
"Ya sudah, Terima kasih semua oleh-olehnya, Ricky sama Nisa pamit dulu."Ricky menjemput tangan kedua orang tuanya.
"Iya, hati-hati nanti datang lagi ke sini, iya nak."Sulastri memeluk dan mencium menantunya saat mereka bersalaman.
"Iya, Ma. kalau ada waktu libur panjang, nanti kita pasti datang lagi ke sini."balas Nisa
"Mama juga nitip Ricky ya!"nitip rumah tangga yang benar, kalau ada salah sedikit jangan langsung pada ngambek. namanya juga rumah tangga, nggak akan lempeng-lempeng aja. Kamu juga Ricky, jadi suami yang baik, yang menyayangi istri dan anak-anak kamu kelak ya!"nasehat Sulastri Seraya menatap karena anak dan menantunya bergantian.
"Siap, Ma. doakan saja yang terbaik untuk kita."balas Ricky kembali.
"Jangan lupa, nanti pas datang lagi ke sini bawa kabar gembira. kabar kehamilan nak Nisa, nanti kita menyembelih kambing di sini,"tutur ayahnya Ricky yang membuat Nisa menundukkan wajahnya.
Ia jadi merasa bersalah karena telah meminum pil KB secara diam-diam.
"Ya sudah, kita pamit sekali lagi,"ucap Ricky Seraya mengangkat satu kardus dan akan memindahkan ke dalam bagasi mobil yang akan menghantarkan mereka sampai ke bandara Kualanamu.
"Tungguan! tunggu !"teriak seorang wanita dari kejauhan. seketika semua orang menoleh karat ibunya Bima yang setengah berlari ke arah rumah Ricky.
"Tunggu Ricky, jangan dulu berangkat! teriak Mpok Neneng dengan suara ngos-ngosan. wanita paruh baya itu menyikat gamisnya ke atas dan berlari kencang, lalu berhenti tepat di halaman rumah adik iparnya
"Ada apa ini, Kenapa lari-lari nggak dia takut jatuh? tanya Sulastri dengan wajah kaget saat melihat kakak iparnya berlari seperti itu.
"Makanya, tunggu!"ucap wanita bertubuh gempa itu sambil mengatur nafas.
"Bibi ini gimana sih, tadi tungguan sekarang antosan? sangkal Ricky yang merasa ganjal dengan bahasa bibinya itu.
"Iya, tunggu sebentar, Bibi mau ngirim oleh-oleh buat si Bima. Papa cepetan! pakai celana tapi jalannya kayak pakai rok!"teriak Mpok Nining kembali yang membuat telinga semua orang terasa berdengung.
"Sabar dong, Ma. kan Mama tahu kalau bapak ini lagi sakit pinggang, disuruh lari-lari segala."tutur Muhammad Alim Seraya membawa dua kardus sekaligus ke arah rumah Ricky.
"Ricky, ini oleh-oleh untuk Bima, Nanti kalau sudah sampai di Jakarta jangan lupa tolong dikasihkan ya!" pinta Mpok Nining.
Alim segera memasukkan 2 kardus itu ke dalam bagasi mobil yang akan menghantarkan Ricky dan Nisa ke bandara, yang disusul oleh ayahnya Ricky yang juga memasukkan kardus ke dalam bagasi mobil itu.
"Ya sudah, semuanya sudah dimasukkan ya?"tanya Ricky setelah ayahnya menutup kembali bagasi mobil.
"Sudah, tidak ada yang ketinggalan lagi,"balas ayahnya Ricky.
"Etsss! tunggu dulu, ada yang ketinggalan!"Celetuk Sulastri saat Ricky dan Nisa akan kembali berpamitan.
__ADS_1
"Apalagi sih Ma?"tanya Ricky dengan nada kesal.
"Kita belum foto-foto,"jawab sunastri Seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dasternya.
"Ayo! kita foto-foto dulu!"aja Mpok Nining dengan semangat empat Lima.
Sementara Ricky hanya membuang nafas kasar saat mendengar ajakan dua ibu-ibu rempong itu.
"Kenapa harus foto-foto segala sih Ma? udah kayak mau nyalon aja,"protes Ricky.
