Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 46. MOOD HANCUR


__ADS_3

Pertengkaran antara Almira dan Andini tadi di kantin tidak terdengar sampai ke telinga dosen.


Karena kebetulan suasana kampus masih sepi, hanya ada Andini dan juga teman-temannya serta Almira dan gengnya.


Oleh karena itu, tidak ada yang melapor ke dosen. Sehingga Andini dan Almira kali ini terbebas dari hukuman.


Bahkan Dimas pun tidak mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.


Hari ini mood Andini benar-benar hancur. bertengkar dengan Dimas, berkelahi dengan Almira, kejadian yang sangat menguras emosinya di pagi hari.


Bahkan saat belajar pun ia tak bisa konsentrasi.


Terlebih lagi, dosen terakhir yang masuk ke kelas adalah Dimas.


Beberapa kali pria itu menatap ke arah Andini. Tetapi istrinya selalu menundukkan atau memalingkan wajah. Tak melihat ke arahnya sedikitpun.


Sampai waktunya jam pelajaran habis, Andini seolah menghindari bertatapan langsung dengan suaminya.


Sebelum keluar kelas, Dimas mengetik sesuatu pada ponselnya dan mengirimkan pesan.


Andini yang menyadari ponselnya bergetar, langsung mengambil benda canggih itu dari dalam tasnya.


"Jangan dulu pulang saya ada meeting sebentar) pesan Whatsapp Itu yang dikirimkan oleh Dimas kepada Andini. Andini langsung melihat ke arah Dimas yang mulai bangkit dari bangku dosen, dan melihat ke arahnya dengan tatapan penuh ancaman


"Baiklah, semuanya. Jangan sampai lupa, tugas dikumpulkan besok pagi." ucapnya Seraya mengambil laptop dari atas meja


"Siap pak." seru semua mahasiswa mahasiswi yang hadir di sana secara serentak. kecuali Andini yang memanyungkan bibirnya dan menatap kerah Dimas dengan sebal.


Setelah dosen killer itu benar-benar keluar dari kelas, semua mahasiswa mulai bersiap pulang. Kecuali Andini yang terdiam dengan wajah kacau.


"Din, kita duluan ya." pamit Mariska dan Rian.


"Buru-buru banget. Mau pada ke mana sih? Andini menatap ke arah dua sahabatnya yang sudah menenteng tas.


"Aku ditungguin Mama, Din." ujar Mariska.


"Aku juga harus harus jemput adikku di rumah Oma,"timpal Rian


"Ck... nggak adil!"


"Nggak adil gimana sih, Din? Memangnya kamu mau ngapain di Sini? mending cabut lah, entar kalau udah sepi semua bangku kosong ini ada yang menghuni."ucap Mariska seraya menggerakkan kedua bahunya.


"Apaan sih? kebanyakan nonton film horor kamu! Andini mengusap wajah sahabatnya.


"Eh motor Kamu, kemana sih? Kok kamu udah nggak pernah bawa motor ke kampus?" Mariska penasaran dengan raut wajah heran. Karena memang semenjak menikah dengan Dimas, Andini tidak pernah menggunakan motor lagi ke kampus.


Padahal semua orang tahu selama berkuliah di sana, Andini selalu membawa motor Ninja warrior miliknya.

__ADS_1


"Aku gadaikan,"jawab Andini dengan sewot.


"Jangan ngadi-ngadi banget kamu. Memangnya kamu butuh uang untuk apa menggadaikan motor? kalau kamu butuh uang kan, bisa ngomong ke kita-kita."ucap Mariska kepada Andini yang menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran.


"Buat beli skin care, biar nggak disia-siakan."


"Ha...ha..ha belagu banget kamu. Tanpa skin care pun kamu udah glowing, bercahaya, bersinar menerangi bumi. Secara kan kamu princess." Mariska menggerakkan kedua tangannya mengelilingi bibir tipisnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri sambil menatap Andini.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Sudah, mending sekarang kalian pulang kalau nggak mau nemenin aku."


"Memangnya kamu ngapain di sini, diam di kelas?"tanya Rian penasaran.


"Aku nunggu Kak Herlan."


"Kan bisa nunggu di depan. Kenapa harus nunggu di kelas? Mariska mengerutkan rekeningnya.


"Malas, di luar panas."


"Ya sudah, terserah kamu aja."


"Hati-hati lihat kanan kiri. Kita cabut dulu. jangan lupa sampaikan salam aku buat Kak Herlan, ya."celoteh Mariska melambaikan tangannya dan melangkah semakin menjauh meninggalkan Andini.


"Aku duluan ya, Din."ucap Rian menyusul Mariska yang sudah keluar dari kelas.


