." Rian menempelkan tangannya pada dada.
"Ya sudah kita tidur yuk. Tapi kamu beneran mau tidur pakai baju kayak gini?" Herlan menyentuh tali lingray yang dikenakan istrinya.
"Abang tidak tergoda sama penampilanku?" tanya Rian dengan suara sok seksi.
"Kan, aku sudah bilang kita jalani saja dulu. kalau ditanya tergoda atau tidak kamu berpakaian seperti ini di depan seorang pria, ibarat menyuguhkan daging segar ke hadapan harimau lapar.
"Jadi..."
Aku hanya tidak ingin menyentuhmu, hanya karena nafsu semata." Herlan tersenyum dan kembali mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Abang bisa nggak, kalau senyum jangan terlalu manis? bisa-bisa kadar gulaku meningkat lebih cepat."
"Pinter ya, kamu menggombal." dasar bocah Herlan terkekeh.
"Bang umur kita cuman beda tujuh tahun doang loh."
Sama saja kamu seumuran Andini yang aku anggap anak kecil.
"His, Ya udah aku ganti baju dulu kalau nggak jadi jebol gawang." Rian bangkit sambil menutupkan selimut itu pada tubuhnya.
Saat ini ia merasa sangat malu, jika merasa menampakkan kembali lekuk tubuhnya di hadapan sang suami.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"