
Dimas mengarahkan kepalanya pada dada sang istri yang menyembul sempurna, Dimas menelusup kan wajahnya di antara gunung kembar milik istrinya.
"Mas, saya bau asem. Dari semalam belum mandi!" Andini menahan kepala suaminya.
Dimas menengadahkan kepalanya dan menatap wajah istrinya yang terlihat tegang.
"Kalau begitu, ayo kita mandi bareng." Dimas mengendong tubuh Andini berjalan kearah kamar mandi.
"Ngak mau, saya malu." teriak Andini yang tidak menghentikan langkah suaminya.
"Mas, Turunin saya!"
"Turun aja kalau bisa!"
Dimas membawa tubuh istrinya masuk kedalam kamar mandi dan mendudukkannya dengan hati do atas closet.
Setelah itu, ia berjongkok mengangkat kaki Andini ,lalu meletakkan kaki istrinya diatas pahanya.
"Perbannya dibuka dulu." ucapnya Seraya membuka perban luka pada kaki Andini dengan hati-hati.
Andini terdiam dengan mata yang memperhatikan gerakan lembut sang suami.
Dimas menunjukkan kepeduliannya dan kasih sayangnya lewat perlakuan.
Walaupun ucapan pria itu kadang terdengar kasar, dan menyebalkan tetapi perlakuannya sangat lembut.
Setelah selesai, Dimas membuang bekas perban itu ke tempat sampah dan berdiri di hadapan Andini.
"Mau saya bantu buka baju?" tawarnya dengan senyum tipis. Setipis Bulung ***** *****.
"Tidak! trimakasih. Sekarang Mas keluar ya. Saya bisa sendiri kok." Andini sedikit mendorong tubuh suaminya.
"Saya bantu aja, ya!" Dimas kembali mendekat
"Tidak usah, pacarku yang tampan!" kedua tangan saya masih normal, kaki saya juga sudah bisa berdiri," Andini menggerakkan kedua tangannya dan berdiri dengan perlahan.
"Baiklah, kalau butuh sesuatu panggil saya saja."
"Iya, trimakasih pacarku yang tampan " sahut Andini sambil terkekeh ketika Dimas langsung menatap tajam ke arahnya.
"Eh sorry, maksud saya suamiku."Andini meralat ucapannya sambil nyengir tak karuan.
"Hmmmm..."Dimas hanya bergumam lalu keluar dari kamar mandi.
Setelah itu Andini langsung melancarkan aksinya menjalankan ritual mandi dengan singkat, karena ia yakin suaminya pasti sedang menunggu dan akan segera mandi.
__ADS_1
Setelah keduanya berpakaian rapi, dan bersiap berangkat ke kampus. Dimas menggandeng tangan istrinya menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Setelah dari kampus kita langsung pulang ke rumah aja, ya."
"Ke rumah? kan kita memang selalu pulang ke rumah, tidak pernah pulang ke hotel."Andini melirik ke arah suaminya sekilas.
"Jadi ceritanya kamu mau pulang ke hotel?"
"Mau dong, sekali-sekali nginep di hotel bintang lima."balas Andini dengan mata berbinar.
"Okey, nanti kita ke hotel bintang sepuluh sambil honeymoon."Dimas tersenyum menggoda
"Hah, honeymoon?"Andini mengencangkan suaranya.
"Ehem... yang mau honeymoon, Nanti Mama kasih jamu kuat dan tahan banting,"celetuk Nyonya Laras yang tak sengaja mendengar ucapan putrinya.
Andini langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu yang senyum-senyum bak orang kasmaran.
"Mama apa-apaan sih menyambar aja kayak petir." protes Andini dengan kesal.
Kini keduanya telah berada di lantai bawah dan bersiap pamitan kepada kedua orang tuanya begitu juga kepada Opanya.
"Mama cuman ingin memberi resep terbaik. tidak ada niat Mama yang lain."sahut Nyonya Laras sambil tersenyum menatap putrinya.
"Heh! kamu harus tahu aja membuat anak juga ada resepnya."bibir wanita paruh baya itu melebar ke kanan dan ke kiri.
"Dikasih garam, cabe, tomat, kunyit, lengkuas, dan penyedap rasa gitu?"cerocos Andini kesel menatap Nyonya Laras.
"Apaan? kamu pikir bikin anak sama kayak bikin sayur atau menggulai ikan!" kamu ini ada-ada saja ngomongnya.