"Din, pulang bareng aku, yuk!"ajak Bima Seraya mendekat ke arah Andini.


Padahal rasanya berat sekali menolak ajakan pemuda itu.


"Ya Sudahlah, kamu hati-hati ya." Bima tersenyum dan segera meninggalkan kelas yang langsung disusul oleh Robert.


Keduanya melambaikan tangan ke arah Andini, dengan bibir yang melebar seolah mengejek.


Andini mengepalkan tangan dan mengarahkannya pada Robert dengan kesal.


Kelas mulai tampak sepi, bahkan semua mahasiswa sudah keluar dan meninggalkan kampus.


Seorang pemuda mendekat ke arah Andini dan menarik bangku di sebelahnya.


Bagas duduk dengan santai di samping Andini yang membuat Andini langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu mau ngapain ke sini? Ketus Andini


"Ya ampun jutek banget, tapi aku kangen jutek kamu Din. Kangen pas lagi bawa motor, kamu tepuk bahu aku sambil berteriak gara-gara rem mendadak."Bagas tersenyum dengan Tatapan yang tertuju karena wajah Andini.


"Nggak usah banyak bacot."Andini memalingkan wajahnya.


"Aku serius Din. Ternyata kamu ini semakin dilupakan semakin teringat.

__ADS_1


"Bagas jangan begini, memangnya kita memiliki hubungan khusus? tidak, kan? kita dulunya hanya berteman. Tapi dulunya kita dekat, bahkan tidak ada rahasia di antara kita. Lebih baik kamu pergi deh dari sini, nanti pacar kamu lihat. Bahaya. Bisa bisa aku dilabrak dan dikatain pelakor.


"Ha...ha...ha aku udah nggak nyaman sama Almira. Aku lebih nyaman dekat dengan kamu."Bagas merangkul bahwa Andini.


"Bagas jangan seperti ini, aku nggak suka."Andini kembali melepaskan tangan Bagas dari bahunya.


"Kenapa sih, Din? biasanya kita kayak gini. Bagas kembali mengulurkan tangannya akan memeluk tubuh Andini. Tetapi Gadis itu segera bangkit dan mundur, agar Bagas tidak dapat menyentuh tubuhnya.


"Please lah, Din. Aku kangen banget sama kamu."Dimas bangkit dan mendekat ke arah Andini.


Andini mundur perlahan, ketika langkah Bagas semakin dekat sampai akhirnya punggung Andini menempel pada tembok dan tak bisa mundur lagi.


"Din, kamu makin cantik."Bagas mencolek dagu Andini sambel menyeringai tipis.


"Kamu mabuk, ya?"Andini menatap wajah Bagas yang terlihat berbeda. Bahkan tatapan mata pria itu terlihat sayu.


"Bagas jangan macam-macam! Andini menatap tajam ke arah Bagas.


"Bagas please, jangan macam-macam. Dari dulu aku menganggap kamu itu sahabat baikku. Tapi kenapa kamu seperti ini? Andini mulai merasakan tegang Kenapa Bagas terlihat aneh seperti itu.


"Itu dulu Din. Kau yang selalu menganggap aku sebagai sahabat dekat. Tapi Aku menganggap mu sebagai kekasihku. Kau tidak pernah mengetahui bagaimana perasaanku sebenarnya ke kamu. Aku menjalin hubungan dengan Almira, untuk pelarian saja. Agar kamu merasa cemburu. tapi nyatanya kamu biasa-biasa saja.


"Bagas jangan macam-macam! Andini langsung menepis tangan Bagas.


"Aku ingin menjadikanmu kekasihku Andini. Aku tidak ingin hanya menjadi sahabat dekatmu. Itu artinya kau menyamakan ku dengan Robert, Rian.


"Sorry Bagas, aku nggak bisa, kamu sudah ada Almira.


"Aku akan putusin Almira. Kalau kamu bersedia menjadi kekasih aku."tangan pemuda itu kembali terulur, menyentuh pipi Andini yang memerah. Tetapi Gadis itu langsung menepisnya lagi dengan kasar.


"Aku nggak bisa! mending sekarang kamu minggir!"teriak Andini


lagi lagi pria itu tak mau minggir sama sekali.


"Bagas, minggir! Andini mendorong tubuh Bagas sekuat tenaga sampai membuat tubuh pemuda itu terhuyung ke belakang.


Setelah itu Andini segera berlari keluar dari kelas.


"Kenapa Bagas terlihat aneh seperti itu?


"Dulu dia tidak pernah seperti itu, Bahkan dia sangat baik kepadaku. Aneh benar-benar aneh."gumam Andini dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2