"Ikh, papa kamu mau nyalon lurah. sudah jangan banyak bekicot, kita baris di sini!"
"Bekicot apaan?"Ricky menatap heran karena ibunya.
"Itu, bekicot kalau kata anak."Sulastri membenarkan kerudungnya yang terasa menyon.
"Bacot , Ma bacot!"Ricky menunjukkan jari tengahnya ke arah sang ibu.
"Astagfirullah, ini anak! udah buruan sana berdiri dekat Nak Nisa. Kalian berdua di tengah, biar mama sama papa di samping kanan. Mpok Nining sama mang Alim di samping kiri. Ayo berjejer semua!"tidak Sulastri, mengatur barisan.
Orang tua Bima mendekat dan berdiri di samping kiri, sedangkan Ricky dan Nisa berdiri di tengah-tengah orang tua Ricky dan Bima.
"Iya, juga ya! siapa moto kalau begini?"Sulastri menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah biar Ricky aja yang moto." Ricky melangkah.
"Eh, mau ke mana! Sini sini!"Sulastri menarik bahu putranya yang membuat Ricky menghentikan langkahnya.
"Terus siapa yang mau motoin kalau begini mah?"gram Ricky. sementara Nisa hanya terdiam menyaksikan kerusuhan keluarga itu.
"Sebentar! mang Karim."teriak Sulastri dengan suara menggelegar.
"Buset, ini mulut apa toa masjid sih?"RI gimana tuh cara ibunya sambil mengusap telinga yang terasa memanas.
Tak lama kemudian seorang pria berupaya muncul tergesa-gesa dari arah belakang.
"Ada apa Bu Hajah?"
"Mang Karim sekarang teh tolong fotoin kita semua. mang Karim berdiri di sana! tolong fotoin, fotonya yang bagus ya, sampai ujung kakinya juga harus kelihatan ya!"tita Sulastri cara yang menyerahkan ponsel miliknya kepada karyawan yang bekerja sebagai pengurus kambingnya.
__ADS_1
"Baik Bu Hajah, tapi ini caranya gimana?"Pak pria baru bayar itu yang mengenakan kaos lusa bertanya dengan wajah heran.
"tinggal di klik aja layar yang tengah di bagian bawah ya mang! Mang Karim ngerti kan?"
"Iya, ngerti Bu. saya juga pernah lihat Bapak berfoto waktu itu di kandang kambing, jadi insya Allah saya bisa,"ujar mang Karim saya memundurkan langkahnya berdiri di posisi yang tepat untuk mengambil gambar.
"Bagus! Ayo pada baris lagi!"atur Sulastri kembali dengan suara cempreng.
semuanya berdiri menghadap Bang Karim yang bersiap mengambil gambar mereka.
"Sudah belum mang, cepat mundur!"Dita Sulastri kembali.
"Baik bu.satu....dua...tiga....."
"lagi mang!"Dita Papanya Rizki
"Satu....dua ...tiga...."
Mang karim mengambil foto sebanyak 5 kali.
"Sudah, sini saya mau lihat hasilnya!"Sulastri mengulurkan tangannya ke Rahman Karim. pria paruh baya itu menyerahkan ponsel sang majikan dengan sopan.
Sulastri segera mengecek hasil jepretan pekerjanya.
tiba-tiba mata wanita itu membulat dengan sorot mata tajam yang langsung tertuju ke arah mang Karim.
"Eleh, apa-apaan ini mang Karim? Kenapa Bang Karin malah foto sendiri ada selfie?"surga Sulastri Serayu menunjukkan layar ponselnya yang dipenuhi oleh wajah mang Karim.
"Maaf Bu Hajah. saya juga melihat Bapak begitu, foto sendiri sambil Marissa."cicit mang Karim
"Marissa? siapa Marisa? surga Sulastri kembali yang langsung menatapnya langkah suaminya.
"Si Marissa anak gadis sebelah."temple mbok Nining membuat darah adik iparnya semakin mendidih.
"Papa! benar itu?"Sulastri menghadap ke arah suaminya sambil berkaca pinggang.
"Nggak bener itu, Ma. maksud mang Karim itu kambing punya kita,"jawab Papanya Ricky dengan wajah ketakutan saat melihat tatapan horor istrinya.
Bersambung....
__ADS_1