"Habis Mama aneh ngomongin pakai resep segala."Andini mencebik kesal.
Jika sedang seperti ini Dimas hanya bisa diam, membiarkan istri dan mertuanya saling bersilat lidah.
"Ma, Sebenarnya kita mau pamitan setelah pulang dari kampus, kita akan kembali ke rumah." jelas Dimas yang membuat Andini langsung menatap dengan nyalang ke arahnya.
"Loh kok gitu sih? saya kan masih mau di sini!" protes Andini dengan bibir mengerucut.
"Nggak boleh gitu Sayang. Kalian kan, sudah punya rumah sendiri, Lagian kalau di sini terus takutnya nak Dimas nggak nyaman."balas Tuan Pratama opanya Andini
"Mas, Kita nginep semalam lagi ya."pinta Andini dengan wajah memelas.
"Nggak bisa, kamu ikut pulang aja sama Dimas."ucap Tuan Pratama menegaskan kepada cucunya.
"Opa mengusir Andini? berarti Opa nggak sayang lagi sama Andini."
__ADS_1
"Opa bukan mengusir sayang, tapi sudah sepatutnya kamu pulang ke rumah kalian. Karena kalian sudah memiliki rumah sendiri."ucap Tuan Pratama berusaha memberitahu kepada Andini, agar Andini sadar dia sudah memiliki suaminya Dimas. dan tidak sepatutnya dia tinggal di rumah utama keluarga Pratama.
"Nak Dimas, tunggu sebentar ya, mama punya sesuatu."wanita paruh baya itu pergi ke arah dapur kemudian kembali lagi membawa paper bag.
"Ini untuk Nak Dimas. Tolong dihabiskan ya."Nyonya Laras menyodorkan paper bag itu ke menantunya yang berisikan jamu racikan Nyonya Laras sendiri
Andini dan Dimas saling melempar pandang.
"Sudah, tidak perlu dijawab. Mama sudah tahu kok jawabannya. Makanya mama berikan lagi untuk Dimas. Ini jamu asli racikan turun temurun dari nenek moyang dan sampai sekarang menjadi jamu andalan papa."cerocos Nyonya Laras sambil menggerakkan jemari tangannya.
"Nenek moyang apaan, nggak sekalian aja Mama nyebut jamu itu bisa resep leluhur." timpal Andini dengan kesal.
"Ya sudah Ma, terima kasih. Saya bawa jamunya ya, yang waktu itu kebetulan sudah habis. Hampir setiap malam saya meminumnya." ucap Dimas Seraya menerima paper bag itu dari tangan mertuanya. Dimas terpaksa berbohong untuk menyenangkan hati Sang mertua.
Seketika Andini menatap ke arah suaminya dengan mata yang membulat sempurna. Minum jamu kuat setiap malam?
"Syukurlah jamu itu, selain menjadi menjadikan kuat, juga bisa membuat tubuh tetap sehat dan bugar. Contohnya papa kamu sudah hampir kepala enam tapi masih terlihat gagah dan perkasa." cerocos nyanyian Laras kembali dengan senyum yang mengembang.
"Kepala enam banyak amat mah jempol Andini.
"Kamu ini bagaimana sih, otak kamu ditaruh dimana? Di kampus otak kamu encer, Mengapa di rumah otak Kamu seolah membeku seperti ini! tidak tahu apa, apa atau makna kiasan perkataan."gerutu Nyonya Laras
"Ya sudah, kita pamit dulu Ma, terima kasih jamunya ya, Ma." Dimas mencium punggung tangan mertuanya yang langsung disusul oleh Andini.
Setelah itu, keduanya langsung keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
Dimas menaruh paper bag itu di kursi belakang, dan segera menjalankan roda empatnya.
"Kok Mas tadi ngomong kayak gitu sih sama Mama."
"Ngomong bagaimana? Dimas melirik sekilas secara istrinya dan kembali fokus menatap jalan Itu tadi pakai ngomong minum jamunya setiap malam. Kan, Mama jadi mikir yang macam-macam tentang Kita." Andini mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya kenapa? saya hanya ingin menyelamatkan martabat kamu sebagai seorang istri, walaupun kenyataannya kamu tidak memberikan madumu pada saya.
"Madu apaan? Memangnya saya ini lebah apa?
"Astaga, benar kata Mama . Otak kamu di kampus bisa encer, Mengapa jika saat bersama aku dan berada di rumah otak kamu sudah membeku? huh! dasar anak kelinci."gerutu Dimas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1